: 09 September 2020
KATA peradaban dalam sejarah umat
manusia, kerap tidak netral. Bahkan menjadi termin yang diwarnai bau-bau kolonialisme. Demi nama peradaban,
Barat datang menganeksasi Timur, memperkenalkan cara pandangnya, dan di waktu
bersamaan menancapkan pengaruh demi kejayaan negerinya.
Relasi dunia Barat dan Timur, dua
spektrum dunia tidak saja berbeda tetapi saling bertolak belakang, menyebabkan
bias di mana-mana, terutama bagi Barat yang memandang tanpa dasar mengenai
stereotip yang ia lekatkan kepada Timur. Atas itu, kata peradaban, yang diprakarsai
Barat, tidak berarti kata tanpa konotasi kolonialisme, yang sebenarnya adalah
berisi siasat kebudayaan yang berkiblat di Barat. Barat selalu diandaikan
segalanya: ia superior, lebih maju, rasional, dan lebih beradab, sementara
Timur, negeri koloninya, senantiasa dinarasikan berdasarkan Barat melihatnya:
terbelakang, tidak beradab, dekaden, dan barbarian.
Dua variabel inilah, yakni
tegangan antara Barat dan Timur, yang kental, bahkan menjadi gagasan paradigma
dalam Waiting for the Barbarians (2020), film yang diisi aktor-aktor ternama
semisal Mark Rylance, Johnny Deep, Robert Pattinson, dan Gana Bayarsaikhan. Di
luar dari cerita dan para pemainnya, film ini layak diperhitungkan mengingat ia
digarap sutradara asal Kolombia Ciro Guerra, diadaptasikan dari novel pemenang
nobel sastra tahun 2003, J. M. Coetzee, dan diarahkan sinematografer berkelas macam Chris Menges
yang berhasil menyabet Oscar di kategori “Best Cinematography” untuk film The Killing
Fields dan The Mission.
Waiting for the Barbarians,
termasuk film bertempo lambat dengan jalan cerita berisiko membuat
bosan penontonnya, terutama mengenai apa alasan dan di bagian apa kelompok yang
disebut barbar bakal datang. Sepanjang film ini, kita dibuat bertanya-tanya dan
menantikan mengenai peristiwa paling ditunggu itu, dan nyatanya, arti dari judul film ini akan
terkuak di bagian akhir ceritanya, yang merupakan penghabisan adegan sebelum
kredit film ini naik tayang.
Tidak disebutkan di mana latar
belakang film ini, bercerita tentang suatu benteng kota perbatasan dikelilingi gurun pasir mahaluas, yang menjadi bagian dari suatu imperium.
Adalah seorang magistrat tua (Mark Rylance) sebagai pemimpin kota itu, yang
diperlihatkan sebagai kepala kota berperangai lembut, humanis dan berbudi
mulia. Di bawah kepemimpinannya kota itu menjadi medan pertemuan terbuka warga
lintas etnis, egaliter, dan membuat angka kriminalitas nyaris nol.
Sekalipun di balik tembok kota
itu beredar kabar mengenai suatu kaum disebut barbarian, yang konon kejam dan bengis hidup di hamparan
keganasan padang pasir luas, membuat Sang Magistrat tidak percaya dengan
prasangka berbau kolonial ini. Sang Magistrat mengyakini, selama mereka hidup
tak saling mengganggu, keamanan dan kerjasama antara mereka bukan hal utopis.
Kota tenang itu seketika mencekam
pasca utusan imperium bernama Kolonel Joll (Johnny Deep) berkacamata unik
datang menyelidiki potensi pemberontakkan suku-suku barbarian. Polisi utusan
imperium ini miskin kata-kata tetapi dingin, kejam, dan tanpa ampun.
Ia tanpa belas kasihan melakukan
pemeriksaan dengan metode penyiksaan fisik sampai membuat tahanan mati. Kolonel Joll mewakili imperium yang
berpandangan bangsa apapun di luar dari peradaban mereka adalah kelompok
barbarian, berbahaya dan berpotensi mengancam kedaulatan imperium. Meski hanya
sebentar, kedatangan Kolonel Joll cukup signifikan menanamkan ketakutan dan
kekhawatiran warga kota mengenai penduduk di luar dari peradaban mereka.
Selama adegan film ini berputar,
inti yang menggerakkan ceritanya adalah sudut pandang ambivalen antara Sang Magistrat dan Kolonel Joll. Sang Magistrat, di sela-sela
waktunya, kerap mendalami benda-benda, bahasa, dan budaya masyarakat asli
tempat kota itu berdiri. Ia bahkan mengoleksi manuskrip-manuskrip berkaitan
dengan kebudayaan lain di luar imperium, dan berusaha terbuka dengan kebudayaan
yang hidup di luar jauh perbatasan kota. Ia singkatnya, berpandangan siapa pun
dan kelompok apapun, meski itu merupakan kelompok nomaden, mesti
diperlakukan berdasarkan prinsip-prinsip
kedamaian dan kemanusiaan.
