: 16
Maret 2020
Genre: Comedy, drama. Sutradara: Amar Kaushik. Skenario: Niren Bhatt & Ravi Muppa. Pemain: Ayushmann Khurrana, Bhumi Pednekar. Yami Gautam. Liris: November 2019. Durasi: 133 Menit. Studio: Film Maddock. Negara: India. Bahasa: Hindi
”Tapi
Anda jangan berkecil hati. Anda tidak mampu mengubah ideologi ini (ideologi
kecantikan). Yang bisa Anda lakukan adalah mengubah warna kulit Anda.”
TAHUN
2000 ketika Timnas Inggris tampil di Piala Eropa, David Beckham muncul dengan
gaya rambut baru. Saat itu berbeda dari model rambut ”belah tengah-nya”,
Beckham berlari-lari di lapangan bergaya
rambut mohawk yang menuai kritik, termasuk dari Sir Alex Ferguson, pelatihnya
saat masih berkostum Manchester United.
Saat
itu gaya rambut mohawk biasanya menjadi gaya pemain bola berdarah Afrika, tapi
Beckham adalah Beckham. Kritik bukan masalah bagi dirinya. Toh, pada akhirnya
gaya rambutnya itu menjadi trend dunia.
Sudah
menjadi pengetahuan umum, Beckham bukan saja bintang di lapangan sepak bola,
tapi juga menjadi model ternama dari beberapa merk baju, minyak wangi, dan
sepatu. Apapun yang ia lakukan dengan gaya busana dan gaya rambut bakal diikuti
banyak orang. Ia selain ditunjang dengan wajah charming juga memiliki model
rambut blonde kesukaan banyak wanita.
Rambut
bagi sebagian lelaki sama pentingnya seperti kulit putih bagi wanita. Ia
menjadi penopang penampilan sekaligus pendongkrak rasa percaya diri. Bagi orang
seperti Beckham, mengubah gaya penataan rambut bukan jadi soal.
Lantas,
bagaimana jika seseorang memiliki tipe rambut yang sulit diatur, atau bahkan
mengalami ”botak tengah”?
Nah,
jika Anda ingin melihat pergulatan identitas seseorang akibat mengalami
kebotakan dini, maka tidak ada salahnya Anda menonton Bala (2019) karya arahan Amar Kaushik ini.
Bala
dibintangi Ayushmann Khurrana berperan sebagai Balmukund "Bala"
Shukla, bercerita tentang kehidupannya yang berbalik 180 derajat setelah tumbuh
dewasa. Kehidupannya yang menikung turun tiba-tiba berubah hanya karena
persoalan rambut.
Semasa
bersekolah Bala adalah bintang kelas dalam arti siswa yang pandai merebut
perhatian konco-konconya. Ia pandai meniru akting pemain-pemain film Bollywood
semisal Amitabh Bachchan sampai Sahrukh Khan.
Di
sekolah ia bisa bertindak begitu karena mencintai dan merasa percaya diri
memiliki rambut hitam nan tebal. Saking percaya dirinya, sekali tempo dengan
maksud mengejek ia menggambar kepala gundul gurunya di atas papan yang membuat
seisi kelas menertawakan gurunya.
Kelak,
nasibnya bakal berubah ketika ia tumbuh dewasa. Satu persatu bulu rambutnya
rontok seperti hutan yang gundul akibat serangan pembalak liar.
Korban Ideologi
Kecantikan dan Galau karena kebotakan
Bisa
dibilang kehidupan dewasa Bala dipenuhi obsesi untuk menumbuhkan rambutnya
seperti semula. Rasa percaya dirinya pupus seiring berhelai-helai rambutnya
yang jatuh berguguran saat disisir.
Seribu
satu cara ia lakukan demi menumbuhkan kembali rambutnya. Mulai dari membeli
sampo khusus hingga ramuan tidak masuk akal berupa kotoran bercampur sperma
banteng.
Pelan-pelan
kekhawatiran Bala atas nasib kepalanya ikut membuat keluarganya prihatin oleh
oleh sebab kegundulan dini dialami Bala membuat dirinya semakin terperosok ke
dalam kegalauan akut. Sehari-sehari karena tidak percaya diri, kemana-mana ia
mesti menggunakan topi sekaligus kacamata hitam demi menyembunyikan
identitasnya.
Rambut
adalah mahkota. Begitu adagium yang menandai keistimewaan rambut sehingga ia
kerap diperlakukan khusus. Di dunia iklan, tidak sulit menemukan produk khusus
perawatan rambut. Di mal-mal kerap juga menemukan salon-salon khusus penataan
rambut.
