Marmoulak: Dark Humor Mullah Gadungan

: 30 Desember 2018

 

Tahun rilis: 2004. Genre: Drama, komedi. Durasi: 115 menit. Sutradara: Kamal Tabrizi. Pemeran: Parviz Parastui, Bahram Ebrahimi, Shahrokh Foroutanian. Studio: Faradis. Negara: Iran

 

MARMOULAK adalah ironi. Komedi, olok-olok, dan bahkan dark humor.

Film yang bertolak dari premis sederhana ini, berupa seorang residivis yang menyamar menjadi mullah, mendapat kecaman dari pemerintah Iran.

Film ini dituduh sebagian kalangan merendahkan kharisma ulama di negeri para mullah itu.

Tidak saja itu, film ini seolah-olah menggambarkan profesi mullah hanya untuk kalangan orang tidak terdidik saja.

Walaupun begitu, siapa pun yang telah menontonnya akan segera tahu, Marmoulak adalah suara kritis tentang agama itu sendiri.

Marmoulak dibuka dengan adegan seorang residivis perampok bersenjata yang berusaha melarikan diri dari kejaran polisi.

Dia kepergok polisi saat hendak melakukan aksi kejahatannya, dan berusaha kabur memanjat dinding tinggi yang merintangi jalannya. Belum lama naik, sebutir peluru meletus melubangi tembok nyaris mengenai kepalanya. Gagal. Dan ia tertangkap.

Di penjara, ia sempat membuat kagum sipir penjara dan para tahanan. Ia memanjat dinding menyelamatkan seekor merpati yang terjerat kawat berduri. Tanpa alat bantu ia lebih mirip cicak daripada manusia. Itu sebab di kalangan para penjahat ia dijuluki marmoulak, si Kadal pandai pemanjat dinding.

Berkali-kali di dalam penjara, Reza si Kadal Mesghali, nama tokoh kita ini, dihukum di sel gelap berhari-hari. Ini pendekatan khusus kepemimpinan tangan besi kepala sipir yang memiliki reputasi kejam dan memiliki pandangan unik tentang penjara.

”Tubuh bakal sehat dengan dua hal, olahraga dan diet...di tempat ini kamu bakal menjalani diet spiritual agar jiwamu kembali sehat.”

Penjara, di mata kepala sipir ini, ibarat kuil yang memugar kembali jiwa-jiwa pesakitan.

Setiap narapidana di bawah kepemimpinannya adalah orang-orang malang yang mesti disembuhkan.

”Kita bakal akan sering bertemu di sini, lebih baik kamu dipaksa masuk surga dengan cara-cara terpaksa sekalipun...”

Mendengar perkataan itu Reza si Kadal mengerti dengan siapa ia akan berhadapan. Kepala sipir ini bukan orang sembarangan.

Tapi, tidak ketika pertama kali datang, di lapangan olah raga, di ruang makan, banyak ulah  membuat Reza si Kadal mesti dihukum di sel khusus.

Berkali kali itu pula Reza gelisah hingga depresi. Sampai suatu tempo ia ingin bunuh diri. Nahas, ia kepergok temannya sendiri. Mereka berkelahi. Bunuh diri tindakan yang dimusuhi agama.

Tapi niat Reza sudah bulat. Mereka bergumul sampai di bawah lantai. Tiba-tiba ada yang berdarah. Lengan Reza si Kadal sobek akibat pecahan botol obat bunuh diri. Temannya pingsan melihat darah. Reza dilarikan ke rumah sakit.

Di rumah sakit inilah Reza mendapatkan ide gila itu. Ia sekamar dengan pasien yang juga bernama Reza. Reza yang ini kebetulan adalah seorang mullah. Itu ia tahu ketika di waktu-waktu salat Reza bergegas berwudu dan salat lengkap menggunakan jubah mullahnya.

