Beyond the Clouds: Bertarung Nasib di Belantara Kota

 

: 02 Februari 2019


BEYOND THE CLOUDS.Tahun rilis: 2018. Genre: Drama. Durasi: 102 Menit. Sutradara: Majid Majidi. Aktor: Ishaan Khatter Malavika Mohanan


BEYOND THE CLOUDS adalah cerita tentang betapa nasib manusia bukanlah perkara sederhana. Bukan soal urusan kekuatan misterius belaka yang bekerja di luar daya jangkau manusia.

Nasib, betapa pun ia sering dipahami sebagai ciptaan Tuhan, adalah soal gerak-gerik manusia sendiri. Soal yang demikian kompleks, yang melibatkan harapan, kegelisahan, suka duka, cita-cita, usaha, tantangan, peluang, dan keuntungan, yang seringkali sulit diprediksi. Yang karenanya itu, justru nasib pada akhirnya menjadi sesuatu yang membuat seseorang saling tergantung satu sama lain. Menjadikan seseorang hanyalah satu titik di antara jutaan titik yang saling berseberangan, menindih, bersilangan, bergelantungan, berjarak , saling mengikat, berkelindan....

Demikianlah posisi Tara, ia menjadi tahanan entah sampai kapan. Tanpa kepastian hukum, masa tahanannya disebutkan akan berlangsung hingga ia mati. Itu berarti ia bakal tinggal di penjara sepanjang sisa umurnya. Apa boleh buat, selama Akshi belum siuman dari sakitnya, Tara akan selamanya dalam penjara. Tanpa putusan. Tanpa pengadilan.

Dengan kata lain, lama tidaknya Tara di dalam penjara, tergantung cepat tidaknya Akshi, lelaki yang kepalanya boyak dihantam Tara, siuman dari luka-lukanya. Sebelum ada keterangan dari Akshi, Tara akan tetap selamanya di balik jeruji besi.

Kepala boyak Akhsi bermula dari kejadian di tempat kerja Tara. Akshi adalah majikan Tara di tempat pencucian umum di suatu kawasan kumuh Mumbai, India. Mereka sempat beradu fisik pasca bertemu untuk mengambil "paket" selundupan Amir, adik Tara, dari Akhsi yang sempat menyelamatkan Amir dari kejaran polisi.

Di pertemuan itu Akhsi punya maksud lain. Ia ingin mencabuli Tara. Tara melawan. Tarik menarik terjadi. Tanpa terduga, Tara menemukan sebongkah batu bata, kemudian tanpa pikir panjang menghantam kepala Akshi. Darah bercucuran. Orang ramai berdatangan. Akshi dilarikan ke rumah sakit. Dan, Tara digelandang ke kantor polisi.

Peristiwa itu diketahui Amir, adik Tara, tidak lama setelah kejadian. Ia baru menyadari Tara digiring ke kantor polisi. Dan ia menyadari pula, nasib kakaknya hanya akan segera diputuskan setelah Akshi, yang disebut sebagai korban percobaan pembunuhan, dapat memberikan keterangannya kepada pihak kepolisian.

Masalahnya kemudian, sampai kapan Akshi akan siuman?

Itu berarti, seperti sudah dinyatakan sebelumnya, nasib Tara bergantung sepenuhnya dari siuman tidaknya Akshi. Bahkan, jika lantas Akshi mati tanpa sebelum memberikan keterangan, Tara akan menjadi tahanan seumur hidup.

Majid Majidi sebagai penulis naskah Beyond the Clouds, sangat unik menempatkan tegangan konflik dalam film ini. Terutama pada diri Amir sebagai tokoh utama sebab musabab segala kejadian di film ini. Majid Majidi nantinya juga bakal menempatkan Amir -lah yang kelak menjadi pusat tarik ulur kecenderungan baik-buruk dalam dilema moral yang sering dihadapi seseorang ketika menghadapi segala macam persoalan kehidupan.

Sebagaimana garapan film-film Majidi sebelumnya, seringkali ia menempatkan tokoh-tokohnya di tengah-tengah problem fundamental sehari-hari. Dalam hal ini, problem ekonomi, yang kerap muncul dari film-filmnya, di film ini, juga menjadi struktur mendasar yang menjadi akar soal bagaimana tokoh-tokohnya terlibat konflik, mengalami pasang surut emosi, dan terjadinya perubahan-perubahan arah cerita seiring kejadian di sekeliling sang tokoh.

Dengan kata lain, di tengah jalin kelindan semua itulah, emosi penonton terserap dan "dipermainkan" Majidi.

Tegangan paling mencolok dalam Beyond the Clouds adalah saat-saat Amir merawat Akshi agar terus dapat hidup meskipun Akshi sebenarnya adalah pelaku percobaan pencabulan kakaknya.

