: 04 Agustus 2020
BELUM
lama ini, saya baru saja menonton Luce (2019), film drama yang lumayan
membingungkan dikarenakan menyisipkan banyak tanda tanya di hampir setiap
adegannya. Mimik muka, intonasi suara, gerak tubuh, dan tentu juga dialognya,
adalah hal-hal detil yang mesti diperhatikan lebih seksama untuk memahami jalan cerita film besutan Julius
Onah ini.
Luce
dari sudut tertentu adalah film tentang pendidikan—atau berlatar kehidupan
sekolah yang menyorot kehidupan siswa siswi di sekolah tingkat atas: kegiatan
belajar, konflik, ambisi siswa, solidaritas kelompok, persahabatan, kehidupan
asmara, dan relasi murid-guru.
Luce
bercerita tentang anak cerdas kulit hitam di sekolah menengah atas, yang
dikhawatirkan akan berbuat ”sesuatu” pasca Harriet Wilson (Octavia Spencer),
seorang guru sejarah dunia, menugaskan murid-muridnya menulis esai tentang
tokoh sejarah.
Luce
Edgar (Kelvin Harrison Jr.)—seorang siswa cerdas dan bintang sekolah—menulis
esai tentang Frantz Fanon, filsuf sekaligus tokoh revolusioner Pan-Afrika, yang
mengangkat gagasannya terutama ide-ide pemberontakan Fanon mengenai kekerasan
yang dinyatakan dapat menjadi pengendali dalam tatanan dunia.
Esai
ditulis Luce itu membuat cemas Harriet, yang mengkhawatirkan gagasan pemberontakkan
ala Fanon tengah bersemayam di benak Luce.
Bagi,
Harriet, esai itu bukan sekadar tugas biasa, yang ditulis seorang bintang
sekolah, melainkan suatu penanda bahwa suatu ide-ide radikal bakal mempengaruhi
cara pandang orang seperti Luce.
Luce
sebelum diadopsi pasangan suami istri Amy Edgar (Naomi Watts) dan Peter Edgar
(Tim Roth)—yang merawatnya seperti anak sendiri dengan memberikan kehidupan dan
pendidikan terbaik bagi Luce— adalah anak yang lahir dan tumbuh berkembang di
Eritrea suatu tempat yang disebut sedang dilanda konflik dan perang
berkepanjangan.
Kemiskinan
dan kehidupan anak-anak liar adalah dua hal yang membentuk Luce sejak kecil:
sulit diatur, denial, dan asosial. Dengan latar belakang demikian, Harriet
berkeyakinan ”sesuatu” bakal terjadi dengan Luce, dan itu akan merusak masa
depan Luce yang cemerlang. Ya, Luce diproyeksikan sebagai murid percontohan
sekolah, ia bahkan menjadi murid favorit guru-gurunya, dan mendukungnya untuk
belajar sampai ke tingkat lebih tinggi.
Kecurigaan,
atau lebih tepatnya ketakutan Harriet semakin menjadi-jadi pasca ia menemukan
kembang api ilegal berdaya ledak besar di loker Luce—ia mengambilnya tanpa
sepengetahuan dengan cara menggeledah loker Luce, yang berarti melanggar
privasi, sesuatu yang sangat dijunjung tinggi di negeri semacam Amerika
Serikat.
Dari
sini konflik bermula yang melibatkan kecurigaan, prasangka, dan emosi, antara
Harriet dengan Luce, dan antara Luce dengan kedua orangtuanya—setelah Harriet
memanggil Amy, ke sekolah, khusus menceritakan kecurigaan dan temuan kembang
api Luce.
Konflik
ini praktis menjalar kemana-mana, merongrong kepercayaan Amy dan Peter Edgar
terhadap Luce, yang terkejut dengan sisi misterius Luce setelah kasus esai dan
kembang apinya, dan kemudian membuat Luce terlempar ke titik asing dan ganjil
di hadapan kedua orangtuanya.
