Mere Pyare Prime Minister: Melawan Dengan Toilet


: 24 Desember 2019


Sutradara: Rakeysh Omprakash Mehra. Pemain: Anjali Patil, Om Kanojiya, Atul Kulkarni, Makrand Deshpande. Liris: Maret 2019. Durasi: 104 Menit. Negara: India. Bahasa: Hindi


”Satu-satunya perbedaan mereka dengan kita, mereka buang air di atas pesawat. Sementara kita di rel kereta api.”

 

INTINYA, Mere Pyare Prime Minister bisa berbicara banyak hal. Film ini kisah tentang anak-anak perkampungan kumuh di kota metropolit seperti Mumbai, India. Kisah tentang kehidupan perempuan tanpa suami, kisah kriminalitas masyarakat perkotaan, kemiskinan, kekerasan perempuan, diskriminasi kelas, dan juga yang paling utama...toilet.

Ya, toilet adalah tulang punggung film ini. Rakeysh Omprakash Mehra sebagai sutradara, punya alasan kuat mengapa toilet menjadi tema besar film dibintangi Anjali Patil dan Om Kanojiya.

Sebelum dibeberkan apa alasan toilet menjadi fokus utama, saya ceritakan saja tayangan pembuka film ini:

Sekumpulan perempuan, sambil bergosip, berjongkok membentuk lingkaran di kegelapan malam. Tanpa malu mereka menceritakan pengalaman di atas ranjang saat bersama suami masing-masing. Seolah-olah seperti tidak ada rahasia, satu sama lain saling bertukar kisah. Terlihat semuanya membawa seember air untuk bebersih diri. Sesekali mereka saling menertawakan temannya, seolah-olah  tujuan utama mereka datang  di tempat itu bukan demi buang hajat.

Tidak diduga, sorot lampu mobil polisi mengarah ke arah perkumpulan perempuan ini, membuat mereka menggerutu. Laiknya arisan yang dibubarkan paksa, mereka menghambur pulang dengan muka dongkol.

Begitulah. Ini film unik. Satu-satunya film yang membuka adegan pertamanya dengan perempuan buang hajat berkelompok di malam buta. Tapi, di situlah saya kira adegan ini memainkan fungsinya melempar pertanyaan kepada penonton: di tengah kemajuan kota metropolit semacam Mumbai, masih ada warganya yang tidak memiliki toilet, bahkan di dalam rumahnya sekali pun.

Saya jadi ingat dua hal, Jakarta sebagai  kota padat penduduk, dan buku ditulis Antropolog asal Belanda Roanne van Voorst, Tempat Terbaik di Dunia. Bagaimana jika sebenarnya film ini merupakan catatan etnologi seperti ditulis Roanne semasa ia hidup di perkampungan kumuh Jakarta; kisah tentang koloni perkampungan jorok dan kotor yang dihimpit gedung pencakar langit; cerita tentang lapisan masyarakat yang jadi ampas urbanisasi; dan suatu lanskap kehidupan yang tidak pernah seimbang, apalagi adil.

Nyatanya, permainan sinematografi Pawel Dyllus apik memberikan persepktif ketika membandingkan dua lanskap masyarakat yang demikian kontras. Seringkali melalui teknik long shoot atau mata burung, kamera menyorot latar belakang kehidupan teratur perkotaan melalui kehidupan perkampungan kumuh. Dari gedung-gedung tinggi, nampak jauh di baliknya tersembunyi kehidupan masyarakat bawah tanpa jaminan kesehatan, pendidikan, dan akses air bersih, lengkap dengan centang perenang desak-desakan ”rumah-rumah” dan silang sekarut gang-gang sempit ciri khas masyarakat lorong.

Sebaliknya, dari gubuk-gubuk kumuh, siluet di belakangnya memainkan sudut pandang mengenai kehidupan elit perkotaan lengkap dengan bangunan tinggi bersusun-susun dan mega yang ditutupi polusi udara.

Permainan tangkapan kamera ini banyak mempengaruhi cara pandang berkaitan dengan transformasi suatu kota. Dengan kata lain, transformasi kota, di mana pun itu, besar kemungkinan akan menyingkirkan masyarakat bawah seiring perputaran modal, budaya, dan kekuasaan.

Masyarakat bawah, jika tidak keluar mencari lahan baru sebagai mukimnya, akan menumpuk di kota-kota, mengisi slot masyarakat bawah yang tidak memiliki akses apa pun kepada layanan perkotaan, termasuk toilet.

