: 4 Februari 2020
Genre: Drama. Produses: Ramin Bahrani, Mukul Deora. Penulis naskah: Ramin Bahrani. Pemain: Adarsh Gourav, Rajkummar Rao, Priyanka Chopra Jonas, Vedant Sinha. Tanggal rilis (Streaming): 22 Januari 2021. Durasi film : 2 jam 6 menit. Perusahaan produksi: Lava Media, NetflixPerusahaan produksi: Lava Media, Netflix
Siapa
yang ingin jadi kuli seumur hidup dan hanya sanggup tidur beralaskan tikar
selamanya, sementara sebagian lainnya tanpa harus banyak membuang keringat
dapat tidur menggunakan kasur permadani. Siapa yang mau putus sekolah,
sementara banyak juga orang dengan mudah melanjutkan pendidikannya sampai ke
luar negeri. Siapa juga mau, dipandang remeh selamanya jika ada orang yang
tidak berbuat apa-apa tapi mendapatkan kehormatan selama tujuh generasi.
Dalam
studi ilmu-ilmu sosial, kemiskinan sering dilihat dan disebabkan faktor
struktural dan kultural. Faktor struktural memandang kemiskinan adalah realitas
ciptaan struktur ekonomi dan kekuasaan. Masyarakat miskin tidak dengan
sendirinya miskin karena sengaja dimiskinkan.
Sedangkan
faktor kultural menyatakan sebaliknya, kehidupan ini baik-baik saja, sehingga
kemiskinan ini soal mental. Banyak orang terjerat kemiskinan karena mereka memang
malas dan enggan bekerja.
Balram
Halwai, dalam The White Tiger adalah tipikal orang yang tidak mudah putus asa.
Ia bukan orang bemental malas, kurang bersih, tidak disiplin, dan bodoh, suatu
karakter masyarakat miskin tipikal pandangan yang mengatakan kemiskinan adalah
melulu masalah kultural.
Ya, The
White Tiger bisa dibilang film berlatar kehidupan masyarakat miskin India
dengan nuansa satir, yang membantah dengan cara mempermainkan persepsi mengenai
kemiskinan seperti yang jadi keyakinan kelas elite selama ini.
Kemiskinan
selama ini bukan keadaan yang terbentuk secara alami, sama seperti terbaginya
kelas masyarakat menjadi dua kelas utama: si kaya dan si miskin, yang dalam The
White Tiger, gamblang dinarasikan melalui si narator, yakni Balram Halwai
sendiri.
Di India,
kemiskinan bisa lebih parah lagi dikarenakan keadaan ini dikukuhkan melalui
sistem kasta yang telah berlaku berabad-abad lamanya. Jika konsep ketuhanan
menjadi tolok ukur hirarki masyarakat, di India terdapat 36 juta dewa-dewi yang
berarti sebanyak itu pula derajat kasta dalam masyarakat India.
Kisah
The White Tiger merupakan perjalan kehidupan Balram Halwai, yang semula adalah
bagian dari masyarakat miskin di desa Laxmangarh, dan selanjutnya melakukan
tindakan kriminil yang membuatnya menjadi juragan taksi hanya dalam jangka
waktu tiga tahun.
Tindakan
kriminil apa yang dilakukan Balram, yang membuatnya seketika kaya raya, yang
otomatis membuatnya menjadi buronan, meski akhirnya itu tidak betul-betul
terjadi?
Di
sinilah saya sarankan Anda segera menonton dan merasakan sendiri, bagaimana
kemiskinan, seperti yang dirasakan Balram, bisa berubah menjadi balas dendam
kelas, yang membuatnya bertindak di luar dugaan dengan melegitimasi kelakuan
itu sebagai haknya untuk merebut kesejahteraan yang selama ini dirampas kaum
kaya.
Kemiskinan kandang ayam
Bocoran
saja, white tiger adalah sematan seorang pejabat distrik di desa Balram kepada
dirinya saat menyaksikan kecerdasan Balram membaca tulisan berbahasa Inggris di
atas papan tulis. Ia satu-satunya murid yang bisa membaca di kelas tanpa bangku
dan meja itu, dan hanya beralaskan tanah.
Disebut
harimau putih karena dari sekian generasi harimau, hanya ada satu harimau putih
yang akan dilahirkan alam. Dan di desa Balram, dialah White Tiger-nya, satu
anomali di antara realitas kemiskinan yang mengepungnya.
Sayang,
meski dijanjikan beasiswa melanjutkan pendidikan di luar dari desanya, Balram
gagal menggunakan kesempatan emas itu lantaran masalah finansial. Jadilah ia
kuli di warung kopi sebagai pemukul bahan bakar berupa arang hitam.
Kemiskinan
masyarakat India dalam narasi Balram sama seperti kandang ayam yang
memenjarakan masyarakat miskin di dalamnya. Masyarakat miskin India adalah ayam
potong, dan seekor ayam potong sampai kapan pun tidak akan bisa keluar dari
takdirnya. Dikurung bersama ayam-ayam lainnya dan akan mati diujung pisau
tukang sembelih. Ini hanya masalah waktu saja.
Balram
tidak ingin menjadi satu di antara jutaan ayam-ayam yang hidup di dalam kandang
kemiskinan, dan akan siap dilumat oleh kaum kaya yang menikmati darah dan
keringat mereka.
Dan
kesempatan itu datang setelah ia melamar menjadi sopir pribadi anak tuan tanah
di desanya. Menjadi pelayan setia, sehingga di tengah cerita menjadi pribadi
yang cerdas tapi lumayan licik mengubah nasibnya. Di saat inilah kelak, ia akan
menjadi harimau putih, dengan melumat majikannya, tuan yang menganggapnya jinak
dan setia.
