The Song of Sparrows: Nyanyi Sunyi Keluarga Kecil

 

: 20 Januari 2019


Directed by Majid Majidi. Produced by Majid Majidi. Written by Majid Majidi, Mehran Kashani. Starring Reza Naji. Music by Hossein Alizadeh. Release date February 2008. Country Iran. Language Persian. Aktor  Reza Naji, Maryam Akbari, Kamran Dehghan.


KARIM dibuat pusing. Seekor burung unta lepas dari peternakan tempatnya bekerja. Ia hampir seharian di padang sabana luas, membungkuk-bungkuk menyamar menjadi burung unta, berharap dapat memancing si burung unta mendekat dan kemudian bakal ia tangkap. Tapi, sepanjang mata memandang, tak ada tanda-tanda si burung unta bakal menghampiri. Di siang terik itu, ia pulang dengan tangan kosong.

Tidak lama ketika sampai di peternakan, ia melihat barang-barang pekerjaannya tergeletak di depan pintu. Ia dipecat.

Sehari sebelumnya, ia juga merana. Alat bantu pendengaran Haniyeh, putri sulungnya, tidak lagi dapat digunakan. Alat bantu pendengaran Haniyeh jatuh ke dalam bekas galian berisikan air kotor. Ia bersama Hussein, anak kedua Karim, dan konco-konconya, mencari sampai akhirnya ditemukan dalam keadaan rusak. Karena akan dipakai Haniyeh yang sebentar lagi masuk sekolah, Karim akhirnya berangkat ke jauh ke kota Tehran memperbaiki satu-satunya alat bantu pendengaran putri sulungnya itu.

Namun sayang, alat bantu itu tidak dapat lagi diperbaiki. Karim diminta menunggu sampai empat bulan jika ingin diperbarui. Karim mengelak. Ia membutuhkan sesegera mungkin. Jika tidak, ia disarankan membeli alat yang baru. Tapi, masalah bagi Karim, dari mana ia mendapatkan uang?

Kisah di atas adalah permulaan konflik dialami Karim, tokoh sentral  The Song of Sparrows (2008) karya Majid Majidi, sineas terkemuka yang mempopulerkan film-film Iran di kancah dunia.

Film dibintangi Reza Naji--aktor senior Iran langganan Majidi-- yang meraih penghargaan sebagai aktor terbaik di ajang Asian Pacific Screen Awards 2008 ini, memiliki kesamaan dengan dua judul film Majidi sebelumnya,  Baran (2001) dan The Colour of Paradise (1999).

Seperti garapan Majidi macam Baran (2001) atau The Colour of Paradise (1999), konteks keluarga Karim adalah keluarga sederhana yang sehari-hari hidup di desa: sisi yang kerap muncul dari setiap film dibuat Majidi, dan juga menunjukkan kecenderungannya dengan  mengangkat kisah orang-orang biasa, tapi kuat secara pesan sosial.

Seperti dua filmnya itu, Majidi mendudukkan kisahnya melalui sosok pria kelas pekerja. Dalam Baran, sosok itu diisi Latif beserta Najaf, seorang kuli bangunan, sementara dalam The Colour of Paradise, ayah Muhammad mewakili kelas pekerja sebagai buruh di pabrik pembuatan arang.

Dalam The Song of Sparrows, figur kurang lebih sama dilekatkan kepada Karim, yang bekerja sebagai pengumpul telur burung unta pada peternakan di desa tempatnya hidup..

Melalui figur-figur semacam inilah, Majidi membangun kisah duni harian  masyarakat ekonomi kelas bawah. Satu ciri khas Majidi: keberpihakannya kepada kelas pinggiran.

Di samping itu, yang menarik dari film ini, ditemukan juga kesamaan dari The Colour of Paradise, terutama kehadiran tokoh disabilitas.

Dalam The Colour of Paradise, figur sentralnya adalah Muhammad, seorang anak sekolah dasar tunanetra. Sementara di film ini, walaupun bukan tokoh utama, Haniyeh, putri sulung Karim, merupakan figur signifikan yang tetap hadir sekaligus menjadi sebab pertama bagi Karim memasuki konflik batinnya. Haniyeh diceritakan sama seperti Muhammad. Ia adalah gadis tunarungu yang membutuhkan alat bantu di telinganya agar dapat mendengar layaknya orang normal.

Dan dari semua itu, yang paling tebal kelihatan dari setiap film-film Majidi adalah bagaimana ia menghadirkan drama dari sosok anak-anak yang bakal mencuri perhatian penonton.

Di kisah film ini keberadaan, Hussein, satu-satunya anak lelaki Karim tidak bisa dianggap sepele. Cerita dramatis bersama lima sahabatnya bahkan hampir mendominasi setengah sisa film ini. Tidak saja itu, aksi-aksi Hussein-lah kelak yang bakal melengkapi kepasifan Karim setelah mengalami kecelakan ditimpa tumpukan barang bekas simpanannya. Bisa dibilang setelah adegan itulah, film akan beralih sorot kepada Hussein dan kawan-kawanya.

Hussein adalah anak yang nakal tapi periang. Ia diceritakan beberapa kali sering mengerjai dan membuat ayahnya marah-marah --dari sini diketahui Karim adalah ayah tempramental tapi juga sangat sayang terhadap keluarga, terutama kepada anak-anaknya.

