: 14 September 2020
MESKI lebih besar, tiga orang
perawat sulit membekuk Joseph Cassel yang bertubuh cebol. Di ruangan serba
putih, Joseph mengamuk dan meneriakkan khotbah kebangkitannya. Ia juga
mengancam menyayat lengannya yang sudah lebih dahulu berdarah. Darah itu, kata
Joseph, untuk menebus dosa-dosa umatnya.
Nyatanya, ia mengancam
orang-orang di sekitarnya dengan menggunakan bekas penutup makanan kaleng.
Joseph mengaku dirinya adalah Yesus Kristus dari Nazareth, yang sebenarnya
merupakan pasien pengidap skizofrenia akut di sebuah rumah sakit jiwa.
Tahun 1959, seorang dokter
bernama Alan Stone, datang ke Rumah Sakit Ypsilanti State Michigan. Tujuan Dr.
Stone datang ke rumah sakit ini demi melakukan penelitian mengenai gangguan
identitas manusia disebabkan delusi.
Dr. Stone bukanlah dokter biasa.
Ia dokter ahli jiwa berencana memulai eksperimen berisiko dan belum pernah
terjadi sebelumnya. Di zaman itu, sudah lazim pendekatan menangani pasien
bergangguan jiwa menggunakan terapi kejut listrik, kurungan ruang sempit, dan
penggunaan obat-obatan untuk meredam amukan pasien delusi.
Pendekatan Dr. Stone, dalam ilmu
psikologi adalah jenis pengobatan menggunakan metode penyembuhan empati. Ia
anti pendekatan penyembuhan ala pendisiplinan fisik berupa kejut listrik dan
semacamnya. Saat itu karena berbeda, pendekatannya mendorong lebih jauh
batas-batas kedokteran psikiatris yang berpendirian pasien gangguan jiwa mesti
ditangani dengan ”keras”.
Di rumah sakit inilah ia bertemu
Joseph sang Yesus Kristus dari Nazareth, juga tidak diduga bertemu Clyde
Benson, seorang pasien yang juga mengaku diri sebagai sang Juru Selamat.
Praktis, di rumah sakit itu ada dua pasien delusional dengan kesamaan problem
identitas, yakni sama-sama mendaku sebagai Yesus Kristus.
Belum lama bertemu dua Yesus,
berkat bantuan asistennya, Dr. Stone menemukan Yesus yang ketiga di rumah sakit
lain. Ia adalah Leon Gabor, pria berkacamata, yang, ya, ia juga mengaku dirinya
sebagai anak Allah, Yesus Kristus Sang Mesiah.
Setelah menemukan tiga ”Juru
Selamat” dan menyadari ini adalah kasus unik, Dr. Stone memelopori perawatan
sederhana, namun revolusioner: ia menempatkan tiga ”Tuhan” itu ke dalam satu
ruangan sekaligus untuk menghadapi delusi mereka, dan melihat sejauh apa metode
penyembuhannya dapat mengatasi, setidaknya, problem identitas pasien-pasiennya.
Apakah metode penyembuhan empati
Dr. Stone berhasil? Untuk menjawab pertanyaan ini Anda saya perkenankan
menyaksikan sendiri film bertitel Three Christs (2020), godokan sutradara Jon
Avnet, berdasarkan buku nonfiksi Milton Rokeach The Three Christs of Ypsilanti.
Kenyataannya, film ini bagi saya
tidak sekadar memberikan adegan-adegan empatik, dan emosional melalui peran
tokoh-tokohnya, melainkan sejumlah masalah, dalam arti apakah gangguan kejiwaan
adalah masalah sepihak yang diputuskan otoritas tertentu? Apakah interaksi
antara orang normal dan yang mengalami gangguan kejiwaan, mesti disikapi
melalui pendekatan lain, atau tanpa penekanan tertentu dengan apa adanya? Apa
tolok ukur normativitas, misalnya, ketika keduanya terlibat dalam suatu tema
pembicaraan? Apakah keduanya dapat saling mempengaruhi kejiwaan masing-masing?
Apakah menggunakan terapi kejut
listrik, dan semacamnya, yang dapat menimbulkan efek trauma berkepanjangan,
dapat meminimalisir delusi dialami pasien? Bagaimanakah latar belakang seperti
Joseph, atau Clyde, dan Leon, sehingga dapat mengklaim dan memanipulasi
identitasnya sebagai Yesus Kristus? Apakah ini waham kebesaran yang sama,
misalnya, seperti dialami figur-figur tertentu dalam dunia kegamaan atau
politik?
