The White Ballon: Representasi Dunia Anak-anak Dari Mata Orang Dewasa

 
: 21 Februari 2019

JIKA dilihat dari pendekatan cerpen atau novel, hampir sebagian film-film Iran lebih menyerupai cerpen. Ia minimalis dengan tema yang terbilang simpel.
Dari segi tokoh, pemain yang terlibat tidak banyak. Dari segi plot, alurnya jauh dari kesan rumit cukup dengan ruang cerita yang sempit dan terbatas. Untuk konteks cerita, sebagaimana latar waktu dan tempat dalam cerpen, ia nyaris bergerak hanya pada satu-dua lanskap saja. Dari segi konflik, seperti cerpen, banyak sineas Iran lebih memusatkan masalah dan klimaksnya kepada satu dua orang saja.
Dari kaca mata demikian, saya rasa --walaupun cenderung serampangan-- The White Balloon (1995), nyaris memenuhi seluruh kriteria di atas. Dari segi tema, tokoh, alur, hingga konflik, semuanya terbilang sederhana. Bahkan jika dilihat dari babakan per babakan, The White Ballon hanya terdiri tidak lebih dari 6-7 babakan cerita.
The White Balloon adalah film dengan tema keluarga yang berpusat di dalam tiga ranah: interaksi orangtua- ayah dan ibu, orangtua-anak, dan antara dua-saudara kakak-beradik. Dibandingkan dua interaksi sebelumnya, ranah interaksi antara dua saudara kakak-beradik yang paling dominan diekspos film ini.
The White Balloon, dari segi cerita setidak-setidaknya memiliki kemiripan dengan The Children of Heaven garapan Majid Majidi yang melegenda itu, yakni menceritakan sepasang kakak beradik yang terjebak ke dalam suatu perkara sederhana, bagaimana cara mereka keluar dari masalah, dan seperti apa mereka memecahkan solusinya.
Dalam The Children of Heaven, kakak-beradik Ali dan Zahra terlibat masalah mengenai sepasang sepatu yang diinginkan Zahrah. Lantaran tidak memiliki uang, Ali berniat mengikuti lomba lari dengan mengincar juara tiga yang berhadiah sepatu. Dengan hadiah itu, ia berniat memberikannya kepada Zahrah, agar ke sekolah nanti mereka tidak perlu lagi bergantian memakai sepatu.
Sementara dalam The White Balloon, sumber masalahnya berasal dari Razieh, adik Ali yang berkeinginan memiliki seekor ikan hias menjelang pergantian tahun baru musim semi Nowruz. Walaupun ia sudah memiliki banyak ikan hias, di tahun baru nanti ia ingin memiliki ikan yang lebih indah dengan sirip-sirip serupa lambaian gaun pengantin.
Adegan yang dibuka di tengah-tengah pasar ini, sedari awal sudah menunjukkan karakter Razieh: ia anak periang, keras kepala, dan sedikit nakal. Mengenai sifat terakhir ini, pembuka film sudah menyuguhkan ibu Razieh yang kehilangan anaknya di tengah keramaian pasar tradisional di sudut kota Tehran. Setelah mencari berkeliling, ditemukannyalah Razieh, anaknya, keluyuran di salah satu emperan toko dengan membawa sebuah balon.
Tidak lama, diketahui Razieh baru saja mengunjungi penjual ikan hias. Di toko itulah ia melihat ikan hias gemuk dengan sirip panjang yang ia sukai. Setelah itu, di jalan pulang, mulailah ia merengek-rengek meminta ibunya agar membelikan ikan yang baru saja ia lihat.
Adegan pembuka ini selanjutnya mengarahkan penonton kepada lingkungan rumah Razieh. Walaupun cenderung singkat, di adegan ini pola interaktif antara Razieh, ibu-bapaknya, dan juga kepada kakaknya, Ali, menunjukkan lanskap sederhana bagaimana representasi keluarga masyarakat Iran.
Yang paling menonjol dari adegan ini adalah peran yang diperagakan ibu dan ayah Razieh (interaksi orangtua). Seperti masyarakat timur umumnya, urusan-urusan domestik yang nampak sederhana semisal berbelanja, menjemur baju, membersihkan rumah, bahkan memperbaiki penghangat air, dominan dikerjakan perempuan. Melalui adegan ini, tidak satupun diperlihatkan pekerjaan diambil alih lelaki yang berarti adalah ayah Razieh, yang dalam film hanya diceritakan sedang mandi dan hanya bersuara dari seberang kamar mandi. Uniknya, walaupun sedang mandi, tanpa pernah muncul di hadapan layar, ia malah lumayan imperatif memeragakan kekuasaannya sebagai bapak --yang tentu juga sebagai laki-laki. (Ia diceritakan marah-marah dan melempar sabun yang sebenarnya menginginkan sampo, dan juga tidak lama marah kembali setelah penghangat air tidak berjalan).
Seolah-olah potret keluarga Iran --dan juga masyarakat timur lainnya-- tercermin melalui adegan ini. Yakni, kekuasaan laki-laki yang cenderung dominan dari sisi perannya sebagai ayah. Walaupun demikian, sisi ini tidak tertutup kemungkinan memiliki perspektif yang berbeda terutama dari kacamata lokalitas keluarga Iran. Dengan kata lain, relasi ayah-ibu (dan juga istri-suami) pada tiap masyarakat memiliki sudut dan bobot pandangan yang relatif berbeda di tiap latar belakang kebudayaan yang lebih spesifik.
Kembali ke soal lain film ini. Seandainya keperawakan Razieh yang penurut kepada Ibunya, besar kemungkinan jalan cerita film ini bakal jauh berbeda. Malah, tanpa itu film ini kehilangan inti ceritanya. Sebab, dari karakter keras kepala Razieh inilah The White Balloon dapat memusatkan ceritanya.
