Lee Israel Si Penulis Kere Pemalsu Surat Pesohor

 
: 29 Oktober 2019

FILM ini sekilas mengingatkan saya kepada sosok Aku dalam Lapar karangan Knut Hamsun. Aku ciptaan Hamsun adalah orang yang dihimpit kesulitan ekonomi, tapi memiliki tekad hidup demikian besar dari aktivitasnya sebagai penulis.
Tapi, dari penghasilan menulis, tidak serta merta membuat Aku keluar dari kesulitan hidup. Kekurangan uang membuat Aku sering diusir dari penginapan,  dan membuatnya lebih banyak hidup di jalan raya. Nasib terlunta-lunta sering membuat Aku kelaparan saban hari. Sekali tempo, jika ia sudah tidak memiliki uang sepeser pun, Aku tidak malu-malu lagi menjual sekeping kancing mantelnya hanya untuk beberapa krone—walaupun tidak ada yang membelinya.
Film yang diangkat dari kisah nyata ini kurang lebih berangkat dari premis yang sama dengan novel Lapar pemenang Nobel 1920 karangan Hamsun, penulis Norwegia.
Jika Aku dalam Lapar yang konon adalah Knut Hamsun sendiri, dikisahkan sebagai pribadi kurang beruntung, tapi memiliki semangat hidup lewat menulis, di film ini kurang lebih sedikit banyak bercerita tentang satu fase hidup dari penulis bernama Leonore Carol Israel (Melissa McCarthy) yang terkatung-katung tidak mampu lagi membiayai kehidupannya dari penghasilan sebagai penulis.    
Awalnya Lee Israel—nama tenar Israel—adalah penulis biografi sukses. Ia menulis tentang aktris Tallulah Bankhead, jurnalis Dorothy Kilgallen, dan pengusaha kosmetik seperti Lauder, yang ternyata membuat karir kepenulisannya meredup.
Di saat bersamaan Estee Lauder juga menulis sendiri biografinya yang lebih laris dari versi Lee Israel. Pasca peristiwa ini kehidupan Lee Israel menukik turun. Hidupnya jadi kian sulit.
Dalam keadaan demikianlah ia mesti bekerja keras menutupi kebutuhan sehari-hari; membayar uang sewa apartemen—ia bahkan menjual buku-buku pribadinya di toko buku dengan harga ala kadarnya; mengobati kucing kesayangannya; membeli makanan; hingga meongkosi kegemarannya meminum minuman beralkohol.
Malangnya, di saat bersamaan ide kreatif menulis Lee hilang entah kemana. Karir puruk dan hubungan kurang baik dengan agensinya membuat keadaan semakin runyam.
Beberapa kali ia mencoba duduk di hadapan mesin tik. Ingin memulai satu kalimat pembuka seperti penulis-penulis andal memulai karangannya. Tapi tetap saja kertas di depannya demikian melompong sama seperti ide di kepalanya. Ia mengalami writers block.
Sampai akhirnya ia tak sengaja menemukan secarik surat seorang penulis di sebuah buku yang dibacanya. Entah hantu apa terlintas di kepalanya. Ia menemukan ide memalsukan surat-surat orang terkenal dan menjualnya demi kepentingan pribadi.
Konteks hidup Lee adalah masa ketika mesin tik berjaya sebagai alat tulis. Dia hidup di masa dunia kepenulisan begitu menghargai kertas kerja; buku catatan; draft; surat pribadi; dan naskah yang mengandalkan kertas sebagai wadah kreatif penulis.
Itu sebab, di masa Lee hidup, surat-surat para pesohor tinggi nilainya. Banyak orang ingin memilikinya, bahkan bersedia mengeluarkan uang banyak demi mengoleksinya. 
Kepiawaian menulis dan niat busuk
Yang menarik di film ini adalah percampuran kepiawaian Lee sebagai penulis dengan niat busuk memalsukan dan menjual surat-surat palsu kepada kolektor masyarakat sastra.
Di satu sisi Lee menemukan jalan buntu, tapi di sudut lain ia menemukan setapak jalan yang terbuka tiba-tiba. Selama karirnya terjun bebas, tak ada satu pun naskah dia telurkan. Ia malah lebih banyak mengunjungi bar mabuk-mabukkan—yang bakal membuatnya bertemu dengan John Hock (Richard E. Grant), partner kriminalnya kelak.
Walaupun demikian, yang namanya jalan setapak inspirasi bisa terbuka kapan saja tergantung apa pemicunya. Di kasus Lee, pemicunya adalah sebuah surat pesohor yang entah mengapa bertemu dengan niat jahat pemalsuan dokumen.
Maka, setelah ia pertama kali menjual surat Katharine Hepburn yang dimilikinya ke toko buku, tidak tanggung-tanggung setelah itu 400 surat orang terkenal telah ia palsukan.
Lee bahkan melakukan riset untuk mendalami karakter penulis surat yang ingin ia palsukan. Dalam film dikisahkan ia sampai harus mencuri surat asli di perpustakaan dan menukarnya dengan salinan surat yang ia bikin sendiri.