Kendati Amir sangat marah dan menghendaki Akshi mati saja, ia rela menahan seluruh kebenciannya demi menyelamatkan nasib Tara, kakaknya, dari jeratan kurungan jeruji. Biar bagaimana juga, sebenci dan sedendam-dendamnya Amir terhadap Akhsi, ia mesti memastikan Akhsi dapat terus hidup agar dapat memberikan keterangan terkait nasib kakaknya. Jika sampai Akshi mati, maka tamat riwayat Tara bakal membusuk tanpa bisa menghirup udara bebas.

Dari konteks benci tidak benci ini, cukup kentara Majidi ingin memperlihatkan sisi terdalam manusia. Kendati manusia diyakini sering dikuasai sisi tergelap dirinya, namun tetap saja selalu ada insiden yang bakal menggerakkan sisi manusiawinya.

Bahkan, Majidi seolah-olah menggambarkan, melalui dilema yang dihadapi Amir, dalam diri manusia, jiwa bukanlah sekotak bujur sangkar yang jelas sudut-sudutnya. Ia lebih mirip bulatan tanpa titik ujung. Ia kadang berputar begitu saja, naik turun dari sisi gelap menuju sisi terang, dan sebaliknya bergerak terus menerus tanpa henti.

Dengan kata lain, jiwa manusia senantiasa dirundung soal tanpa henti. Ia kerap berputar dari mana ia akan bermula dan berakhir. Walaupun ia diciptakan dalam keadaan terbaik, namun tetap saja ia memiliki kecenderungan sisi gelap yang terbentuk dari jalinan pengalaman manusia menghadapi kesehariannya.

Amir adalah seorang penghubung antara bandar narkoba dengan pengedar-pengedar kambuhan yang berjejaring di kehidupan masyarakat miskin di Mumbai, India. Ia, diceritakan merupakan anak buah Rahoul, seorang bandar narkoba sekaligus pemilik rumah bordir tempatnya mengendalikan pasar narkotika.

Diceritakan, lantaran hasil kerjanya tak kunjung dibayar Rahoul, didesak kebutuhan bertahan hidup, tetap saja Amir bertahan menjadi kurir narkoba. Antara tarik ulur kebutuhan hidup dan keinginan agar dapat terus bekerja, walaupun pekerjaannya yang tak kunjung dibayar, membuat Amir bertahan dalam bisnis jual beli narkoba. Ditambah ia bersama Tara, kakaknya, yang juga hidup sebagai pekerja harian dengan upah rendah, membuat Amir tidak punya pilihan lain.

(Diceritakan demi menyambung hidup, Tara juga berprofesi sebagai pekerja seks. Sesuatu yang tak diketahui Amir lantaran lamanya mereka berpisah setelah Tara menjadi janda dengan suami yang tempramental)

Melalui hubungan kakak adik antara Tara dan Amir, Majidi dengan jeli menyorot masalah sosial yang kerap melanda negara berkembang seperti di India: kemiskinan.

Dari konteks demikian, melalui pendekatan neorealis yang menjadi paradigma cerita-cerita Majidi, ia bukan saja mengetengahkan peralihan dan pergeseran-pergeseran sisi kejiwaan manusia, tapi juga mengangkat narasi kecil --yang kerap terjadi di kota-kota padat penduduk--keluarga yang ditimpa persoalan kerasnya kehidupan perkotaan.

Sepanjang ide ini, sorot kamera tidak pernah lepas dari lanskap masyarakat miskin kota di pinggiran Mumbai, India. Sebagaimana di balik proyek urbanisasi di kota-kota besar, di belakangnya hidup masyarakat miskin yang menjadi korban keganasan kota.

Mulai dari pasar-pasar kumuh, pemukiman padat penduduk, lalu lalang kendaraan tanpa jalur pasti, rumah sakit, himpitan lorong-lorong gelap, rumah bordir, kantor polisi, anak-anak yang bermain-main di pinggir-pinggir jalan, semuanya dihamparkan apa adanya menunjukkan paras keterbelakangan masyarakat hasil perkembangan kota yang timpang.

Di sekeliling panorama demikianlah, kisah kakak beradik Tara dan Amir mengadu nasib secara seporadis untuk bertahan hidup di perkotaan yang demikian caruk kemaruk.

Tara dan Amir di konteks ini menjadi wakil dari mata rantai kemiskinan yang menjerat masyarakat pinggiran kota. Mereka adalah golongan masyarakat paling dasar dari piramida stratifikasi sosial masyarakat. Golongan yang membludak di kaki-kaki gedung pencakar langit, tapi miskin di atas kertas studi-studi ekonomi.

