1917: Narasi Tentara Rendahan di balik Kecamuk Perang Dunia

 
: 19 April 2020

Sutradara: Sam Mendes. Pemeran: George MacKay, Dean-Charles . Chapman, Mark Strong, Benedict. Musik: Thomas Newman. Sinematografi: Roger Deakins. Durasi: 119 menit. Negara: Britania Raya-Amerika Serikat. Bahasa: Inggris. Tanggal rilis: 4 Desember 2019 (Royal Film Performance). 25 Desember 2019 (Amerika Serikat). 10 Januari 2020 (Britania Raya)


NARASI sejarah kerap menempatkan tokoh-tokoh besar sebagai pusat peristiwa. Tidak terkecuali dalam perang. Dalam perang, para jenderal jauh lebih penting dibanding prajurit rendahan yang banyak berjatuhan di garis depan.
Tokoh besar bisa berpeluang hidup lebih lama dengan sekadar memimpin rapat. Tapi bagaimana dengan ribuan prajurit? Mereka mesti bertaruh dan bertahan memperjuangkan satu-satunya nyawa di medan perang, di antara desing peluru dan ledakan alutista yang melayang-layang di atas kepala.
Meskipun begitu, tidak semua jalan perang ditentukan dari keputusan olah strategi bapak-bapak jenderal jauh di barak belakang. Justru, dalam keadaan genting sekalipun, jalannya perang bisa berubah oleh peran prajurit meski sederhana tapi penting.
Kira-kira faktor ini-lah yang dikedepankan dari film 1917 (2020) garapan sutradara Sam Mendes yang mengambil Perang Dunia Pertama sebagai latar belakang garapan filmnya.
1917 adalah film  yang mengambil latar periode Perang Dunia Pertama ketika Jerman dan Inggris berhadap-hadapan saling merebut pengaruh dunia pada musim semi di Prancis bagian utara.
Walaupun dengan latar peperangan, drama ini tidak sepenuhnya banyak menampilkan adegan tembak-tembakan ala perang daratan.  Justru film ini malah menampilkan sisi lain dari kecamuk perang, yakni tugas penting dua prajurit yang mesti penyampaikan secarik surat langsung ke garda terdepan berjarak satu hari perjalanan.
Dua serdadu muda berpangkat Kopral II: William Schofield (George MacKay) dan Tom Blake (Dean-Charles Chapman), diceritakan sejak awal film mendapat perintah langsung dari Jenderal Erinmore (Colin Firth), panglima tertinggi militer Inggris untuk menembus no man’s land—tanah kosong di antara dua garis pertahanan militer yang berlawanan—demi mengantarkan pesan penarikan pasukan dari medan perang kepada Kolonel Mackenzie (Benedict Cumberbatch) yang memimpin resimen Devonshire di garis depan.
Saking pentingnya pesan yang mereka bawa ini, jika mereka terlambat atau tewas selama perjalanan, ada lebih seribu nyawa bakal melayang sia-sia.
Menentukan sejarah
”Saya tidak suka menembak orang yang terluka. Kalau saja saya tahu dia bakal menjadi apa. Sewaktu saya menyaksikan semua lelaki, perempuan, dan anak-anak yang ia bunuh dan lukai, saya meminta ampun pada Tuhan karena telah membiarkan ia hidup.”
Pernyataan ini merupakan penyesalan Henry Tandey, mantan veteran Perang Dunia Pertama, pada tahun 1940. Ia menyesal, sebab didorong belas kasihan, ia membiarkan pergi saat menyergap seorang prajurit Jerman yang sedang berusaha lari dalam keadaan terluka. Kejadian itu terjadi ketika Jerman dan Ingggris berhadap-hadapan di sebuah daerah dekat desa Marcoing, Prancis utara, 28 September 1918.
Siapakah prajurit terluka yang bisa saja mati jika Tandey mau mencabut pelatuk senapannya?
Orang itu adalah Hitler. Sosok kunci yang meletupkan Perang Dunia Kedua dua dekade setelah kejadian itu.
Jika saja Hitler mati saat ditembaki Tandey di peristiwa tidak terduga itu, jalan cerita sejarah dunia mungkin saja tidak akan tercatat seperti sekarang.
Dari sudut pandang ini, peran Schofield dan Blake begitu signifikan untuk menentukan jalan cerita dari peperangan yang sedang berlangsung. Mereka dengan hanya dibekali sepucuk surat dan sepaket ransum plus satu buah senapan dan granat, selama perjalanan mesti melewati kawasan-kawasan yang dikuasai musuh.
