: 20 Januari 2019
Tahun rilis: 2008. Genre: Drama. Durasi: 97Menit. Sutradara: Majid Majidi. Aktor: Reza Naji, Maryam Akbari, Kamran Dehghan
KARIM dibuat pusing seekor burung unta lepas dari peternakan tempatnya bekerja. Ia
hampir seharian di padang sabana luas. Membungkuk-bungkuk menyamar menjadi
burung unta, berharap memancing si burung unta mendekat dan kemudian bakal ia tangkap. Tapi, sepanjang mata memandang, tak ada tanda-tanda si burung unta datang menghampiri. Di siang terik itu, ia pulang dengan tangan kosong.
Tidak lama ketika sampai di
peternakan, ia melihat barang-barang pekerjaannya tergeletak di depan pintu. Ia
dipecat.
Sehari sebelumnya, ia juga
merana. Alat bantu pendengaran Haniyeh, putri sulungnya, tidak lagi dapat
digunakan. Alat bantu pendengaran Haniyeh jatuh di dalam sebuah bekas galian
berisikan air kotor. Ia bersama Hussein, anak kedua Karim, dan konco-konconya,
mencari sampai akhirnya ditemukan dalam keadaan rusak. Karena akan dipakai
Haniyeh yang sebentar lagi masuk sekolah, Karim akhirnya berangkat ke Tehran
memperbaiki satu-satunya alat bantu pendengaran putri sulungnya itu.
Namun sayang, alat bantu itu tidak
dapat lagi diperbaiki. Karim diminta menunggu sampai empat bulan jika ingin
diperbarui. Karim mengelak. Ia membutuhkan sesegera mungkin. Jika tidak, ia
disarankan membeli alat baru. Tapi, masalah bagi Karim, dari mana ia
mendapatkan uang?
Kisah di atas adalah permulaan
konflik dialami Karim, tokoh sentral The Song of Sparrows (2008) karya Majid
Majidi, sineas terkemuka yang mempopulerkan film-film Iran di kancah dunia.
Film dibintangi Reza Naji, peraih penghargaan Aktor Terbaik di ajang Asian Pacific Screen Awards 2008 ini, memiliki kesamaan dengan dua judul film Majidi sebelumnya, macam Baran (2001) dan The Colour of Paradise (1999).
Seperti Baran (2001) dan The Colour of Paradise (1999), konteks keluarga Karim adalah
keluarga sederhana yang sehari-hari hidup jauh di desa. Satu hal yang menjadi kekuatan film-film Majid Majidi, sekaligus menunjukkan kecenderungannya mengangkat kisah orang-orang biasa, tapi kuat
mengandung pesan sosial.
Sebagaimana Baran, dalam The Song of
Sparrows, Majidi mendudukkan kisahnya kepada kehadiran sosok kelas pekerja. Dalam Baran, sosok itu diisi Latif
beserta Najaf yang menggantungkan nasib sebagai kuli bangunan, dalam The Song of Sparrows, figur kurang lebih
sama dilekatkan kepada Karim sebagai pengumpul telur burung unta
pada peternakan di desa tempatnya hidup.
Figur serupa juga hadir dalam
The Colour of Paradise, diperankan melalui ayah Muhammad sebagai pekerja di pabrik pembuatan arang. Kedua-duanya
punya alur hampir sama, yakni berlatar belakang kelas pekerja dari
desa yang terhimpit masalah keuangan.
Dengan figur-figur semacam
inilah, Majidi membangun kisah penceritaan tidak lepas dari masalah sehari-hari
masyarakat ekonomi kelas bawah--aroma khas Majidi:
keberpihakannya kepada kelas pinggiran.
Tidak cukup dengan itu, di film ini, hadir pula figur disabilitas, yang sama dalam The Colour
of Paradise.
Melalui The Colour of Paradise, figur sentralnya adalah Muhammad, seorang
anak sekolah dasar tunanetra. Sementara di film ini, walaupun bukan tokoh
utama, Haniyeh, putri sulung Karim, merupakan figur signifikan yang tetap hadir
sekaligus menjadi sebab pertama bagi Karim memasuki konflik batinnya. Haniyeh
diceritakan sama seperti Muhammad. Ia adalah gadis tunarungu yang membutuhkan
alat bantu di telinganya agar dapat mendengar layaknya orang normal.
Dan dari semua itu, yang paling
tebal kelihatan dari setiap film-film Majidi adalah bagaimana ia menghadirkan
drama dari sosok anak-anak yang bakal mencuri perhatian penonton.
Di kisah film ini keberadaan,
Hussein, satu-satunya anak lelaki Karim tidak bisa dianggap sepele. Cerita
dramatis bersama lima sahabatnya bahkan hampir mendominasi setengah sisa film
ini. Tidak saja itu, aksi-aksi Hussein-lah kelak yang bakal melengkapi
kepasifan Karim setelah mengalami kecelakan ditimpa tumpukan barang bekas
simpanannya. Bisa dibilang setelah adegan itulah, film akan beralih sorot
kepada Hussein dan kawan-kawannya.
