: 19 Agustus 2018
Sutradara: Manuel Martín
Cuenca. Penulis skenario: Manuel Martín Cuenca, Alejandro Hernández. Genre:
Komedi, Drama. Pemain: Javier Gutiérrez, María León, Antonio de la Torre, Adriana
Paz, Tenoch Huerta, Bald Adelfa, José Carlos Carmona. Durasi: 112 menit.
Produksi: Icónica Producciones. Tanggal rilis: 2017. Rating: 6,8/10 (IMDb), 60%
(Rotten Tomatoes)
JIKA Anda ingin menjadi penulis dengan cara picik, saya sarankan bergegas menonton
film besutan Manuel Martín Cuenca ini. Film ini menyediakan trik busuk
sekaligus “berbahaya” ketika Anda tidak punya ide apa-apa saat ingin menulis sesuatu.
Rumusnya
sederhana: cukup menulis setiap kejadian dari apa saja yang Anda lihat dan
dengarkan di sekitar Anda. Lalu apanya yang picik dan berbahaya?The
Motive berpusat kepada kehidupan Alvaro (Javier Gutiérrez), suami dengan istri
seorang penulis best seller yang memutuskan hidup sendiri dengan menyewa flat
sederhana di suatu sudut kota Sevilla.
Ia
mengambil keputusan itu pasca memergoki Amanda (María León), istrinya, berselingkuh
di suatu malam buta. Tapi, selingkuh alasan kesekian bagi Alvaro. Ia minggat
karena iri sekaligus ingin fokus menulis suatu karya yang disebutnya karangan
“sastra tinggi.”
Lalu
apa karangan “sastra tinggi” yang diandaikan Alvaro?Tiada
lain tiada bukan adalah hasil karya yang ia ramu setelah memanipulasi
perilaku-perilaku tetangganya. Bagi Alvaro, sastra tinggi adalah fiksi yang
benar-benar bermuara dari kehidupan nyata. Saking nyatanya, Alvaro menciptakan
konflik setelah “merekayasa” pengalaman hidup tetangga flatnya.
Di
titik ini, menarik menelusuri pribadi Alvaro yang ambisius sekaligus tidak
punya bakat menulis. Sebagai pribadi yang diselimuti iri hati kepada istrinya
setelah meraih penghargaan karangan best seller, Alvaro menjelma menjadi
pribadi yang menafikan sisi kemanusiaan
demi mencapai tujuannya.
Dari
ceruk hasrat inilah Alvaro “membajak” tetangga flatnya dengan menyusun skenario
yang ia inginkan. Di sini, ia menjadi seorang pengamat yang jeli mencatat
setiap pribadi tetangganya. Mengkaplingnya menjadi karakter yang benar-benar
hidup dalam karangannya.
Melalui
prinsip sederhana menulis setiap kejadian dari apa saja yang ia lihat dan
dengarkan, ia sekaligus memosisikan diri sebagai “psikolog behavioris” yang
mencatat setiap respons tindakan dari stimulus yang ia ciptakan.Pertama,
ia memanipulasi perilaku dan perasaan Portera (Adelfa Calvo), seorang perempuan
paruh baya bertubuh gempal yang miskin kasih sayang dengan mengajaknya
bercinta. Melihat bagaimana gelagat dan sikapnya pasca ditiduri, mencatatnya
sebagai bahan salah satu karakter novelnya.
Kedua,
ia menyusun skenario bersama Portera agar dapat masuk ke kehidupan Montero
(Rafael Téllez), seorang pria uzur bekas tentara yang tertutup dan memiliki
pistol tua yang ia sembunyikan di berangkas rahasianya.
Ketiga,
ia menggunakan keahliannya sebagai notaris untuk pura-pura membantu masalah
keuangan Irene (Adriana Paz) dan Enrique (Tenoch Huerta), sepasang suami istri
imigran dari Meksiko.
Sosok
Javier Gutiérrez dalam film ini sangat apik memerankan pribadi Alvaro yang
dingin serta tidak tanggung-tanggung melakukan apa pun demi menghasilkan
karangan bernas.
Ia
seorang idealis dengan rencana-rencana yang disusun sepresisi mungkin agar
dapat sesuai dengan ekspektasi karangannya. Sangat berbeda dengan istrinya yang
lebih mengikuti arus pasar dalam menulis.
Perbedaan
ideologi kepenulisan Alvaro dengan istrinya Amanda, mengingatkan saya mengenai
sejarah kesastraan tanah air yang banyak menghasilkan polemik kebudayaan. Semua
itu seakan-akan diafirmasi melalui posisi ideologi kepenulisan Alvaro yang
cenderung realis dan Amanda yang lebih populer.
The
Motive walaupun minim konflik, dibesarkan melalui rasa penasaran yang dipupuk
dari perhatian para penontonya. Setidaknya, ketika kita bersetia mengikuti
jalan pikiran Alvaro saat mengembangkan jalan cerita karangannya dengan
pura-pura berperan baik di hadapan tetangga flatnya.
Dari
titik ini, menarik mendalami hasrat Alvaro yang mengorbankan setiap waktunya
agar dapat bersabar menunggu respons tindakan kehidupan di sekitarnya.
Sampai-sampai ia tidak ambil pusing mengenai nasib tetangganya agar mendapatkan
“konflik” ciptaan setelah merekayasa kehidupan mereka.Bagi
Alvaro, konflik yang betul-betul konflik adalah masalah-masalah tetangganya
yang ia ciptakan. Itu yang ia rasa sebagai inti karangannya. Itulah sebabnya
didorong hasratnya yang besar, ia rela menghancurkan kehidupan harmonis
tetangganya.
Hampir
semua adegan demi adegan The Motive berpusat kepada sosok Alvaro dan
kehidupannya. Nyaris tidak banyak adegan yang memberikan ruang lebih bagi
karakter lain.
Toh,
jika ada,itu hanya dijelaskan secara sepintas melalui dialog-dialog Alvaro
dengan Portera ketika ia ingin mendalami latar kehidupan tetangganya. Bisa
dikatakan, The Motive adalah film yang hanya berpusat kepada satu narasi yang
tentunya diperankan Alvaro.
Itulah
sebabnya dapat dipahami mengapa film yang dirilis dengan judul El Autor ketika
ditayangkan pada Festival Film Toronto 2017 ini menggunakan The Motive sebagai
judul lainnya. Dari judulnya sudah dapat ditebak bagaimana hasrat yang
diperankan Alvaro menjadi postulat dasar yang menggerakkan jalan cerita fim
ini.
Berkat
kemampuan akting Javier Gutiérrez dan Adelva Calvo yang mampu menghidupkan
karakter Alvaro dan Portera secara berani, membuat mereka diganjar penghargaan
aktor terbaik dan aktris pendukung terbaik pada Goya Award 2017, suatu ajang
penghargaan film nasional utama di Spanyol.Syahdan,
dari sekian banyak film yang mengangkat dunia tulis menulis, The Motive menurut
saya cocok untuk dijadikan tontonan reflektif untuk menakar seberapa busuk niat, ataupun cara kita saat menulis.--
Telah
dimuat di Karepe.com