Latar sosial seperti itu akhirnya menjadi problem tersendiri bagi masyarakat pedesaan. Hal ini dikisahkan Jhumpa, ibu dan kedua anak Akshi yang seketika datang jauh dari desa udik (diceritakan mereka datang ke kota tanpa tahu sebab musabab mengapa Akshi sampai dirawat di rumah sakit, padahal ia pelaku percobaan tindakan cabul)

Kota, yang tiba-tiba mesti mereka datangi demi menjenguk Akshi, menjadi demikian berbeda, asing, dan sekaligus momok bagi mereka. Tanpa memiliki kebiasaan hidup di tengah perkotaan, mereka ibarat manusia-manusia terasing yang entah harus berbuat apa.

Hubungan unik juga terjadi antara Amir dan keluarga Akshi yang udik ini. Awalnya Amir nampak acuh tak acuh kepada keluarga yang tak tahu mau tinggal di mana ini. Di tengah kota, mereka tak punya siapa-siapa selain Akshi yang belum sadar dan hanya terbaring di rumah sakit. Lantaran mereka kebetulan bertemu Amir yang sedang merawat Akshi, maka ikutlah mereka sampai ke tempat tinggal Amir.

Di depan rumah sambil kehujanan mereka menggelar tikar menginap mirip gelandangan. Pemandangan itu lambat laun menggerakkan hati Amir yang semula cuek terhadap keberadaan mereka. Segera ia menampung keluarga kecil ini sambil menahan dendam lantaran yang ditampungnya sebenarnya adalah keluarga pelaku pelecehan seksual kakaknya.

Tapi hari ke hari terbit rasa iba dan kemudian perhatian kepada Tanisha, Asha, dan ibunya ini. Kepada keluarga Akshi ini, Amir digambarkan mengalami perubahan kejiwaan menjadi jauh lebih baik dan empatik terutama kepada Tanisha dan Asha yang masih kanak-kanak. Bahkan, walaupun ia sempat ingin menjual Tanisha ke rumah bordir Rahoul, Amir kemudian berubah pikiran demi perasaan empatik dalam dirinya.

Kisah lain dari film ini ditunjukkan dalam kehidupan penjara yang dialami Tara. Tara dalam hal ini adalah korban dari bertele-telenya peyelesaian hukum. Ia tanpa disadari tidak pernah sekalipun didampingi kuasa hukum untuk mengawal kasus yang sebenarnya bisa segera dipastikan cepat selesai. Tapi, apa daya, Tara adalah rakyat kecil yang secara pemahaman tidak mengerti seluk-beluk hukum yang menyebabkan dirinya lama di sel tanpa kepastian hukum.

Itulah sebabnya, awalnya Tara depresi dan mengalami keadaan kejiwaan yang gawat karena mengingat nasibnya yang tidak menentu. Namun, selama menjalani hari-harinya menunggu kepastian, ia terhibur dari keberadaan Chotu, seorang anak kecil anak dari tahanan seumur hidup satu sel Tara.

Keberadaan Chotu dan anak-anak kecil lainnya --mereka anak-anak tahanan yang sejak lahir dan dibesarkan dalam penjara--seketika mengubah orientasi kejiwaan Tara. Ia memiliki seseorang yang bisa disayangi dan diperhatikan. Pelan-pelan kejiwaan Tara menjadi stabil berkat keriangan Chotu selama di penjara --Chotu karena lahir dalam penjara sudah menganggap penjara seperti rumah dan tempat bermainnya sendiri, tak ada rasa sesal atau perasaan negatif bahwa ia sebenarnya sedang dalam penjara bersama ibunya yang dihukum masa tahanan seumur hidup.

Dunia anak-anak yang diperagakan Chotu, Thania dan Asha, semakin memperjelas kemana sebagian pesan-pesan film ini. Majidi, seperti ciri khasnya yang banyak menyorot dunia anak-anak, melalui film ini tengah menyuarakan keprihatinan tentang seringkalinya anak-anak menjadi korban dari tindak-tanduk orang dewasa. Anak-anak sering menjadi lian di hadapan orang-orang dewasa. Padahal, sudah semestinya anak-anak menjadi prioritas di dalam setiap perencanaan orangtua. Bukan menjadi seolah-olah nomor dua dan karena itu menjadi korban.

Beyond the Clouds, dari semua itu merupakan drama dengan kisah yang sebenarnya cukup sederhana ditunjang lapis-lapis kisah di dalamnya: mengetengahkan hubungan kakak beradik yang bertahan hidup berusaha keluar dari kemiskinan perkotaan. Hubungan rasa pedih dan dunia anak-anak, kompromi antara rasa benci dan kasih sayang, dan juga bagaimana nasib sebenarnya bukan semata-mata hal yang sudah sedemikian diatur tanpa sebab musabab sebelumnya.

Dengan kata lain, nasib, dan juga segala yang berkaitan dengannya, ibarat jemari tangan yang berusaha menembus awan. Padat tapi kosong, kelihatan tapi muskil digenggam. Siapa yang tahu hari esok? Ya, nasib, entah ia bernama takdir, walaupun mirip awan, mesti juga dilampaui.