Karena
film ini berlatar kehidupan sekolah, terutama konflik antara guru dan murid
(orangtua), maka refleksi-refleksi atas film ini—menurut saya—dapat dihubungkan
dengan isu-isu pendidikan terutama jika
dilihat dari kacamata critical pedagogy (pendidikan kritis).
Harmoni dan
perubahan
Term
harmoni, untuk tulisan ini, lebih tepat diganti stabilitas, jika itu dipandang
dari sudut pandang Harriet, guru yang mengkhawatirkan Luce bakal terpengaruh
gagasan pemberontakan Frantz Fanon. Dalam hal ini, Harriet mendukung paradigma
kehidupan yang lebih mementingkan stabilitas dari pada perubahan, meskipun itu
belum tentu bakal mengancam tatanan yang sudah ada.
Dari
kacamata critical pedagogy, Harriet mewakili kemapanan sekolah, yang melihat
Luce sebagai ancaman, terutama ketika Luce menulis esai dengan mengangkat tokoh
sekaliber Frantz Fanon.
Itu
artinya, kemerdekaan berpikir dan kebebasan mengutarakan gagasan, yang menjadi
inti pendidikan liberal, yang dilakukan Luce, kontraproduktif dengan pandangan
pendidikan sekolah yang mengutamakan stabilitas dan kemapanan.
Anda
boleh menulis apa saja, tapi jangan menyasar hal ihwal yang bisa mengganggu
kemapanan sekolah, begitu kira-kira aturan main tersembunyi dalam benak
Harriot.
Perubahan
(social change) bagi tatatanan yang
mengandalkan keharmonisan, akan dianggap menganggu dan anomali. Dalam konteks
pendidikan atau sekolah tempat Luce belajar, itu berarti gagasan Fanon yang
ditulis Luce adalah hal berbahaya bagi tatanan. Sekolah dalam hal ini, dapat
dikatakan institusi yang ikut mengekalkan status quo masyarakat. Ia menjadi
lembaga, yang boleh jadi mewakili pandangan kelas tertentu, agar ide-ide
perubahan tidak mengubah kepentingan yang sudah lebih awal disepakati.
Rasialisme
Penting
untuk juga menyorot Luce dan Harriet, sebagai orang kulit hitam yang mewakili
suatu kaum, dan kedua orangtua Luce yang berlatarbelakang kulit putih. Sepintas
akan kelihatan bahwa film ini tidak ada masalah dengan rasialisme dengan
mengangkat latar belakang keluarga Peter Edgar dan Amy Edgar yang mengadopsi Luce,
seorang anak kulit hitam.
Dari
segi ini, patut memerhatikan detil adegan atau cara pandang DeShaun (Brian
Bradley) saat ia terlibat pertengkaran dengan Luce, mengenai di mana
keberpihakan Luce apakah membela Deshaun— teman Luce yang dihukum karena
kedapatan mengonsumsi ganja—yang notabene murid kulit hitam, atau mengedepankan
prestasinya yang dipuja sekolah, yang dinilai representasi masyarakat kulit
putih.
Meski
adegan itu cukup sepintas dan seolah-olah hanya pertengkaran antara dua remaja
anak SMA, refleksinya dapat ditarik dari pandangan pasca-kolonialisme. Luce
bisa dikatakan mengalami dilema identitas antara latar belakangnya sebagai
kulit hitam dengan kehidupan barunya yang lebih mewakili kebiasaan, cara
berpikir dan merasa, melalui pengasuhan dan dididikan berdasarkan keluarganya
yang berlatar masyarakat kulit putih.
Ini
sama dengan apa yang dikatakan Fanon sendiri melalui bukunya: Black Skin, White
Mask, tentang gejala alienasi akibat superioritas masyarakat kulit putih saat
memandang rendah masyarakat kulit hitam yang mengakibatkan orang kulit hitam
mesti melihat dirinya dari kacamata masyarakat kulit putih.
Kesalahan
mengidentifikasikan diri ini, tidak saja berlaku pada kegiatan berdimensi
politik, dan ekonomi, melainkan besar pengaruhnya pada dimensi kebudayaan, yang
dalam konteks film ini dapat dikerucutkan pada aspek pengasuhan melalui keluarga
dan pendidikan sekolah.
