: 1 Desember 2019
Diarahkan oleh Sy Gowthamraj. Diproduksi oleh SR Prakashbabu, SR Prabhu. Ditulis oleh Sy Gowthamraj. Dibintangi Jyothika. Musik oleh Sean Roldan. Sinematografi Gokul Benoy. Diedit oleh Philomin Raj. Perusahaan produksi Dream Picture Warrior. Didistribusikan oleh Dream Picture Warrior. Tanggal rilis 5 Juli 2019. Durasi 136 menit. Negara India. Bahasa Tamil
GURU,
pahlawan tanpa tanda jasa saya kira slogan berbahaya. Dia bisa menjadi alasan
berkelit bagi kekuasaan agar guru tetap diperlakukan seadanya. Guru tak mesti
diperlakukan khusus. Toh, dia mesti ikhlas bekerja. Pagi hingga sore tanpa
pamrih mendidik ribuan anak-anak negeri. Jika mengeluh dan meminta haknya
dipenuhi ada slogan itu tadi. Guru bukan siapa-siapa. Dia tidak mesti
mendapatkan jasa balasan dari pengabdiannya selama ini.
Nasib
guru ditinjau dari slogan itu cukup mengenaskan. Waktu dan tenaganya selevel
dengan kerja buruh pabrik. Pagi hingga sore, tanpa sekalipun menyisakan waktu
bagi keluarga, dia mesti berada di sekolah. Di dalam kelas ia dituntut kreatif membaca gerak gerik siswa, di hadapan sistem
dia dibebani tumpukan embel-embel administrasi, di mata publik gelagatnya
dicibir berperilaku kasar mendidik anak, dan di hadapan pemerintah hak-haknya
banyak tidak diapresiasi.
Melihat
siklus kehidupan seorang guru cukup aneh. Di hadapan negara ia jadi objek
kekuasaan demi menjadi subjek kemajuan
peradaban. Banyak waktunya tercurah mendidik anak-anak orang lain, sementara di
saat bersamaan waktunya ”dirampas” demi mendidik keluarganya.
Dengan
kata lain, seorang guru teralienasi dari kehidupan intinya. Tanpa sadar ia
menjadi objek pekerjaannya sendiri.
Mengajar, membuat RPP, mengisi berkas administrasi, secara kontinyu
membuatnya ”berjarak”. Ia dekat, tapi jauh dari segi perhatian dan pendidikan
keluarga.
Tapi,
walaupun demikian, siklus kehidupan guru menandai bagaimana ia kerap
mengutamakan kehidupan publik (pendidikan) daripada kehidupan pribadinya (rumah
tangga). Ia rela urusan keluarganya dinomorduakan demi kemajuan pendidikan.
Orang rela mengutamakan kehidupan banyak orang daripada kepentingan pribadinya,
saya kira orang yang memiliki kualitas keikhlasan luar biasa.
Ini
yang membedakan kualifikasi guru dari profesi lain. Ia sehari-hari berkecimpung
di dalam ”dunia manusia” yang memiliki beragam karakter, kepentingan, motivasi,
kecenderungan dan tingkat pemahaman berbeda. Di dalam lingkungan serba dinamis
itu, keikhlasan dan kesabaran adalah kunci.
Lalu,
jika guru tidak dapat ditandai atas jasanya, bagaimana guru mesti diapresiasi
atas kerja kerasnya mendidik ”peradaban”?
Saya
berpikir, satu-satunya cara mengapresiasi kerja guru tiada lain mengamalkan
seluruh didikan sang guru. Guru dihargai dengan cara kita berpikir,
berperasaan, dan beramal sesuai amanah ilmu yang diperoleh darinya. Apabila
semua itu ingin ditandai, saya kira itulah tandanya, tanda jasanya.
DUA
hari ini netizen dihebohkan pidato menteri pendidikan baru. Nadiem tidak banyak
berbasa-basi. Bahkan itu sudah ia ingatkan dari isi pidato awal. Inti pidato
Nadiem berkisar lima hal.
Pertama,
soal guru yang menjadi lokomotif utama penggerak generasi terdidik. Kedua,
kecerdasan peserta didik tidak diukur dari hasil ujian. Ketiga, guru mesti
menekankan karya murid tinimbang membebani murid menghapal isi pelajaran.
Keempat dan kelima, guru mesti menjadi pelaku aktif di dalam kelas, dan mesti
memahami kebutuhan berbeda setiap murid.
Isi
pidato Nadiem sebenarnya klise jika dibandingkan dengan isi pidato Jokowi di
hari Guru tahun 2017. Terlebih lagi dari yang pernah dicanangkan Anis Baswedan
dan Muhadjir Effendy.
Satu-satunya
membedakan pidato Nadiem dibanding menteri sebelumnya adalah cara ia
disampaikan. Sehari sebelum resmi dibacakan, beredar video naskah pidatonya di
lini masa. Seolah-olah Nadiem ingin menandai bagaimana ia gesit memanfaatkan
media sosial. Satu ciri milenial dan teknologis yang menjadi latarbelakangnya
selama ini.
Pidato
Nadiem di hari guru besar kemungkinan akan berbeda jika diucapkan di hari
pendidikan. Guru dan pendidikan dua hal berbeda walaupun tidak bisa dipisahkan.
