Taste of Cherry: Memaknai Kehidupan Melalui Kematian

 
: 10 Februari 2019
 
TASTE OF CHERRY (1997) adalah film yang lurus dan monoton. Jalan ceritanya lambat. Tapi di balik itu, tidak ada adegan sia-sia dari film besutan Abbas Kiarostami ini.
Melalui tangan dingin Kiarostami, film ini justru menjadi medan enigmatik. Di sana-sini, di antara ruang kosong dialog-dialognya, Kiarostami memberikan banyak kesempatan berpikir. Ia seolah-olah memaksa penonton merenung, menerka-nerka, bertanya-tanya, dan mencari sekaligus menemukan sendiri jawaban melalui dialog-dialog panjang tokoh-tokohnya.
Berkat itu, keunggulan film ini sekaligus mempertegas tidak mendasarkan dirinya kepada kerumitan alur cerita. Bukan melalui figur pemain, atau bahkan kecanggihan teknologi sinematografi, yang jarang ditemukan pada film-film Iran. Melainkan kepada bobot isinya, yang cenderung berbau filosofis.
Salah satu tema filsafat sampai sekarang, yang masih menyisakan banyak pertanyaan adalah persoalan hubungan takdir manusia dan perbuatan Tuhan. Tema kematian juga merupakan salah satu tema filsafat yang belum banyak tersibak jawaban.
Di antara dua tema besar manusia itulah Taste of Cherry mendudukkan posisinya.
Adegan pembuka langsung disuguhi seorang pria diketahui bernama Badii. Ia sedang mengendarai mobil berkeliling di pinggiran Tehran. Rambutnya bergelombang nampak tebal. Raut mukanya seperti menunjukkan sedang mencari-cari sesuatu --atau seseorang.
Itulah sebabnya ia berkeliling mondar mandir menawarkan satu pekerjaan bagi siapa saja yang bersedia. Syaratnya ia memilih seseorang yang tengah sendiri, kemudian mengajaknya kepada suatu tempat yang sudah ia siapkan.
Di tengah bukit-bukit tandus yang lapang --yang juga lokasi tambang semen, dengan jalan tanah berkelok-kelok berdebu, ia menyiapkan satu galian lubang di bawah sebatang kara pohon kering yang ringkih.
Jika ada yang bersedia, di pukul 6 pagi ia meminta seseorang menutup lubang yang dibuatnya. Di situ ketika malam tiba, ia bakal menguburkan dirinya. Mati seorang diri.
Ya, Taste of Cherry seluruhnya bercerita tentang seseorang yang ingin bunuh diri. Lebih tepatnya, mendekati kecenderungan seseorang yang ingin menggenapkan takdir Tuhan. Walaupun di situ, akan kelihatan soal sebenarnya: bagaimanakah cara paling pantas menghadapi ajal? Mestikah ia ditunggu, atau sebaliknya datang menjemputnya?
Dengan telaten pertanyaan ini terus mengintervensi benak penonton. Ia menjadi background dari keseluruhan jalan cerita Taste of Cherry yang diperagakan lambat dan pelan-pelan.
Hanya dengan cara itu, saya mengira film ini tidak akan dipahami dengan cara fatalis, yakni hanya berkutat pada ide klasik bunuh diri tanpa mengikutkan apa motif dan tujuan di balik kecenderungan ganjil ini.
Barangkali karena itu, Badii tidak pernah sekalipun menjelaskan detil sebabnya mengapa ia ingin bunuh diri.
Untuk situasi ini, adegan lambat mengambang dan cenderung bertele-tele, menjadi pemegang kendali bertahan tidaknya penonton hingga detik terakhir film.
Dengan kata lain, karena tidak jelasnya motif dasar mengapa Badii ingin mengakhiri hidupnya, membuat orang semakin penasaran, dan menunggunya membuka sendiri apa alasan di balik keinginannya bunuh diri.
Walaupun demikian, urusan mengakhiri hidup bagi Badii tidaklah sederhana. Ia mesti memberikan alasan kuat bagi orang agar bersedia menguburkannya. Biar bagaimanapun tidak ada yang bakal mau membantunya. Walaupun ia sudah menyiapkan imbalan untuk itu.
