Kapitalisme Waktu: Bagaimana Cara si Kaya Mati?

 
: 19 Mei 2020

Genre: Sains fiksi. Pemeran: Amanda Seyfried, Justin Timberlake,. Olivia Wilde Matthew Bomer. Rilis:   Oktober 28, 2011. Direktur: Andrew Niccol. Screenplay: Andrew Niccol. Producer: Marc Abraham, Amy Israel, Kristel Laiblin, Eric Newman. Distributor: 20th Century Fox

 
FILM fiksi ilmiah in Time (2011), saya kira, kisah fiksi yang kurang lebih dekat dengan pengertian marxisme dalam melihat kancah kehidupan masyarakat kapitalistik. 
Dalam film ini setiap manusia memiliki batas usia berdasarkan jatah waktunya masing-masing. Mereka terlahir dengan tanda jam digital di lengannya, dan akan berhenti menua di usia 25 tahun. Jam digital menandai saldo waktu yang sekaligus menjadi tanda usia mereka. Untuk mencegah kelebihan penduduk, waktu menjadi mata uang dan alat untuk membeli barang mewah dan keperluan lainnya. 
Film in Time awalnya berjudul i’m.mortal untuk mengesankan cita-cita setiap orang dalam hidup adalah keabadian. Meski demikian dalam in Time keabadian itu bukan merupakan dunia metafisis pasca kematian, melainkan suatu eksistensi berbasis materil yang ditandai dari kepemilikan saldo waktu tanpa batas.
Coba bayangkan jika saldo ATM Anda tertulis angka 9999.9999. 9999. 9999. 9999…, yang berarti merupakan angka tak terhingga yang tidak akan habis dipakai membeli apa saja.  Dalam in Time seseorang bisa hidup abadi, sekaligus bisa melakukan apa saja berkat kemelimpahan waktu tak terbatas.
Kapitalisme waktu: si Miskin vs. si Kaya
Dalam in Time kehidupan masyarakat terbelah melalui kapitalisasi waktu. Ibarat uang, kekuasaan kelompok elite membuat masyarakat tersegregasi menjadi dua kubu tak berimbang, berupa kaum kaya dan kaum miskin.
Kaum kaya ditandai melalui kemampuan mereka dapat mengakses apa saja melalui  saldo waktu tak terbatas. Sementara bagi si miskin, akibat defisit saldo waktu membuat mereka tidak banyak pilihan untuk menggunkannya. 
Lantaran defisit waktu, mendorong si miskin ”berburu waktu” demi mempertahankan eksistensinya. Waktu, seperti dibayangkan setiap orang demikian berharga. Jika ada adagium waktu adalah uang, dalam in Time lebih dalam lagi maknanya: waktu adalah nyawa.
Dunia kehidupan berbasis pertukaran waktu ini juga mewujud ke dalam lingkungan tempat tinggal. In Time memeragakan kehidupan kelas elite waktu dari kluster pemukiman yang indah, teratur, dan aman. Sementara di sepanjang sisi area itu terdapat kehidupan masyarakat kelas dua yang serba terancam ,dan nyaris bangkrut akibat tingkat keamanan minim.
Jelas kelihatan, jika selama ini kekuasaan atas aset dan modal dinyatakan melalui kekayaan atas uang, dalam in Time jika dapat diterima, memperlihatkan suatu pengertian lain menyangkut kapitalisme. Selama ini dalam kajian kritik ideologi, kapitalisme senantiasa dilihat sebagai kekuatan ekonomi politik yang bergerak memonopoli alat produksi dan tenaga kelas pekerja.
Melalui film ini, kapitalisme mewujud menjadi kekuatan produksi menguasai waktu sebagai kekuatan materialnya. Dengan kata lain, alat kekayaan selama ini disandarkan kepada modal dan aset-aset ekonomi, tidak ditemukan dalam film ini, yang justru memberikan suatu penafsiran berbeda mengenai waktu sebagai wahana penghisapan umat manusia.
Itu artinya, dilihat dari sisi ini, kapitalisme bukan semata-mata bergerak dalam rangka mengakumulasi modal, namun juga ikut mengakumulasi waktu yang hakikatnya inheren dalam gerak perputaran modal.
Akumulasi atas waktu ini, diduga kuat mengimplikasikan munculnya kelas penikmat waktu luang (the leisure class) yang memiliki peluang, dan kemerdekaan lebih dari cukup saat menikmati waktunya. Dan di satu sisi, kelas ini dengan arogan menindas kaum miskin yang menggunakan waktu serba terbatas, saat mengakses kebutuhan pokoknya yang serba terbatas pula.
