The Colour of Paradise: Ketika Tangan si Buta Menyentuh Tuhan

 

: 05 Januari 2019


Data film:Tahun rilis: 1999 Genre: Drama keluarga Durasi: 90 menit Sutradara: Majid Majidi Pemeran: Hossein Mahjoub,  Mohsen Ramezani, Salameh Feyzi Studio: Varahonar Company Negara: Iran


SETELAH menonton Baran (2001) dan memutar ulang The Colour of Paradise (1999), kemudian mengingat-ingat kembali film legendaris The Children of Heaven (1997), saya baru menyadari dua tema besar yang menjadi kecenderungan garapan sineas terkenal Iran, Majid Majidi.

Pertama adalah perhatiannya yang lumayan besar kepada dunia anak-anak, dan yang kedua adalah keberpihakannya kepada golongan marginal terpinggirkan.

(Untuk perhatiannya terhadap anak-anak, ini juga bisa dijadikan alasan mengapa dalam Muhammad: The Messengger of God (2015), Majidi memberikan porsi besar terhadap masa kecil Rasulullah yang menjadi salah satu bagian penting dalam filmnya ini)

Khusus yang terakhir, saya menemukan dan merasakannya dalam The Colour of Paradise. Di film ini bahkan, dua kecenderungan di atas saling berkelindan dan saling bergantian menunjukkan signifikansinya mendelivery pesan-pesannya kepada penonton.

Kisah The Colour of Paradise adalah kisah Muhammad, seorang anak sekolah dasar berkebutuhan khusus. Tidak dikisahkan sejak kapan ia mengalami kebutaan, tapi sejak film dibuka scene menerangkan dengan gamblang Muhammad adalah salah satu murid dari sebuah sekolah luar biasa di salah satu sudut kota Teheran, Iran.

Digambarkan dari scene demi scene awal penceritaan, Muhammad ternyata murid berlatar belakang berbeda dari murid kebanyakan di sekolahnya. Ia berasal dari desa terpencil jauh dari Teheran, dan hidup di tengah keluarga serba berkecukupan. Walaupun begitu, Muhammad menjadi murid cerdas dan ditunjang dengan guru-guru yang baik hati.

Salah satu adegan penting sudah disisipkan Majidi di awal filmnya. Ketika sekolah masuk waktu liburan, dan seluruh anak-anak dijemput orangtuanya, tinggallah Muhammad seorang diri menunggu kedatangan orangtuanya yang tidak lekas menjemputnya.

Selama berjam-jam ia menunggu jemputan ayahnya --yang pada akhirnya datang terlambat dan berharap agar Muhammad tinggal saja di sekolah selama masa liburan karena tidak ada yang mampu mengurusnya kalau tinggal di kampung--Muhammad sempat menyelamatkan anak burung yang jatuh dari sarangnya --coba bayangkan seorang anak tunanetra memanjat pohon dan menaruh anak burung di sarang yang tidak ia lihat letak persisnya.

Di sini ada dua hal dapat saya tarik: pertama, Muhammad pada titik ini berada pada tegangan dilematis Hashem, ayahnya, berkenaan dengan dirinya yang membutuhkan pendekatan cara mengasuh yang berbeda dari kedua saudaranya. Di saat yang bersamaan Muhammad telah kehilangan ibunya yang menyebabkan ayahnya mengalami kecemasan saat mengasuh Muhammad.

Rasa cemas ini terutama juga, akan kelihatan berkaitan dengan nasib Hashem yang berkeinginan menikah lagi dengan seorang perempuan di desanya.

Di tengah-tengah dilema seperti inilah, Muhammad mau tidak mau diperlakukan secara cemas oleh ayahnya, antara harapan ingin membina rumah tangga baru, dan masa depan Muhammad yang bakal berbeda lantaran keadaan dirinya seorang anak disabilitas.

Itulah sebabnya Hashem di saat liburan nampak enggan membawa Muhammad pulang ke kampung halaman. Keberadaannya bakal membuat rencana pernikahan Hashem, yang jauh hari sudah disiapkannya akan berakhir kegagalan.

Dengan kata lain di mata Hashem, Muhammad menjadi beban yang ingin segera ia enyahkan lantaran tidaksanggup merawatnya.

