Das Leben der Anderen: Ketika Menulis Disadap Negara Totalitarian
Bahrul Amsal, 25 Maret 2015
Sutradara: Florian Henckel von
Donnersmarck. Produser: Max Wiedemann, Quirin Berg, Dirk Hamm, Penulis: Florian
Henckel von Donnersmarck, Pemeran Ulrich Mühe, Martina Gedeck, Sebastian Koch,
Ulrich Tukur. Musik: Gabriel Yared, Stéphane Moucha. Sinematografi: Hagen
Bogdanski. Penyunting Patricia Rommel. Perusahaan produks Wiedemann & Berg,
Bayerischer Rundfunk, ARTE, Creado Film. Distributor: Buena Vista International
(Germany), Sony Pictures Classics. Tanggal rilis: 23 Maret 2006. Durasi: 138
menit
TAHUN 1984, di Jerman Timur.
Seseorang
menyusup ke dalam rumah Georg Dreyman. Hampir setiap sudut rumahnya
disembunyikan kabel-kabel microphone:
di balik dinding, di vas bunga, di belakang pintu, terminal listrik, belakang
lemari, di bawah tempat tidur, bahkan di dalam kamar mandi. Karena itu, praktis
tidak ada yang bisa disembunyikan dari setiap sudut rumahnya. Rumah atau lebih
tepatnya apartementnya itu, jadi amatan intelijen negara. Dalam pengintaian,
Dreyman jadi manusia transparan. Gerak geriknya diamati, dicatat, dan dianalisa
kekuasaan. Tapi ia tak tahu.
Sementara
di lantai paling atas apartemen, tempat kabel-kabel itu berasal, empat sampai
lima monitor tak pernah padam. Alat rekam suara juga tak berhenti menangkap
setiap bunyi. Dan, seseorang dengan kejelian tertentu mengawasi tindak tanduk
Dreyman. Mencatat setiap detil perilaku mencurigakan, dan memasukkannya ke dalam
laporan. Pria jeli dengan kode sandi HGW XX/7 itu akhirnya mulai menjadwal mempelajari
Dreyman sebagai objeknya. Dengan telaten, setiap gerak, juga setiap bunyi.
Dosa
Dreyman hanya satu, ia berprofesi sebagai seorang penulis. Seorang penulis
kritis tepatnya. Dreyman
hidup di Jerman Timur, negeri yang diinsipari komunisme dan membuatnya menjadi
ideologi kebangsaan. Bagi setiap penulis di Jerman Timur saat itu, di bawah
komunisme, setiap kalimat mesti ditulis sebangun dengan ideologi negara.
Itu
artinya, seluruh proses kreatif menggagas ide, menyaring tema, dan
menuliskannya mesti selaras dan menjadi kaki-kaki revolusi komunisme, sesuatu
yang sedang menjadi ikhtiar bangsa Jerman Timur saat itu. Secara tematik, karya
yang dibikin demi menyokong komunisme mesti berbicara sisi positif hal ikhwal
yang berkaitan dengan kelas proletar, pandangan realism, partai pelopor, nasionalisasi
pabrik, dan tentu komunisme sebagai jaminan kemajuan umat manusia.
Sebelum
diintai, Dreyman adalah seorang sastrawan, dan penulis naskah teater yang tak
begitu dicurigai negara. Pentas teater yang sering kali ditulisnya tak
mengandung unsur-unsur seni borjuis yang dibenci negara. Bahkan ia dimata
petinggi-petinggi partai adalah salah satu seniman yang menjadi garda depan
untuk mendorong kebudayaan negara jadi lebih maju. Sebab itulah ia menjadi salah
satu seniman yang bebas berkarya sesuai dengan pandangan-pandangan komunisme.
Tapi
semenjak usulah Menteri Kebudayaan Bruno Hempf, agar memata-matai Dreyman,
segalanya berubah. Gerd Wiesler, agen mata-mata Jerman Timur, yang mendapatkan
tugas itu mengamati dan mencium aroma komunisme dalam suatu waktu pertunjukkannya.
Dia disimpulkan bukan tipikal seniman yang mudah tunduk di bawah keinginan
negara, dan karena itu namanya menjaditarget utama penyelidikan tingkat tinggi tentang seniman pembelot.
Sebab
itulah rumah Dreyman disadap. Rumahnya dijebol tanpa sepengetahuannya, dan diselipkan
alat-alat perekam semua tindakannya. Di bawah pengawasan Wiesler, mulailah ia jadi
musuh negara.
