Offside: Sepak bola, Gender, dan Nasionalisme

 10 Maret 2021

 

Directed: Jafar Panahi. Written: Jafar Panahi, Shadmehr Rastin. Starring:   Shima Mobarak-Shahi, Safar Samandar, Shayesteh Irani, Ayda Sadeqi, Golnaz Farmani, Mohsen Tanabandeh. Music: Yuval Barazani. Cinematography: Rami Agami. Mahmoud Kalari. Release date: 17 February 2006. Running time 93 minutes. Country: Iran


TIDAK semua perempuan di dunia ini berkesempatan menonton pertandingan sepak bola, dan merasakan atmosfer stadion saat tim kesayangan sedang berlaga; ikut menyanyikan lagu kebangsaan; meneriakkan yel-yel kesebelasan; mengibarkan syal kebesaran tim; dan merasakan adrenalin bak roller coaster di sepanjang pertandingan.

Di Iran, jika Anda seorang perempuan, semua itu hanya bisa Anda lakukan jauh dari stadion, dan melakukannya hanya dari rumah melalui layar Tv.

Lalu, apa serunya jika antusiasme itu hanya bisa dialami sendirian dari rumah?

Karena itulah Anda mesti bertindak nekat, sama seperti perempuan-perempuan muda Iran dalam Offside (2006) film besutan Jafar Panahi, yang bercerita banyak hal, terutama kebebasan perempuan melalui sepak bola, yang berani menerobos penjagaan berlapis untuk dapat menonton sepak bola langsung dari tribun stadion.

Di sepanjang film ini, perempuan tidak saja menjadi objek aturan ketat otoritas Iran yang melarang perempuan menonton sepak bola dalam stadion, tapi menjadi subjek yang menyuguhkan ironi dan suara kebebasan perempuan melalui bidikan kamera arahan Jafar Panahi.

Bisa dipastikan, pengambilan gambar Offside dilakukan langsung saat Iran sedang menghadapi Bahrain di babak kualifikasi, 8 Juni 2005 di Stadion Azadi kota Teheran. Saat itu Iran sedang menghadapi laga hidup mati agar dapat lolos berlaga di Piala Dunia 2006 Jerman.

Kurang lebih seperti film dokumenter, Offside arahan Panahi menyuguhkan salah satu problem mendasar di negara-negara yang menempatkan agama sebagai basis ideologi kenegaraan.

Diketahui bersama, sejak Revolusi Islam Iran 1979, Islam tidak saja menjadi agama resmi dan mayoritas, yang mendasari sikap batin masyarakat Iran, tapi juga dilembagakan menjadi aturan normatif negara.

Islam di Iran, dengan representasinya yang tinggi menjadi alasan otoritas di sana untuk mengatur seluruh dimensi kehidupan masyarakat, yang juga berarti ada perlakuan aturan khusus antara laki-laki dan perempuan terutama saat di tempat-tempat umum.

Meski sebagian besar masyarakat Iran menyetujui hal itu, tapi tidak bisa dimungkiri tetap saja masih ada kelompok-kelompok masyarakat di sana yang masih menentang pemberlakuan Islam sebagai dasar negara. 

Demokrasi atau kesetaraan perempuan masih menjadi isu panas ketika Iran dianggap terlalu birokratis dalam mengatur kehidupan publik masyarakatnya.

Offside menangkap itu dan menyuguhkannya melalui protes perempuan dalam bentuk pemberontakan menjadi penonton laki-laki. Sepakbola bukan saja olahraga khusus laki-laki, tapi ia merupakan tontonan universal bagi umat manusia.  Kegembiraan menyaksikan pertandingan  mesti pula dirasakan oleh perempuan, dan terlalu berlebihan jika menggunakan konsep-konsep religius untuk mengaturnya.

Itu sebabnya, perempuan juga berhak menyaksikan sepakbola, meski seperti dilakukan perempuan muda dalam Offside yang menyamar menjadi lelaki agar dapat setara di bangku stadion.

Dalam konteks itu, Offiside menyisipkan adegan dan dialog-dialog berdaging di beberapa waktu, yang dapat memantik diskursus gender dan keadilan terhadap perempuan di ruang publik.