Dari adegan demi adegan simptom persoalan ini akan terkuak di puncak konflik antara Hashem dan nenek Muhammad --yang sangat mencintai Muhammad. Di situ faktor alam bawah sadar Hashem adalah rasa cemas mendalam tentang masa depannya sendiri ketika menghadapi hari tua. Ia ingin di hari tuanya akan ada seseorang yang bisa mengurus dan merawatnya, dan itu mustahil ditemukan dalam diri Muhammad.

Solusi yang diambil ayah Muhammad untuk itu adalah dengan cara menikah lagi, sesuatu yang ditentang nenek Muhammad dari jauh hari. Pilihan ini sekaligus akan berimbas kepada Muhammad yang otomatis akan diabaikan, dan ini dengan kata lain menunjukkan suatu isyarat ayah Mohammad hanya mementingkan dirinya sendiri.

Kedua adalah akses pendidikan bagi orang seperti Muhammad, yang harus bersekolah jauh dari desanya. Problem ini ditengarai karena sekolah yang cocok bagi Muhammad hanya ada di wilayah perkotaan.

Tidak saja di Iran, problem fasilitas terutama pendidikan bagi penyandang disabilitas di beberapa negara masih minim. Kurangnya sekolah penyandang disabilitas tentu akan berdampak kepada keadilan itu sendiri. Akan ada gap yang besar antara anak-anak normal dengan anak-anak berkebutuhan khusus dari sisi akses terhadap ilmu pengetahuan.

Walaupun begitu, tidak menjadi alasan bahwa anak-anak berkebutuhan khusus memiliki tingkat kemampuan berbeda dari kebanyakan anak-anak normal. Bahkan, jika segala kemungkinan faktor penghambat mampu diminimalisir, bukan tidak mungkin, para penyandang disabilitas dapat meraih pencapaian-pencapaian yang tidak mampu diraih orang-orang normal.

Dalam film ini, wacana tentang kapasitas pemahaman bagi penyandang disabilitas ditepis dari sosok Muhamamd. Walaupun Muhammad penyandang tunanetra, ia secara intelek bahkan lebih maju dari anak-anak lain sebayanya.

Ketika di kampung, saat ia memaksa ikut belajar dalam kelas di sekolah kedua saudaranya, Muhammad membuat terkesan gurunya.  Ia mampu memahami isi cerita pelajaran lebih cepat dari murid lainnya. Saat ia membaca menggunakan buku berhuruf braille --sesuatu yang unik yang diceritakan belum pernah dilihat anak-anak di desanya, bahkan gurunya sendiri--membuatnya menjadi bintang kelas.

Nyatanya, kemampuan membaca huruf braille ini dipakai Muhammad dalam kehidupan sehari-harinya. Ia membaca apa saja dengan meraba setiap teksture benda-benda dipegangnya: batu-batu, udara, bunga-bunga, biji padi, pasir, dedaunan....

Bahkan dengan kemampuan pendengarannya ia mampu menafsirkan suara ketukan burung pematuk pohon ibarat ia baca dari kode-kode huruf braille. Melalui cara inilah Muhammad berkomunikasi dengan dunianya. Berusaha menempuh cara berbeda untuk memahami apa saja yang berhubungan dengan dirinya.

”Tidakkah kau mendengar suara burung ini, nek?” Nenek Muhammad menatapnya heran.

”Burung-burung ini sesungguhnya sedang berbicara.” Celetuk Muhammad.

Begitulah sepenggal dialog antara Muhammad dan neneknya ketika berada di sebuah bukit luas dipenuhi suara burung-burung. Dengan mentranskip suara burung-burung ke dalam kode-kode huruf braille, Muhammad masuk ke dalam suatu pengalaman bahasa yang jarang dipahami orang lain, bahkan oleh neneknya sekali pun.

Salah satu keistimewaan The Colour of Paradise adalah tidak terlalu banyak dialog seperti film mainstream umumnya. Kekuatan film ini menurut saya bukan pada percakapan tokoh-tokohnya--walaupun ada dialog antara Muhammad dan seorang pengrajin kayu yang juga seorang tunanetra, yang cukup bernilai--melainkan kepada visualisasi bahasa, mimik, gesture, dan keadaan alam yang cukup memberikan arti dan penekanan bagi pesan yang dikandung film ini.