Akar Delusi
Penyebab delusi, sampai hari ini
belum defenitif ditetapkan para ahli jiwa. Sifatnya yang kompleks bisa
disebabkan apa saja. Depresi, stres, perundungan, kegagalan, ketidaknyamanan lingkungan
kerja, faktor genetis…
Delusi dari kaca mata Sigmund
Freud, bapak psikoanalisis, dinyatakan sebagai ekses negatif penipuan diri. Ini
terjadi akibat naluri bawaan manusia mengalami represi dan penyalurannya
dilarang di dalam masyarakat, yang menyebabkan konflik psikis. Untuk mendamaikan
konflik internal ini, seseorang melakukanpemalsuan identitas melalui ilusi atau
delusi sebagai cara mempertahankan dirinya. Uniknya, mekanisme pertahanan diri
ini, menurut Freud dilakukan tanpa sadar dengan mengira ia telah mendamaikan
konflik psikis dialaminya.
Itu artinya, di tahap ini,
seseorang tidak sadar sedang melakukan penipuan diri, meskipun ia menganggap
itu sebagai jalan keluar atas konflik psikis yang ia alami. Kata Freud, di
waktu ini, semua pengalaman delusi orang-orang hakikatnya sedang menindas
dirinya sendiri.
Untuk membongkar delusi, salah
satu bagian penting dalam film ini adalah cara Dr. Stone berempati kepada
ketiga pasiennya. Ia, meskipun menyadari bahwa dunia delusional bukan kenyataan
sebenarnya, justru menggunakan dunia tipuan itu untuk mendalami keinginan-keinginan
terpendam pasiennya.
Bersama Becky, asisten risetnya,
Dr. Stone merancang diskusi kelompok, surat menyurat, dan intervensi tindakan
dengan cara bertukar pengalaman di antara mereka. Di titik ini, pendekatan Dr.
Stone membentuk lingkaran kepercayaan di antara mereka, dan pelan-pelan ketiga
pasien yang awalnya saling bermusuhan bisa saling berkomunikasi dan bekerja
sama.
Sebagaimana kebutuhan manusia
normal lainnya, empati dan saling mendengarkan cerita satu sama lain, adalah
premis film ini. Meski kesan humanis ini, di sepanjang film, ketika ia
diaplikasikan menemukan rintangan-rintangan berupa standarnisasi keilmuan dan
metode penyembuhan di dunia psikiatri yang kadang di luar batas kemanusiaan.
Waham kebesaran
Di Tanah Air, sebagai contoh,
publik pernah mengenal Lia Eden, Ahmad Mussadeq, Dedi Mulyana, dan Sensen
Komara sebagai orang-orang mengaku tuhan atau nabi penyelamat. Terakhir, lebih
sedikit hati-hati tanpa mendaku tuhan atau nabi, muncul Rangga Sasana dan R.
Toto Santoso, dua ”raja” dari kerajaan Sunda Empire dan Keraton Agung Sejagad.
Belum sempat menyelamatkan dunia, kemunculan orang pengidap waham kebesaran
macam ini, ada yang menarik diri dari masyarakat hidup eksklusif seperti
komunitas Lia Eden, dan ada juga mesti dipaksa ”berkhalwat” di balik jeruji
”hotel prodeo”.
Manipulasi identitas adalah
masalah. Meski sebagian besarnya dapat dikembalikan kepada problem psikis dan
mental, tapi tidak sedikit justru timbul atas desakan keadaan sosial. Three Christs,
meskipun dapat dinikmati sebagai drama bertema psikiatri, bisa juga dianalisa
ke dalam masalah-masalah sosial lebih luas.
Dalam arti sebagai penyakit mental, waham kebesaran, dalam bentuk dan
lain hal, dapat mendorong seseorang memanipulasi identitasnya demi mencari
popularitas, atau bahkan otoritas kekuasaan.
Itu artinya, identitas dalam arti
atribut dan embel-embel, merupakan personifikasi yang dapat direkayasa sepihak.
Dalam wacana politik kekuasaan, identitas menjadi faktor penting demi meraup dan
mempertahankan hirarki sosial sebagai seorang penguasa.
Di Tanah Air, identitas
menyangkut politik kekuasaan kerap bersinggungan dengan atribut keagamaan. Tapi
berbeda dengan Joseph, Clyde, dan Leon, yang mendaku sebagai Yesus Kristus,
jalan lapang manipulasi identitas di Indonesia dilakukan dengan mobilisasi atau
mengumpulkan massa dan menjadi pemimpin di dalamnya. Meski tanpa perlu mendaku
sebagai nabi atau tuhan, sebagian di antaranya justru bertindak seolah-olah
tengah menjadi tuhan.
Telah tayang di Belopainfo.id