: 27 Januari 2020
”AKU
bisa terbang dari tempat ini dengan buku. Aku sampai ke ujung dunia dengan
sayap kata. Saat aku membaca, tak ada yang mengejarku. Saat aku membaca, akulah
yang mengejar… mengejar Tuhan.”
Dengan
suara ditekan, kalimat maaf itu diucapkan Dr. W.C Minor (Sean Penn) kepada Nyonya Merrett
(Natalie Dormer) , perempuan janda yang ditinggal mati suaminya.
Pertemuan
mereka bukanlah kali pertama terjadi ketika Eliza Merrett datang membawa buku
mengunjungi Doktor Minor di dalam penjara khusus orang gangguan jiwa. Ini
adalah kunjungan kesekian setelah Eliza memberanikan diri mendatangi orang yang
telah membunuh suaminya.
Halaman
demikian lapang dengan rumput hijau terawat baik, dan tembok pagar bangunan
penjara mengelilingi mereka. Suasana yang tidak sama sekali mencerminkan bahwa
di tempat itu adalah pusat rehabilitasi sekaligus penjara khusus orang gangguan
mental, membuat percakapan itu kian ganjil.
Bukan
lain sebab selain kunjungan itu sebenarnya pertemuan antara si gila pembunuh
dan istri korbannya. Pertemuan belakangan intens itu tak dinyana menimbulkan
perasaan mendalam satu sama lain.
The
Professor and The Madman (2019) bukan kisah ”cinta” antara Dr. Minor dan Eliza
Merrett. Selingan pertemuan mereka hanyalah secuplik kisah yang memberikan
narasi romantisme bagi sosok Dr. Minor.
Sosok
Dr. Minor, digambarkan pribadi psikopat. Kepribadiannya diliputi halusinasi akut
terhadap sosok misterius yang datang dari sejarah kelam saat ia menjadi dokter
bedah saat masa perang.
”Ia
muncul dari dalam tanah, dan tiba-tiba menyerangku”, begitu pendakuannya
tentang sosok halusinatif yang kerap menghantuinya kepada sipir penjara. Salah
satu klimaks kegilaan Dr. Minor ditunjukkannya ketika ia dirundung perasaan
bersalah demikian mendalam terhadap Eliza Merrett.
”Mr.
Coleman…! Teriak Dr. Minor setelah membobol pintu selnya.
”Tolong
panggilkan klinik, saya melukai diriku sendiri”.
Dr.
Minor mengangkat kedua tangannya yang berlumuran darah yang sebelumnya menjepit putus kemaluannya menggunakan
sebilah plat kawat.
Pekerjaan
”gila”
The
Professor and The Madman diangkat dari novel karangan Simon Winchester, penulis
cum mantan jurnalis surat kabar The Guardian, Inggris, yang meramunya dari
kisah nyata. Melalui pendekatan narasi non-fiksi, karangannya ini mengisahkan
sejarah suatu proyek ambisius pencipataan kamus Oxford English Dictionary oleh
dua orang bernama Profesor James Murray (Mel Gibson) dan Dr. Minor (Sean Penn).
Ajaibnya pekerjaan ini dilakukan oleh dua orang yang sama-sama berlatarbelakang
”gila”.
James
Murray, bukanlah professor dalam arti sebenarnya—kelak ia mendapatkan gelar
prestisiusnya setelah hasil kerjanya diakui oleh komunitas ilmuwan dan kerajaan
Inggris. Ia bahkan tidak lulus sekolah karena diusia 14 tahun mesti membantu
keluarganya mencari nafkah. Tapi, penguasaan ilmu leksikograf dan ilmu filologi
membuat takjub Dewan Penerbitan Oxford saat itu.
Dikutip
dari wikipedia.org, dalam suatu surat di tahun 1861 kepada Thomas Watt, penjaga
buku cetak di British Museum, Murray mengaku sebagai polyglot yang menguasi
lebih dari sepuluh bahasa bangsa-bangsa dan bahasa daerah disertai logat
khasnya masing-masing. Beberapa di antaranya adalah bahasa Latin dan
Yunani, Romawi, Italia, Spanyol,
Prancis, Catalan, Portugis, Vaudois, Provencalen, Jerman, Belanda, Denmark,
Flemish.
Tidak
saja itu, ia mengaku menaruh minat spesialisasi kepada bahasa Anglo Saxon dan
Moeso Gothic, Rusia, Syiria, Bahasa perjanjian lama dan Peshitta, Aram, Arab,
Koptik dan Fenisia.
Pekerjaan
Murray bisa dibilang pekerjaan ”kegilaan”. Sejak Maret 1879 disahkan Dewan Penerbitan Oxford
sebagai kepala tim penyusun kamus, ia mesti mengumpulkan dan mendefenisikan
makna seluruh kata bahasa Inggris baik bahasa pakem yang masih digunakan hingga
arkais ke dalam satu tabulasi berdasarkan sejarah penggunaannya, asal usul,
cara penyebutan, perubahan dan peralihan kata, serapan, serta kutipan konteks
kata-kata itu digunakan.
