Mal-Mo-E: Politik Bahasa dan Sejarah Perjuangan Menyusun Kamus

 
: 1 Oktober 2020
 

Diarahkan dan ditulis oleh Eom Yu-na. Dibintangi Yoo Hae-jin, Yoon Kye-sang. Musik oleh Jo Yeong-wook. Sinematografi Choi Young-hwan. Perusahaan produksi The Lamp. Tanggal rilis 9 Januari 2019. Durasi 135 menit. Bahasa Korea
 
Kata-kata mencerminkan jiwa (Ryu Jung-hwan).

SEORANG pria bertopi pet dikejar-kejar sekelompok polisi kekaisaran Jepang sampai ke tengah hutan. Malam baru saja datang dan pria itu berusaha lari sekuat mungkin demi barang yang ia coba selamatkan. Anjing-anjing pemburu menyalak dari belakang tidak lama setelah suara letusan pistol mengenai tubuhnya. Ia terjatuh seketika bersamaan dengan setumpuk kertas yang berhamburan di udara. Tidak ingin menyerah begitu saja, dengan sisa kekuatannya, pria itu berusaha sekeras mungkin melanjutkan pelariannya jauh dari kejaran polisi di belakangnya.
Kejadian di atas adalah scene pembuka Mal-Mo-E: The Secret Mission (2019), drama sejarah Korea yang disutradarai Eom Yu-na, dan pria dikejar-kejar polisi kekaisaran Jepang itu bernama Joo Si-Gyeong, yang berusaha berlari menyelamatkan draft setebal dua susun batu bata merah, merupakan naskah awal kamus bahasa Korea.
Dalam sejarah Korea, kejadian itu terjadi tahun 1933 di Manchuria Utara, suatu kawasan yang saat ini menjadi bagian dari Korea Utara.
Saat itu Korea adalah negara koloni kekaisaran Jepang, hal yang sama terjadi di Indonesia tidak lama setelahnya. Sebagai negara koloni, Korea dipaksa menjalankan kebijakan penjajah demi melahirkan kesamaan cita-cita menjadikan Jepang sebagai ”Cahaya Asia”. Banyak kebijakan Jepang saat itu untuk Korea agar mendukung terbentuknya kawasan Pan Asia, yang salah duanya adalah menerapkan penggunaan bahasa Jepang di sekolah-sekolah, dan mengharuskan rakyat Korea menggunakan bahasa Jepang sebagai alat komunikasi sehari-hari.
Kebijakan mengganti bahasa Korea menjadi bahasa Jepang, bukannya tanpa alasan kuat. Politik penjajajahan bahasa ini dilakukan Jepang demi mengikis apa yang mereka sebut ”semangat Korea”. Saat itu, bagi Jepang, menghapus bahasa Korea sama artinya mencabut rakyat Korea dari jiwa kebangsaannya, menjauhkan mereka dari tradisi, cara berpikir, dan tentu politik perlawanannya.    
Kelak, setelah Jepang menyerah kepada Blok Sekutu, menandai akhir masa Ilje gangjeomgi (zaman pendudukan Jepang) yang sudah berlangsung dari 1910 hingga tahun 1945. Pada masa itu, yakni akhir Perang Dunia II, peristiwa kemenangan Korea terjadi tidak lama setelah Hiroshima dan Nagasaki hancur lebur akibat bom atom Amerika Serikat—dua hari pasca itu menjadi cikal bakal kemerdekaan Indonesia.
Pencopet sadar bahasa
Jika kesuksesan Mal-Mo-E dikerucutkan, maka salah satunya ditujukan kepada Yoo Hai-jin, berperan sebagai seorang kriminil residivis yang suka keluar masuk penjara. Perannya dalam film ini tidak kalah apik dari dua filmnya yang lain yakni A Taxi Driver (2017) dan 1987: When the Day Comes (2017), dua film yang sama-sama berlatar kejadian sejarah di Korea.
Dalam film ini, Yoo Hai-jin menghidupkan sosok Kim Pan-soo, berkarakter pantang menyerah meski dililit kehidupan ekonomi melarat. Ia berhasil mengkombinasikan dan memadukan akting bagaimana mesti menjadi orangtua tunggal, yang banting tulang merawat kedua anaknya di sebuah rumah sederhana, dan menjadi pemimpin sindikat pencopet keras kepala dan tidak tanggung saat menjalankan aksinya.
Sebagai seorang pencopet, yang akrab dengan kehidupan jalanan, membuat Kim Pan-soo rela melakukan apa saja, terutama saat anaknya membutuhkan uang sekolah yang tenggat dibayar. Demi uang sekolah anaknya itulah di suatu waktu ia mencopet tas seorang pemuda di keramaian terminal. Tidak disangka tas yang dicopetnya itu bukannya berisi uang atau barang berharga, melainkan seonggok naskah kumpulan kata-kata bahasa Korea.
