Baran: Melihat Cinta Bekerja

 
: 03 Januari 2019

Tahun rilis: 2001. Genre: Drama, Roman. Durasi: 94 menit. Sutradara: Majid Majidi. Pemeran: Hossein Abedini, Zahra Bahrami, Mohammad Amir Naji. Studio: Fouad Nahas. Negara: Iran


KONON demi menyempurnakan pendekatan neorealis dalam filmnya, sineas asal Iran, Majid Majidi, memilih menggunakan pemain lokal di tempat di mana film itu dibuat. Majidi  ingin setiap pemainnya betul-betul berperan mewakili karakter filmnya. Majidi juga bermaksud meminimalisir jarak antara aktris denga peran yang dimainkannya. Ini semata-mata agar adegan demi lebih hidup dan alami seperti daklam kenyataan sebenarnya. 
Dengan keputusannya ini lahirlah film-film yang hidup, alami dan mengalir seolah-olah betul-betul sedang terjadi.
Baran (2001) salah satu contoh film yang diproduksinya dengan pendekatan neorealis. Film diset dalam konteks kejatuhan Afghanistan pasca pendudukan Uni Soviet. Menggunakan para kuli bangunan asli, imigran, dan orang lokal, Baran memberikan suatu gambaran bagaimana nasib masyarakat begitu rentan hancur,  dan tanpa tahu akan kemana berakhirnya akibat gejolak perang atas nama nasionalisme.
Baran bercerita tentang kehidupan para kuli bangunan ilegal di suatu kawasan Iran yang sebenarnya merupakan para imigran gelap. Umumnya para imigran berasal dari Afghanistan, dan rela melakukan apa saja demi menyambung tali penghidupan di Iran. Kuli bangunan adalah satu-satunya pekerjaan paling mudah ditemukan lantaran tidak membutuhkan kualifikasi khusus selain daripada tenaga belaka.
Pekerja pelaku eksodus besar-besaran ini didorong konteks hancurnya sumber-sumber kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat akibat meletusnya perang saudara dan menguatnya rezim konservatif Thaliban. Musim paceklik akibat kemarau panjang ikut membuat keadaan semakin parah.
Saat itu, di tahun dekade 70-an, PBB mencatat ada lebih satu juta orang yang mengungsi ke Iran. Banyak di antaranya bahkan lahir dan tumbuh di Iran dan enggan kembali ke tanah airnya.
Dengan latar belakang seperti itu, Baran menjadi film yang kuat mengirim pesan melalui tokoh kunci dalam film ini. Apalagi di akhir film ini, setting di atas cukup signifikan melatarbelakangi kisah cinta dan tragedi dialami Latif dan Rahmat, kedua tokoh sentral dalam Baran.
Premis Baran sederhana saja, yakni kisah Latif, kuli bangunan yang jatuh cinta terhadap Rahmat, setelah ia tanpa sengaja tahu bahwa Rahmat, seorang anak laki-laki pendiam yang menggantikan pekerjaan bapaknya karena kecelakaan kerja, adalah seorang perempuan. Latif semula adalah pribadi kotor, pemarah, kasar, dan mudah tersinggung, tapi menjadi sosok yang 180 derajat berubah karena mencintai Rahmat.
 