Sampai
di sini saya tak tahu apakah di negeri ini ada orang yang mengalami hal yang
sama seperti Georg Dreyman dalam film Das
Leben der Anderen (2006). Seorang penulis naskah yang menjadi target mata-mata
negara. Bukan saja karena pikiran dan
gagasannya yang tidak selaras dengan kemauan negara, tapi juga pikirannya yang
lantang bertransformasi menjadi kritik kekuasaan negara.
Di
film itu ada dua hal yang patut diperhatikan: kebebasan berekspresi dan kontrol
ketat negara terhadap gerak-gerik seniman. Dua hal ini yang menjadi sisi
antagonis di film drama Jerman itu. Kebebasan berekspresi yang menjadi pilihan
Dreyman dan kontrol negara yang merupakan bagian dari kekuasaan yang terlampau
besar. Dua hal ini, dalam konteks negara dan kebebasan berekspresi, menjadi dua
anasir yang seringkali berhadap-hadapan.
Tapi
jika dilema dapat kita temukan di film itu, barangkali itu dialami Wiesler itu
sendiri, agen negara yang telaten memata-matai Dreyman.
Wiesler,
di kehidupan harian menjadi agen pemerintah tanpa basa-basi. Segala yang
dilakukannya ibarat menyalin lengkap apa yang menjadi panduan dalam textbook
dunia intelijen. Waktu, posisi, tempat, pakaian, dan juga keinginan mesti
presisi sesuai jadwalnya. Taat dan setia menjadi kata kuncinya.
Di
Film itu, Wiesler ditokohkan sebagai agen mata-mata yang bertugas dengan dedikasi
tinggi dan idealis. Ia bahkan jeli mengamati hal-hal detil. Bau, posisi buku,
atau bahkan jenis huruf. Ya, saat itu setiap mesin tik penulis dicatat dan
didaftar negara baik merk, jenis, dan model fontnya. Jadi gampang bagi negara
mengetahui asal suatu tulisan saat itu. Kecuali Dreyman, dalam cerita memiliki
mesin tik khusus dan disembunyikan setiap merampungkan tulisan berisi kritik terhadap pemerintah.
Singkatnya,
Wiesler adalah agen paling efisein dan efektif saat itu. Ia mengamati,
mendengar setiap bunyi. Menulis setiap dialog.
Tapi
Wiesler juga manusia, punya rasa punya asih. Selama memata-matai, justru ia
tersentuh dengan peristiwa yang dialami Dreyman. Akhirnya batinnya jebol,
apalagi semenjak ia membaca buku kepunyaan Dreyman yang dicurinya. Ia ingin
tahu lewat buku, bagaimana karakter asli Dreyman. Tapi apa daya, melalui buku
yang ia baca, ia paham siapa sesungguhnya orang yang menjadi target
penyadapannya.
Kekuatan
sebuah buku memang bisa mengubah seluruh pandangan seseorang, begitu juga
Weisler terhadap Dreyman. Syahdan, Weisler mulai melindungi Dreyman dari
atasannya. Ia menulis laporan palsu tentang aktivitas pengarang itu. Begitu
seterusnya.
Das Leben der
Anderen (2006) barangkali
film yang ingin menyitir sejarah Jerman dengan menggunakan cara yang bisa
dibilang melankolik: drama. Tapi itu sepertinya pembacaan yang terlalu jauh,
sebab tak ada kesan dalam film itu yang mengarahkan kepada pengertian yang
mengungkap-ungkap sejarah. Sebab pula di film itu tak menyebut cerita yang
pasti dengan alur yang semacam itu. Toh jika ingin disebut demikian, film itu
hanya bicara plot orang-orang yang hidup dalam negara otoriter dan totaliter
mengontrol setiap pikiran rakyatnya. Dan
Dreyman merasakan, juga barangkali orang-orang yang terbiasa hidup dengan
kemerdekaan berpikir dan berpendapat, bahwa biar bagaimanapun, kontrol negara
tak bisa merebut hal yang paling intim dari mkahluk bernama manusia: kebebasan
berperasaan. Di film itu, kebebasan adalah suara bungkam yang justru jadi
senjata manusia. Di film itu Dreyman tahu untuk apa ia menulis.
Film
ini dirilis di Jerman pada 23 Maret 2006. Dikutip dari Wikipedia, film ini
memenangkan Academy Award 2007 untuk kategori Film Berbahasa Asing Terbaik.
Sebelumnya, film ini meraih tujuh penghargaan Deutscher Filmpreis—yang di
dalamnya termasuk kategori film terbaik, skenario terbaik, aktor terbaik, dan
aktor pendukung terbaik—setelah membuat rekor baru dengan meraih 11 nominasi.