Sementara Kolonel Joll representasi bangsa penjajah, yang dingin, kaku, dan militeristik. Ia tidak
segan-segan melakukan berbagai cara demi membenarkan cara pandang kulturalnya
yang penuh prasangka negatif. Atas dasar superioritas itulah, bahkan, ia mesti
menggunakan pendekatan kekerasan saat mengintrogasi penduduk nomaden yang ia
katakan barbar.
Perbedaan pandangan ini, oleh
sutradara Ciro Guerra dibuat bernama kontemplatif tanpa menyuguhkan secara
langsung kekerasan baik dari Kolonel Joll, atau suku barbarian, yang
dipersangkakan bengis dan tanpa perasaan. Di titik ini, prasangka yang mewakili
pandangan Kolonel Joll, dibiarkan tanpa dasar acuan dan fakta empiris berupa
benar salahnya pandangan kebudayaan yang dinyatakan barbarian. Lama kelamaan,
tanpa sekalipun ada bukti mengenai apa yang disangkakan Joll, membuat cara
pandang ini layak dipertanyakan.
Dengan cara itu, meskipun
bertempo lambat, di waktu inilah penikmat film ini diberikan peluang untuk
merefleksikan siapa sebenarnya yang bertindak barbar, Joll bersama
pasukannya–yang suka menganiaya tahanan dan menangkap suku barbar, atau
suku-suku yang dipersangkakan sepihak oleh peradaban yang diwakilkan melalui
film ini.
Tidak dinampakkannya secara
langsung kekerasan, semisal model penyiksaan dilakukan Kolonel Joll, dapat
dianggap cara Ciro Guerra memainkan peran imajinatif penonton merekontruksi sendiri bagaimana kekejaman
Joll saat melakukan interogasi demi mencari kesaksian perencanaan
pemberontakkan suku barbarian, yang sebenarnya hanya rumor imperium belaka.
Kenyataan sehari-hari
Amin
Maalouf, sastrawan Lebanon mengatakan, ketimpangan dan ketidakadilan atas nama
budaya, yang menyebabkan kolonialisme Barat atas Timur, disebabkan karena hanya
soal identitas belaka. Agama, ras, dan suku adalah identitas semata, yang bagi
Maalouf tidak dipahami dengan baik sehingga karena itu masih sering membuat
orang menumpahkan darah hanya demi pengakuan.
Identitas adalah identik bagi
dirinya sendiri sehingga tidak ada satupun menyerupai dirinya. Meskipun ada
namanya atas nama keluarga, klan, suku, budaya, agama, dan nasionalisme
tertentu, tetap saja itu tidak menghapus keragaman identitas yang hidup
bersama-sama.
Identitas tiap individu, dan juga
nama yang lebih luas dari itu, dalam kenyataannya dibentuk dari ramuan berbagai
unsur. Dengan kata lain, catatan resmi berupa kartu tanda penduduk, tidaklah
cukup untuk ”mendefinisikan” suatu identitas dikarenakan keterikatannya yang
kompleks kepada pengalaman tradisi, kebiasan keluarga, cara pandang politik,
komunitas religius, profesi, atau ke dalam suatu institusi tertentu.
Itu artinya, di dalam dunia
harian, identitas lebih masuk akal diterima sebagai alih-alih pemberian
genetik, melainkan merupakan lebih sebagai hasil kreasi relasi kompleks sosio-kebudayaan. Dengan cara ini, identitas justru merupakan pakem-pakem yang
dinamis dan mudah berubah ketimbang mengyakininya sebagai ikhwal yang ajeg dan
final.
Barat dan Timur, atau Utara dan
Selatan, dua nama dua identitas sampai hari ini masih mewarnai percaturan
global. Persaingan budaya, ekonomi, dan politik, adalah medan tarung dua
identitas ini saling merebut pengaruh dan nama. Tidak jarang,
atas nama peradaban masing-masing, peperangan di antaranya tidak bisa
dielakkan.
Mungkin karena itu, tidak
sekalipun dalam Waiting for the Barbarians menyebut nama bangsa, tempat, waktu,
dan lokasi kota dan imperium Sang Magistrat dan Kolonel Joll berasal. Ini bisa
diartikan lebih jauh, kolonialisme bisa berasal dari mana saja dan siapa saja
selama ia mengagungkan membabi buta itu yang namanya identitas.
Sekelabat memang sering
ditampilkan atribut-atribut identitas berupa bendera, logo kerajaan, seragam
militer, dan arsitektur kota dalam film ini, tetapi tetap saja itu dibiarkan
anonim tanpa mencantol identitas dari mana-mana. Identitas, dalam film ini memang nyaris tidak
ada, yang bisa berarti seperti dinyatakan di atas.
Syahdan, adegan paling ditunggu dan mengundang tanya ada di bagian akhir, saat dari benteng kota nampak di kejauhan abu pasir naik ke udara seperti sedang terjadi badai, yang sebenarnya itu akibat deru ratusan atau ribuan kaki-kaki kuda pasukan suku ”barbarian”, saat datang menyerbu kota akibat ulah Kolonel Joll. Kota sudah amburadul dan kosong ditinggal Kolonel Joll dan pasukannya setelah dipukul mundur, dan tinggallah Sang Magistrat bersama penduduknya seorang diri menunggu kedatangan serbuan pasukan yang mirip pasukan Jengis Khan itu.