Pria pertama yang ia mintai bantuan adalah seorang tentara muda, yang kemudian berhasil melarikan diri setelah diberitahukan apa yang harus ia kerjakan. Ia takut, pertama karena, melihat Badii sebagai sosok yang aneh dan mencurigakan. Kedua, urusannya bakal runyam mengingat pekerjaan mengubur seseorang adalah perkara moral yang berat.
Pria kedua adalah seorang pelajar hawzah yang juga seorang buruh kasar dari Afghanistan. Ia juga menolak ide bunuh diri Badii setelah berdialog cukup panjang sambil menyitir hadis dan ayat-ayat al Quran. Dari perspektif pelajar ini, menyakiti tubuh dengan bunuh diri pantangan besar dalam agama. Bunuh diri, sama halnya tidak bersyukur dengan nikmat Tuhan. Bahkan, siapa yang rela mengakhiri nikmat Tuhan?
Yang terakhir adalah seorang tua bernama Bagheri. Ia biolog yang berkerja sebagai pengajar. Ia bersedia membantu Badii dengan alasan imbalannya dapat membantu anaknya yang sedang sakit.Melalui Bagheri inilah harapan terakhir Badii merealisasikan keinginannya --yang tidak bakal diketahui lantaran film hanya menyisakan tanda tanya apakah ia akan pergi atau tidak mengubur Badii.
Bobot besar dari film ini adalah tarik ulur antara keinginan Badii bunuh diri dengan orang-orang yang diajak membantunya. Banyak momen puitik melalui dialog Badii terutama dengan dua orang terakhir yang ditemuinya. Kedua-keduanya ibarat menjadi sisi antitesis bagi Badii untuk mempertanyakan ulang niat bunuh dirinya.
Dengan teknik pengambilan gambar dari jauh yang hanya memperlihatkan mobil kecil yang meliuk-liuk di bukit luas, beserta sambil berjalannya dialog, menunjukkan teknik Kiarostami memperluas daya jangkau masalah yang dihadapi Badii juga dapat ikut menjadi problem kontemplatif penonton.
Adegan demi adegan yang dilatari perjalanan menanjak-menurun dan berkelok-kelok berdebu bahkan memberikan kesan metafor yang menggambarkan betapa rumitnya pergulatan yang dihadapi Badii.
Secara khusus film ini akan jauh lebih kaya jika memasukkan unsur-unsur teoritik semisal teori bunuh diri Emile Durkheim, untuk mengelaborasi kemungkinan sebab Badii bunuh diri. Apakah ada anomali dalam struktur kehidupannya --yang sangat tipis akan kelihatan karena tidak ada satu petunjuk pun entah melalui adegan atau dialog yang dipaparkan Badii (walaupun ia sempat menyebut karena tidak bahagia).
Dari sisi tujuan hidup yang segera ingin dicapainya melalui bunuh diri, dapat ditelusuri melalui cara pandang Martin Heidegger, filsuf eksistensialis, menyangkut faktisitas (kematian). Apakah ada kecenderungan "angst" (kecemasan/pribadi cemas) dari Baddi sehingga dapat dilekatkan template Heideggerian.
Yang terakhir dari perspektif filsafat nihilistik Albert Camus. Mungkinkah keseluruhan film ini sangat berbau Camus. Karena di adegan akhir tidak ada sama sekali kepastian apakah Badii walaupun setelah menenggak pil dan pergi menidurkan dirinya di dalam lubang, berakhir kematian. Justru adegan terakhir ditutup dengan langit yang berubah mendung dan gelap kilat menimbul-tenggelamkan wajah Badii yang menatap langit hitam.
Saya kira ketiga pendekatan ini dapat membantu memahami kedalaman film besutan Abbas Kiarostami ini, sineas pertama Iran yang berhasil meraih Oscar beberapa tahun lalu.

Film ini walaupun ada yang menyebutkan bukan tipe untuk semua orang, dengan alur cerita yang sederhana justru membuat semua yang menontonnya dapat tersentak kembali memikirkan hal paling dasariah dari kehidupan ini: takdir kematian.