Tiga Orang Bodoh dan Kritik Pendidikan Melalui Paulo Freire

 

23 Maret 2021

 

Sutradara: Rajkumar Hirani. Produser: Vidhu Vinod Chopra. Skenario: Abhijat Joshi. Pemeran: Aamir Khan, Madhavan, Sharman Joshi, Kareena Kapoor, Boman Irani, Omi Vaidya. Sinematografi: C. K. Muraleedharan. Tanggal rilis: 25 Desember 2009 (India). Durasi: 170 menit

 

Cerita 3 Idiots (2009) adalah kisah kediktatoran pendidikan kampus, meski tidak diembel-embeli kekuatan militer ala negara.

Tapi, film ini juga bercerita mengenai kisah persahabatan tiga orang ”bodoh” yang membuat ulah di tempat mereka menimba ilmu, di kampus teknik bergengsi bernama Imperial College of Engineering (ICE). Mereka adalah Farhan Qureshi (Madhavan), Raju Rastogi (Sharman Joshi) dan ”Rancho” Shamaldas Chanchad (Aamir Khan). Nama yang terakhir ini adalah tokohnya, yakni yang paling ”bodoh” di antara seantero kampusnya.

Lalu siapa ”diktatornya”? Tiada lain tiada bukan adalah rektor mereka sendiri, yang bernama Profesor Viru ”Virus” Sahastrabuddhe (Boman Irani). Bukan tanpa sengaja jika penampakan rektor ini mirip muka Adolf Hitler dengan ciri khas kumisnya, yang mengesankan bahwa orang ini adalah raja di istananya yang sebenarnya adalah kampus itu.

Profesor Virus adalah sosok yang disiplin nyaris menyerupai mesin yang tidak berperasaan. Cara ia memimpin kampus persis seperti seorang raja, yang berarti tidak ada yang boleh menentang aturan yang sudah ia tetapkan bertahun-tahun lamanya.

Coba bayangkan, mahasiswanya ia anggap burung yang secara implisit ia mestikan jinak. Sudah sejak awal, saat membuka pertemuannya dengan mahasiswa baru, kampusnya ia anggap seperti sarang burung. Dalam pidatonya itu ia katakan persaingan antara burung memecahkan telur lawannya adalah kunci kesuksesan.

Tidak akan saya teruskan tulisan ini melainkan ingin melihat beberapa poin film ini dari kaca mata filsafat pendidikan Paulo Freire, seorang kritikus pendidikan asal Brasil yang banyak menginspirasi model pendidikan kritis sampai saat ini.

Itu artinya saya menganggap film ini telah diketahui jalan ceritanya. Sejak semalam, baru saya menyadari dengan seksama ketika iseng-iseng menonton ulang film ini, bahwa ada ide-ide pendidikan Freire yang bisa ditilik ulang setelah menontonnya nyaris satu windu lalu.

Panggilan ontologi manusia

Istilah canggih di atas pada kenyataannya adalah usaha Freire untuk memberikan kesadaran bagi masyarakat dalam rangka memahami hakikat kemanusiaannya. Manusia menurut Freire adalah makhluk yang tidak bisa dideterminasi oleh kekangan sistem manapun. Ia ada di dalam dan bersama dunia. Meski demikian manusia secara ontologis adalah keberadaan yang bebas dan dinamis sehingga masa lalunya bukan hakikat mutlak yang menentukan dirinya di hari ini. Dalam arti ini, manusia tidak sekadar dibentuk melalui lingkungannya, tapi juga membentuk lingkungannya sendiri.

Dalam horizon pemikiran Freire, humanisasi adalah kunci dari seluruh filsafat pendidikannya. Ini bukan saja berarti panggilan kebebasan untuk manusia yang bersifat individual melainkan berdimensi sosial.

Humanisasi dengan begitu adalah suatu pencarian hakikat diri dengan cara pembebasan dari belenggu sosial yang ada dan berlaku dalam sistem masyarakat.

Berkaitan dengan pendidikan, maka akan terlihat dimensi pembebasan yang ia tanamkan dalam pendekatan dan filsafat pendidikannya. Pendidikan adalah upaya memanusiakan manusia, begitu kesimpulan dari prinsip filsafat pendidikannya.