Itulah sebab, tema pidato Nadiem tidak
bertumpu di atas narasi besar pendidikan, melainkan kembali mengingatkan guru
sebagai garda depan yang sehari-hari berada di dalam kelas bakal menentukan
arah pendidikan.
Nadiem,
dengan kata lain sedang berbicara tentang sosok pahlawan. Figur merdeka yang
bakal menentukan nasib masa depan banyak orang.
DIA
datang tanpa banyak bersuara. Ia melihat banyak keanehan di sekolah tempatnya
bakal bertugas. Sekolah orang tidak mampu itu ibarat lingkungan pasar: murid
merokok dan beberapa melompat pagar, kelas amburadul, siswa-siswi berlarian tak
karuan di halaman.
Guru-gurunya?
Jangan tanya. Ketika Geetha Rani kali pertama datang, guru-gurunya nongkrong di
ruang guru asyik bersolek. Beberapa mengajar mendengarkan lagu dari headset sementara murid-muridnya
dibiarkan bermain. Bahkan, guru-guru lelakinya malah keluyuran lari dari tugas
mengajar.
Geetha
Rani, perempuan guru dalam film Raatchasi (2019), tidak main-main. Ia adalah
guru baru sekaligus kepala sekolah ditugaskan di sekolah karut marut. Setelah
mengamati keadaan buruk sekolah dipimpinnya, ia melakukan perubahan seketika.
Melihat
keadaaan ini, bagi guru bermental kerupuk, sudah pasti bakal keok di hari
pertama bertugas, dan mencari cara dipindahkan secepatnya. Tapi tidak bagi
Geeta. Seakan-akan menepis anggapan masyarakat sekitar sekolah, ia malah
bersemangat mengubah keadaan yang semula tidak mirip sekolah itu.
Dia
pelan-pelan tapi tegas, mengubah seluruh kebiasaan buruk sekolah. Pertama ia
membiasakan siswa-siswa mesti berkumpul setiap pagi sebelum masuk kelas. Kedua,
ia menertibkan guru-guru bermasalah. Sebagiannya ia ”paksa” meng-upgrade
pengetahuan belajar-mengajarnya. Ketiga, ia merenovasi gedung sarana prasarana
sekolah. Keempat, ia membuka kelas minggu bagi anak-anak tidak sekolah ikut
belajar di akhir pekan. Kelima, ia meroling setiap guru menjadi kepala sekolah
harian di hari-hari berbeda. Keenam, ia mengundang orang tua murid membicarakan
ide-ide perbaikannya. Intinya, Geetha Rani sedang melakukan perubahan
besar-besaran nan mendasar di sekolah dipimpinnya.
Usaha
revolusioner Geeta di sekolah seketika merebak seantero kampung. Sekolah
dikenal sarang anak-anak nakal, murid keluarga miskin, dan guru malas, seketika
diketahui banyak perubahan.
Tak
disangka tindakan perbaikan Geeta membawa soal lain. Banyak pihak
berkepentingan gerah atas gaya tegas kepemimpinannya–termasuk guru-guru di
sekolah. Geeta dianggap banyak mengubah bukan saja keadaaan sekolah, tapi
situasi status quo sosial-politik di daerah sekolah itu berdiri.
Saya
tidak perlu lagi membicarakan jalan cerita film Kollywood ini (film berbahasa
Tamil yang membedakan dengan Bollywood, film berbahasa Hindi). Tapi perlu saya
katakan premis film ini tidak jauh berbeda dari film sejenis Taare Zameen Par
(2008), Dead Poets Society (1989), atau Freedom Writers (2007), yang
menempatkan peran signifikan guru mengubah penyelenggaraan pendidikan jauh
lebih baik.
Seperti
dua fim ini, Raatchasi dengan klise tapi begitu bersemangat mendudukkan peran
”sendirian” seorang guru, dari tindakan ”lokalnya” mengubah kebiasan buruk
belajar di sekolah menjadi kembali bersemangat dan humanis.
Geetha
Rani menciptakan kebiasan dan pendekatan baru dalam proses belajar
mengajar. Dari rumahnya, sepulang dari
sekolah, dia menyusun strategi apa untuk mengubah eksosistem sekolah yang
ideal. Pelan-pelan perubahan itu bakal mempengaruhi kehidupan sosial sampai di
luar sekolah. Ini, saya kira adalah
salah satu pesan utamanya. Peluru pendidikan diciptakan di dalam kelas, dan
bakal ”meledak” kelak ketika mereka berkiprah di dunia yang lebih luas.
Pelan-pelan
adegan demi adegan film ini mengisi imajinasi saya tentang sosok guru
diidealkan Nadiem. Guru yang disebutnya tidak mesti menunggu perintah dari
”atas”, guru yang mengutamakan karya siswa, guru yang pandai berinovasi di
dalam kelas, guru yang menemukan pendekatan baru belajar mengajar, guru yang
mengajak diskusi kelasnya, guru yang mesti menemukan bakat murid, guru yang….
Selamat
Hari Guru, pahlawan tanpa tanda jasa.
--Telah tayang 25 November 2019 di Kalaliterasi.com