Petualangan Zak, si ”Pegulat” Down Syndrom

 
: 28 November 2019
 
SETIAP berkunjung di kampung halaman selepas belebaran, saya bakal bertemu Rais, sosok ”terkenal” seantero kampung  di desa kelahiran Bapak. Rais kerap datang menunggu di depan pintu ketika kami sekeluarga bertandang di rumah saudara Bapak. Mukanya senantiasa sumringah dengan potongan rambut cepak. Senyumnya menampakkan gigi tidak teratur. Bebebarapa sudah tanggal menciptakan lubang ibarat mulut gelap gua. Tubuhnya gempal dan pendek, ciri khas orang sepertinya. Rais tidak mampu berkomunikasi dengan baik. Rais pengidap down syndrom.
Rais berdiri di depan pintu menunggu diberikan uang. Kadang jika terlampau lama menunggu, ia bakal pergi dan datang kembali jika kami berpamitan pulang.
Sewaktu kecil, ketika saya bertanya, Bapak mengatakan Rais masih bagian dari keluarga. Saya tidak tahu persis seperti apa silsilah pertalian darah di antara mereka. Tapi, satu hal yang pasti, sekarang saya menyadari, jawaban Bapak bertahun-tahun lalu saya duga agar kami anak-anaknya tidak memberlakukan Rais semena-mena. Walaupun ia mengidap down syndrom, Rais adalah keluarga. Rais tidak boleh diolok-olok, ditertawakan, atau bahkan dihina. Ia mesti diperlakukan seperti keluarga. Orang dekat tanpa sekat.
Terakhir, tahun lalu, ketika menengok saudara Bapak di rumahnya, Rais nampak bertambah tua. Kepalanya ditumbuhi uban. Kumisnya juga satu dua ditumbuhi uban. Ia masih sering berkunjung menunggu di sekitar pintu kalau kami datang.
Kenangan atas Rais-lah—atau pengidap down syndrom lain—yang sesekali muncul saat menikmati adegan demi adegan The Peanut Butter Falcon (2019). Sosok Zak (Zack Gottsagen) dalam kisah ini mewakili stereotype seluruh orang pengidap down syndrom.  Ia menjadi kilasan atas pengalaman sehari-hari ketika menemukan orang sepertinya, yang tidak terurus dan terabaikan dari perhatian komunitas terdekat.
Adegan pembuka The Peanut Butter Falcon berlatar sebuah panti asuhan di North Carolina yang lebih banyak berisi orang jompo. Zak dikisahkan dirawat di sini lantaran tidak memiliki keluarga. Belum lama berselang, adegan menunjukkan petingkah Zak menipu penjaga panti di saat jam sarapan. Bekerja sama dengan seorang nenek tua si pengalih perhatian, Zak berusaha kabur dari panti. Belum jauh mendobrak dan berlari keluar dari pintu panti ia sudah ”diterkam” penjaga panti.
Adegan kocak ini mengirim pesan singkat nan penting menyangkut nasib Zak. Ia tidak betah hidup di dalam panti. Sudah dua kali dia dinyatakan kabur dari kehidupan panti.  Selidik punya selidik, keinginan Zak meninggalkan panti terdorong dari impiannya menjadi pegulat.
Premis The Peanut Butter Falcon di titik ini tipikal film-film Hollywood bertema anak muda— Zak masih berusia 22—yang menghendaki kebebasan petualang merealisasikan cita-citanya. Tak peduli seberapa besar kekuatan sistem mengekangnya, cita-cita tidak bisa ”dirumahkan” begitu saja. Ia selalu mencari jalan keluar. Cepat atau lambat, selama ia diperjuangkan, cita-cita sepenuh jiwa pasti menemukan nasib terbaiknya.
Menariknya premis film ini, cita-cita itu lahir bukan dari orang normal. Ia justru datang dari orang pengidap down syndrom seperti Zak. Figur kerap dinilai menanggung sekelumit keterbatasan.
Zak dikisahkan gemar menonton rekaman video gulat ala WWE. Ia sangat mengagumi The Salt Water Redneck (Thomas Haden Church), jagoan gulat sekaligus pengasuh sekolah gulat jauh di selatan Amerika. Impian Zak adalah ingin menjadi murid pegulat di sekolah ini. Tapi, apa boleh buat. Ia merasa ”ditawan” di panti jompo yang bukan kediaman idealnya.
Suatu malam buta dibantu Carl (Bruce Dern), kakek tua teman sekamarnya, Zak merencanakan pelarian. Bagaimana pun caranya ia ingin ke sekolah gulat impiannya. Jeruji jendela dibengkokkan menggunakan teknik ikatan kain sederhana. Zak berhasil lolos setelah menanggalkan seluruh pakaiannya.
Di titik ini penonton dibuat kaget, bagaimana nasib pelarian Zak, seorang pengidap down syndrom? Tanpa pakaian—ia hanya menggunakan cawat, uang, peta, dan kenalan!? Apakah ia bakal sampai ke tujuannya? Apakah ia bakal menemukan kesulitan di tengah jalan? Apakah ia….
Sampai di sini rasa penasaran dikalahkan rasa ketakjuban saya yang belum hilang. Di balik film ini, saya membayangkan bagaimana film ini dibuat. Bagaimana Zak –yang pengidap down syndrom asli—berkomunikasi dengan para kru film. Bagaimana ia mengeintrepetasi arahan duo sutradara Tyler Nilson dan Michael Schwartz? Bagaimana  ia berakting di hadapan bidik kamera? Bagaimana ia membaca naskah? Bagaimana ia mengelola emosinya? Bagaimana ia berinteraksi sesama pemain lain? Bagaimana ia berdialog selama pengambilan gambar? Bagaimana ia berenang—di film ia bahkan berenang!? Bagaimana ia….