Luce
adalah contoh—jika dapat mewakili bangsa-bangsa kolonial—mengenai bisa
langgengnya suatu penjajahan disebabkan kekuasaan atas nama ras atau bangsa,
dapat berlangsung dengan waktu yang lama dan tidak disadari melalui penciptaaan
situasi ketergantungan (hegemoni) terhadap bangsa yang lebih superior melalui
pendidikan dan kebudayaan.
Refleksi
Institusi
pendidikan berupa sekolah atau perguruan tinggi, melalui critical pedagogy
dilihat sebagai institusi yang berdiri dan beroperasi atas tuntutan imperatif
ideologi dominan. Itu artinya intitusi pendidikan bukan lembaga yang kebal dari
tarik ulur kekuasaan dalam dimensi politik dan ekonomi. Ia, menurut analisis Bourdieu dan Foucault,
senantiasa menjadi medium kepentingan elite tertentu dan kekuasaan untuk
menciptakan situasi normal demi mendukung kepentingan bersangkutan.
Di
tanah air, selain dari pada kemiripan di atas—kampus dan sekolah yang mewakili
pandangan kekuasaan—juga menjadi lembaga yang mengalami liberalisasi dan
swastanisasi, yang menyebabkan pengelolaan keduanya menjadi korporasi.
Imbasnya, kegiatan pembelajaran, penyusunan kurikulum, penelitian, seminar,
pengabdian masyarakat, kegiatan organisasi, dan pengambilan kebijakan, berubah
orientasinya yang semula mengarah ke pengembangan peserta didik dan ilmu
pengetahuan, menjadi sekadar pencarian profit material belaka.
Dalam
suasana demikian, ketika pendidikan dikapitalisasi dan dipolitisasi, wacana
atau gagasan yang bermuatan politis, atau berdimensi perubahan sosial, akan
dideteksi sebagai ancaman bagi stabilitas institusi pendidikan. Di kampus,
kontrol atas wacana, kegiatan organisasi, peredaran buku-buku kritis, dan
seminar-seminar berorientasi perubahan akan dicap sebagai kegiatan ilegal.
Dosen atau mahasiswa yang terlibat dengan kegiatan serupa akan diidentifikasi
sebagai ancaman yang perlu dihambat karier dan studinya.
Di
sekolah-sekolah, penggambarannya lebih mengerikan lagi. Murid-murid dilatih
membaca dan menulis sesuai intruksi guru yang berposisi sebagai satu-satunya
sumber pengetahuan. Murid akan dianggap menyimpang jika menunjukkan gejala
berlainan apabila ditemukan melakukan improvisasi atau pengembangan pendekatan
dalam memecahkan suatu soal. Sistem dikte yang masih ditemukan di sekolah saat
ini, merupakan metode kontrol pikiran agar murid dapat digolongkan ke dalam
satuan-satuan yang seragam dan serupa.
Dari
kacamata pasca-kolonial, sekolah sangat berpotensi melanggenggkan pandangan
inferior sebagai bangsa terjajah. Sekolah atau perguruan tinggi, jika tidak
segera mengembangkan sendiri pandangan filosofi dan pendekatan pembelajarannya,
yang berangkat dari kesadaran mandirinya, akan selamanya menjadi alat tidak
langsung dalam mentransmisikan pandangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan yang
mengkultuskan Barat sebagai kiblat kemajuan.
Sekolah-sekolah
dengan posisi seperti itu akan terus melahirkan generasi berkepribadian kerdil
dan terasing, dikarenakan diajarkan dan dididik dengan cara sesuai pandangan,
perasaan, dan hasrat pihak penjajah. Dengan kata lain, merdeka belajar atau
kampus merdeka, yang sering kita dengarkan sekarang hanyalah menjadi slogan
politik semata apabila masalah mengenai ”kepribadian” sebagai bangsa berdaulat belum dituntaskan dari awal.