Seiring waktu Reza si Kadal kemudian berteman dengan Reza si mullah. Bahkan mereka sempat terlibat perbincangan mengenai Tuhan dan nasib manusia. Bahkan ada perkataan Reza si mullah yang melekat di kepala Reza si Kadal: untuk sampai ke Tuhan, ada banyak jalan seperti banyaknya jumlah manusia.

Sampai akhirnya Reza si mullah dinyatakan sehat dan bisa segera pulang. Sebelum pulang sang mullah menyempatkan salat.  Melihat kesempatan ini, Reza si Kadal bertindak cepat mencuri jubah Reza si Mullah yang ia tanggalkan sebelum berwudu.

Penyamaran Reza si Kadal membuatnya lolos dari penjagaan. Menggunakan pakaian keulamaan khas Iran, sampailah pelariannya di sebuah desa. Suatu desa terpencil yang ternyata sudah bertahun-tahun membutuhkan bimbingan seorang ulama. 

Di desa inilah banyak kejadian yang mengarah ke dark humor --walaupun kasat mata dark humor ini sudah dapat disaksikan dari awal berupa keperawakan petugas sipir yang senantiasa menjaga Reza si Kadal yang berkeperawakan kecil, culun, dan berkaca mata tebal lebih mirip seorang kutu buku, kontras dengan petugas penjaga penjara umumnya yang berwajah garang dan tegap.

Sebelum sampai di desa, dalam pelarian, Reza si Kadal langsung mendapat keistimewaan berkat pakaian mullah. Di atas kereta api Reza mendapatkan perlakuan khusus mengisi kamar penumpang yang masih kosong. Dikatakan oleh masinis kehadirannya turut memberikan berkah bagi perjalanan kereta api itu.

Selama di kereta api itu-lah mullah gadungan ini merasakan efek busana ulama yang dikenakan. Tidak lama berselang datang perempuan muda beserta ibunya dititip di kamar si mullah gadungan. Di tempatnyalah dianggap ruangan paling aman. Di sisi mullah siapa yang berpikir akan lahir kejahatan?

Tak dinyana, selama perjalanan ibu si perempuan curhat dan meminta berkat. Ia mengharap didoakan, diberikan wejangan agar kehidupan putrinya dapat berubah setelah mendapatkan suami yang keras kepala. Sang mullah palsu tercekat. Apa boleh buat, dengan mimik dibuat-buat, ia bertindak juga sebagai mullah mendoakan kedua perempuan di hadapannya itu. 

Dari adegan ini --dan yang lainnnya--penonton sudah dapat merasakan seperti apa posisi para mullah dalam klasifikasi kelas masyarakat Iran. Para mullah merupakan kelas masyarakat khusus yang mengisi puncak atas starifikasi sosial.

Ulama di Iran, begitu dihormati, disegani, dan dikasihi lantaran perannya sebagai pembawa berkat dan pelanjut risalah agama.

Itulah sebabnya, barang siapa menempuh jalur pendidikan menjadi mullah, dia dengan sadar akan masuk ke dalam suatu sistem hirarki membuatnya bakal berbeda dari kelas masyarakat lain.

Kisah Marmoulak memang nampak sederhana. Tapi, di situlah kekuatannya: ia vulgar mencerminkan suatu realitas lain yang kerap terjadi ketika agama, kaum ulama, dan masyarakat diikat tanpa suatu kesadaran atas ketiganya. Seperti gelagat Reza si Kadal menjadi tokoh agama di tengah-tengah masyarakat berkemampuan nalar masih ”kanak-kanak”.

Gelagat Reza si Kadal, dengan pakaian keulamaan yang dicurinya, menjadi kunci cerita bahwa agama bukan sekadar embel-embel eksoteris. Agama bukan prinsip yang menekankan pakaian atau jubah luar sebagai nilainya. Justru ketika itu terjadi, agama hanya seolah-olah benda kosmetik. Ia bisa dipolas-poles seiring tujuan gelap di belakangnya. 

