Deerskin: Sisi Impulsif Manusia, dan Mati Seperti Rusa Buruan

 

:15 Oktober 2020

 

French: Le Daim. Directed by Quentin Dupieux. Produced by Mathieu Verhaeghe, Thomas Verhaeghe. Written by Quentin Dupieux. Starring Jean Dujardin, Adèle Haenel. Music by Janko Nilović. Cinematography Quentin Dupieux. Edited by Quentin Dupieux. Production company: Atelier de production Arte Cinema, Nexus Factory, Umedia, uFund, Garidi Films. Release date: 15 May 2019 (Cannes), 19 June 2019 (France). Running time 77 minutes

 

INILAH film yang mencerminkan sisi narsistik, obsesif, dan impulsif manusia. Adalah Georges, yang selama hidupnya terobesi memiliki jaket impian dari kulit rusa. Meskipun bergaya jadul ala jaket koboi, ia rela menebusnya seharga 7500 euro dari seorang pria tua.
Setelah mendapatkan jaket impiannya itu, seketika membuat hidup Georges menjadi kere. Ia pergi di tepi kota, tinggal di sebuah hotel dan membayar menggunakan cincin pernikahannya di meja resepsionis. Ia juga mesti mengais-ngais makanan di tempat sampah untuk mengisi perut laparnya. Sang istri baru meninggalkannya dan memblokir kartu kredit mereka, keadaan yang memperparah kemiskinan Georges.
Georges diperankan oleh Jean Dujardin, dikenal kala memenangkan Oscar untuk Aktor Terbaik, lewat perannya di The Artist (2011). Dengan apik Jean memerankan Georges yang narsistik, dingin, dan impulsif. Georges tidak berhenti bercermin; di emperan toko, kaca mobil, di dalam kamar; di mana pun ia bertemu cermin di situlah ia bak seorang model yang tidak berhenti memandangi jaket barunya.
Kekonyolan Georges ini bisa mengundang gelak tawa apalagi setelah ia kemana-mana menggunakan topi, celana, sepatu, dan sarung tangan dari kulit rusa. Sepintas ia mirip seorang koboi tanpa kuda, yang menggunakan jaket berumbai berwarna cokelat. Meski begitu, adegan-adegan selanjutnya berubah menjadi kengerian yang ganjil karena didorong oleh cita-cita yang juga tidak kalah ganjil. Georges bercita-cita ingin menjadi satu-satunya pemakai jaket di dunia.
Demi merealisasikan kenginaannya itu,  Georges bergerilya mencari siapa saja yang menggunakan jaket. Berlagak seperti seorang pembuat film, ia merekam aksinya dengan cara menyuruh orang-orang melepaskan jaketnya.

Aku berjanji tidak akan menggunakan jaket lagi di sepanjang sisa hidupku,” begitu ia menyuruh siapa pun mengucapkan ”sumpah jaketnya” di depan kamera.
Di sela aksinya, setiap malam, Georges kerap singgah ke sebuah bar. Di situ ia berkenalan dengan Denise (Adèle Haenel) yang bekerja sebagai bartender. Kepada Denise, George mengaku berprofesi sebagai sineas. Kebohongan itu makin dalam, karena Denise, ternyata bercita-cita menjadi editor, mulai terlibat di dalam ”pekerjaan” Georges.
Singkat cerita, kebohongan Georges memaksanya terus merekam melanjutkan “produksi filmnya”. Keinginan anehnya menjadi satu-satunya pemakai jaket di dunia, membuat George bertindak brutal. Kali ini tidak sekadar mengambil paksa jaket orang-orang, tapi membunuh secara sadis siapa saja yang ia temukan sedang memakai jaket.
Deerskin (2019), bukan saja film beraroma kengerian, olok-olok, dan sindiran, terutama kepada konteks kehidupan pemuja rasionalitas, logika, dan nilai barang-barang, melainkan memasukkan unsur surealisme di dalamnya. Di mana lagi kita  menemukan ada jaket dapat berbicara dan menginspirasi Georges melakukan kebrutalan di luar akal sehat.
Nyatanya, meski ada sebuah tulisan menyatakan film ini adalah arena bermain Quentin Dupieux, dengan memasukkan unsur komedi, absurditas, dan horor ke dalam filmnya, dan tak memiliki substansi apa-apa, film ini  justru di satu sisi secara bersamaan menyisipkan banyak pesan.
Kegilaan terhadap barang-barang, dan cenderung impulsif untuk memilikinya adalah salah satu pesan utama film ini. Apakah itu kedengaran familiar?

Di adegan terakhir, dari jarak jauh menggunakan senapan, Georges mati ditembak ayah dari pemuda bisu yang pernah ia lempari batu. Adegan ini mengingatkan kita kepada seorang pemburu rusa, yang menang setelah menembak mati rusa buruannya.