Keberlimpahan waktu senggang
Dalam in Time saldo waktu memiliki dua pengertian, selain menjadi penanda sampai kapan orang dapat terus hidup. Pertama sebagai saldo, kredit waktu setiap orang menjadi alat ukur bagi kemampuan mengakses kebutuhan yang ditransaksikan melalui mekanisme pertukaran waktu sebagai alat tukarnya.
Dalam hal ini, uang, alat tukar kerap dijumpai untuk melakukan transaksi jual beli, tidak berlaku kecuali kredit waktu sebagai saldonya. Melalui model transaksi semacam ini, waktu adalah segalanya.   
Kedua, waktu bagi setiap orang juga menjadi tanda eksistensi kehidupannya. Dalam arti ini, ia juga bertindak sebagai durasi kehidupan, yang bagi setiap orang berbeda-beda. Perbedaan ini selain ditentukan oleh aset waktu turun temurun, juga ditentukan melalui interaksi pertukaran sehari-hari, entah melalui transasksi ekonomi, atau pemberian cuma-cuma dari kebaikan orang lain.
Dua pengertian atas waktu ini, pada kenyataannya memiliki irisan di dalam kenyataan hari ini mengenai masyarakat kelas atas yang keberlimpahan modal. Bukan saja sebagaimana modal yang bisa membuka peluang penguasaan di dalam kehidupan ekonomi, waktu dalam in Time, juga berimplikasi kepada keberlimpahan waktu senggang.
Itu artinya, semakin seseorang memiliki banyak modal/waktu, semakin besar peluangnya menikmati waktu senggang yang menjadi wahana leyeh-leyeh. Di waktu bersamaan, karena keberlimpahan modal/waktu, membuat kelas kaya tidak mesti ambil bagian dalam aktivitas produksi, yang membutuhkan tenaga dan pikirannya untuk memperjuangkan kehidupan mereka yang serba tak terbatas.
Secara budaya dan pendidikan, keberlimpahan waktu senggang membuat kesenjangan begitu jauh antara kelas kaya dan kelas miskin. Kelas kaya sebagai penikmat waktu senggang mampu mengkompensasikan waktu luangnya ke wilayah-wilayah kehidupan sekunder yang berhubungan dengan kebiasaan rekreatif tanpa ada beban politis sama sekali.
Di lain waktu, keberlimpahan waktu yang ada dapat dipertukarkan dengan kegiatan produktif demi peningkatan kualitas kejiwaan dan pikirannya, semisal les piano, les bahasa, megikuti kelas-kelas kebudayaan, pengajian, atau sekaligus memanfaatkan waktu untuk berbelanja dan menonton di pusat perbelanjaan.
Menurut Thorstein Veblen, yang mempopulerkan istilah the leisure class  dalam The Theory of The Leisure Class, aktivitas sehari-hari the leisure class adalah menikmati hidup dengan cara mengonsumsi waktu luang.
Waktunya tiada lain ”dikorbankan” hanya untuk kenikmatan bagi diri atau kelompoknya. Veblen menyebut aktivitas tersebut sebagai tindakan ”konsumsi yang mencolok” (conspicuous consumption). Conspicious consumption diartikannya tidak memiliki tujuan apa-apa selain untuk melanggengkan kesenjangan dan hierarki sosial.
Bagaimana dengan si miskin? Waktu bagi si miskin malah berfungsi kebalikan dengan kelas si kaya. Jangankan bisa dipakai demi pemenuhan kebutuhan sekunder, seperti dipakai berjalan-jalan atau arisan, justru ia habis dimanfaatkan untuk mempertahankan kebutuhan primernya ke dalam aktivitas kerja yang kian hari menjadi sulit dipenuhi, lantaran digerogoti kerakusan kaum kaya.
Kutukan keabadian
Banyak orang mengira, keabadian adalah hal yang menyenangkan, dan patut untuk diusahakan. Dalam kenyataan sehari-sehari, segala upaya melalui pendekatan medis, ekonomi, budaya, dan agama, berpacu menarasikan suatu usaha agar orang dapat hidup abadi, atau setidaknya dapat berumur panjang. Keadaan ini seolah-olah ingin menjamin hasrat terdalam manusia demi mencari kehidupan abadi.
Berbeda dari pernyataan di atas, in Time justru membalik perkiraan ini. Keabadian bukan anugerah yang menyenangkan, tapi malah menjadi kutukan.
