The Burning Season: Belajar dan Melawan dengan Serikat Gerakan Chocheiro


 Bahrul Amsal  14 April 2016


Genre: Biografi dan Drama. Berdasarkan buku The Burning Season karya Andrew Revkin. Skenario: William Mastrosimone, Michael Tolkin, dan Ron Hutchinson. Cerita: William Mastrosimone. Sutradara: John Frankenheimer. Dibintangi: Raul Julia, Carmen Argenziano, Sônia Braga, Kamala Lopez-Dawson, Luis Guzmán, dan Edward James Olmos. Musik: Gary Chang. Negara asal: Amerika Serikat. Bahasa: Inggris.



SERATUS orang tanpa pendidikan itu pemberontakan, satu orang berpendidikan adalah awal sebuah pergerakan. Itu perkataan dalam adegan paling saya suka dalam film ini: Chico Mendes mengucapkannya dengan keyakinan utuh, saat ia sedang bermain kartu dengan mentor gerakannya.

Chico Mendes menyadari  Perlawanan tanpa pendidikan sama halnya pemberontakan. Pemberontakan boleh saja disebut radikal, tapi belum tentu punya maksud. Pemberontakan bisa jadi usaha pembebasan masyarakat, namun tidak bisa disebut perlawanan. Perlawanan di mana pun itu pasti punya gagasan. Punya ide. Dua hal inilah yang memberikan arah. Menunjuk suatu cara yang etik juga strategik. Mendes melihat itu, dan satu-satunya yang mampu memediasi itu cuman satu: ilmu pengetahuan.

The Burning Season (1994) film yang bercerita banyak hal soal kepentingan global yang merangsek masuk  merombak habis ekosistem hutan beserta kebudayaan di dalamnya. Banyak dimensi sosial masyarakat pedalaman dirusak akibat kekuatan kapital. Menggoyah tradisi kultural, merobek paras kebudayaan, dan membelah tatanan sosial jadi timpang.

Semua bermula dari satu konsep: kapitalisme. Akibatnya, di film yang berbasis kenyataan itu dibuka dengan tatanan yang ambruk. Di Chacoeira saat itu, dari mata polos Mendes kecil, kapitalisme bisa menjelma apa saja. Ia melihat masyarakat yang ditilap tengkulak medioker. Masyarakat penyadap karet yang hidup di bawah bayang-bayang ketakutan. Orang-orang yang tak bisa berbuat banyak akibat utang berlapi-slapis. Situasi dekaden tanpa hukum. Suatu realitas kehidupan yang membuat Mendes kecil mulai menyoal, apa itu keadilan?

Dari mata kecil Mendes, keadilan harus bekerja betapapun sederhananya. Di tempat Mendes kecil tinggal saat itu,  keadilan harus ada di saat orang-orang menimbang getah karet. Keadilan harus ada ketika pertukaran terjadi. Tak soal betapapun digitnya. Keadilan di kehidupan masyarakat Chacoeira, saat itu sama artinya dengan  keberlangsungan hidup yang harus terus dikayuh. Keadilan, dengan arti lain—juga sampai hari ini, bukan pasal transaksi ekonomi belaka, melainkan bagaimana mau jujur terhadap kenyataan yang terjadi.
Tapi, keadilan jika sudah lacur akibat kepentingan ekonomis, maka itu disebut kezaliman. Dan itulah yang membuat sesal Mendes kecil kelak. Akibatnya, dia harus memperkarakan sikap mangut ayahnya pasca menukar hasil getah karet. Penggalan pengamalaman itulah yang bikin sesak. Barangkali di hati kecil Mendes saat itu, apapun bentuknya kezaliman harus tumbang.

Saya kira jika mau mencermati adegan awal film ini, ada dua hal yang penting. Pertama, sikap kritis Mendes kecil yang diajukan kepada ayahnya pasca menjual getah karet. Kedua, keberadaan sosok laki-laki yang datang mengajari Mendes kecil pengetahuan matematis.

Kritisisme itu penting. Apalagi jika itu pada konteks masyarakat Chacoeira tempat Mendes hidup. Yang patut disadari, kritisisme itu bukan dimulai dari dunia kesadaran orang-orang dewasa masa itu, melainkan dari seorang Mendes kecil. Di sini penting memahami kritisisme, dari adegan itu kritisme mau dibilangkan sebagai kualitas manusia paling hakiki. Esensi kemanusiaan paling muda.