Semua pertanyaan di atas dapat dirinci menjadi: bagaimana Zak mengelola semua keterbatasan dirinya (fisik dan intelelek) merespon stimulan di luar dari dirinya?
Kritik terhadap keluarga
Banyak kasus anak-anak terlahir down syndrom membuat orang tua enggan merawatnya.  Alih-alih memberlakukan mereka sebagai bagian keluarga, tidak sedikit pengidap down syndrom ditelantarkan begitu saja.  Malangnya, keluarga sebagai pihak bertanggung jawab merawat anak penderita down syndrom, malah pihak paling sering memperlakukan down syndrom sebagai liyan.
Zak dikatakan pengidap down syndrom ditelantarkan keluarga. Ia bahkan tidak mengetahui asal-usulnya. Keluarga Zak  hanya konsep kabur dalam pemahamannya. Sial bagi Zak, dikisahkan, negara tidak memiliki layanan publik menangani pengidap down syndrom sepertinya. Itulah sebabnya, Zak dikumpulkan bersama para kakek nenek di panti jompo dengan para pengasuh tidak berperspektif disabilitas.
Motif Zak meninggalkan panti jompo selain ingin menjadi murid sekolah gulat, ditengarai alam bawah sadar minim kasih sayang keluarga. Ia merasa menjadi pihak diabaikan dalam lingkungan sosialnya. Di panti jompo, dia memiliki banyak teman, tapi tidak semuanya memberikan kedekatan seperti keluarga. Perlakuan pengasuh terhadapnya sering diskriminatif. Ia kerap dipanggil idiot dan dilecehkan seperti mahluk berbeda.
Di titik ini, The Peanut Butter Falcon seolah melayangkan kritik kepada pihak sering kali merendahkan pengidap disabilitas. Keluarga, unit terinti sumber kasih sayang, mesti menjadi pihak paling proaktif mendukung pengidap down syndrom. Keluarga mesti menempatkan perhatiannya jika menemukan anak terlahir down syndrom. Bukan malah menjauhkannya dari interaksi sosial keluarga wahana tempat keluarga saling memupuk kasih sayang. 
Dengan kata lain, keluarga harus siap bersedia memperlakukan penyandang/pengidap  disabilitas seperti bagian keluarga sendiri. Para pengidap down syndrom juga memiliki hak yang sama seperti orang kebanyakan. Keluarga mesti mendorong pengidap down syndrom menemukan kelebihan di balik perbedaannya. Keluarga mesti menjadi motivator dan menyediakan jalan agar anak-anak seperti Zak dapat merealisasikan cita-citanya.
Betualang bersama ”keluarga”
Sesungguhnya adegan Zak tidak dibuat-buat. Di pelarian ia tanpa sengaja bertemu nelayan bermasalah bernama Tyler (Shia LaBeouf). Tyler juga seorang pelarian setelah membuat masalah membakar perangkap kepiting nelayan setempat yang bakal mengejarnya.
Terkuak Tyler juga seorang dilanda kesepian. Setelah kematian sang kakak kehidupan Tyler porak poranda. Kelak setelah mereka bertemu dan memulai petualangannya—ya, film ini juga kisah petualangan—mereka bakal semakin dekat dan saling memberikan arti kemanusiaan satu sama lain.
Zak menemukan sosok pengertian dari Tyler. Sementara Tyler mendapatkan orang yang mampu membuatnya tersadar dari kesedihan.
Lebih dari itu, persahabatan Tyler dan Zak, tidak didorong rasa inferior dan superior di antara keduanya. Dibandingkan Eleanor (Dakota Johnson), pengasuh Zak yang memberikan perhatian berdasarkan sejenis belas kasihan, kelakuan Tyler atas Zak mencerminkan hubungan layaknya orang normal. Tyler tidak melihat kekurangan Zak sebagai masalah sehingga mesti bersikap berlebihan. Dan Zak tidak menemukan masalah selama ia bersama Tyler. Bahkan Tyler seolah-olah menjadi sosok pelindung bagi Zak yang selama ini tidak merasakan perhatian seperti dari kedua orang tuanya.
Itulah sebabnya, Zak menemukan perhatian dan perlakuan yang selama ini belum ia rasakan. Orang-orang di panti cukup dekat kepada Zak, tapi semuanya didorong dari sejenis perasaan kasihan kepada Zak. Sementara Tyler berbeda. Ia ala kadarnya, bahkan berani ”menyiksa” melatih  Zak menjadi pegulat walaupun ia pengidap down syndrom.
Di perjalanan petualangan mereka, film tidak banyak menyuguhkan lokasi macam-macam. Layar hanya akan bolak balik di antara pesisir pantai, laut lepas, padang, dan persada luas.  Penanda yang menegaskan kisah petualangan dan persahabatan tipikal Hollywood yang mendambakan perasaan tanpa sekat, prasangka, dan kebebasan dalam meraih impian
Menjadi Elang

Nama alter ego dipilih  Zak ketika kelak menjadi pegulat adalah falcon (elang),  yang menandai semangat kebebasannya. Di akhir kisah, Zak tidak ingin kembali ke panti jompo. Ia juga merealisasikan keinginannya menjadi pegulat “sesungguhnya”. The Peanut Butter Falcon, begitu namanya ketika dipanggil ke atas ring gulat.