Diceritakan pasca Will Salas (Justin Timberlake), seorang pemuda yang lahir dari keluarga kelas bawah, bertemu Hanry Hamilton (Matthew Bomer), seorang miliarder waktu yang memberikannya waktu melimpah karena telah bosan hidup abadi, mengalami banyak masalah.
Belum lama memiliki kuota waktu seabad, Salas ditetapkan sebagai buronan oleh Timekeeper, sejenis FBI, karena diduga terlibat pembunuhan miliarder di kotanya.
Berawal dari sinilah, kehidupan abadi Salas mengalami banyak masalah. Ia dikejar Timekeeper dan juga kelompok perompak waktu yang mengincar orang-orang kaya waktu.
Narasi kehidupan abadi Salas bukannya mengandung kebaikan-kebaikan bagi nasibnya. Justru waktu melimpah dimilikinya menjerumuskannya ke dalam kehidupan serba mawas diri, persis seperti orang super kaya yang setiap hari sibuk memikirkan keamanan harta bendanya.
Sama seperti Hanry Hamilton, si jutawan waktu yang telah bosan hidup abadi, keabadian seharusnya menempatkan seseorang kepada tingkat yang lebih hakiki, bukan malah membuat seseorang mengalami depresi dan gangguan orientasi hidup.
Nampak jelas di sini, keabadian, jika ia memang betul-betul dapat dibuktikan di alam kehidupan ini, akan mendatangkan kemungkinan kehidupan yang jauh lebih berisiko dari kehidupan saat ini.
Dengan kata lain, sekalipun itu itu mungkin, hidup dengan umur tak terbatas berpeluang melahirkan sosok semacam Logan ”Wolvrine” dalam kisah X-Men, yang sepanjang usianya tersiksa gangguan pengalaman-pengalaman traumatis dari kehidupan masa lalunya.
Zaman dromologi
Apakah film ini juga berbicara mengenai dromologi? Dromologi adalah ilmu kecepatan. Dalam lanskap pemikiran dromologi, segala sesuatu mesti dipresentasikan secepat mungkin. Makanan cepat saji, hitung cepat, flash sale, kecepatan lalu lintas, cepat nikah, cepat lulus kuliah, rapid test, merupakan fenomena-fenomena berpengalaman yang memanfaatkan waktu serba cepat.
Ada dua kemungkinan mengapa ini bisa terjadi. Pertama, kontur masyarakat kapitistik menekankan efisiensi sebagai modus pengalaman yang membuat masyarakat mesti memanfaatkan waktu seefesien mungkin. Ini ketika ditarik ke dalam mekanisme produksi masyarakat kapitalisme, seluruh pemaanfaatan atas waktu mesti disingkronkan dengan gerak perputaran modal.
Sekolah mesti cepat karena di ranah kerja, tenaga buruh segera diperlukan. Tubuh mesti cepat sehat karena di pabrik-pabrik kekurangan tenaga kerja. Pajak mesti cepat dibayar karena negara defisit pemasukan. Handphone harus segera diganti karena produk menumpuk di gudang-gudang. Berbelanja mesti cepat karena modal mesti terus bergerak.
Kedua, faktor efektivitas. Faktor ini berhubungan langsung dengan efesiensi waktu dan tenaga yang diperlukan bagi aktivitas kerja produksi. Artinya, akan sia-sia jika penggunaan waktu yang serba cepat, tetapi tidak tepat sasaran dari tujuan dikeluarkannya waktu bersangkutan.
Di dalam ranah kerja, buruh yang cepat menghasilkan suatu produk belum terhitung menguntungkan jika tidak efektif mencapai target.  Itulah sebab agar efektif, buruh mesti memiliki skill yang terlatih melalui pendidikan atau pelatihan.
Di luar dari itu, dua prinsip kunci kapitalisme ini juga menjadi paradigma yang jauh lebih luas sampai menyasar bidang kehidupan lain. Hal ini dikarenakan universalisasi kapitalisme itu sendiri yang banyak menguasai sendi-sendi kehidupan. Di model masyarakat kapitalistik inilah waktu menjadi serba mengalir mengimplikasikan segala mesti  bersicepat memburu dan diburu waktu.
Meski demikian, tidak semua kelas dapat ditundukkan melalui prinsip-prinsip di atas. Kelas kaya, dengan segala akses dan modalnya yang tak terbatas, tanpa pamrih menikmati privilege atas semua itu.

Lalu, jika bisa disebut pertanyaan utama, lantas bagaimana si kaya mati? Agak terdengar retoris, meski demikian, akan lebih mudah memberikan suatu gambaran dari pertanyaan sebaliknya, bagaimana cara si miskin mati?