Itulah mengapa hanya Mendes kecil yang punya, bukan yang lain. Orangtua, dengan umur berjibun pengalaman kadang harus takluk dengan berbagai macam pertimbangan dan juga kepentingan. Namun, sebagaimana ilmu pengetahuan itu bermula, kritisisme selalu dimulai dari kesadaran polos layaknya anak-anak.
Artinya kesadaran kritis selalu lebih dahulu dari berbagai macam pengalaman. Dengan kata lain, kesadaran kritis hanya butuh satu modalitas manusiawi; rasa ingin tahu. Dan semua orang punya itu, termasuk Chico Mendes.

Jika pendidikan itu dimulai oleh rasa tahu, maka Mendes kecil memulainya dengan cara yang tepat. Di sinilah relevansi kedatangan sosok pria yang mengajarinya ilmu berhitung. Ilmu yang adaptable dengan kehidupan Mendes kelak. Yang menarik, ilmu yang dipertukarkan melalui relasi timbal balik antara Mendes dan sosok pria misterius itu dilakukan melalui praktek naratif.

Dengan metode itu, ilmu berhitung bukan sekedar angka-angka matematis imajinal yang dijumlahkurangkan, tapi juga dibangun dengan kekuatan cerita yang berbasis pengalaman. Artinya pendidikan bukan soal sejauh mana transfer pengetahuan diberlangsungkan, tapi sejauh apa bermanfaat bagi kehidupan kongkrit masyarakat.

Banyak bilang The Burning Season salah satu film yang menyediakan perangkat pengetahuan soal membangun gerakan sosial. Dan saya kira film ini tidak soal diasumsikan demikian, walaupun begitu banyak medan adegan bisa membuka perspektif lain.

Namun, jika banyak beragam pemikiran terbangun di film itu, akan sia-sia belaka kalau tidak bisa menjadi perangkat pemahaman memahami dunia pembaca.

Saya kira ini yang penting, bagaimana mendialogkan adegan demi adegan (dunia simbol, teks) dengan kehidupan sehari-hari kita (dunia pembaca).

Apabila dibuatkan skema triadik, antara dunia pengarang (sutradara, produser, kru film, dan seluruh tenaga produktif di balik layar), dunia teks (konten film adegan per adegan, simbol demi simbol), dan dunia pembaca (penonton, penafsir bebas), maka yang mau diharapkan bagaimana pesan film itu bukan semenamena punya pembuat film maupun konten film itu sendiri, tapi maksud apa yang bisa kita artikan terlepas dari kepentingan film di belakangnya. Apa faedahnya buat kita?

Saya kira perjuangan Chico Mendes (sebelumnya Wilson Pinheiro) mewakili soal-soal masyarakat perkotaan dan pedalaman kekinian. Di Sulawesi Selatan—tanpa lupa menyebut kasus-kasus agraria di berbagai kawasan Indonesia, juga mengalami hal yang sama. Di Makassar sendiri, yang paling kekinian adalah keinginan Pemkot Makassar mereklamasi kawasan pesisir yang sudah dimulai sekira tahun 2000. Saya kira pada konteks inilah The Burning Season harus ditempatkan.

Perlawanan terhadap jejaring kekuasaan di mana pun jika ditarik kembali pada pertanyaan mendasar: bagaimana cara membangun gerakan perlawanan, berarti harus menyoal hal-hal elementer seperti 1) apa yang dilawan? 2) mengapa perlu ada perlawanan? 3) untuk apa membangun perlawanan? 

Chiko Mendes jelas atas tiga soal dasar ini. Dia melawan perusahaan yang membakar lahan semena-mena, dia melawan akibat penyalahgunaan lahan mengancam keberlangsungan hidup masyarakatnya, dan Chiko Mendes melawan untuk menjaga generasi masa depan dapat merasai kehidupan layak.

Di konteks kita belakangan ini, kadang tiga pertanyaan elementer itu membuat soal baru. Niat membangun gerakan selalu patah lantaran pembacaan situasi yang tidak komprehensif. Khusus soal apa guna membangun perlawanan justru hanya merupakan saluran rangkaian proses memperbaiki jiwa personal. Banyak ekses yang timbul akibat gerakan yang jadi lancung. Yang paling fundamental adalah, berubahnya karakter gerakan sekedar aksi seremonial belaka. Saya kira, selain pragmatisme perlawanan yang kadang menyampir kekuasaan, moralitas gerakan berbasis gagasan juga jadi soal antik yang harus dipecahkan.

