: 9
Mei 2020
SEMALAM
saya baru saja menyaksikan Seven
(1995), film lawas dibintangi Morgan Freeman dan Brad Pitt. Film ini bercerita
tentang David Mills (Brad Pitt), seorang detektif yang bermitra dengan
pensiunan William Somerset (Morgan Freeman) untuk melacak seorang pembunuh
berantai yang menggunakan tujuh dosa mematikan (Seven deadly sins) sebagai motif pembunuhannya.
Menariknya,
tujuh dosa ini diinspirasi dari puisi
epik tiga bagian milik Dante Alighieri, penyair Italia, The Divine Comedy, dan beberapa karyanya, termasuk Inferno, tujuh tingkatan neraka yang
konon diambil dari pandangan Aristoteles mengenai supremasi akal budi puncak
hireraki wujud.
Ketujuh
dosa mematikan tersebut berturut-turut adalah: kerakusan, keserakahan, kemalasan, hawa nafsu, kesombongan, iri hati,
dan kemarahan.
Saya
berikan gambaran bagaimana pelaku pembunuhan memberlakukan korbannya sampai
mati: kasus pertama, pria supergendut yang dipaksa makan spageti membuatnya
mati hingga perutnya pecah (kerakusan); kasus kedua, seorang pengacara
dibiarkan darahnya habis terkuras akibat potongan satu pon daging di
pinggangnya (keserakahan); kasus ketiga, seorang pemuda pengedar narkoba diikat di atas ranjang dan
disiksa selama setahun hingga kurus dan kulitnya mengering (pemalas); kasus
keempat seorang pelacur yang mati setelah dipaksa diperkosa menggunakan alat
sex berupa kemaluan dari pisau (hawa nafsu); kasus kelima adalah seorang model
yang mati setelah mukanya dimutilasi (kesombongan).
Saya
tidak usah menuliskan di sini bagaimana rupa kejahatan kasus keenam dan
ketujuh, yang mewakili dosa iri hati dan
kemarahan.
Namun,
satu hal yang ingin saya katakan, sejak kasus kedua, Somerset menyadari pelaku
yang mereka hadapi bukan pembunuh kelas teri.
”Jalan
keluar dari neraka menuju surga sangat sulit dan berat,” begitu yang tertulis disecarik kertas Somerset temukan tersembunyi di balik kulkas,
di lokasi kasus pertama.
Kalimat
itu merupakan potongan bait dari Paradise
Lost, karya puisi dari John Milton, penyair Inggris abad 17.
Ya,
orang yang dihadapi dua detektif ini merupakan pembunuh dengan kepribadian
berdisiplin tinggi, sistematis, dan sabar.
Dan,
satu hal yang juga tidak bisa diabaikan, pelaku yang sedang mereka usut ini
adalah seorang pembaca buku telaten (setelah ditemukan, dikamarnya ditemukan
200 lebih buku catatan hariannya yang ditulis tanpa spasi).
Kelak
karena itulah, Somester dan Mills harus membaca buku karya-karya sastra untuk
mengetahui motif apa yang menginspirasi pembunuhnya dalam melalukan
kejahatannya.
Tidak
usah saya teruskan bagaimana jalan cerita film ini.
Tulisan
ini dibuat hanya untuk merayakan Hari Buku Internasional dengan cara ala
kadarnya yang jatuh tepat hari ini (23 April), sekaligus mengungkapkan rasa
takjub saya kepada kekuatan dikandung sebuah buku, yang mampu mempengaruhi persepsi
dan tindakan seseorang.
Sebuah
buku, kata pepatah, adalah sebuah jendela. Bahkan, setelah kata jendela, kata
itu dipakai dimaksudkan untuk melihat dunia. Ini menandakan betapa pentingnya
arti sebuah buku. Sesederhana apa pun gagasan yang dikandungnya, sebuah buku
berpotensi membangun sepercik pemikiran yang mewakili suatu dunia.
Si
pembunuh dalam film Seven, walaupun
salah kaprah, tidak bisa disebut melakukan tindakan kejahatannya terlepas dari
buku-buku yang ia pinjam dari perpustakaan. Ia telaten membaca buku,
mencatatnya ke dalam buku harian apa saja yang ia baca dan rasakan, dan setelah
itu ia bangun suatu dunia di dalam kepalanya.
Di
dunia ini banyak orang seperti John Doe (Kevin Spacey), pembunuh yang diusut
dua detektif di atas, yang memiliki imajinasi atas buku bacaannya.
Di
pelosok negeri, bisa saja terjadi hal-hal yang membangkitkan imajinasi ketika
seseorang habis melahap buku. Seorang anak sehabis membaca kisah Seribu Satu Malam, atau kisah Alice in Wonderland, bisa saja membangun
alur hidupnya dari kisah yang ia baca, dan membayangkan kehidupannya
seolah-olah hidup di dalam negeri dongeng.
Atau,
siapa bisa menduga bisa saja kelak, akan ada anak-anak pelosok negeri yang
menjadi penyidik terkenal dikarenakan terinspirasi kisah detektif Sherlock Holmes.
Indonesia
menurut suatu laporan masuk dalam urutan
ke 8 dari 10 negara paling banyak menerbitkan buku. Agak aneh memang mengingat
peringkat literasi seperti dilaporkan beberapa tahun ini, menempatkan Indonesia
ketingkat nyaris buncit dari 63 negara.
Tapi,
buku tetaplah buku, jika ia intens menjadi bagian tak terpisahkan dari hidup
seseorang, cepat atau lambat ia bakal membentuk takdir hidup seseorang.
“Os livros mudam o destino das pessoas.”
Buku mengubah takdir hidup orang-orang, kata Carlos María Domínguez penulis
buku Rumah Kertas.
Saya
rasa tidak berlebihan jika takdir Indonesia juga ditentukan oleh buku-buku.
Terutama jika mempertimbangkan kiprah pendiri bangsa yang dipengaruhi buku-buku
dalam merumuskan konsep kenegaraan bangsa ini. Tidak sedikit bahkan, beberapa pendiri
bangsa ini intens membangun kehidupannya dengan mengoleksi banyak buku.
Sekarang
ada analisis takdir bangsa-bangsa akan didasarkan kepada kemampuan menguasai
data-data maya. Di keadaan ini, buku memperoleh lawan tangguh ketika semua
informasi dialihkan di atas sirkuit data-data. Rezim data-data, pelan-pelan
akan mengubah tradisi membaca yang mendudukkan buku sebagai pusat kegiatannya.
Dunia
berubah, begitu pula cara orang mencari ilmu, kata orang-orang yang mulai
meninggalkan buku fisik dan banyak mengoleksi data-data maya.
“Teman-teman
aku tidak pernah mengerti. Semua buku ini, dunia ilmu pengetahuan ada di depan
mata kalian, tapi apa yang kalian lakukan? Kalian bermain poker semalaman?!”.
Itu
perkataan sarkas detektif Somerset, ketika melihat ulah sekelompok satpam yang
bermain poker di tengah ribuan buku. Saat itu ia sedang mencari buku-buku
karangan Dante di perpustakaan yang ia kunjungi malam-malam buta.
Ya,
hubungan kita dengan buku kadang seperti segerombolan satpam penjaga
perpustakaan dalam Seven itu. Dihimpit
banyak buku tapi menyia-nyiakannya. Ini satu dari tujuh dosa mematikan:
malas membaca buku.
Selamat hari Buku Internasional 23 April 2020, Bung dan Bing.