: 07 Oktober 2020
Directed by: Lee Chang-dong. Produced by: Myeong Gye-nam, Makoto Ueda. Screenplay by: Lee Chang-dong. Starring: Sol Kyung-gu, Moon So-ri, Kim Yeo-jin. Cinematography: Bobby Shore. Editing: Kim Hyun. Distributed by: Shindo Films, Cineclick AsiaMusic: Lee Jae-jin. Country: South Korea
JALAN
adegan Peppermint Candy (1999) dibuka melalui akhir ceritanya. Teknik foreshadowing namanya jika dalam
penulisan karya sastra. Membocorkan spoiller
dari awal memang cukup berisiko, tapi jika dikemas apik maka akan
memberikan intensi berbeda bagi pembaca, dan dalam konteks tulisan ini adalah
penonton film besutan Lee Chang-dong ini.
Yongho
(Sol Kyung-gu) datang dan bertingkah seperti orang frustasi dalam reuni sekolah tahun 1998, di pinggir
sungai Han. Seperti orang gila, ia berteriak-teriak, menari, dan masuk ke dalam
sungai. Tidak lama kemudian ia naik ke atas rel kereta api dan bersiap bunuh
diri.
”Aku
kembali!!!”, teriak Yongho sesaat sebelum kereta menghantam tubuhnya. Ada apa dengan Yongho? Mengapa ia begitu frustasi dan bunuh diri? Apa sebabnya?
Dari sini scene
film berjalan mundur ke belakang. Babakan waktu yang tidak linear ini ibarat pekerjaan seorang ahli jiwa, menelusuri jauh ke dalam memori seseorang demi menggali kepingan-kepingan peristiwa signifikan yang menjadi simptom segala persoalan.
Film ini dipandu melalui metafora kereta api yang berjalan mundur ke belakang, kembali ke kehidupan 3 hari sebelum Yongho bunuh diri,
kemudian lima tahun sebelumnya, tahun 87, 84, sampai tahun 80, ketika Yongho masih
muda dan menjadi tentara tingkat pemula.
Kilas
balik kehidupan Yongho adalah representasi kecamuk kehidupan manusia di bawah
bayang-bayang gagasan berupa kapitalisme, militerisme, dan politik.
Di
hadapan tiga narasi ini, kepribadian Yongho menjadi hancur lebur. Pasca menaruh
harap atas ketiganya, tawaran untuk kehidupan makmur, sejahtera, dan aman, tak
kunjung ia peroleh. Imbas krisis Asia tahun 1997 membuat bisnisnya merosot
tajam dan ditipu rekan bisnisnya, rumah tangganya hancur, dan bertahun
sebelumnya bekerja menjadi polisi tukang interogasi membuatnya semakin jauh dari
pekerjaan impian masa mudanya, menjadi tukang foto.
Puncak
kompleksitas masalah Yongho, bersumber jauh di masa muda, di tahun 80-an. Saat
ia menjadi tentara pemula yang dipaksa negara menjadi pemburu aktivis pro
demokrasi. Saat itu situasi politik Korea memanas. Pusatnya di Gwangju setelah
mahasiswa pelajar membentuk front perlawanan dan menggelar aksi besar-besaran
terhadap rezim militeristik Jenderal Chun Doo-hwan.
Kepolosan
Yongho di fase ini begitu kuat mencerminkan kepribadiannya. Ia saat ini adalah
seorang pemuda polos, tapi terpaksa menjadi tentara karena wajib militer. Saat
operasi dadakan mengejar demonstran mahasiswa tanpa sengaja ia membunuh seorang
perempuan muda, yang membuatnya terpukul bukan main. Kelak kepolosan ini berkonfrontasi
dan hilang berubah menjadi sinisme saat ia berprofesi sebagai polisi. Dampak
traumatik ini berlanjut mempengaruhi hubungan asmaranya, yang akan
mengubah persepsinya tentang perempuan, dan istrinya setelah kedapatan berselingkuh.
Babakan
demi babakan kehidupan Yongho, tidak pernah sama sekali menyiratkan kebahagiaan
seperti dambaan semua orang. Kebahagiaan saat itu demikian mahal di tengah
peristiwa-peristiwa besar yang melatarbelakangi kehidupan Yongho. Pembantaian
Gwangju tahun 1980, menguatnya rezim militeristik di tahun berikutnya, dan
krisis keuangan di tahun 1990-an adalah gejolak dunia saat itu yang memporakkan
kepribadiannya.
Sampai
di sini jelas apa pesan Lee Chang-dong melalui film ini. Walaupun lawas, film
ini masih patut dinikmati berkat penuturan kembali mengenai apa itu hukum besi waktu.
Manusia adalah makhluk kecil bentukan kemelut sejarah, yang membuatnya berubah melalui
beragam peristiwa, termasuk di dalamnya realitas ekonomi dan politik kekuasaan.
”Tidak
diragukan lagi bahwa ’Green Fish’ dan ’Peppermint Candy’ mengacu pada masalah
politik dan ekonomi Korea. Tapi itu bukan fokus utama saya. Minat utama saya
selalu manusia. Saya yakin film adalah media terbaik untuk menunjukkan sesuatu
tentang manusia,” ungkap Lee Chang-dong seperti dikutip melalui Asia Society.