Perlawanan Mendes adalah gerakan dari lokalitas menuju globalitas. Di tataran lokalitas, dia melawan tengkulak kaki tangan perusahan-perusahan, orang-orang apatis, dan juga pihak keamanan. Di tataran global, Mendes bersuara di tengah glamourisme kapitalisme global. Di dua level itulah medan perlawanan Mendes dengan membangun Serikat Pekerja Pedesaan (Sindicato).

Mendes bergerak bersama orang-orang yang resah, orang malang yang mau melihat keadilan tak cuma konsep di atas mimbar-mimbar ilmu pengetahuan. Dan, yang tak kalah penting, perjuangan Mendes bukan sekedar perjuangan moral belaka. Mendes membangun gerakan politik.

Perlawanan Mendes mengkonsolidasikan kebutuhan masyarakat  dari kebutuhan ekonomis sampai keperluan membangun gerakan politik, sebenarnya merefleksikan tesist yang dikandung dalam marxisme.

Pencalonan Mendes mau menjadi pemimpin daerah, jangan diartikan pilihan pragmatis sebagaimana politisi medioker di negeri kita. Dalam konteks Mendes, pencalonannya mewakili suara golongan marginal yang tersisihkan akibat logika kapital. Mendes menjadi simpul kelompok masyarakatnya di bawah satu tema perlawanan. Dengan cara ini, Mendes menaikkan level gerakan tidak sekedar dari dimensi ekonomi melainkan sampai menyentuh dimensi politik. Dengan kata lain, pencalonan Mendes adalah radikalisasi gerakan serikat dari asumsi ekonomis menjadi politik.

Sisi lain juga harus dicermati adalah kehadiran Steven Kaye, seorang filmmaker. Tanpa kehadiran tokoh ini, perjuangan Mendes barangkali tak akan dikenal seperti sekarang ini. Banyak adegan menunjukkan, kala Mendes mendapatkan informasi dari Kaye yang signifikan memberikan perspektif baru bagi perjuangan serikat pekerja. Banyak momen penting akibat pertukaran informasi melalui mediasi Kaye. Akibatnya, Mendes mendapati suatu horison baru dalam mendudukkan perjuangannya. Di sini unsur media menjadi faktor ampuh membuat suara Mendes akhirnya punya gaung di kancah internasional.

Masa perjuangan Mendes terjadi sekira tahun 80an. Masa kala Brazil sedang gencar melakukan perubahan mendasar. Sama halnya di Indonesia, developmentalisme jadi kiblat pembangunan.

Itulah sebabnya, hutan tak punya tempat dalam skema pembangunan berdimensi industrial. Menarik kalau mau memperhadapkan dua konteks tradisi yang samar-samar diperlihatkan dalam The Burning Season.
Tradisi pertama tentu diwakili mitos kemajuan yang dikandung dalam developmentalisme itu sendiri. konsep dasar dari developmentalisme begitu terang ditunjukkan dengan benda-benda semisal traktor, gergaji mesin, dan juga konsep-konsep kekayaan yang diartikan sebagai keberlimpahan finansial.

Sementara tradisi kedua adalah apa yang ditunjukkan dari mitos-mitos yang kerap tumbuh dalam masyarakat agraris, berupa simbolisme binatang sebagai ratu adil. Dua tradisi inilah yang sebenarnya juga diperlihatkan sebagai latar imajinal dalam The Burning Season. 

Akan sangat menarik jika dua tradisi besar ini: tradasionalisme dan modernisme, diuji kembali relevansinya melalui film berdurasi 108 menit ini.

Gerakan sosial manapun akan selalu mengandaikan subjek perubahan. Tesis ini sudah rumus paten. Yang soal adalah bagaimana subjek perubahan harus dipahami. Apakah dia sesuatu ihwal yang metafisis atau sebaliknya. Apakah dia seorang mesias atau suatu kaum.