Perpaduan Taxi Driver, Joker, dan
Parasite
The
White Tiger selain dibintangi Adarsh Gourav yang berperan sebagai Balram
Halwai, juga diperankan Rajkummar Rao sebagai Ashok, dan Priyanka Chopra
sebagai Pinky. The White Tiger disutradarai dan ditulis oleh sineas
Iran-Amerika Ramin Bahrani dan diadaptasi dari novel berjudul serupa karya
Arvind Adiga, dan menjadi film pembuka tahun 2021 bagi Netflix.
Sejak
awal, narator yakni Balram sendiri, sudah mengetengahkan nuansa mengejek kepada
kaum kaya yang selama ini menganggap diri sebagai kelas mapan, yang dalam
kacamata Balram kerap mengambil keuntungan melalui tindakan korup. Intonasi dan
gaya berceritanya menyiratkan penekanan bahwa kaum miskin tidak selamanya dapat
diperlakukan semena-mena meskipun mereka tidak memiliki apa-apa. Kaum miskin
tidak sebodoh anggapan kelas elite, begitu singkatnya.
Plot
demi plot melalui jalan hidup Balram menyiratkan gaya bercerita yang sama
seperti Travis Bickle, seorang sopir taxi dalam Taxi Driver (1976) yang
diperankan Robert De Niro. Tapi, dengan aura marah dan kecewa terhadap
kehidupan yang umumnya dibangun di atas korupsi, ketidakadilan, dan kesenjangan
sosial, yang berhasil ia balaskan dendamnya, juga lebih mirip dengan nuansa
satiris yang ditemukan dalam sosok Arthur Fleck di film Joker yang sukses
dibintangi Joaquin Phoenix 2019 lalu.
Kemiskinan,
kekalahan, depresi, dan seluruh masalah yang ditimbulkan peradaban yang membagi
masyarakat menjadi berkelas-kelas mendorong Balram melakukan pembunuhan dengan
menggelapkan uang majikannya.
Bagaimana
mungkin, selama menjadi supir, ia malah sering mengantar majikannya melakukan
transaksi politik demi melancarkan urusan bisnis, dan di saat itu hampir tiap
hari ia melihat uang dalam jumlah besar bertas-tas yang dipakai sebagai uang
pelicin. Di titik ini kemiskinan dan politik menjadi demikian berjarak, dan itu
dilihat Balram sebagai kenyataan pahit.
Dari
sisi ini, penonton diam-diam diajak memahami tindakan Balram yang tidak
sepenuhnya dapat disalahkan. Balram, seperti juga Joker, adalah bisa bertindak
di luar dugaan dikarenakan disituasikan melalui kehidupan yang tidak berpihak
kepada mereka.
Kecerdasan
dan kelicikan yang diramu Balram, dan membuatnya dapat memanfaatkan situasi
untuk keluar dari jerat kemiskinannya, mengingatkan juga kepada keluarga Kim
Ki-taek dalam Parasite (2019). Dengan memanipulasi kehidupan majikannya,
keluarga Kim Ki-taek menggunakan segala macam cara demi mengubah keadaan
ekonomi keluarganya. Tidak jauh berbeda dengan itu, Balram melakukan cara yang
lebih radikal lagi dengan membunuh majikannya.
Anti kolonialisme
Dari
beberapa ulasan mengenai film ini, ada
yang menurut saya luput dinyatakan, yakni isu anti kolonialisme di
negara-negara dunia ketiga. Padahal, sejak awal narasi yang diceritakan Balram
sudah menyindir ini dan menjadikan hal ini sebagai background narasinya. Masa
depan dunia bukan lagi milik kaum kulit putih, melainkan kaum kulit kuning dan
cokelat. Yang dimaksud Balram dalam hal ini adalah negeri-negeri di kawasan
Asia, dan itu adalah India dan Cina.
Jadi
dapat dirasakan bagaimana narasi kemiskinan yang melekat dalam kehidupan Balram
dan berjuta-juta masyarakat India (begitu juga di negeri belahan dunia ke-3)
merupakan dampak tak terhindarkan dari sistem ekonomi global yang sering
disebut kapitalisme.
Memang
tidak ada kata kapitalisme dalam film berdurasi 127 menit ini, melainkan
sosialisme yang menjadi latar seorang tokoh politisi. Tapi hubungannya bukan
dengan itu, karena itu hanya dijadikan scene latar di desa Balram dan ketika
ditampilkan adegan yang menyangkut itu, malah si tokoh sosialis ini main serong
juga dalam politik elektoral.
Isu
kapitalisme versus sosialisme tidak begitu tampak untuk mengatakannya tidak ada
dalam film ini. Dan memang film ini tidak gamblang dan tidak berbicara dalam
konteks tentang itu, meskipun itu akan keluar juga jika para penonton lebih
duluan akrab dan melihatnya dari sudut pandang studi-studi kritik ideologi ala
marxian.
Tapi,
ketika Balram gamblang di awal-awal menyebut isu warna kulit, dan pada bagian
ini lumayan kental unsur pertentangannya, maka dapat juga film ini membawa
penontonnya untuk memasuki suatu perbincangan mengenai isu-isu anti
kolonialisme.
Dari perspektif ini, dapat diartikan pula siapa sesungguhnya harimau putihnya, yakni India itu sendiri dengan segala pencapaiannya saat ini, yang bakal menerkam balik dunia global dan memimpin perekonomian dunia.
Terbit pertama kali di Kalaliterasi.com