Bahkan,
semakin ke sini, salon-salon khusus laki-laki menjadi gampang ditemukan,
menandai perkembangan gaya rambut tidak saja dikhususkan bagi perempuan,
melainkan juga kaum laki-laki.
Dandanan
rambut, seperti juga cara berpakaian, bentuk tubuh, dan cara berbahasa merupakan
satu paket untuk menunjang gaya hidup. Dalam masyarakat konsumeristik, semua
itu kerap dipelantang melalui iklan untuk menciptakan hegemoni budaya berkaitan
dengan idealisasi kebudayaan tertentu.
Theodor
Adorno dan Max Horkheimer, dua pemikir kebudayaan marxis melalui The Culture Industry: Enlightenment as Mass
Deception membaca hubungan fenomena iklan dan gaya hidup merupakan inisiasi
ideologi kapitalisme dalam menciptakan budaya massa.
Budaya
massa adalah budaya versi dunia periklanan yang manipulatif, rendahan, dan
massif, sekaligus bersifat permukaan yang banyak digandrungi banyak orang.
Budaya massa yang menurut Adorno dan Horkheimer adalah bagian dari industri
kebudayaan, dalam praktiknya banyak merambah kawasan negara dunia ketiga untuk
memberikan efek hegemoni sekaligus timbal balik keuntungan.
Gaya
atau model rambut, dalam hal ini dengan kata lain bagian dari ideologisasi
masyarakat konsumeristik demi melanggengkan budaya massa. Gaya rambut,
sebagaimana ia bagian dari gaya hidup merupakan hasil konstruksi dari industrialisasi
budaya kapitalistik untuk mendulang keuntungan. Di balik semarak iklan, film,
majalah, dan internet, bersembunyi kepentingan pasar.
Bala,
seperti banyak ditemui pada pria-pria kiwari, merupakan orang yang tidak lepas
dari pengaruh ideologisasi kecantikan (ketampanan). Seperti juga kulit putih
bagi perempuan, memiliki gaya rambut seperti trend masa kini merupakan
kemestian bagi Bala.
Itu
sebab, di sepanjang film kita akan menyaksikan usaha mati-matian Bala demi
mendapatkan rambut yang ideal. Satu-satunya dasar eksistensi dirinya ia temukan
hanya melalui rambut tebalnya. Seperti umumnya pria yang memandang gaya rambut
adalah tanda sosial, maskulinitas, kesuburan, dan kekuatan, bagi Bala rambut
adalah segalanya
Namun,
apa boleh buat, rambutnya yang semasa kecil demikian lebat, entah mengapa
tiba-tiba sulit tumbuh ketika ia menjadi seorang pemuda. Yang terjadi malah
sebaliknya, gugur satu persatu tanpa tumbuh seribu.
Rambut dan Ideologi
Rambut
adalah representasi nilai, tradisi, dan pandangan dunia tertentu. Sebelum
Tiongkok pecah karena revolusi hijaunya, kaum pria Cina memandang status
sosialnya dari dandanan rambut panjang yang dikuncir. Harga diri laki-laki Cina
terletak ketika memiliki rambut berekor panjang. Bahkan, secara politik, gaya
rambut berekor merupakan tanda kesetiaan kepada dinasti yang berkuasa saat itu.
Di
masa Orde Baru, rambut bahkan menjadi demikian politis, karena dianggap tanda
kepatuhan kaum muda kepada kekuasaan Soeharto. Dalam Dilarang Gondrong! Praktik
Kekuasaan Orde Baru Terhadap Anak Muda Awal 1970-an, dijelaskan bahwa melalui
narasi anti rambut gondrong, Orde Baru Soeharto berusaha mengontrol kritisisme
kaum muda.
Selain
mengubah terma ”pemuda” menjadi ”remaja” karena kata ”pemuda” memiliki konotasi
aktivitas politik, anak-anak muda di seluruh Indonesia dinarasikan sebagai
”anak-anak pembangunan” selama sikap dan perilakunya taat kepada ”Bapak
Pembangunan”, yang salah satunya adalah memiliki rambut cepak ala militer.
Kelompok
subkultur Punk mengartikan ideologi perlawanan juga dari cara mereka menata
rambut. Ketika kali pertama muncul di Inggris, Punk merupakan kelompok anak
muda anti kemapanan, anti kelas, dan anti pemerintahan.
Menurut
Setyanto dalam Makna dan Ideologi Punk, Jurnal Desain Komunikasi Visual &
Multimedia, gaya rambut Mohawk yang diambil dari suku Mohican Indian Kuni
dilambangkan sebagai perlawanan kaum tertindas terhadap kekuasaan di luar dari
diri mereka.
Bala
walaupun mengedepankan unsur komedi, tetap menarik perhatian karena diset
sedemikian rupa demi menggambarkan relasi rambut dengan kehidupan sosial
masyarakat tertentu.