Tapi sejauh film ini disaksikan, antinomi inilah yang secara dialektis berproses. Banyak frame adegan yang selalu dimulai dari tubuh patung Yesus yang disalib dengan anak panah yang menancap. Secara simbolis itu bisa dibaca dua hal: agama jadi mandul di hadapan masyarakat tertindas, atau justru agama, seperti ditampakkan Wilson Pinheiro membangun kesadaran di dalam gereja, adalah kekuatan aktif yang bisa menyulut perlawanan.

Sebagai suatu subjek aktif, Mendes diposisikan sebagai pelanjut perlawanan yang sudah digagas Pinheiro dari awal. Ini indikasi terang bahwa gerakan sosial hanya bisa berlangung dalam sistem yang terus berlanjut. Gerakan sosial, bukan gerakan sekali pukul, melainkan suatu pola sistemik dengan rancangan program. Atau dengan kata lain, gerakan sosial adalah perlawanan yang  terencana secara terus menerus.

Di dalam formasi itulah penting melibatkan dua kekuatan utama yang lain, intelektualisme ekologis dan aktivisme serikat pekerja. Yang pertama di wakili oleh Regina de Carvalho, mahasiswa perguruan tinggi Sao Paulo Brazil yang juga sekaligus aktivis lingkungan. Sedangkan yang kedua adalah Wilson Pinheiro itu sendiri. Kedua simbolisme ini, secara organik seperti yang dibilangkan Antonio Gramsci, Pemikir Marxis Italia, sebagai intelektual yang turut aktif melibatkan diri langsung di kehidupan masyarakat tertindas. Intelektual organik macam itulah, yang membuat kelompok perlawanan Sindicato terus bergerak dengan asupan teoritik dan praktik.

Itulah sebabnya, agen aktif sebagai subjek gerakan dimulai dari suatu tim kerja. Di sinilah arti penting kesadaran organisasional. Saya kira hal ini terang ditampakkan dari skema kerja yang dilakukan Mendes. Dia memimpin organisasi, menyusun rangkaian kerja, dan memasang target periodik. Dan, itu dilakukan secara kolektif, bukan ketokohan personal.

Hal inilah yang juga harus kita ambil, yakni gerakan sosial selalu dimulai dengan kesadaran kolektif. Dua antinomi yang kerap hadir: kekuatan metafisis dan daya intelektual, dua modalitas yang mesti didialogkan. Ini perlu apalagi, seperti masyarakat tempat Mendes berjuang, agama merupakan kekuatan alam bawah sadar yang potensial jadi motor perubahan.

Setiap perjuangan mengandung risiko. Bahkan risiko sebenarnya bagian inheren perjuangan. Akan naif bagi orang yang berjuang tanpa mau menerima risiko. Chico Mendes sudah tahu, risiko bakal ditemuinya bisa saja seperti nasib Wilson Pinheiro: kematian.

Di kemungkinan inilah idealisme perjuangan Mendes dipertautkan melalui aksi non kekerasan. Akibatnya Mendes sadar, idealisme perjuangan memang melampaui tubuh yang bisa koyak akibat peluru panas. Kecuali ada jaminan kurir langit yang menggaransi kematian satu orang membuat korporasi berhenti membabat hutan. Begitu ucapnya di suatu adegan bersama Ilzamar, istrinya.

Perjuangan Mendes dan serikatnya terus berlanjut. Banyak korban berjatuhan. Akibatnya, pihak perusahan terdesak menghentikan pembabatan akibat dukungan pemerintah. Namun apa boleh dikata, selalu ada pihak yang sulit menerima kenyataan. Pasca kepala daerah setempat menyatakan melindungi kawasan hutan. Mendes meregang nyawa. Tubuhnya dikoyak pelor panas tepat dikediamannya. Dia dibunuh seperti kawan sebelumnya. Chocheiro berduka.

Tak ada perjuangan yang sia-sia. Tahun 1990 tertanggal 12 Maret, Pemerintahan Brazil menetapkan 2,5 juta are kawasan di sekitar sungai amazon sebagai hutan suaka yang dilindungi dari penebangan, pembakaran dan pembukaan lahan. Tempat itu bernama Suaka Alam Chico Mendes.

Syahdan, seperti makhluk bernyawa lain, Chico Mendes sudah dahulu berpulang. Tapi seperti yang diucapkannya, selalu ada pekerjaan bagi orang-orang yang ditinggalkan.