Melalui cara pandang semacam ini, maka dengan sendirinya akan terjelaskan motif tindakan pembangkangan Rancho selama ia menempuh pendidikan. Bersama dua sahabatnya, ia melakukan hal-hal di luar pakem kebiasaan belajar selama ini. Ia tidak menganjurkan cara belajar yang mengandalkan hafalan dan mati-matian menguras tenaga dan isi kepala seperti mesin diesel.

Rancho tidak percaya seratus persen dengan nilai yang jadi ukuran kecerdasan. Bersamaan dengan itu ia menolak sistem kompetisi yang membuat hirarki sama seperti status kelas ekonomi di masyarakat. Semua itu bakal membuat peserta didik tidak bebas mengembangkan minat dan keinginan jiwanya hanya karena didasarkan kepada kepercayaan terhadap angka-angka kecerdasan di atas kertas.

Pendidikan lebih dari itu. Pendidikan seharusnya membuat seseorang mengerti apa tujuan  sebenarnya dari kehidupannya. Pendidikan mesti mampu mengatasi masalah kekinian yang sedang dihadapi peserta didik itu sendiri.

Menguak tiga lapis kesadaran

PertamaRaju Rastogi berasal dari keluarga miskin. Digambarkan ibunya adalah seorang perempuan kurus yang sehari-hari bekerja di dapur yang tidak higienis. Raju nyaris tidak disekolahkan kecuali setelah saudara perempuannya dinikahkan seperti tradisi di desanya, yang membuat perempuan sepertinya tidak dapat melanjutkan pendidikan ke tingkat lebih tinggi. Kemisikinan Raju semakin dramatis karena ayahnya seorang pesakitan dan hanya mampu berbaring begitu saja. Ia terserang stroke membuat tubuhnya seperti kayu kering tidak bisa bergerak kecuali menyerupai benda mati. Secara ekonomi tidak ada harapan bagi keluarga Raju, kecuali jika Raju dapat segera lulus dan mendapatkan kerja kelak. Raju karena ini menyerupai sedang bermain poker, nasibnya adalah pertaruhan besar keluarganya. Ia bisa dibilang ujung tombak untuk mengeluarkan keluaganya dari kemiskinan yang tidak mengenakkan. Didesak kemiskinan, dan dengan latar belakang masyarakat miskin membuat Raju belajar mati-matian agar dapat segera lulus. Raju adalah satu-satunya teman di antara persahabatan mereka yang sangat religius tapi juga klenik. Hampir siang malam ia berdoa yang membuat dinding kamarnya dipenuhi gambar dewa-dewa. Hampir semua dewa ia sembah dengan maksud ingin mendapatkan pertolongan bagi kondisi kemiskinannya. Di depannya banyak benda-benda pusaka berupa dupa dan semacamnya. Saking kleniknya, Raju banyak menggunakan jimat dan benda pusaka dalam tubuhnya dengan keyakinan itu bisa membantu membuatnya cerdas menyerap semua pelajaran.

Tipikal orang macam Raju adalah jenis manusia yang memistifikasi kesadarannya hanya sebatas kesadaran magis. Kesadaran magis menurut Freire adalah kesadaran yang paling lemah untuk diajak mengubah keadaan lingkungannya dikarenakan ketidakmampuan melihat hubungan antara unsur, struktur, dan kultur dengan keadaannya yang sekarang. Perspektif kesadaran mistikal merupakan cara pandang fatalistik hanya karena menganggap seluruh kegiatan masyarakat yang berkaitan dengan sejarah sudah dirancang dan tidak mungkin mengalami perubahan. Sejarah dalam konteks kesadaran ini merupakan entitas yang sepenuhnya sudah ditentukan melalui kekuatan-kekuatan gaib sehingga kepasrahan adalah satu-satunya sikap yang mesti ada untuk merespon setiap kejadian.