Keinginan keras Razieh agar memiliki ikan yang jauh lebih gemuk dan cantik dari ikan-ikan yang dipeliharanya, akhirnya membuat Ali, kakaknya, ikut terpengaruh. Tidak ingin melihat Razieh terus-terusan bersedih, melalui kemampuan persuasifnya, ia membujuk agar ibunya memberikan Razieh uang membeli ikan. Walaupun dari awal ibunya bersih keras agar berhemat, namun ia luluh juga. Razieh diberikan 500 tomans dan harga ikannya 100 tomans.
Tanpa pikir panjang setelah mendapatkan uang, Razieh langsung menuju toko ikan. Di adegan ini ia berlari menyusuri lorong-lorong pemukiman rumah yang sederhana nan asri. Ia berkelok-kelok dari satu lorong-ke lorong lainnya, melewati saluran-saluran air yang tidak satupun memperlihatkan adanya sampah-sampah plastik. Sampai di adegan-adegan yang menyerupai saat Zahrah berlari-lari melalui adegan The Children of Heaven ini, panorama serupa menunjukkan suatu lanskap pemukiman yang benar-benar bersih dan terjaga dari pencemaran lingkungan.
Di tengah jalan Razieh sempat terhenti setelah bertemu kerumunan orang yang memerhatikan pertunjukkan ular (pertunjukkan yang juga sering kita temui di pinggir-pinggir jalan ketika sore tiba). Di sini ia hampir kehilangan uang pemberian ibunya. Setelah dikira uang saweran, melalui adegan yang melow, uang Razieh pun dikembalikan setelah ia menangis meminta kepada si pawang hujan.
Lepas dari pertunjukkan jalanan, tibalah ia di toko penjual ikan. Setelah hampir bertransaksi, Razieh bersedih, di dalam toples ikannya, uangnya raib. Ia tidak tahu di mana uang itu jatuh. Atas saran penjual ikan, ia menelusuri kembali jalan yang dilalui sebelumnya.
Bersama seorang ibu yang perhatian kepadanya, ditemukanlah uang Razieh yang terselib dan jatuh di dalam gorong-gorong. Razieh bersedih, ia segera mencari pertolongan ke tukang jahit yang malah mengacuhkannya.
Puncak masalah The White Balloon ada dalam adegan-adegan ini. Saat ketika Razieh kebingungan mencari solusi agar dapat mengambil uangnya yang terjatuh dalam gorong-gorong. Ia berusaha meminta bantuan kepada orang-orang sekitar tapi malang ia diacuhkan.
Sampai akhirnya Ali datang mencarinya dan menemukan Razieh duduk bersedih seorang diri di atas terali gorong-gorong tempat uangnya terjatuh. Bersama kakaknya, mereka mencari cara agar uang Razieh segera dapat dikeluarkan. Hingga akhirnya tiba seorang anak Afghan penjual balon sebagai jalan keluarnya. Dengan tongkat si penjual balon, mereka berhasil mengambil uang Razieh setelah menempelkan permen karet sebagai perekat di ujung tongkatnya.
Adegan-adegan di atas, terutama usaha Ali dan Razieh demi mendapatkan kembali uangnya menjadi pelajaran berharga dari film berdurasi 85 menit ini. Sebagai tontonan bagi anak-anak, adegan ini mengajarkan rasa tanggung jawab dan pantang menyerah ketika sedang menghadapi persoalan.
Dari segi tiadanya orang dewasa saat mereka berusaha mencari jalan keluar, salah satu pengandaian yang menarik. Ali dan Razieh melalui usaha mereka menunjukkan semangat kemandirian saat mencari jalan keluar. Apalagi, dari peran Ali sebagai kakak yang menjadi pengayom Razieh, merupakan pelajaran penting bagi sepasang kakak beradik seperti mereka.
Naskah skenario yang ditulis Abbas Kiarostami ini juga tidak begitu saja muluk-muluk menunjukkan tipikal dunia anak-anak yang ngotot ketika keinginannya tidak terpenuhi orang tua, melainkan relasi di antara keduanya, terutama antara orang dewasa dan anak-anak.
Relasi yang asimetris antara dunia anak-anak dan orang dewasa diperlihatkan sutradara Jafar Panahi melalui adegan diacuhkannya Razieh dari perhatian seorang tukang jahit yang marah-marah kepada pegawainya. Adegan marah-marah yang lumayan lama ini malah memberikan Razieh ruang yang sedikit ketika di dalam layar, yang menandai seringkalinya dalam interaksi orang dewasa, anak-anak dianggap tidak penting dan tidak mesti digubris.
Intensi yang sama juga bertahan hingga film berakhir. Dari dimulainya masalah hingga solusi itu ditemukan, Ali dan Razieh tidak sekalipun mendapatkan perhatian dari orang dewasa di sekitarnya.
Sebagaimana pendekatan neorealis dalam kebanyakan film-film Iran, aura humanistik film ini memilih menghidupkan peristiwa sehari-hari yang sering kali diacuhkan menjadi penting ketika ditampilkan di atas layar kaca.

The White Balloon, walaupun pemeran utamanya bukanlah aktris profesional --Aida Mohammadkhani sebagai Razieh-- mampu menghidupkan perannya layaknya anak berusia 7 tahun yang ceria, sedih, menangis dan murung tanpa dibuat-buat dan manipulatif. Dari perannya ini, kepolosannya membuat penonton ikut larut terbawa perasaan Razieh. Sesuatu yang menjadi kekuatan utama film ini.