Menyadari peran itu, pilihan paling menentukan ada pada Schofield setelah Blake mati ditusuk oleh pilot Jerman yang mereka selamatkan dalam perjalanan. Mengingat karakter Schofield yang lebih realistis dibanding Blake yang labil dan emosional saat menerima tugas, ia bisa saja membelot dari tugasnya dengan cara ikut dengan sekompi pasukan yang kebetulan menemukannya di tengah jalan.
Pada awal diberikan tugas, penonton sudah dapat menebak dua karakter yang saling bertolak belakang ini. Blake digambarkan sebagai pemuda naif yang melihat perang dari sisi pengalaman yang minim.
Blake membayangkan tugas mengantar pesan adalah pekerjaan mudah. Itulah sebabnya, terdorong pula menyelamatkan kakaknya, Letnan Joseph Blake (Richard Madden), yang bertugas di resimen Devonshire, Blake tidak berpikir dua kali saat menerima perintah.
Schofield justru sangat berhati-hati, dan tidak seperti Blake yang optimistis. Berkat pengalamannya pernah dikepung pasukan Jerman di perang sebelumnya, ia awalnya tidak percaya informasi intelejen yang menyebut parit-parit pertahanan Jerman sudah benar-benar ditinggalkan. Meski demikian, terdorong ikatan pertemenan dengan Blake, Schofield pelan-pelan mengubah sikap pertentangannya.
Di akhir kisah, Schofield berhasil sampai di front depan setelah diburu beberapa pasukan Jerman dan berhasil lolos dengan cara melombat ke bawah sungai. Meski sedikit terlambat, ia dapat menyampaikan pesan yang ditulis langsung Panglima tertinggi militer mereka kepada Kolonel Mackenzie. Ia juga berhasil bertemu kakak Blake dan menyampaikan kematian adiknya selama dalam mengemban tugas.
Tanpa potongan gambar
Dengan teknik waktu real time” dan pengambilan gambar one shot, 1917 menampilkan adegan langsung tanpa memberikan jeda bagi penonton. Dengan cara seperti itu 1917 seolah-olah memposisikan penonton sebagai orang ketiga yang juga terlibat dalam tugas khusus yang diemban Schofield dan Blake.
Teknik pengambilan gambar ini diambil dengan cara mengikuti secara langsung melalui punggung belakang Schofield dan Blake saat bagaimana rasanya berjalan di parit-parit penuh tentara kelelahan, berlari di lapangan penuh mayat, bersembunyi di kubangan lumpur, bahkan terkena jebakan bom di dalam terowongan bekas musuh secara langsung dan nyata.
Teknik kamera tanpa potongan gambar itu berhasil mengganjar film ini meraih efek visual terbaik di ajang Penghargaan Oscar beberapa waktu lalu. Melalui cara seperti itu, penonton dapat ikut merasakan pengalaman ruang dan waktu berupa daya jangkau pandangan, keterbatasan fisik,  serta suasana langsung yang dialami kedua tokoh ketika nyawa sedang terancam di dalam medan perang.
Visualisasi demikian memberikan pengaruh kepada pemahaman bahwa setiap kejadian yang berlangsung akan sangat krusial menimbulkan efek besar jika mengabaikan satu kepingan informasi, dan tidak diterima tepat pada waktunya. Dalam hal ini, jika saja  Schofield terlambat atau gagal sampai di front depan, maka akan menimbulkan banyak korban melalui perang yang semestinya bisa ditangguhkan.
Tentara Rendahan
Narasi 1917 berbeda dari film bertema perang dunia semisal Saving Private Ryan (1998), Fury (2014), atau yang teranyar Dunkirk (2017), lebih mengutamakan sisi yang lebih fokus kepada peran ”individual” dari tentara rendahan seperti Schofield. Cara pengambilan gambar yang tidak sama sekali memberikan ruang kepada aksi tokoh lain memberikan kesan kuat bahwa film ini ingin mengulik kecamuk perang dari sisi seorang prajurit semata.

Meski hanya memfokuskan adegannya kepada satu tokoh, pada akhirnya perang yang melibatkan dua bangsa dan menyeret ribuan orang, dapat berubah signifikan hanya dari peran seorang prajurit rendahan. Kuncinya cuma dua, berani mengambil perbedaan, dan siap menanggung risiko dari tindakan yang tidak semua orang ingin melakukannya.