Baran memang bercerita tentang romantisme dua insan yang jatuh cinta --yang sebenarnya hanya dialami oleh Latif--yang tidak fix mempertemukan keduanya dalam satu ending yang bahagia.
Tapi, meskipun bernuansa romansa percitntaan, Baran tidak mengemas cinta ke dalam adegan-adegan penutup klise seperti terdapat pada film umumnya, berupa diakhiri dengan pernikahan, pelukan, atau bahkan ciuman mengingat pemerintan Iran sangat ketat memberlakukan sensor bagi setiap proses pembuatan film.
Sisi lain, Baran juga bukan film yang memanipulasi perasaan penontonya melalui ending kesedihan. Justru di scene akhir senyuman Latif setelah kepergian Baran --yang sebenarnya adalah nama asli Rahmat—menjadi nampak misterius: apakah ia bersedih atau justru bahagia hanya karena melihat jejak sepatu Baran yang pergi meninggalkan dirinya. 
Sisi lain manusia
Ide dalam Baran yang menguak sisi manusiawi adalah perubahan drastis Latif. Awalnya Latif dirugikan setelah Rahmat menggantikan tugasnya untuk menyediakan makanan bagi para kuli. Pekerjaan yang semula mudah malah ditukar dengan pekerjaan Rahmat , yakni mengangkat semen-semen ke lantai atas dlsb.
Setelah marah kepada Mar'am sang pimpinan proyek sekaligus mandor, seluruh kekesalan Latif dilampiaskan kepada Rahmat. Bahkan sekali tempo saat Latif mengantar Rahmat ke langganan tempatnya membeli persediaan makanan, ia malah menampar Rahmat. Puncaknya karena begitu kesalnya kepada Rahmat, ia memporak-porandakan segala isi dapur tempat Rahmat bekerja.
Kelak terkuak kemarahan Latif bukan akibat posisi pertukaran pekerjaan antara dirinya dan Rahmat, melainkan pengaruh sentimen rasial di antara keduanya. Latif seorang Parsi yang otomatis adalah warga Iran, dan Rahmat seorang Afghani.
Dengan kata lain, di antara para pekerja bangunan yang diwakili Latif dan Rahmat, sentimentalisme rasial menjadi latar belakang mengapa sering terjadi perkelahian antara Latif dan para kuli bangunan lainnya.
Itulah sebabnya, di hadapan para pekerja imigran Latif sering berlagak superior karena keunggulan kewarganegaraannya.
Tapi, semuanya berubah total ketika tanpa sengaja, di kamar belakang, Latif melihat Rahmat sedang menyisir rambut panjangnya. Melalui sebuah siluet bayangan di tembok terkuaklah bahwa Rahmat adalah seorang perempuan--lewat teknik ini Majidi cerdas mensiasati pengambilan gambar tanpa harus memperlihatkan aurat perempuan seperti larangan dari pemerintahan Iran tanpa menghilangkan adegan kuncinya.
Pasca menyadari Rahmat adalah seorang perempuan, Latif mengalami semacam kesadaran baru. Ia bersimpati kepada Rahmat dan pelan-pelan hatinya tergerak menyukai Rahmat.
Cinta adalah kekuatan dahsyat mampu mengubah kedudukan jiwa seseorang, yang semula tegak ibarat ranting kering menjadi air yang bergerak menghidupi apa saja yang ditemuinya. Ia juga kekuatan yang turut mengubah sudut pandang seseorang, yang semula melihat sebelah mata menjadi jauh lebih menyeluruh. Selanjutnya cinta akan mengubah niat dan perilaku seseorang yang semula pasif menjadi lebih aktif dan dinamis.
Kekuatan macam itu mendasari jiwa Latif. Ia mengalami transformasi meninggalkan watak kerasnya menjadi lebih lunak. Akibat jatuh cinta, seperti arti hakiki namanya, Latif akhirnya berubah jauh lebih lembut dan berperilaku baik kepada orang-orang, terutama yang berhubungan dengan Rahmat.
Ia bahkan rela menanggalkan pekerjaannya hanya demi melihat curi pandang Rahmat yang dikaguminya. Tidak saja itu, kekagumannya sontak menghapus jarak rasial di antara mereka berdua.
Tapi sayang setelah diketahu petugas pemerintah, para kuli imigran dihentikan paksa oleh Mar'am. Setelah melalui aksi kejar-kejaran dengan petugas pemerintah, Rahmat akhirnya berhenti dan pergi bekerja di sebuah sungai menjadi kuli batu.
Tak tahan melihat hal ini, sambil mencari tahu siapa Rahmat sebenarnya (yang akhirnya ia tahu Rahmat bernama Baran) dan di mana ia tinggal, Latif kemudian berinisiatif membantu Baran beserta keluarganya yang terhimpit masalah ekonomi. Setelah mengumpulkan sejumlah gajinya selama setahun, walaupun ia juga susah, memberikan segala hartanya kepada Najaf, ayah Baran, melalui perantara.
Begitulah, pasca ”ditipu” karena uangnya tidak lekas sampai ke tujuan, Latif menjual satu-satunya surat pekerjanya kepada calo untuk membantu keluarga Najaf yang belakangan diketahuinya akan segera pergi menuju kampung halamannya, Afghanistan.
Kekuatan Cinta
Di kedalaman cinta adalah pengorbanan. Itulah yang tanpa disadari Latif dilakukannya demi Baran. Ia rela kehilangan tabungannya, gaji setahunnya dan pekerjaannya untuk dipertukarkan dengan kebahagian bukan saja Baran, namun juga keluarga Najaf.
Di titik ini walaupun wajar bagi profesinya sebagai kuli bangunan, pengorbanannya berupa seluruh uang yang diberikannya adalah tanda sepadan, bahkan belum ada apa-apanya dengan seluruh cintanya kepada Baran. Nilai cinta tidak ada apa-apanya dengan apa yang sudah ia berikan kepada Baran.
 
Puncak film ini barangkali ada pada adegan Latif yang bertemu seorang kakek tukang jahit sepatu pada saat ia mencari tahu tempat tinggal Najaf, yang juga berarti tempat tinggal Baran. Di masa pencarian itu ia dihentakkan melalui perbincangan singkat si kakek tua yang menyampir soal cinta sambil menunggu sepatunya selesai dikerjakan. Lantaran melihat tanpa sengaja kaus kaki Latif yang terbakar perapian, si kakek tiba-tiba berujar: ”Dari panasnya api karena cintamu pergi.. Nyalanya yang berkobar akan membakar hati...”
Seketika Latif terhenyak. Ia tahu menyadari, kepada Baran, ia sedang jatuh cinta.
Itulah dasar dari segala dasar perubahan jiwa Latif, pandangannya, perilakunya, dan juga niatnya. Walaupun ia tahu, apa yang dialaminya tidak bakal diketahui Baran, perempuan yang dicari-carinya, dikejar-kejarnya. Walaupun ia juga tahu, cintanya tidak akan menemui dan hinggap di hati Baran. Sesuatu yang musykil mengingat keadaan mereka berdua.

Cinta platonikkah itu?