The Passion of The Christ: Revolusi di Bawah Kayu Salib

Bahrul Amsal, 06 Januari 2020


Mel Gibson. Produser Bruce Davey, Mel Gibson, Stephen McEveety, Enzo Sisti. Skenario Mel Gibson, Benedict Fitzgerald, William Fulco (terjemahan). Pemeran: Jim Caviezel, Monica Bellucci, Claudia Gerini, Maia Morgenstern, Sergio Rubini. Musik: John Debney. Sinematografi: Caleb Deschanel, Penyunting: John Wright. Perusahaan produksi. Icon Productions. Distributor Newmarket Films 20th Century Fox. Tanggal rilis     25 Februari 2004. Durasi:  126 menit. Negara: Amerika Serikat


SELAIN Socrates, Yesus yang lahir di Betlehem, merupakan pribadi yang menjadi simbol tragedi kemanusiaan.  Sebagai tragedi kisah akhir kehidupannya diliputi kesengsaraan, penderitaan mendalam, sampai kematian demi menyelamatkan umat manusia dalam dialektika kebenaran dan kebatilan. Peristiwa akhir hidupnya yang digiring sampai ke tiang penyalibannya merupakan bukti seringkali kebenaran menelan sendiri orang-orang yang menyuarakannya. Peristiwa sejarah penyaliban Yesus di Bukit Golgota menegaskan setiap kebenaran yang dikonfrontasi oleh tembok kekuasaan, adalah risiko yang tidak bisa ditolak begitu saja. 

Satu-satunya perbedaan di antara Socrates dan Yesus, adalah jenis kebenaran yang dibawa oleh keduanya. Jika Socrates dikenal sebagai filsuf, kebenaran yang dibelanya adalah kebebasan berpikir dan rasionalitas demonstratif yang dapat ditempuh melalui kekuatan penalaran akal budi. Sementara Yesus melampaui pendekatan kebenaran yang bertumpu pada rasionalitas. Sebagai pribadi yang membawa sisi ilahiat, jenis kebenarannya adalah iman berupa firman ilahi, di mana hal ini merupakan kebenaran tertinggi dari epistemologi pengetahuan. 
Bahkan, dalam tradisi keyakinan agama samawi Yesus adalah firman itu sendiri. Kebenaran yang nyata.
Ali Syariati dalam salah satu tulisannya mengilustrasikan kebesaran Yesus dengan cara membandingkannya dengan Muhammad sebagai sosok agung di dalam sejarah peradaban manusia.
Yesus di sisi ini digambarkan sebagai sosok suci yang mengalami proses penuhanan sehingga mengimplikasikan perubahan ontologi yang mengalami semacam transendensi metafisik. Sementara Nabi Muhammad saw., digambarkan Syariati sebagai wujud Tuhan yang mengalami imanensi di dalam kepribadian Rasulullah.  