Berkat kejadian itu, ia dipertemukan dengan organisasi bawah tanah perhimpuan bahasa Korea, dipimpin Ryu Jung-hwan (Yoon Kye-sang)—pria yang dicopetnya—yang bekerja diam-diam siang malam di toko buku bersembunyi dari intaian intel Jepang, demi mengumpulkan sebanyak-banyaknya kata-kata Korea dari berbagai daerah.
Setelah bergabung di kelompok rahasia beranggotakan penyair, reporter, penulis, dan pustakawan ini, Kim Pan-soo mulai disadarkan betapa pentingnya bahasa Korea saat itu. Lewat tangan dingin Ryu Jung-hwan, ia diajar menulis dan membaca, serta diikutkan terlibat dalam proyek revolusioner saat itu, yakni menyusun kamus Korea. 
Bukan saja itu, Kim Pan-soo mengorganisir teman mantan napinya dari dialek bahasa berbeda dan guru-guru bahasa menyelenggarakan kongres bahasa. Mulai saat itu Kim Pan-soo menjadi pencopet sadar bahasa, atau bertransformasi menjadi pejuang nasionalis, yang berjuang menjaga bahasa Korea agar tidak punah digantikan bahasa penjajah Jepang.
Meski digrebek dan dibubarkan paksa polisi penjajah, kongres itu berhasil melahirkan kamus pertama Korea yang sekarang dipakai di Negeri Gingseng sampai saat ini.
Mal-Mo-E adalah film berperspektif kemerdekaan menarasikan perjuangan mempertahankan eksistensi bangsa dapat dilakukan melalui perjuangan bahasa. Sudah tentu perjuangan terhadap kolonialisme tidak sekadar mengangkat bedil, melainkan juga dapat melalui tinta dan pena. Entah itu lewat penerbitan surat kabar, buku, jurnal, majalah, dan juga kamus. Terlepas dari bagaimana bentuknya, bahasa adalah cermin jiwa, sejarah dan identitas suatu bangsa. 
Salah satu poin penting patut diberikan perhatian dalam Mal-Mo-E adalah kebijakan ganti nama bagi warga Korea bernama Jepang. Pengalaman yang sama  yang juga dialami warga beretnis Tionghoa di masa Orde Baru bikinan Suharto. Saat itu politik kekuasaan berkedok asimilasi, mewajibkan semua peranakan Tionghoa mesti ganti nama agar dianggap lebih mudah berbaur dan dapat diterima sebagai warga Indonesia. Ganti nama yang sebenarnya kekerasan rasial ini masih berlaku hingga sekarang.
Politik ganti nama merupakan mekanisme administrasi Orde Baru dalam rangka memutus ingatan pengetahuan dengan tradisi kritis sebelum peristiwa 65. Menukil Joss Wibisono, Maksud Politik Jahat: Benedict Anderson tentang Bahasa dan Kuasa, Orde Baru sampai menempuh mengganti ejaan tulisan bukan semata-mata soal fonetik bahasa saja, melainkan rangkaian tindakan politik bahasa dalam lingkup epistemik yang mendistorsi memori bangsa demi menghasilkan narasi sejarah versi kekuasaan.
Dampak serius pergantian ejaan Soewandi (sebelumnya ejaan Ophusyen) menjadi Ejaan Yang Disempurnakan  (EYD) dan disempurnakan lagi menjadi Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI), menurut Anderson berdampak kepada hilangnya penggalian khazanah pengetahuan yang ditulis menggunakan ejaan Soewandi, terutama yang menyangkut peran sejarah gerakan progresif (dan Soekarno) di Indonesia.
Dicampakkannya generasi muda dari literatur ejaan lama—salah satu dampaknya malas melihat dan akhirnya enggan membacanya—akhirnya membuat generasi muda oleh Joss Wibisono disebut kena ”penghapusan sejarah”.
Maka, seperti juga menjadi tujuan fasisme Jepang dalam Mal-Mo-E, bagi Anderson, EYD dan politik bahasa yang baik dan benar adalah dua contoh politik bahasa Orde Baru yang bertujuan tak lain tak bukan untuk menguasai bahasa sekaligus pikiran rakyat Indonesia.

Andaikata kesimpulan atas film ini dapat diambil, itu adalah peringatan jika suatu bangsa sudah direbut pikirannya (lewat bahasa), maka jangan harap, jiwanya dapat bangkit melawan penjajahan, begitu kira-kira tujuan akhir dari politik maksud jahat pendudukan Jepang seperti dinarasikan Mal-Mo-E.