:28 Oktober 2020
A Separation (2011), Sutradara: Asghar Farhadi, Penulis Naskah: Asghar Farhadi, Pemeran: Leila Hatami, Peyman Moaadi, Shahab Hosseini, Babak Karimi, Sareh Bayat, Sarina Farhadi, Durasi: 123 menit
MENGUTIP Ekky Imanjaya dalam ulasannya atas film ini, A Separation adalah film drama rasa rollelcoaster
tanpa laga. Saya sendiri merasakan ketegangan itu, nyaris hampir di tiap adegan
filmnya.
Adegan dibuka dengan pertikaian Nader (Peyman Moaadi) dan
Simin (Leila Hatami) di persidangan, pasangan suami
istri diambang batas perpecahan. Simin bersikeras ingin bercerai setelah empat
belas tahun menikah. Simin ingin pergi meninggalkan Iran dengan alasan negeri
itu tidak bisa menjamin masa depan anaknya, Termeh (Sarinah Farhadi). Nader,
sebagai suami ragu dan menolak pergi lantaran berkewajiban merawat ayahnya yang
sudah uzur dan menderita alzheimer.
Itu masalah pertama. Masalah kedua dan makin menjadi lebih
runyam ketika Nader mempekerjakan perempuan hamil sebagai pembantu untuk merawat
ayahnya, yang kelak keguguran setelah mereka terlibat pertikaian pasca Razieh (Sareh
Bayat) lalai menjaga ayah Nader (Ali-Asghar Shahbazi).
Dari sini, Nader mesti menghadapi lagi persidangan, yang kali
ini karena ia dituduh telah membunuh anak Razieh yang keguguran.
Persidangan demi persidangan digelar, yang makin melibatkan
keluarga kecil Nader ke dalam konflik makin dalam. Tidak saja tentang konflik keluarga, plot
cerita tanpa diduga menjelma kepada masalah yang melibatkan dua keluarga
sekaligus, terlebih lagi masing-masing keduanya, yakni keluarga Nader dan
Razieh, melibatkan anak-anak ke dalam pusaran konflik ciptaan orangtua mereka.
Ketika penonton disuguhkan konflik sejak scene pembuka, dan didesak untuk berpihak
di antara Nader atau Simin, tersirat film ini bakal menyuguhkan drama keluarga
di seputar masalah parenting. Umumnya relasi parenting mendudukkan orangtua
mesti bertanggung jawab mendidik anak-anaknya. Tapi, di film ini, parenting
lebih ditonjolkan sebaliknya, terutama dari peran diambil Nader saat merawat
ayahnya.
Dari gelagatnya Nadir sangat menyayangi ayahnya. Apapun akan
ia lakukan demi memiliki waktu untuk merawatnya. Nanti, dapat diketahui,
konflik tidak berujung dihadapi keluarga Nader adalah kekhawatirannya jika
berkata jujur dalam peradilan, yang akan membuatnya masuk penjara dan otomatis
tidak akan ada orang yang akan merawat ayahnya.
Keberpihakan Nader atas masa tua ayahnya, bukan saja simpati yang normal dimiliki sang anak kepada orangtuanya, melainkan suatu pilihan yang dapat ditelusuri ke dalam riwayat-riwayat agama mengenai nilai keutamaan pengkhidmatan kepada orangtua. Dari kacamata ini, Farhadi begitu menonjol memperlihatkan tradisi keluarga Iran tentang tanggung jawab anak kepada orangtua, meskipun di saat bersamaan mengalami benturan dengan kepentingan istrinya.
Kekuatan parenting inilah yang juga menjadi relasi kompleks antara tokoh-tokoh dalam film ini, yang uniknya karena itulah konflik dalam film ini berasal. Menariknya untuk film ini, jika masalah Nader dilimpahkan ke dalam sistem masyarakat Barat, besar kemungkinan Nader bakal cepat keluar dari dilema keluarganya, mengingat di Barat, orangtua uzur kerap dilimpahkan dan dititip ke dalam sistem pengawasan institusi sosial semisal panti jompo.
Film yang naskahnya ditulis Asghar Farhadi ini kelihatan
begitu matang membangun ceritanya. Konflik yang awalnya bermula dari pasangan Nader
dan Simin, bakal menjaring semua tokoh dalam film ini, yang masing-masing
memiliki alasan kuat mempertahankan
pendiriannya saat mengalami konflik satu sama lain. Sangat jelas kekuatan film
ini ada pada tokoh-tokohnya yang mengambil porsi nyaris setara dalam membangun
ceritanya.
Dalam suatu ulasan, Bradley Weir untuk The Film Magazine,
menulis munculnya tema Barat vs. Timur dalam naskah Farhadi yang diwakillkan
melalui keluarga Nader dan Razieh. Weir
menulis keluarga Razieh mewakili keluarga kuno dalam sistem masyarakat Iran
yang religius dan taat kepada para Imam 12 Syiah, sementara keluara Nader lebih
menonjolkan semangat Barat yang lebih modern dan dinamis, setidaknya dari
harapan Simin yang menjadikan Barat sebagai tujuan hidupnya.
Konflik mengenai Timur vs. Barat ini kuat dugaan juga adalah konflik yang menjadi masalah tersendiri di Iran. Sudah lama diketahui, Barat di mata masyarakat Iran, terutama setelah revolusi Islam Iran 1979, kerap dipandang sebagai representasi kemunduran dan dekadensi.
Representasi pertikaian ideologis ini diangkat Farhadi dengan cara yang unik, melalui dua tradisi keluarga Iran yang masing-masing menarasikan dua mazhab ideologi kebudayaan berbeda.
Meskipun demikian, konflik ini tidak semuanya soal Barat dan
Timur, melainkan lebih kepada masing-masing pendirian tokohnya. Simin ingin
meninggalkan Iran mungkin tampak egois, itu karena keyakinan itu langkah yang
tepat untuk seluruh keluarga; sementara Nader mungkin adalah karakter paling
simpatik karena kerumitannya tidak hanya dengan pernikahannya, tetapi juga
ayahnya, dan dapat dimengerti enggan meninggalkan ayahnya dalam kondisi seperti
itu; sementara putri mereka (yang umumnya menyukai ayahnya) terjebak di antara
pertikaian kedua orang tuanya.
Namun, pengasuh Raziehlah yang tidak diragukan lagi
merupakan karakter paling kompleks; dia terus-menerus mengalami dilema
sekaligus lelah secara mental dan fisik. Tidak hanya dia berurusan dengan ayah
Nader dan drama keluarga yang mengelilinginya, tetapi juga suaminya yang tidak
menentu, Hojjat (diperankan oleh Shahab Hosseini, yang membintangi film
pemenang Oscar lainnya Farhadi dekade ini, The
Salesman).
A Separation
adalah salah satu film luar biasa dalam satu dekade ini. Film yang canggih
menceritakan ketegangan sebuah keluarga yang berusaha bertahan diambang
kehancurannya. Meskipun tanpa spesial efek bahkan tanpa ada satupun sountrack
musik mengalun dalam film ini, berkat konsep cerita dan serta karakternya yang
kuat, membuatnya menjadi film Iran pertama yang diganjar penghargaan Oscar
untuk kategori Film Berbahasa Asing Terbaik pada tahun 2012.