Jika yang kedua dari sosok Muhammad Tuhan hadir melalui figurnya, menjadi daging dalam sejarah manusia, maka dalam pribadi Yesus, justru dirinyalah naik menjadi pribadi Tuhan.
Dengan kata lain, dalam kepribadian Rasulullah Tuhan yang transenden menjadi  imanen dalam sejarah, sementara Yesus, sebagai pribadi dalam sejarah menjadi transenden dalam Tuhan.
Melalui dua cara ini, seolah-olah Ali Syariati ingin membangun suatu pemahaman timbal balik antara keduanya, bahwa kedekatan Tuhan dan manusia dapat ditransformasikan dengan cara yang diwakilkan Yesus dan Muhammad. Kedua-duanya adalah metode yang sama-sama memberikan kemungkinan terjadinya proses humanisasi bagi pribadi manusia untuk dapat beradab.
Dengan kata lain, kedua cara transformasi di atas absah dan bahkan, saling melengkapi.
Dilihat dari kiprahnya dalam sejarah, keduanya patut didudukkan menjadi sosok agung sokoguru peradaban. Keduanya bahkan adalah pribadi yang menjadi sebab utama terjadinya peristiwa-peristiwa historis yang sampai hari ini dikenang dan diperingati berjuta-juta umat manusia.
Sosok Rasulullah misalnya, mengapa banyak umat Islam begitu sukacita merayakan hari kelahirannya, tiada lain karena tanpa dirinya tidak akan ada peristiwa-peristiwa bersejarah semisal Isra Mi'raj, peringatan tahun Hijriah, Lailatul Qadr, Ramadan, Haji, Idul Fitri, dlsb. Bahkan, tanpa Rasulullah Islam sebagai wahyu dan agama muskil dirasakan seperti sekarang.
Itulah sebabnya, kepribadian Rasulullah mesti dicintai dan dialami. Ia adalah sumber segala kejadian. Hulu segala hilir yang mengalir sampai sekarang.
Sementara sosok Yesus, tanpa kehadirannya mustahil ada peristiwa semisal hari Misa, Hari Paskah, Pantekosta, Hari Jumat Agung, Kenaikan Yesus Kristus, dan juga tentu natal. Seperti pula figur Rasulullah, tanpa pribadi Yesus, semua kejadian itu tidak akan mungkin terjadi.
Film The Passion of The Christ (2004) adalah salah satu visual terbaik yang merekam momen-momen historis di saat-saat terakhir ketika Yesus berakhir di kayu salib. Dimulai dari kejadian di Taman Getsemani, tempat yang dibocorkan Yudas untuk menangkap Yesus, hingga hari kebangkitannya. Semuanya berkisah tentang 12 jam terakhir dimulai dari Yesus yang ditangkap, disiksa, dan mangkat kemudian bangkit dari kematiannya.
Sebagaimana dikutip melalui wikipedia, Mel Gibson sebagai sutradara mengatakan bahwa tujuan film ini dibuat agar umat manusia kembali kepada dasar cinta kasih untuk saling berinteraksi antara sesama manusia.
”Ini adalah suatu film tentang kasih, pengharapan, iman, dan pengampunan. Ia, wafat untuk semua umat manusia, menderita bagi kita semua. Sekarang saatnya untuk kembali ke pesan dasar tersebut. Dunia ini sudah gila. Kita semua dapat menggunakan sedikit lebih banyak cinta, iman, harapan, dan pemberian maaf.”
Terlepas dari pro kontranya film ini lantaran ada beberapa adegan yang tidak memiliki dasar biblisnya, film ini mampu mendelivery serta menghidupkan pribadi Yesus yang diperankan Jim Caviezel. Bahkan dari adegan demi adegan, Jim Caviezel mampu menjaga intensi kepedihan dan kesengsaraan Yesus yang menjadi salah satu poin penting film ini.
Di awal sudah dikemukakan kesamaan Yesus dan Socrates seperti film ini mengkonstruksinya. Yesus sebelum diarak menuju ke bukit Golgota, suatu kawasan di luar kota Yerusalem, dituduh sebagai penghasut, tukang sihir dan propagandis keyakinan sesat di tengah masyarakat. Uniknya kecaman kepada Yesus ini beralamat dari pemuka-pemuka agama yang kala itu adalah rabi-rabi Yahudi. Oleh mereka Yesus difitnah sana-sini hingga memancing kemarahan massal.
Kecaman yang dimotori pemuka agama Yahudi ini pada gilirannya menciptakan massa yang sulit dibendung pemerintahan setempat. Secara kuantitatif massa yang membludak membentuk kekuatan politik jalanan yang mendesak kekuasaan Romawi agar segera menghukum Yesus secepat mungkin.
Di sini seperti galibnya kekuatan massa, akhirnya mengalahkan kualifikasi legitim yang dimiliki pemerintah. Dengan kata lain, akibat desakan amukan massa, pemerintah sebagai representasi hukum tidak mampu tegak berdiri sebagai dalil untuk merintangi aspirasi politis massa yang berkumpul.
Seperti Socrates, di tengah-tengah kecamuk massa, Yesus seorang diri berhadapan dengan ratusan orang tanpa ada siapa pun yang mau membelanya. Dalam konteks kebenaran, Yesus malah menjadi suara yang aus di tengah masyarakat yang lebih menyukai hoaks dibanding kebenaran wahyu yang dibawa Yesus.
