: 07 Maret 2020
PARA
sejarawan meyakini, kemampuan teknik manusia sudah dimiliki ketika manusia
mulai menyadari dirinya dan lingkungannya. Itu artinya, sejak manusia hidup
pertama kali dan membangun jarak dengan alam, kali pertama itulah momen
teknologi tercipta. Bahasa adalah teknologi paling dini diciptakan manusia
sebagai alat komunikasi, seturut kemudian alat-alat berburu dipakai demi
mengefesienkan tenaga saat mencari sumber-sumber makanan.
Setelah
masa mengumpulkan (food gathering),
berburu (hunting), dan menetap (cultura), teknologi manusia berkembang
demikian cepat dari mode live centered (kebutuhan manusia) menjadi power
centered (kekuasaan manusia). Alih-alih sekadar memenuhi kebutuhan tersier
sebagaimana nenek moyang umat manusia menggunakannya, kiwari, alat teknologi
merambah jauh sampai dipakai sebagai alat kebutuhan perang.
Singkatnya,
tidak ada satupun dimensi praksis manusia lekang dari alat-alat teknologi.
Bambang Sugiharto menyatakan dengan cara sederhana: teknologi berada ”di dalam”
tubuh (teknologi medis, makanan kimiawi, dsb.), ”di samping” tubuh (handphone,
komputer, dsb.), “di luar” tubuh (satelit, pesawat, dsb), menjadi ”tempat
tinggal” (rumah ber-Ac, listrik), ”kepanjangan” tubuh (kacamata, sepatu, kendaraan,
dsb.).[1] Hubungan demikian inheren ini, pada taraf tertentu mengakibatkan
terjadinya reposisi antara manusia dan alat-alat teknologi itu sendiri.
Dalam
berbagai film sains fiksi semisal The
Matrix (1999), I Robot (2004), Her (2013), Transcendence (2014), tegangan manusia dan ciptaannya berupa
mesin-mesin teknologi diceritakan saling mengambil peran dalam hal siapa
membentuk siapa. Dalam ranah budaya, meski hubungan manusia dan teknologi
sering berisiko, keduanya menduduki posisi hampir sama dalam membentuk
kebudayaan manusia. Dengan kata lain, pandangan dunia, nilai-nilai, dan
perilaku manusia, merupakan wilayah dinamis hasil dialektika antara manusia dan
benda ciptaannya.
”Kegemukan” dari
Wall E
Wall E (2008) termasuk film lawas yang
masih saya ingat karena banyak memaparkan risiko-risiko pencapaian umat manusia
yang disokong teknologi canggih. Bumi diceritakan tidak layak huni, dan
mendesak umat manusia hijrah tinggal menetap melayang-layang di luar angkasa
menggunakan pesawat super gede berteknologi canggih. Saat itu bukan saja
mengalami krisis ekologi ekstrem, Wall E menceritakan semua daratan muka bumi
telah dipenuhi bukit sampah elektronik setinggi gedung pencakar langit.
Satu-satunya kehidupan manusia dalam film itu, ya itu tadi, di dalam pesawat
raksasa super canggih bernama Axiom.
Risiko
relasi teknologi dan manusia dalam adegan film ini gamblang terlihat ketika
menengok kehidupan manusia di dalam pesawat Axiom. Di dalam pesawat ini, kecanggihan
teknologi robotik sudah mencapai tingkat maksimum ditandai dari tidak ada
satupun praksis manusia yang lepas dari robot-robot canggih. Manusia hanya
duduk di atas panel kursi canggih dan menunggu hasil analisis kecerdasan IT
untuk menggantikan aktifitas berupa menonton, membaca buku, dan makan,
misalnya.
Risiko
paling harfiah ketika semua pekerjaan manusia diambil alih oleh robot dari ini
adalah kegemukan. Karena hanya duduk di atas kursi, manusia dalam pesawat Axiom
kehilangan pengalaman spasialnya. Akibatnya, tubuh kehilangan kemampuan gerak
membuat penumpukan lemak dalam tubuh mereka. Ciri utama seluruh manusia yang
hidup dalam pesawat Axiom digambakan dalam film ini bertubuh gemuk dan doyan
makan.
Jika
menghitung sudah berapa lama pesawat Axiom melayang di luar angkasa dari
pertama kali lepas landas di abad 22, sampai menciptakan ”generasi gemuk” dalam
pesawat di tahun 2815, maka umat manusia di pesawat itu sudah hidup di luar
angkasa selama 7 abad. Itu artinya, selama 7 abad lamanya mereka mewarisi kegemukan
dari generasi sebelumnya.
George
Ritzer, sosiolog kawakan dari Universitas Maryland, Amerika Serikat, dengan
nada menyerupai pesan di atas, melihat ”peradaban gemuk” akibat apa yang ia
sebut sebagai McDonaldisasi. McDonalisasi diuraikan Rizter dari ciri rasional
manusia modern yang mengedepankan empat
dimensi berupa efisiensi, kemampuan memprediksi, kuantitas dibanding kualitas,
dan tekonologi robotik.[2] Contoh terang dari keempat dimensi rasio manusia ini
adalah restoran cepat saji seperti misal McDonald.
