: 16 September 2020
MATAHARI belum mencapai puncaknya
saat Mort Rainey terbangun dan mendengar seseorang menggedor-gedor pintu
rumahnya. Pria bertopi koboi bersetelan jas hitam sudah berdiri di depan pintu,
dan tiba-tiba menuduh Rainey memplagiat ceritanya. Tidak ada hujan tidak ada
badai, Rainey merasa tuduhan itu tidak berdasar. Ia tidak mengenal pria yang
tiba-tiba datang dan menuduhnya. Tidak membutuhkan waktu lama, setelah beradu
mulut, pria mengaku bernama John Sooter itu pergi dengan meninggalkan di bawah
pintu draf naskah novel berjudul Sowing Season,
yang ia klaim telah diplagiat Rainey.
Peristiwa serba tiba-tiba di atas
sesungguhnya adegan pembuka film Secret Window (2004), film lumayan lawas
dibintangi Johnny Depp, yang berperan sebagai Mort Rainey, pria yang dituduh
mencuri jalan cerita seseorang dalam novelnya. Ya, Johnny Depp di film ini
berperan sebagai seorang penulis terkenal, yang hidup menyendiri di kabinnya,
di Danau Tashmore bagian utara New York. Ia tinggal menyepi di sana setelah
mengalami pukulan berat pasca memergoki Amy Rainey (Maria Bello), istrinya,
tidur bersama pria lain di kamar sebuah motel.
Secret Window merupakan adaptasi
dari novel Stephen King, penulis kontemporer Amerika Serikat, berjudul Secret
Window, Secret Garden, terbit pada 1990, yang baru mendengar namanya saja, kita
sudah dapat menerka-nerka bahwa jalan cerita menggunakan kata ”rahasia” itu
akan berbau misteri.
Apalagi, konflik
sudah muncul dari adegan pertama, yakni tuduhan pria bernama John Sooter
(John Turturro) kepada Mort Rainey, mengenai plot cerita yang diklaim telah
dicuri.
Apakah tuduhan itu benar, yakni
Mort Rainey telah memplagiat karangan John Sooter? Katakan saja jika karangan
keduanya sama, siapa yang lebih dulu menulis cerita dimaksud? Siapa yang
dipengaruhi dan mempengaruhi? Apakah keduanya pernah saling kenal? Lalu siapa
sesungguhnya John Sooter, pria misterius yang tiba-tiba datang dan menuduh
Rainey menjiplak karangannya di pagi-pagi buta?
Nyatanya, setelah terdorong rasa
penasaran, Rainey membaca dan membandingkan novel cerita Sooter dengan bukunya,
dan seperti terpukul palugada, ia terkejut melihat baik kata, bentuk kalimat,
dan jalan cerita novelnya persis sama, kecuali akhir kisahnya. Masalahnya
Rainey merasa tidak memplagiat karangan siapapun, apalagi cerita dari orang
bernama Sooter itu.
Pasca dari sini, Rainey sering
dikuntit Sooter, setelah diminta membuktikan bahwa ia tidak memplagiat
karyanya. Namun, apa boleh buat, kehadiran Sooter dan ancamannya membuat
kehidupan Rainey menjadi tidak nyaman dan aman.
Berawal dari sinilah ancaman Sooter
makin mengerikan: ia membunuh Chico, anjing peliharan Rainey, membakar rumah
mantan istri Rainey, dan membunuh detektif yang disewa Rainey untuk menjaganya,
dan seorang kakek tua saksi mata.
Kebrutalan Sooter semakin
menjadi-jadi seiring terkuaknya fakta baru disadari Rainey. Sooter adalah sosok
imajinasi Rainey, satu sisi gelap yang muncul untuk menyeimbangkan sisi Rainey
sehari-hari. Rainey mengalami kepribadian ganda. Sooter adalah alter ego
Rainey, yang dengan kata lain, seluruh peristiwa yang ia alami merupakan ulah
dirinya sendiri.
Writer's Block
Secret Window digolongkan sebagai
fiksi bergenre thriller psikologis yang mengambil latar belakang kehidupan
psikis seorang penulis, yang hidup kontra produktif dari kebanyakan orang. Sehari-hari hanya menggunakan piyama lusuh ia
menghabiskan banyak waktunya di atas sofa dengan bantal kesayangannya.
Tidur-tiduran. Disorientasi tujuan hidup ini disumbangsih oleh celah dalam
dirinya pasca ia berpisah dari istrinya,
yang ternyata kelak memupuk perasaan negatif melalui sosok John Sooter.
Meskipun sebagian besar film ini
bercerita tentang pertarungan diri Rainey, yang mengalami disasosiasi
identitas, ada satu bagian dalam film ini menarik diungkit untuk menunjukkan
”penyakit” yang sering dialami sebagian penulis: writer’s block.