Seperti saat adegan salah satu perempuan muda yang ingin buang air kecil, dan saat itu ia menjadi korban fasilitas umum yang didirikan khusus hanya untuk laki-laki, yang dengan kata lain tidak ada toilet perempuan di tempat itu (si perempuan mesti menutup mukanya mengggunakan topeng poster hanya untuk ke toilet agar tidak ketahuan).

Di saat itu, menariknya, di sisi lain kita bisa menemukan pengertian lain bagaimana perempuan di negeri itu dihormati dan dalam arti tertentu disakralkan, yang diperlihatkan dalam adegan toilet itu, di mana sang tentara terlihat berupaya melindungi kehormatan sang tahanan perempuan saat berada di dalam toilet lelaki.

Isu gender ini, kelak akan meluruh juga disebabkan pesan nasionalismenya. Sepakbola di waktu-waktu tertentu, tidak sekadar olahraga tanpa mencantol ikutannya berupa kecintaan terhadap tanah air, nuansa yang sebenarnya ikut menjadi pesan utama di sepanjang film ini.

Dari kaca mata sang tentara, yang sepanjang pertandingan bertugas menjaga para pelangar perempuan di semacam kerangkeng, nasionalisme merupakan kewajiban yang inheren di dalam tugas mereka selama pertandingan. Kepatuhan dan kesetiaan terhadap tugas, dan dengan mati-matian mereka berusaha menjaganya, tidak bisa mereka tolerir meski di sepanjang film mereka terus menerima provokasi dari para tahanan perempuan pecinta sepak bola.

Sementara itu, tiada yang lebih menggairahkan jika nasionalisme dirayakan melalui kulit bundar, yang memantik ke enam perempuan muda mengekspresikannya dengan cara tidak biasa. Kelak, meski mereka menjadi tahanan setelah melanggar aturan perlakuan khusus, nasionalisme lah yang membuat mereka teralihkan dari keadaan mereka yang sebenarnya. Cinta terhadap sepak bola lah (dan negaranya) yang mengatasi perasaan mereka sebagai seorang perempuan yang sedang ditahan oleh otoritas polisi susila.

Gagasan film ini yang berkelindan sedemikian rupa dengan cara Panahi mempertajamnya melalui dialog pemainnya,  tetap saja akan kembali kepada isu kesetaraan perempuan sebagai ide besarnya.

Dan karena itu membuat film ini dilarang diputar di negerinya sendiri karena memang saat itu, pengambilan gambar dilakukan tidak dengan seizin pemerintah Teheran. Dengan kata lain film ini dibuat dengan cara sembunyi-sembunyi.

Jafar Panahi adalah salah satu pembuat film Iran dengan pendekatan neo-realis yang masuk sebagai daftar merah. Itu membuatnya mendapatkan pengawasan ketat dari otoritas Iran. Ia sempat dipenjara dengan ”alasan-alasan khusus”, meski film-filmnya kerap mendapatkan sambutan baik dari publik internasional.

Film yang diinspirasi dari anaknya sendiri ini, yang kerap menyamar menjadi laki-laki demi bisa menonton langsung dari stadion, uniknya tidak sama sekali menunjuk tokoh utama sebagai pusat ceritanya. Sepanjang film, cara Panahi menyuguhkan persoalan sebenarnyalah yang menjadi nilai lebih dari film ini. Dengan dialog yang intens antara para pemainnya, menunjukkan satu soal menyangkut kedudukan perempuan di negeri para mullah ini.

Di Iran, izin menyaksikan sepak bola bagi perempuan di stadion baru dibuka akhir 2019 lalu, setelah terjadi insiden bakar diri seorang perempuan bernama Sahar Khodayari, yang terancam penjara karena menerobos aturan ketat penonton perempuan saat ingin menyaksikan klub kesayanganya berlaga di Liga Champion Asia. Ia melalukan tindakan nekat itu di depan gedung pengadilan yang  membuatnya meninggal dunia setelah dirawat di rumah sakit pada tahun yang sama.

Syahdan, Offside memiliki keunikan yang patut diperhatikan, tanpa pernah disebutkan nama ke enam perempuan penggila bola, film ini menyuguhkan kritik tanpa mesti menggamit atau mengikutkan nama aktivis perempuan di dalamnya. Boro-boro film ini menampilkan tindakan heroik aktivis perempuan, justru hanya dengan perempuan muda yang sangat menggilai sepak bola.