: 02 Oktober 2019
A TAXI DRIVER drama sejarah Korea
Selatan garapan Jang Hoon, sedikit banyak menjadi analog situasi Indonesia
belakangan. Jalan kisah A Taxi Driver bukan cerita fiksi. Ia diangkat dari
kejadian nyata. Tepatnya, dari momentum perlawanan pelajar-mahasiswa di
Gwangju. Menentang rezim militeristik Chun Doo-hwan 1979-1980.
Chun sebelumnya adalah jenderal
militer. Dia melakukan coup d’etat pemerintahan Choi Kyu-hah. Choi Kyu
menggantikan presiden Park Chun-hee mati terbunuh 26 Oktober 1979. Kekacauan
rezim berakibat ke mana-mana. Bermula dari sinilah situasi Korea Selatan
menjadi tidak terkendali.
Chun setelah kudeta berjanji
memperbaiki keadaan. Ia berdalih menciptakan pemerintahan demokratis. Tapi, apa
boleh buat. Konstitusi baru diciptakan tidak mencerminkan niat baik. Chun
dianggap otoriter. Rakyat melawan.
Di situasi inilah A Taxi Driver
mengembangkan ceritanya. Walaupun figur utamanya adalah seorang sopir taksi dan
wartawan asing yang tergerak hatinya membantu para demonstran. Tapi, tetap
saja, bintang kisah ini sebenarnya para anak muda—pelajar-mahasiswa—yang turun
ke jalan-jalan menunjukkan aksi protes kepada pemerintah.
Gwangju lokus film ini. Hampir
semua emosi digerakkan anak-anak muda sekira 20-an tahun—awalnya dilakukan
mahasiswa Chonnam University. Dengan muka putih, rambut lurus tergerai, dan
lubang mata khas masyarakat Asia—yang sekalipun bagi ukuran kita tiada sama
sekali mampu mengekspresikan raut kemarahan—menjadi gelindingan bola salju
berukuran raksasa.
Para orang tua membuat makanan
mirip sushi atau kepal nasi atau roti, membagi-bagi ke peserta aksi.
Mobil-mobil berhenti. Pom bensin lenggang. Pekerja kantoran meliburkan diri.
Gedung-gedung publik kosong. Sekolah, dan juga kampus-kampus ditinggalkan
mahasiswa. Berkumpul di jalan.
Ratusan ribu massa aksi ini
membuat lumpuh Gwangju. Kota ini disorot pemerintah. Tak ada boleh masuk,
apalagi keluar. Praktis Gwangju terisolasi.
Agar situasi terkendali Gwangju
dijauhkan dari perhatian publik, dan juga internasional. Opini dikontrol. Media
dilarang masuk dan meliput.
Di titik ini saya kira, kita
tiba-tiba mengarahkan perhatian kepada gerakan mahasiswa kurang lebih seminggu
ini. Di Yogyakarta, Jakarta, Surabaya, Malang, Kalimantan, hingga Palu dan
Kendari. Untuk menyebut beberapa di antaranya. Mahasiswa tumpah ruah di
jalan-jalan.
Di Makassar, ketika tulisan ini
dibuat jalanan di beberapa titik masih memanas. Kemarin bahkan ada yang hingga
tengah malam melakukan aksi teatrikal di depan kampus.
Tidak juga di Gwangju, yang
banyak menimbulkan korban meninggal dari pihak mahasiswa, juga terjadi di sini.
Polisi represif memakan korban. Di Kendari 2 Mahasiswa jadi martir. Mereka
dibunuh pelaku keamanan. Atas nama entah.
2 nyawa seketika hilang. Entah
pemerintah artikan apa. Mungkin hanya statistik. Meskipun itu kecil. Tapi,
tidak ada yang kecil dalam ikhtiar melawan rezim otoriter.
…dan sekarang, Papua.
Satu-satunya relevan dari cerita
Gwangju bagi Papua adalah keadaan isolasi pemberitaan dunia luar. Kanal berita
dikontrol. Gwangju, bahkan hanya jadi berita sekotak kecil. Di sudut halaman
koran. Sampai akhirnya situasi itu diketahui juga. Seorang wartawan asing
memberanikan diri masuk ke Gwangju. Diam-diam melalui bantuan seorang sopir
taksi sewaan.
Namanya adalah Jurgen Hizpenter.
Kelak melalui lensa kameranyalah dunia mengetahui peristiwa Gwangju sebenarnya.
Tapi, juga Kim Sa-bok. Sopir
taksi. Seorang pemberani. Terketuk hatinya menginsipirasi sopir taksi lain.
Tanpa ia, rekaman Hizpenter tidak jadi sejarah. Gwangju bukanlah apa-apa.
KURANG lebih seperti Gwangju.
Papua hilang dari pemberitaan. Lebih tepatnya dihilangkan. Tidak ada orang
seperti Hizpenter. Yang mendapat penghargaan. Atas kerja reportasenya di
lapangan.
Papua hingga kini hanya jadi
sayup-sayup. Timbul tenggelam di kanal-kanal berita. Diawasi.
Papua dalam hal ini bukan daerah
geografis belaka. Ia adalah momentum. Sebuah warning untuk terus ingat bahwa di
atas negara ada kemanusiaan. Korban banyak berjatuhan. Jawa Pos memberitakan 32
orang mati. Satu di antaranya paramedis. Ia dibakar hidup-hidup kelompok tidak
dikenal.
Dandhy Laksono. Ia ditangkap atas
UU ITE. Seseorang bernama Asep Sanusi—yang belakangan diketahui seorang
polisi—melaporkan Dandhy. Dandhy selama ini getol membela Papua. Twit-twitnya
tentang Papua kritis. Karena itu ia ditangkap.
Papua adalah semesta lain. Ia
punya sejarah berbeda. Narasi kebangsaan berbeda. Cara hidup berbeda, dan tentu
kebudayaan berbeda. Malangnya dulu hingga kini dia diartikan sepihak. Tidak
pernah sekalipun Papua diberikan kesempatan. Menentukan nasib sendiri.
Watak parlemen dan Papua dengan
kata lain adalah watak pemerintahan saat ini. Menjadi imperialis baru. Berhak
menentukan nasib orang lain. Tanpa keterlibatan orang lain.
Kini kita perlu mengingat, zaman
sedang bergerak. Kesadaran bergerak, berubah, dan bertransformasi. Itulah
sebab, konsep kekuasaan juga ikut berubah. Kekuasaan bukan di pusat. Tapi
berpencar. Menyebar. Siapa pun bisa mengekpresikan dan menggunakan kekuasaan.
Sekarang, kekuasaan parlemen jalanan meminta perhatian publik. Mahasiswa
bergerak.
Barangkali tak ada menyangka.
Generasi milenial, yang disinyalemenkan generasi strobery, yang duduk di atas
sofa, berselancar, konsumtif, kini menduduki jalan-jalan. Mereka tiba-tiba
sadar diri. Membangun gerakan sosial. Seperti mahasiswa Gwangju tiga dekade
lalu.
Sebagai kekuatan penggerak
masyarakat, gerakan parlemen jalanan mahasiswa adalah sarana alternatif.
Ia menjadi pendorong perubahan ketika
dimensi struktural (parlemen) masyarakat tak menghasilkan kebijakan adil. Dengan
kata lain, ketika undang-undang tidak memenuhi hak-hak dasar masyarakat.
Tentu mahasiswa tidak sendiri, Dandy Laksono, Randi, dan Muhamad Yusuf Qardawi, korban mati aksi demontrasi bakal jadi inti. Bola salju. Menggelinding. Membesar.