Hussein memiliki lima orang sahabat sering bermain bebas di sekitar rumahnya. Ia tipikal anak desa yang polos tapi memiliki semangat kerja untuk membantu keuangan keluarga. Beserta lima orang konco-konconya itu, Hussein bercita-cita menjadi jutawan di desanya. Caranya adalah dengan menjual ikan setelah berencana mengembangbiakkan di bekas galian yang sudah mereka bersihkan.

Di mata Karim, niat Hussein ini hanya ucapan polos bin naif seorang anak kecil yang tak tahu arti kehidupan. Itulah sebabnya suatu tempo ia memarahi Hussein dan kawan-kawannya ketika kedapatan menguras bekas galian kotor yang dikiranya tak akan mungkin bisa dibersihkan. Bagi Karim, pekerjaan Hussein beserta sahabat-sahabatnya hanyalah isapan jempol yang membuat mereka seperti tidak ada kerjaan.

Tapi suatu waktu lantaran jengkel ketika Karim ingin merubuhkan bekas galian Hussein dan kawan-kawanya, ia kaget begitu tiba di lokasi yang terletak tidak jauh dari pematang sawah. Tempat itu sudah berisi air bersih. Lumpur-lumpur yang mengisi lobang sebelumnya telah diangkat. Di atasnya ia melihat bekas cetakan tangan dan kaki anak-anak yang telah mengering.

Di titik itu barulah Karim menyadari niat Hussein bukan sekadar perkataan biasa. Apalagi ketika suatu malam, dari bilik kamar, ia melihat Hussein memberikan uang hasil kerjanya kepada Narges, istrinya. Hussein bersama kawan-kawannya ternyata, tanpa sepengetahuannya telah bekerja diam-diam untuk mewujudkan impian mereka: beternak ikan.

Adegan demi adegan yang digarap Majidi dalam film ini mampu membuat penonton beralih dari satu perasaan ke perasaan lainnya. Rasa kesal, haru, lucu, sedih, dan juga kecewa merupakan sensasi kompleks yang berkelindan mengaduk-aduk keadaan batin penonton. Walaupun kisahnya lahir dari premis sederhana, berlapis-lapisnya pesan dalam film ini membuatnya menjadi film yang mesti disimpan baik-baik untuk suatu waktu dapat diputar kembali.

Salah satu contoh adegan dengan muatan yang dalam adalah ketika Karim tidak sengaja melihat telapak tangan Hussein ketika ingin membangunkannya makan. Hussein yang terlelap karena lelah tidak menyadari bahwa ayahnya tersentuh lantaran melihat telapak tangannya yang melepuh dan kapalan akibat bekerja secara diam-diam.

Adegan ini jika ditelusuri di dalam khazanah Islam, akan kecantol dengan sebuah hadis masyhur Rasulullah tentang tangan siapa yang paling dirindukannya di akhirat kelak. Di hadis itu dikatakan tangan yang paling dirindukan Rasulullah adalah tangan yang kulit telapaknya berkeriput melepuh akibat kerja keras menafkahi keluarganya. Bukan tangan-tangan halus nan wangi seperti diidam-idamkan banyak orang.

Uniknya dari adegan di atas, tangan yang melepuh itu bukan tangan Karim, tapi Majidi menunjukkannya lewat telapak tangan Hussein seorang anak kecil. Suatu kiat luar biasa bagaimana cara Majidi memperluas pemaknaan tanggung jawab yang bukan saja semuanya mesti dilekatkan kepada para orangtua.

Singkat untuk yang terakhir, dimensi sosiologis yang juga diekspos Majidi melalui The Song of Sparrows adalah kontrasnya kehidupan masyarakat perkotaan dan pedesaan. Dua wajah antara masyarakat urban yang dinamis dan masyarakat desa yang statis ditunjukkan ketika Karim harus ke kota untuk bekerja menjadi tukang ojek.

Sorot kamera di waktu ini nampak mencolok dengan kehadiran gedung-gedung tinggi, jalanan ramai, lalu lalang mobil-mobil, bangunan padat penduduj, dan pusat-pusat pertokoan di pinggir-pinggir jalan. Hal yang sebaliknya terjadi jika adegan berputar di desa Karim yang menyuguhkan pandangan indah berupa bukit-bukit rumput, langit luas, dan hamparan sabana maha luas.

Untuk dua konteks ini juga akan terwakili dari perubahan sikap Karim setelah menjadi tukang ojek di Tehran. Ia menjadi lebih individualis dan tergesa-gesa di kota, tapi juga berlaku sebaliknya ketika berada di desa. Satu catatan tentang ini, nampaknya Majidi ingin menyorot bagaimana perubahan karakter seseorang ketika beralih hidup dari desa ke kota dengan menunjukkan betapa cepatnya perubahan itu seiring kebutuhan yang mengiringinya.

Ini yang terakhir kalinya: The Song of Sparrows sebagai judul, akan menunjukkan hubungan  ganjil jika melihat isi keseluruhan film ini hingga akhir. Justru di akhir film adegan yang nampak adalah seekor burung unta yang seolah-olah sedang menari dengan diiringi backsound musik khas timur tengah. Misterius, memang.