Kedua. Di antara persahabatan 3 Idiots Farhan Qureshi adalah sosok yang menyukai dunia fotografi. Dengan menggunakan kameranya ia sering mengabadikan momen-momen yang menurutnya penting untuk disimpan. Sudah sejak lama ia ingin menjadi seorang fotografer meski cita-citanya itu terhalang oleh keinginan keluarganya yang berharap agar ia menjadi seorang insinyur teknik. Sejak kecil Farhan dibesarkan dengan cara mengikuti semua keinginan orangtuanya, yang membuatnya tidak memiliki kebebasan menentukan sendiri apa yang ia mau. Di rumah Farhan, hobinya mengambil gambar ia simpan menjadi pajangan di dinding dan hanya dianggap sebagai usaha yang tidak penting. Kelak setelah bertemu dengan Rancho, Farhan mulai berani menyatakan keberaniannya untuk mengikuti kecenderungan cita-citanya, walaupun dengan risiko mendapat penolakan dari keluarganya.

Farhan untungnya hidup di dalam keluarga berkecukupan, tidak seperti Raju yang melarat dan memiliki orangtua sekarat. Karena tidak seperti Raju, masalah utama Farhan adalah kebebasan yang selama ini dikontrol melalui keinginan kedua orangtuanya. Kemiskinan tidak jadi soal, dan karena itu membuatnya tidak memiliki kepekaan seperti Raju, yang ingin memperbaiki nasib keluarganya melalui jalur pendidikan. Posisi Farhan related dengan kesadaran naif dalam konteks pembagian keadaan masyarakat ala Freire. Kesadaran naif memiliki kualitas lebih baik dari kesadaran magis karena sudah mampu melihat persoalan sesungguhnya meski belum ada kemauan untuk membenahinya. Kesadaran naif menganggap persolan kemiskinan, misalnya, bukan karena sudah ditentukan sepenuhnya dari nasib yang sudah digariskan takdir,  melainkan dikarenakan ada kaitannya dengan moralitas individu. Kemiskinan dalam hal ini masalah kebiasaan kerja saja, dan bukan karena faktor lain di luar individu semisal sistem kekuasaan masyarakat.

Ketiga. ”Rancho” Shamaldas Chanchad sudah berulah kali pertama menginjakkan kakinya di kampus. Bukannya mengikuti musim perpeloncoan sebagaimana mahasiswa baru, melalui tradisi penjemputan itu ia malah membuat namanya tenar seketika. Ia memeragakan penerapan sains sederhana yang membuat seniornya menyimpan malu selama menjadi mahasiswa: menyetrum kemaluan melaui air seninya. Dari tindakan ini  saja sudah kelilhatan, siapa mahasiswa ini. Sementara teman seangkatannya rela ditelanjangi menjadi badut mainan seniornya, Rancho malah sudah menunjukkan kapasitasnya sebagai mahasiswa jenius. Kejeniusan Rancho tampak menjadi olok-olok saat ia mengikuti kelas perdana saat berdiskusi dengan dosen tekniknya. Melalui definisi kata ia membalik keinginan dosennya untuk berkomunikasi dengan cara biasa. Definisi memang diperlukan dalam disiplin keilmuan untuk membedakan satu konsep dengan konsep lainnya, tapi bukan berarti itu harus dilakukan dengan cara baku. Rancho juga sempat mengerjai rektornya di hadapan puluhan mahasiswa dengan memberikan dua kata untuk dicari pengertian sesegera mungkin. Ketika waktu habis dan tidak ada yang menemukan apa arti dari dua istilah itu, dua kata yang ia tulis di atas papan itu ternyata hanya nama dari Raju dan Farhan yang ia modifikasi seolah-olah kata ilmiah. Di saat ini ia mengatakan belajar bukan perkara menghapal konsep-konsep belaka (apa yang dalam termin Freire disebut pendidikan gaya bank), tapi bagaimana suasana mengajar menjadi lebih manusiawi dengan pendekatan menyenangkan. Rancho memacari anak Virus yang membuat ia berada pada posisi kesulitan. Kelak setelah lulus ia menghilang dan membangun pusat penelitian mandiri jauh di sebuah pelosok dengan hak paten beberapa temuan dan produk atas namanya.