Dalam
konteks kehidupan Bala, kebotakan bagi kaum pria bukan saja ada hubungannya
dengan derajat penampilan, melainkan melibatkan suatu cara pandang berkaitan
gaya hidup ideal seperti yang dipelantang ideologi-ideologi
kecantikan/ketampanan.
Seperti
juga masyarakat dunia ketiga yang mengalami gegar budaya luar, di dalam film,
gaya rambut seperti ditunjukkan para pesohor bintang iklan, penyanyi, ataupun
aktor film adalah simbol gaya hidup yang menjamin eksistensi seseorang.
Itu
artinya tidak mudah bagi orang seperti Bala menempatkan dirinya di tengah
situasi masyarakat yang memuja ukuran gaya hidup tertentu, oleh sebab jika
berpenampilan tidak sesuai cara pandang dominan, ia bakal menghadapi bullying
dari lingkungan sosialnya.
Kehidupan
inautentik
Pagi
hari Bala bekerja sebagai sales promotion boy ”Pretty Girl”, produk kecantikan
pemutih kulit. Di waktu malam ia sering tampil menjadi comica di café-café.
Uniknya, dua profesi ini merupakan dua bidang kerja yang bertolak belakang.
Selama
menjadi salesman, sehari-hari ia dituntut perusahaan menjual produk pemutih
kulit agar laris terjual. Bala sering mengumpulkan perempuan-perempuan berkulit
gelap untuk ia ceramahi tentang betapa pentingnya perempuan memiliki kulit
mulus dan putih.
Di
ujung persentasi itu, menggunakan bahasa dan strategi pemasaran yang
hiperbolis, ia akan menawarkan solusi pemutih kulit produk yang dijualnya.
Sementara
saat menawarkan produk kecantikan, dalam arti Bala menjadi agen kebudayaan
massal, berbeda saat Bala menjadi comica. Di atas panggung ia malah menjadi
pribadi yang lebih bebas. Kelak ketika ia mulai menerima kebotakannya, saat
melakukan stand up itulah ia mendeklarasikan kebebasan dan keotentikannya
menjadi manusia.
Puncak
konflik Bala ketika ia menikahi Pari Mishra (Yami Gautam), seorang model dari
produk kecantikan yang dijual Bala. Namun, masalahnya baru muncul karena selama
memadu kasih Bala tidak berterus terang bahwa ia memiliki kepala botak, sesuatu
yang tidak diharapkan Pari, istrinya.
Semua
usaha Bala menyembunyikan kebotakanya menjadi hancur setelah Latika Trivedi
(Bhumi Pednekar) datang ke rumahnya dan membongkar semua aib yang disembunyikan
Bala.
Sejak
saat itu, baru di hari pertama menjalani kehidupan suami istri, Pari pergi
meninggalkan Bala hanya karena ia tidak bisa menerima kebotakan dialami
suaminya.
Antitesa
Bala ada pada Latika, perempuan bekas teman sekolah Bala yang tidak sama sekali
pusing dengan warna kulit gelapnya. Dalam tilikan otentik tidak otentik, Latika
adalah pribadi yang percaya diri dengan warna gelap kulitnya. Ia tidak memiliki
akun media sosial dan jarang membeli prioduk kecantikan. Ia sering terlibat
pertengkaran dengan Bala hanya karena urusan produk kecantikan dijual Bala yang
dianggap Latika adalah pembodohan bagi perempuan.
Salah
satu pesan film Bala ada pada figur Latika ini. Ia adalah figur yang melawan
cara pandang dominan. Posisinya sebagai perempuan memberikan bobot lebih
dikarenakan ia kukuh berpendirian di saat banyak perempuan di sekitarnya
terbuai produk kecantikan pemutih kulit.
Jika
sehari-hari Bala hidup di dalam kepalsuan dengan menipulasi identitasnya,
Latika sebaliknya memiliki kesadaran melampaui warna kulit gelap yang ia
miliki. Ia di titik tertentu rela menerima eksistensi diri apa adanya tanpa
mesti diombang-ambing embel-embel opini publik.
Satu
hal yang juga perlu diperhatikan adalah Pari, istri Bala. Sebagai seorang model
iklan, ia hidup bertaut dengan ideal-ideal estetika massal seperti ditunjukkan
dari kehidupan media sosial ala selebritisnya.
Pari
merupakan representasi perempuan-perempuan yang kerap menjadi korban iklan
kecantikan. Memiliki kulit putih, rambut tergerai panjang, hidung mancung, dan
memiliki laki-laki idaman berambut stylish adalah cita-citanya.
---
Sudah tayang di Kalaliterasi.com