Lantaran meyakini agama dari segi eksoteris belaka, seperti ditunjukkan Reza, banyak orang yang berhasil dikadalin --di sinilah juga menjadi relevan julukan Reza si Kadal, dengan gelagat mirip mullah ia berhasil menipu banyak orang yang menganggapnya sebagai ulama.

Peran Reza si Kadal demikian bebas lantaran di dorong konteks masyarakat beragama yang berkembang tanpa sistem kepemimpinan rasional.

Ciri ini mirip dengan pola kepemimpinan masyarakat yang bersifat kharismatik yang mengandalkan kebesaran, pesona, dan personifikasi non logis yang ditemukan pada masyarakat pedesaan yang sering disebut terbelakang. 

Pola kepemimpinan agama seperti ini akan melahirkan tipe masyarakat yang kolot, dekaden, dan klenik daripada kecenderungan-kecenderungan yang mampu membuatnya berkembang dan dinamis.

Keberadaan Reza si mullah gadungan di desa juga membuat dua orang pemuda di desa itu seperti kejatuhan durian runtuh. Mereka menjadi sosok yang mewakili rasa ingin tahu, hasrat pencarian, dan kepastian atas suatu jawaban.

Itulah sebabnya, hampir setiap waktu Reza si Kadal kelimpungan menjawab pertanyaan mereka berdua. Ada-ada saja yang diberikannya sebagai jawaban yang anehnya dipercaya saja oleh kedua pemuda ini.

Mulai masalah fiqih semisal bagaimana menentukan posisi kiblat di luar angkasa, bagaimana menentukan waktu salat jika di Alaska yang enam bulan siang enam bulan malam, sampai soal-soal teologi adalah pertanyaan-pertanyaan aneh yang dilontarkan sang pemuda.

Yang unik dari Reza si mullah gadungan adalah perannya yang bertolak belakang dengan dirinya sendiri. Di balik jubah keulamaan yang dikenakannya, Reza si Kadal adalah pribadi kambuhan, tidak percaya surga neraka, permisif dan nihilistik. Namun, ketika ia dimintai mengisi pengajian dan ceramah, peran sebaliknyalah yang diperagakannya: optimis, tawadhu, dan nampak

Bertolak melaui itulah forum-forum pengajian yang diisinya pelan-pelan membludak. Tiba-tiba ia jadi sosok mullah yang mengisi kekosongan spiritual di desa yang sudah lama tidak terjamah peran mullah.

Hingga akhirnya keberadaan mullah gadungan ini dicium oleh si kepala sipir. Akhirnya dia ditangkap tanpa sepengetahuan jamaahnya yang sudah menunggu di masjid tempatnya sering berceramah. 

Satu poin yang menarik dari Reza si Kadal yakni sosoknya yang begitu mengena bagi kehidupan nyata kita. Jangan-jangan banyak di antara kita yang selama ini beragama hanya dengan mengedepankan aspek-aspek eksoteris agama tanpa menyerap dimensi esoterisnya. 

Jangan-jangan selama ini agama hanya tameng yang menutupi gelagat hipokrit kita. Jangan-jangan agama selama ini hanya digunakan untuk mengkadal-kadalin, menipu, menghasut masyarakat dengan maksud-maksud negatif. 

Atau jangan-jangan perilaku kita sebagai umat beragama hanya senang menilai seseorang dari embel-embel luar tanpa melihat sepak terjangnya dalam masyarakat. 

Jangan-jangan dengan menjalankan praktik agama, seperti disebutkan di atas, kita semua sebenarnya sedang tidak beragama. Kita sedang menipu diri, bahkan Tuhan itu sendiri.

Seperti film-film Iran lainnya, ending film ini seolah-olah anti klimaks. Dia hanya ditutup dengan adegan jamaah Reza yang sedang berkumpul sambil melantunkan doa-doa sembari menunggu kedatangaannya. Model seperti ini memang terbuka lebar untuk diberikan penafsiran, apakah ujung dari film ini berakhir bahagia atau sebaliknya. Ia malah ditutup dengan adegan yang seolah-olah bukan untuk penutup.