Visualisasi alam raya dan mimik tokoh-tokohnya yang lumayan besar dalam film ini menurut saya merupakan permainan Majidi dalam memperlihatkan rasa kekurangan dan kecukupan antara penontonnya dan dari sosok Muhammad itu sendiri.

Di satu sisi film ini memperlihatkan bagaimana seorang tunanetra mengalami diri-kekurangannya dan dunianya, dan penonton diarahkan untuk ikut memahami keadaan demikian, sekaligus di saat bersamaan, penonton diberikan peluang sebesar-besarnya untuk menggunakan indera penglihatannya dalam menikmati suguhan alam yang cukup indah dan bahasa tubuh para pemainnya.

Nampaknya ini sejalan dengan kredit awal film ini yang bertuliskan ”kalian semua bisa melihat sekaligus tidak bisa melihat, hanya Tuhan yang aku dambakan, hanya Tuhan yang nama-Nya aku seru.”

Kontradiksi seperti inilah yang sepertinya dari awal ingin dikirimkan Majidi kepada penonton ceritanya. Tidak semua yang terlihat betul-betul mampu disaksikan, dan tidak semuanya yang tidak mampu disaksikan tidak benar-benar tidak dapat dilihat.

Melalui konteks ini, dengan tersirat Majidi mendudukkan keberpihakannya kepada para penyandang disabilitas yang dua kali lebih tertindas mengalami perlakuan diskriminasi dibanding golongan marginal lainnya.

Berikut penggalan dialog Muhammad dengan pengrajin kayu yang juga seorang tunanetra, yang mengungkap kecemasan sekaligus harapan Muhammad atas persepsi dunia terhadap dirinya --dan juga mewakili para penyandang disabilitas lainnya (saat ini oleh ayahnya, Muhammad dititip tinggal di tempat pengrajin kayu dilatih agar memiliki kemampuan mengolah kayu menjadi benda bernilai, sesuatu yang disadari Muhammad bahwa ini adalah cara ayahnya untuk meninggalkannya):

”Ada apa? Apa kau menangis? Anak laki-laki tidak boleh menangis.” Kata si tukang kayu setelah merasakan tetesan air mata Muhammad jatuh di tangannya tanpa sengaja.

”Apa kau merindukan keluargamu?”

”Tidak”

”Lalu apa?”

”Anda tahu tidak ada seorang pun yang mencintaiku, bahkan nenekku sekali pun. Mereka menjauhiku hanya karena aku seorang yang buta. Seandainya saya bisa melihat, aku ingin sekolah di sini dengan anak-anak yang lain, tetapi sekarang aku harus sekolah di tempat orang-orang buta yang ada di belahan bumi lain...”

”Guru saya bilang, bahwa Tuhan lebih mencintai orang buta karena mereka tidak dapat melihat, tapi kukatakan, jika demikian mestinya Tuhan tidak membuat kita buta hingga kita dapat melihat-Nya”.

”Guru saya bilang 'Tuhan tidak tampak. Dia ada di mana-mana. Kau bisa merasakannya. Kau bisa melihat Tuhan melalui jemarimu'. Kemudian aku mencari Tuhan di mana-mana, hingga suatu hari tanganku menyentuh-Nya. Lalu kusampaikan semua permohonanku pada-Nya, bahkan rahasia yang terbersit dalam hatiku sekali pun.”

Sambil beruraikan air mata, Muhammad mengatakan itu semua. Si tukang kayu tunanetra tertegun mendengarnya.

The Colour of Paradise yang berjudul asli Rang-e Khoda dengan begitu juga merupakan film yang tidak ketinggalan menyisipkan suatu pendekatan spiritualitas anti mainstream. Yang tidak selamanya ditempuh melalui jalur formal belaka, namun juga melalui pemahaman terhadap keberlainan, yang juga memiliki cara nan unik sekaligus khas ketika bersentuhan dengan pengalaman menuju Tuhan.

Bahkan kepada penyandang disabilitas sekalipun, Tuhan menampakkan diri-Nya melalui warna-warni dari apa yang tidak dapat ditangkap mata sekali pun.

Berkat kemampuan luar biasa Majid Majidi, film ini banyak diganjar penghargaan, di antaranya sebagai sutradara terbaik, aktor terbaik dan sinematografi terbaik.