Proyek
“gila” nan revolusioner itu diprediksi membutuhkan waktu satu abad. Tapi dengan usulan Murray sendirilah kamus
itu dapat disusun bertahap kurang dari satu abad dengan melibatkan seluruh
pemakai bahasa Inggris melalui korespondensi surat menyurat.
Pekerjaan
”seumur hidup” itu berhasil diselesaikan 10 tahun dengan mencatat 414.825 kata
yang didefinisikan dan 1.827.306 kutipan digunakan untuk menggambarkan artinya,
yang terdiri dari 12 volume ketika kali pertama diterbitkan pada tahun 1928.
Proyek ”borongan” terbit persahabatan
Dalam
film, Professor Murray adalah sosok dingin sekaligus ambisius yang setiap pagi
memulai rutinitas tanpa menyapa rekan kerjanya terlebih dahulu. Ia memiliki
desktop khusus tempat ia bekerja. Di meja itu ia bakal duduk seharian ditumpuki
gulungan kertas, buku-buku, dan berkarung-karung surat, menepekuri
berlapis-lapis pagina yang berisi ribuan kata.
Di
ruangan itu pula bersama tim yang dibentuknya, setiap hari menyigi kata-kata
satu demi satu sesuai abjad. Kertas-kertas kerja digantung mengelilingi ruangan
yang sepenuhnya beralaskan almari berisi ribuan jilid buku. Ruangan itu nampak
seperti perpustakaan yang sempit kehilangan ruang spasialnya dan tiga orang
pekerja kata yang bergerak nyaris tanpa obrolan.
Tanpa
mereka sadari, pekerjaan yang mereka alami dilakukan juga seorang bergangguan
jiwa di suatu sel kamar Broadmoor, sebuah rumah sakit untuk para penjahat
psikopat paling gila. Si gila ini, yang bernama Dr. Minor, pada mulanya tidak
sengaja membaca iklan dalam koran yang diinisiasi “tim kamus” untuk mencari
relawan agar orang-orang memberikan kutipan dan contoh penggunaannya untuk
digunakan dalam kamus.
Tanpa
berpikir panjang pasca membaca ”iklan kamus” Dr. Minor menemukan kegairahan
baru. Setelah membaca buku membuat kesadarannya mengalir bebas, menulis membuat
akal sehatnya ”memelar”. Ia meminta sebanyak-banyaknya tinta dan kertas kepada
sipir penjara.
Selama
kurang sepuluh tahun sel tempatnya dikurung berubah menjadi seperti kantor
pemimpin kantor pos dengan sebuah meja tempatnya menulis seluruh kata yang ia
ketahui dan dikirimkan kepada alamat di mana kali pertama ia melihat ”iklan
kamus”. Kurang lebih sepuluh ribu kata berhasil ia sumbangkan kepada kamus
Oxford melalui hasil kerjanya dari dalam sel penjara.
Korespondensi
Minor membuat Murray takjub dengan hasil kerjanya. Kata-kata yang disumbangkan
Dr. Minor diakuinya memangkas waktu kerja yang dibutuhkan bertahun-tahun lebih
lama. Berkat sumbangan kerja Dr. Minor membuat mereka berdua akrab dan menjalin
persahabatan sejak kali Murray mengunjunginya dan kaget bahwa orang yang selama
ini mengirimi surat berisi ribuan kata adalah si gila Minor yang psikopat dari
dalam penjara.
Bahasa
dan Kegilaan
Perbatasan
bahasa dan kegilaan demikian tipis sampai-sampai ia mampu mengambil jalan
tengah melalui sastra ataupun tradisi sufisme. Batas sains dan kegilaan juga demikian rumit sebab oleh seorang filsuf bernama Paul Feyerabend menyatakan justru
hal-hal tak terduga, berbau irasional, dan mitos lah yang kerap mendasari
berdirinya suatu disiplin ilmu.
The
Professor and The Madman dalam konteks ini berusaha memperlihatkan
tegangan antara keduanya, bahwa
kegeniusan dan kegilaan seringkali tidak membutuhkan perbatasan untuk
dibedakan. Ia bahkan mampu menerbitkan rasa ambisius, rasa marah, emosi, galau,
harapan, dan kekecewaan sama seperti orang-orang normal.
Kerja
kolaboratif antara Murray dan Minor, dalam film ini di sisi lain memberikan
pengertian bahwa kejeniusan dan kegilaan memiliki kemungkinan yang setara dalam
hal bagaimana menciptakan suatu dunia kreatif dan dinamis. Bahkan lebih dari itu, dalam semesta
kreatifitas, kegilaan mungkin adalah kejeniusan yang belum didefinisikan.
Telah terbit di kalaliterasi.com