Tidak sampai di situ, Lee bahkan meniru jenis dan model kertas yang dipakai korban saat menulis surat pribadinya. Lee juga meneliti jenis huruf, rentang spasi, hingga jenis mesin tik yang dipakai korban saat mengetik suratnya. Yang paling berisiko, Lee tidak lupa memalsukan tanda tangan agar seolah-olah ditulis dari tangan asli penulisnya.
Asosial
Dalam salah satu adegan ketika Lee bertengkar hebat dengan agensinya, diketahui Lee adalah pribadi yang tertutup. Selain tertutup tindak bicara Lee mencerminkan pribadi kasar dan sulit mengucapkan kata ”tolong” dan ”terima kasih” kepada orang-orang. Ia disebut agensiya sebagai alkoholik, urakan, tak tahu berpenampilan menarik dan asosial.
Setelah pamornya meredup Lee bagai ditelan bumi. Ia jarang berkunjung dipertemuan-pertemuan penulis, menghadiri talkshow, siaran radio, dan bertegur sapa dengan para pembacanya di acara peluncuran buku.
Di percakapan peristiwa itu, Lee bahkan disebut Marjorie (Jane Curtin), agensinya, tenggelam sendiri di balik karyanya. Apa pun yang bakal ditulisnya, setelah pamornya jatuh, bakal sulit mendapatkan bayaran setimpal. Padahal dalam pertengkaran itu Lee menggadang-gadang sedang mengerjakan naskah biografi Fannie Brice, aktris sekaligus komedian kawakan.
Selain pertengkaran ini, adegan pembuka sudah mampu memberikan gambaran secukupnya mengenai karakter Lee. Ia dipecat seketika karena berkata kasar dan memaki orang yang sebenarnya adalah atasannya. Di adegan itu, tak sungkan Lee bekerja sambil minum segelas gin.
Sehari-hari di rumahnya, Lee ditemani kucing peliharaannya. Dia menunjukkan keakraban dan kasih sayang justru bukan kepada orang-orang di sekitarnya, melainkan kepada kucingnya semata wayang—yang ia sebutkan satu-satunya jiwa yang menyayanginya.
Saya menilai, karakter Lee yang asosial, urakan, alkoholik, bermulut kasar adalah kekuatan film ini. Ditambah kepiawaiannya menulis dan meniru gaya bahasa tulisan orang yang dipalsukannya. Semuanya klop menjadikan Lee sebagai pribadi dengan kesan kuat di mata orang yang mengenalnya.
Dalam ulasan Tirto(18/02) berjudul ”Can You Ever Forgive Me? Kisah Lee Israel dari Penulis Jadi Pemalsu” Lee bahkan tidak sama sekali merasa bersalah atas pemalsuan yang ia lakukan. Menurut Tirto, dikutip dari memoarnya, ia menyebut surat-surat palsunya itu adalah karya terbaiknya selama ia hidup.
Menulis Diri Sendiri
Can You Ever Forgive Me? merupakan judul film yang diambil dari memoarnya. Pada suatu momen di akhir film, setelah melewati persidangan pasca ia ditangkap (ia dijatuhi hukuman enam bulan di bawah tahanan rumah dan lima tahun masa percobaan), Lee ingin mengabadikan kisah hidupnya sendiri. Mungkin kisah pemalsuannya mengandung hikmah yang dapat ia jadikan karya tulis.
Dengan kata lain, Lee mengalami titik balik setelah kasusnya diketahui publik dan tertangkap FBI. Setelah bertahun-tahun ia menulis kisah hidup orang lain, dan kelimpungan di ujung karir mencari-cari subjek karangan yang tak kunjung menarik minat agensinya, tidak disangka dirinyalah subjek menarik untuk dituliskan.
Selain kisah pemalsuannya, di memoarnya Lee banyak bercerita tentang dirinya, karya dan kucing peliharaannya.  Di Memoarnya itu pula ia mengemukakan pandangannya mengenai pemalsuan surat-suratnya. Seperti dikutip dari Tirto (18/02) Lee menyatakan surat palsunya lebih baik dari aslinya. Saking bagusnya ia menulis banyak yang terkecoh dan percaya.
Can You Ever Forgive Me? masuk dalam nominasi Best Adapted Screenplay (Film Adaptasi Terbaik) di Oscar 2019. Film disutradai Marielle Heller serta penulis Nicole Holofcener dan Jeff Whitty ini mendapat skor 8,2 dari 10 dan penonton menilai 4 dari 5 dalam situs web Rotten Tomatoes.
Konsesus kritik dalam Rotten Tomatoes menilai kesuksesan dari film ini berkat kemampuan akting Melissa McCarthy dan Richard E. Grand yang membubuhi kecerdasan yang kelam dan cekatan kepada dua tokoh utama film ini.

”Deftly directed and laced with dark wit, Can You Ever Forgive Me? proves a compelling showcase for deeply affecting work from Richard E. Grant and Melissa McCarthy”. Begitu bunyinya.