Kesadaran kritis jika dibreak down ke dalam praksis pendidikan, dan diamalkan ke tingkat individu kurang lebih akan ditemukan pada Rancho di film ini. Kesadaran kritis, adalah kualifikasi kesadaran tertinggi dalam tingkatan kesadaran manusia menurut Paulo Freire. Di level kesadaran ini, seseorang sudah mampu menemukan relasi tersembunyi di balik problem berupa jalinan aspek budaya dan struktur sosial sebagai sumber masalah. Berbeda dari dua jenis kesadaran sebelumnya, model kesadaran ini menghindari “blaming the victims” dan lebih mengupayakan analisa mendalam menyangkut bagaimana suatu problem bisa terjadi dan seperti apa solusinya. Di wilayah pendidikan, kesadaran kritis merupakan bagian upaya yang disebut Freire sebagai conscientizacao,  yaitu pembebasan belenggu masyarakat melalui tindakan penyadaran simultan dan radikal.

Jadi jelas duduk soalnya, di tangan Freire pendidikan tidak sebatas proses belajar mengajar, melainkan menjadi bagian dari agenda yang lebih besar yakni pembebasan manusia. Itu artinya, agenda pembebasan masyarakat, apa pun bentuknya tidak dapat dipisahkan dari agenda-agenda pendidikan.

Automaton si Manusia Mesin

Automaton bukan istilah Paulo Freire, melainkan termin yang digunakan Erich Fromm,scholar ilmu jiwa dalam artikelnya berjudul Mendidik si Automaton. Automaton adalah ilustrasi Fromm menyangkut kepribadian peserta didik yang kehilangan jati dirinya. Dalam artikel itu, Fromm  mengkritisi kebudayaan yang mencetuskan model pendidikan yang menghasilkan peserta didik yang kehilangan cetusan-cetusan jiwa, perasaan, pikiran, dan harapan, yang sengaja disuntikkan dari luar.

Chatur Ramalingam adalah figur sempurna dari si automaton ini. Ia adalah antitesis dari Rancho dengan kecerdasan berbasis hapalan. Chatur sangat terobsesi untuk menjadi mahasiswa terpintar di kampusnya saat itu. Beragam cara ia lakukan mulai dari mempelajari mati-matian semua buku pelajaran sampai mensabotase teman-temannya dengan majalah orang dewasa untuk mengalihkan konsentrasi teman-temannya saat belajar untuk menghadapi ujian.

Dengan cara demikian, ia kelihatan mirip mesin yang memporsir isi kepala dan jiwanya dengan ambisius. Menjadi mahasiswa yang sangat literalis dan tak berperasaan. Mahasiswa yang disebut Fromm di atas sebagai pribadi yang kehilangan cetusan-cetusan jiwa dan pikirannya.

Bahan refleksi

Kekejaman pendidikan kampus yang tidak memberikan ruang kreativitas. Cara mengajar satu arah. Tidak ada penghargaan terhadap temuan terbaru mahasiswa. Sistem pembelajaran kompetisi, dan tekanan agar dapat segera lulus dengan mengikuti secara disiplin seluruh aturan kampus, merupakan beberapa hal dalam 3 Idiots yang related dengan tradisi pendidikan sekarang ini. Bahkan, kekejaman kampus macam ini, sampai memakan korban seorang mahasiswa yang depresi dan memilih bunuh diri di kamarnya.

3 Idiots adalah film iconic yang terinspirasi dari Sonam Wangchuk, seorang insinyur teknik mesin yang tinggal di kawasan Ladakh, Pegunungan Himalaya. Sonam dikenal sebagai ilmuwan yang memiliki temuan berupa ice stupa yakni buatan gunungan es yang bakal mencair jika musim panas datang. Berkat temuan bersama murid-muridnya ini ia mampu memecahkan masalah irigasi pertanian yang menjadi masalah petani-petani di sana. Oh iya, sama seperti diceritakan dalam 3 Idiots, Sonam memiliki sekolah yang sepenuhnya mandiri dan menggunakan listrik melalui tenaga matahari.

Syahdan, 3 Idiots adalah ironi pendidikan. Tiga orang bodoh ini: Rancho, Raju, dan Farhan malah memberikan akses pengertian lain mengenai filosofi pendidikan. Langsung dari saat mereka sedang berada di dalam kawah candradimuka bernama perguruan tinggi.