Jadi,
diuraikan Ritzer, jika Anda membeli makanan cepat saji, Anda memenuhi empat
kriteria di atas untuk menghemat tenaga dengan dalih efisiensi, menolak
ketakmungkinan dengan menu yang tetap sama setiap hari, berminggu-minggu,
berbulan-bulan, menyenangi ke-massal-an karena banyak orang makan makanan yang
sama dengan Anda, dan terakhir, Anda menjadi robot oleh sebab Anda diarahkan
berdasarkan tata cara membeli dari mulai antri berdiri di hadapan kasir sampai
Anda ke meja makan.
Ujung
penjelasan Ritzer ini akan kita temui ke dalam fenomena masyarakat konsumtif
yang membuat makan tidak sekadar hanya aktifitas pemenuhan kebutuhan biologis
semata, melainkan dinyatakan juga sebagai aktifitas mencari kesenangan. Puncak
dari fenomena ini, seperti melalui Wall E, adalah lahirnya generasi masyarakat
yang mengalami obesitas atas tubuh mereka. Tubuh di zaman sekarang bukan lagi
semata-mata sebagai perpanjangan aktivitas berpikir, tapi berubah menjadi objek
hasrat konsumtif.
Kursi malas dan
makhluk filosofis
Tokoh
utama Wall E sebenarnya adalah sebuah robot usang pekerja sampah. Ia diset
perusahaan penciptanya untuk bekerja membersihkan sampah elektronik di bumi.
Ketika manusia pergi berbondong-bondong hidup di luar angkasa, tinggallah Wall
E bekerja sendirian, satu-satunya robot yang masih ”hidup” setelah robot
pekerja terakhir ”mati” dari berabad-abad lalu.
Karakter
Wall E dan kehidupan manusia di dalam pesawat Axiom bergerak ambivalen. Wall E
walaupun terbuat dari platinum baja dia memiliki kecenderungan untuk mencari
tahu segala hal. Ia diceritakan sebagai makhluk yang berpengetahuan terbuka dan
suka merenung ketika menemukan benda-benda yang baru pertama kali dilihatnya.
Seperti misal ketika ia menemukan kaset pita dari tahun 60-an, yang membuat ia
menjadi makhluk sejarah yang mengenang kehidupan bumi sebelum dikepung robot-robot
berteknologi canggih.
Satu
kelebihan fundamental robot Wall E dibanding manusia yang hidup di dalam Axiom
adalah ia diberkahi kemampuan bergerak kemana pun ia mau. Dengan bekal kaki
beroda ala tank-nya ia dapat berkeliling melihat setiap sudut tumpukan sampah
kemana pun ia ingin. Bertolak belakang dari itu, manusia sudah lama tinggal di
atas pesawat Axiom kehilangan pengalaman bergeraknya hanya karena duduk
terkapar mengikuti rel-rel panel yang dikontrol kecerdasan artifisial.
Manusia Teknis
Robot
Wall E yang berhasrat ingin tahu dan manusia gemuk di atas kursi Axiom,
merupakan dua kecenderungan dalam mengemukakan dua tipikal kesadaran manusia,
yakni kesadaran teknis dan kesadaran filosofis. Kesadaran teknis seperti
menjadi kesimpulan para sosiolog adalah jenis kesadaran yang didorong rasio
intsrumental demi meraih kepentingan-kepentingan teknis formal belaka. Jenis
kesadaran ini bakal mewujudkan suatu model kemanusiaan teknis dikontrol
alat-alat seperti dicontohkan kehidupan kiwari.
Sementara
kesadaran filosofis, seperti dicontohkan Wall E, merupakan jenis kesadaran yang
mendorong umat manusia senantiasa mencari tahu dan berusaha meraih
kedalaman-kedalaman refleksi dari peristiwa sehari-hari. Alih-alih tenggelam di
dalam kebudayaan teknologis instrumentalistik, kesadaran filosofis-lah yang
bakal menyelamatkan manusia dari kepungan kehidupan artifisial alat-alat
teknologi.
Wall
E dan film sejenisnya, walaupun merupakan narasi fiksi, tetap menarik dan
relevan bagi kehidupan sekarang. Banyak kesimpulan-kesimpulan dari film ini
yang menantang untuk dibicarakan kembali, terutama kemungkinan peradaban
manusia yang tengah memacu setiap lini kehidupannya menggunakan teknologi robot
canggih.
Akhirnya,
masih banyak etape kehidupan manusia yang bakal menyisakan tanda tanya dari
pertemuan sengit antara kecanggihan teknologi dengan dimensi luas kehidupan
manusia di masa akan datang. Buku-buku sejarah masih akan terus ditulis, salah
satunya tentang persaingan panjang antara manusia dan teknologi ciptaannya.
[1]
Budi Hartanto, Dunia Pasca Manusia, Menjelajahi Tema-Tema Kontemporer Filsafat
Teknologi, (Depok, Kepik, 2013), hal. X.
[2] George Ritzer-Douglas J. Goodman, Teori Sosiologi Modern, Edisi Keenam, (Jakarta, Prenada Media), hal. 565.