Bagi seorang penulis stress bisa
memicau writer’s block, seperti dialami Rainey pasca bermasalah dengan
istrinya. Di pondok pengasingannya, demi
membuat cerita, berbulan-bulan ia tidak mampu menulis lebih dari satu paragraf.
Idenya raib entah ke mana. Motivasi jangan ditanya, tidak ada pengaruhnya,
padahal ia penulis cerita misteri terkenal yang telah menerbitkan buku yang
laku di pasaran.
Ditinjau dari tempat tinggalnya,
Rainey sebenarnya ditunjang dengan lingkungan yang cocok untuk menghasilkan
ide-ide segar bagi sebuah cerita. Ia hidup jauh bagai seorang pemikir yang
membutuhkan ketenangan demi menghasilkan pemikiran jernih dan bernas, jauh dari
keramaian, di kelilingi pepohonan rindang, udara segar, dan dekat dari danau
yang memancarkan aura ketenangan dari permukaan airnya. Namun, semua penunjang
itu tidak membuatnya lolos dari ”lubang” di dasar jiwanya. Ia stres berat.
Tapi kasus Rainey jauh lebih
dalam dari sekadar stres, yang dalam hal ini mengalami depresi berkepanjangan
membuatnya memiliki kepribadian ganda dengan alter ego bernama John Sooter,
sosok yang semakin kuat mempengaruhinya setelah ia berpisah dengan istrinya.
Bagi sebagian penulis, writer’s
block bukan masalah sepele, melainkan itu bisa menjadi biang masalah atas
kehilangan ide, gagasan, ilham, motivasi, dan inspirasi yang menentukan jalan
cerita karya tulis. Bukan saja itu, lebih kuat lagi, writer’s block bisa
menjadi neurotik berat yang memicu perubahan karakter atau bahkan, seperti Mort
Rainey, mengalami kepribadian ganda.
Pengaruh cerita
Di akhir cerita, Istri dan Ted
(Timothy Hutton), suami baru Amy, dihabisi secara sadistik oleh Rainey sebagai
John Sooter, mengikuti akhir kisah cerita Sowing Season, karangan fiktif
imajinasi alter ego Rainey. Saat ini, kepribadian Rainey lenyap dan memunculkan
sosok sadis bertingkah laku lebih berani dan kuat. Mayat keduanya, yang ia
bunuh dengan ujung sekop, dikuburkan dan ditanami jagung di atasnya.
Di kehidupan nyata banyak kisah
menyerupai John Sooter a.k.a Mort Rainey yang terpengaruh jalan cerita kisah
tertentu. Sebut saja Mark David Chapman dan John Warnock Hinckley, Jr.,
terobsesi tokoh utama buku The Cather in the Rye karangan J.D Salinger,
melakukan pembunuhan kepada John Lenon dan percobaan pembunuhan Ronald Regan,
vokalis legendaris The Beatles dan Presiden Amerika Serikat.
19 April 1995 Gedung Federal
Oklahoma Amerika Serikat hancur akibat ledakan truk berisi bom amoniak. Gedung
itu diledakkan penganut nazisme di Amerika Serikat. Uniknya, peledakkan itu berdasarkan
jalan cerita buku The Turner Diaries karya William L. Pierce. Dalam kasus ini,
ternyata ”bacaan wajib” pengikut nazisme itu
menjadi panduan teknis aksi peledakkan yang dimaksud.
Hubungan buku dengan imajinasi
yang mengubah perilaku pembacanya, juga terjadi di Jepang. Buku Issac Assimov
trilogi Foundation menginspirasi sejumah orang membentuk Sekte Kiamat. Pengikut
sekte ini melihat dunia nyata seperti Galaktic Empire, dunia dalam buku itu
yang karut marut dipimpin pemerintahan busuk. Karena mandeg, korup, dan
represif, para pemerintah di dunia ini mesti dienyahkan. Dengan buku ini sekte
kiamat menggunakan aksi terorisme dan teror bom sebagai strategi ”dakwahnya”.
Hubungan kisah fiksi dan
pembacanya, kadang memiliki hubungan unik tapi kerap juga ganjil. Kisah fiksi
betapa pun ia sederhana mampu menciptakan dunia buatan bagi pembacanya. Bagi
sebagian orang, dunia buatan fiksi sering dianggap jauh lebih nyata dan signifikan
mempengaruhi hidupnya. Itu artinya, suatu bacaan tidak lagi sekadar deretan
huruf menyusun paragraf demi paragraf saja, melainkan membentuk jalinan
jaringan makna yang mengisi dunia berdasarkan kebutuhan terdalam pembacanya.
Kisah Mort Rainey, meskipun fiktif ada benarnya. Buku mengubah takdir hidup orang-orang, kata Carlos Maria Dominguez, sastrawan Argentina.