Meminjam candaan Kannu (Om Kanojiya) bersama Ringtone (Adarsh Bharti) saat menatap jauh siluet gedung-gedung dari tempat mereka bermain:  di sana—di bangunan tinggi berdesak-desakkan-- terdapat 1.000 toilet, sementara perkampungan di belakang mereka tak ada satupun toilet berdiri.

Krisis toilet

Nyatanya, toilet menjadi masalah utama India. Sebagaimana ditulis Soutik Biswas melalui Why India's Sanitation Crisis Kills Women dari BBC, hampir setengah miliar orang India atau 48% dari populasi tidak memiliki akses ke sanitasi dasar. Setengah populasi ini disebutkan senang buang air besar di tempat terbuka. 

World Health Organisation (WHO) mencatat, kurang lebih 626 juta orang di India pada 2012 buang hajat di tempat terbuka; di rerumputan, semak, atau sungai. Jumlah itu luar biasa besar, mengingat populasi total India adalah sekitar 1,3 milyar jiwa. Sementara laporan wateraid.org, pada 2015, India menjadi negara dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia yaitu 774,2 juta penduduk yang hidup tanpa memiliki toilet pribadi.

Tentu saja kebiasaan buruk ini dipengaruhi beberapa faktor, di antaranya sistem kepercayaan, tradisi, dan edukasi yang minim.

Semenjak memenangkan pemilu Perdana Menteri India Narendra Modi, mencanangkan program Swachh Bharat Abhiyan (Gerakan India Bersih) untuk membangun India bersih dan higienis. Salah satu bentuk programnya adalah membangun 100 juta toilet yang ditargetkan bakal selesai di tahun 2019.

Kekerasan perempuan

Suatu malam Sargam (Anjali Patil) dilecehkan Sainath (Makrand Deshpande) setelah pulang dari buang hajat. Paginya, perkampungan gempar mengetahui ibu Kannu dilecehkan. Tak ada yang tahu kasus sebenarnya. Sargam justru diperkosa atasan polisi yang menyelamatkannya dari usaha perkosaan Sainath.

Bagai disambar petir, peristiwa itu mengubah hidup Kannu dan terutama ibunya, Sargam. Sargam menjadi pendiam, malas makan, dan kehilangan orientasi hidup. Melihat kondisi ibunya yang berubah seratus delapan puluh derajat, dan khawatir keajadian dihadapi ibunya bakal terulang, membuat Kannu tergerak hatinya membuatkan toilet khusus untuk ibunya.

Toilet seadanya dengan dinding kain sari yang diikat di tiang kayu pun berdiri dengan susah payah. Toilet itu berdiri di atas bukit yang dikelilingi pemandangan perkotaan.  Setelah membuat ibunya senang, toilet itu nyatanya dipakai orang-orang secara sembunyi-sembunyi, dan suatu hari runtuh diterjang badai angin muson.

Setelah usaha pertamanya gagal, bersama dua sahabatnya, Kannu, bersembunyi di gerbong kereta api, bertolak ke New Delhi, ibu kota pemerintahan India. Mereka berniat bertemu perdana menteri membawa surat yang ditulis Kannu sendiri. Isinya sederhana, tapi begitu penting bagi perkampungan Kannu: ia ingin  perdana menteri membangun toilet umum di perkampungannya.

Alasan Kannu ini bukan main-main, di India, sekitar 300 juta wanita dan gadis di India buang air besar di tempat terbuka. Tidak sedikit di antaranya banyak mengalami pelecehan dan kekerasan seksual hingga penculikan pasca buang hajat. Bukan saja perempuan dewasa, banyak kasus serupa juga menimpa anak-anak perempuan.

Umumnya, sebagaimana digambarkan dalam film ini, para korban sebagian besar bagian masyarakat yang kurang mampu dan terlalu miskin untuk menyewa toilet. Jauhnya jarak tempat buang hajat dari rumah, dan sering dilakukan di malam hari menjadi sebab utama mengapa banyak perempuan di India mengalami kekerasan seksual.

Melihat konteks kekerasan dialami perempuan di India, peluang kekerasan terjadi jauh lebih besar diakibatkan ketiadaan toilet di rumahnya. Itu artinya, jika banyak perempuan  mengalami kekerasan di ranah domestik, tidak sedikit perempuan India juga mengalaminya di luar dari ranah domestiknya.

Film ini setidaknya, adalah salah satu cara efektif melawan kekerasan perempuan melalui toilet. Lebih dari itu, seperti juga film berjudul Toilet: Ek Prem Katha, India sedang mendirikan peradabannya  langsung dari Toilet.  A nation without clean toilet is a nation without culture, begitu kata slogan World Toilet Organization