Lebih dari itu, kebenaran Yesus yang sudah berhadap-hadapan dengan kecamuk massa, tidak mampu menarik simpati murid-muridnya. Dalam hal ini kebenaran Yesus hanyalah suara angin lalu yang direspons murid-muridnya. Bukan saja pengkhianatan murid-muridnya, malah beberapa di antaranya hanya terpaku dalam diam tidak mampu membela tubuh Yesus yang melepuh dikeroyok massa.
Petrus, misalnya, yang menyelinap menyaksikan kekejian massa terhadap Yesus, bahkan menyangkal sebagai muridnya setelah kepergok massa ikut hadir di tengah-tengah mereka. Ketika Petrus ditanya sebagai pengikut Yesus, ia menyangkalnya sebanyak tiga kali. Sesuatu yang sebelumnya sudah diramal Yesus.
Penyangkalan Petrus dalam hal ini adalah refleksi jiwa yang belum matang mengikuti suatu keyakinan. Suatu keadaan jiwa yang sebetulnya masih dilematis memegang teguh prinsip kebenaran dan atau bakal menghadapi risiko berat sebagai konsekuensinya.
Di sisi lain, ia juga sekaligus figur yang sewaktu-waktu bisa dialami siapa saja berkaitan dengan pengkhianatan yang merusak kepercayaan seseorang (saya sulit membayangkan bagaimana isi pikiran dan jiwa Yesus --dan juga nabi-nabi lain--yang mampu mengetahui isi hati pengikutnya, umatnya, mengingat kemampuan yang dimilikinya terkait pengkhianatan murid-muridnya).
Arak-arakan Yesus memanggul salib --yang dikenal sebagai jalan salib--adalah suatu peragaan yang sejatinya bernilai universal sebagai simbol pengorbanan terhadap umat manusia. Kesengsaraan yang dirasakannya adalah nilai subtansial yang mesti direfleksikan di dalam kehidupan kiwari.
Dengan kata lain , kehidupan kiwari, yang miskin spirit altruis dan asketisme, nampaknya harus banyak belajar dari sosok sejarah Yesus. Di situ Yesus tidak sekadar harus berjalan panjang memanggul kayu salib, melainkan rela berkorban menghilangkan kecenderungan pribadinya demi kemaslahatan sosial umat manusia.
Bagi kita --bukan saja Kristiani-- kayu salib dalam ungkapan lain tidak sekadar simbol penderitaan, melainkan tanggung jawab rela mengambil alih peran bagi orang-orang yang tersisihkan. Suatu suara mewakili umat yang mengalami pahitnya dikucilkan, didiskriminasi, dilecehkan, dideskreditkan, ditindas, dan diberlakukan tidak adil.
Dalam The Passion of The Christ, sosok Maria dan Magdalena adalah narasi kecil yang signifikan memberikan arti kesengsaraan Yesus juga ditanggung bukan saja dirinya sendiri, melainkan kaum perempuan yang tidak mampu berbuat apa-apa.
Tanpa mengecilkan penderitaan Yesus, Maria dan Magdalena mengalami dua kali lipat penderitaan sebagai seorang perempuan. Pertama sebagai orang dekat Yesus, dengan hanya melihat Yesus diarak sembari menerima tindakan kekerasan tentara Romawi, adalah satu jenis penderitaan psikis dan mental tiada terkira. Sebagai seorang perempuan, apalagi bagi Maria ibu Yesus, kekerasan yang disaksikannya langsung dari buah hatinya adalah kejadian yang benar-benar di luar nalar dan maha dahsyat.
Kedua, penderitaan sang ibu dan Magdalena adalah penderitaan yang lahir akibat ketidakmampuan melakukan apa-apa. Mereka tidak berdaya dari ketidakberdayaan seorang perempuan yang hanya mampu menangisi dari jauh atas kesengsaraan Yesus. Tangisan mereka dengan kata lain adalah bahasa terdalam atas ketaksanggupan berbuat apa-apa yang membuat mereka menderita duakali lipat.
Walaupun demikian, dari sekian banyak orang yang melihat arak-arakan kekerasan Yesus, hanya ada satu perempuan yang tergerak berinisiatif memberikan minum kepada Yesus. Walaupun gagal, adegan ini seolah-olah ingin mengartikan betapa perempuan di saat-saat genting malah menjadi pembeda dari kecenderungan umum yang digerakkan kemarahan.
Syahdan, mengutip kembali Ali Syariati, dari The Passion of The Christ dapat ditarik kesimpulan bahwa apa yang dialami Yesus ditengarai dari sentimen agama, terutama Yahudi dengan ajaran yang dibawa Yesus kala itu. Ali Syariati menyebutnya "agama" vs agama. Dalam catatan Syariati agama dalam tanda kutip adalah agama yang berwajah dispotik, otoritarian, anti kemanusiaan, dan dekaden. Keadaan yang ditemui Yesus saat ia hidup. Sesuatu yang sekarang juga kita rasakan.

Selamat merayakan Natal bagi umat Kristiani. Tuhan memberkati.