Hussein adalah anak yang nakal
tapi periang. Ia diceritakan beberapa kali sering mengerjai dan membuat ayahnya
marah-marah --dari sini diketahui Karim adalah ayah tempramental tapi juga
sangat sayang terhadap keluarga, terutama kepada anak-anaknya.
Hussein memiliki lima orang
sahabat sering bermain bebas di sekitar rumahnya. Ia tipikal anak desa yang
polos tapi memiliki semangat kerja untuk membantu keuangan keluarga. Beserta
lima orang konco-konconya itu, Hussein bercita-cita menjadi jutawan di desanya.
Caranya adalah dengan menjual ikan setelah berencana mengembangbiakkan di bekas
galian yang sudah mereka bersihkan.
Di mata Karim, niat Hussein ini
hanya ucapan polos bin naif seorang anak kecil yang tak tahu arti kehidupan.
Itulah sebabnya sekali tempo ia memarahi Hussein dan kawan-kawannya ketika
kedapatan menguras bekas galian kotor yang dikiranya tak akan mungkin bisa
dibersihkan. Bagi Karim, pekerjaan Hussein beserta sahabat-sahabatnya hanyalah
isapan jempol belaka yang membuat mereka seperti tidak ada kerjaan.
Tapi, suatu waktu lantaran jengkel
ketika Karim ingin merubuhkan bekas galian Hussein dan kawan-kawanya, ia kaget
begitu tiba di lokasi yang terletak tidak jauh dari pematang sawah. Tempat itu
sudah berisi air bersih. Lumpur-lumpur yang mengisi lobang sebelumnya telah
diangkat. Di atasnya ia melihat bekas cetakan tangan dan kaki anak-anak yang
telah mengering.
Di titik itu barulah Karim
menyadari niat Hussein bukan sekadar perkataan biasa. Apalagi ketika suatu
malam, dari bilik kamar, ia melihat Hussein memberikan uang hasil kerjanya
kepada Narges, istrinya. Hussein bersama kawan-kawannya ternyata, tanpa
sepengetahuannya telah bekerja diam-diam untuk mewujudkan impian mereka:
beternak ikan.
Adegan demi adegan yang digarap
Majidi dalam film ini mampu membuat penonton beralih dari satu perasaan ke
perasaan lainnya. Rasa kesal, haru, lucu, sedih, dan juga kecewa merupakan
sensasi kompleks yang berkelindan mengaduk-aduk keadaan batin penonton.
Walaupun kisahnya lahir dari premis sederhana, berlapis-lapisnya pesan dalam
film ini membuatnya menjadi film yang mesti disimpan baik-baik untuk suatu
waktu dapat diputar kembali.
Salah satu contoh adegan mengharu biru adalah ketika Karim tidak sengaja melihat telapak tangan saat Hussein tertidur. Tangan Hussein ternyata sudah kapalan dan melepuh berkat bekerja diam-diam.
Dalam khazanah Islam, adegan ini kecantol kepada hadis masyhur Rasulullah
tentang tangan siapa paling dirindukannya di akhirat kelak. Tangan paling dirindukan Rasulullah adalah tangan yang telapaknya melepuh karena kerja keras setelah menafkahi keluarganya. Bukan
tangan halus nan wangi seperti diidam-idamkan banyak orang.
Uniknya dari adegan di atas,
tangan yang melepuh itu bukan tangan Karim, tapi Majidi menunjukkannya lewat
telapak tangan Hussein seorang anak kecil. Suatu kiat luar biasa bagaimana cara
Majidi memperluas pemaknaan tanggung jawab yang bukan saja semuanya mesti dilekatkan
kepada para orangtua.
Singkat untuk yang terakhir,
dimensi sosiologis yang juga diekspos Majidi melalui The Song of Sparrows adalah kontrasnya kehidupan masyarakat perkotaan
dan pedesaan. Dua wajah antara masyarakat urban yang dinamis dan masyarakat
desa yang statis ditunjukkan ketika Karim harus ke kota untuk bekerja menjadi
tukang ojek.
Sorot kamera di waktu ini nampak
mencolok dengan kehadiran gedung-gedung tinggi, jalanan ramai, lalu lalang
mobil-mobil, bangunan padat penduduk, dan pusat-pusat pertokoan di
pinggir-pinggir jalan. Hal yang sebaliknya terjadi jika adegan berputar di desa
Karim yang indah berupa bukit-bukit rumput, langit persada,
dan hamparan sabana maha luas.
Untuk dua konteks ini juga akan
terwakili dari perubahan sikap Karim setelah menjadi tukang ojek di Tehran. Ia
menjadi lebih individualis dan tergesa-gesa di kota, tapi juga berlaku
sebaliknya ketika berada di desa. Satu catatan tentang ini, nampaknya Majidi
ingin menyorot bagaimana perubahan karakter seseorang ketika beralih hidup dari
desa ke kota dengan menunjukkan betapa cepatnya perubahan itu seiring kebutuhan
yang mengiringinya.
Ini yang terakhir kalinya: The Song of Sparrows sebagai judul, akan
menunjukkan hubungan ganjil jika melihat
isi keseluruhan film ini hingga akhir. Justru di akhir film adegan yang nampak
adalah seekor burung unta yang seolah-olah sedang menari dengan diiringi backsound
musik khas timur tengah. Misterius, memang.