Bahrul Amsal, 25 Mei 2021
Directed: Gus Van Sant. Produced: Sean Connery, Laurence Mark. Written Mike Rich. Starring: Sean Connery, Rob Brown, F. Murray Abraham, Anna Paquin. Music: Terence Blanchard. Cinematography: Harris Savides. Release date: December 22, 2000. Running time: 136 minutes
”Menulislah sesuatu yang kau
senangi ketimbang yang kau ketahui.” Kalimat ini pernah saya temukan di dinding FB. Saya lupa postingan itu dipampang oleh siapa, tapi poin pentingnya
jelas: sesuatu yang sulit akan menjadi lebih mudah dikerjakan jika pertama-tama
ia Anda sukai. Tidak terkecuali buana persilatan tulis menulis.
”Mulai lah menulis, jangan
berpikir. Berpikir itu nanti saja. Yang penting menulis dulu. Tulis draft
pertamamu itu dengan hati. Baru nanti kau akan menulis ulang dengan kepalamu.
Kunci utama menulis adalah menulis, bukan berpikir.” Nah, pesan ini tidak akan
Anda temukan di line lini masa medsos kecuali ia saya kutip dari sebuah
film berkaliber sekelas diperankan Sean Connery: Finding Forrester (2000).
Film lawas memang, meski isi
ceritanya masih relevan untuk masa kini. Old
is gold, begitu ungkapan emas sering dipelantang sesepuh tua.
Baiklah. Isi ceritanya adalah
seorang anak remaja berkulit hitam bernama Jamal Wallace, yang beruntung berteman
dengan penulis gaek pemenang penghargaan sastra bergengsi yang namanya menjadi
salah satu canon sastra. Belakangan dikisahkan pertemanan mereka berubah
menjadi hubungan guru-murid, yang membuat Wallace menjadi penulis muda dengan
kemampuan menulis di atas rata-rata.
Sudah ketebak, kan? Film ini
cocok dan pas bagi Anda yang menyukai dunia tulis menulis dan menjadikannya
sebagai ”jalan ninja.”
Sang mentor bernama William Forrester
yang diperankan Sean Connery, adalah pribadi unik sekaligus ganjil. Meski
namanya terkenal tapi ia memilih hidup seperti pertapa di dalam Gua Plato, yang
sebenarnya adalah apartemen. Dalam waktu yang lama ia menghilang dan tidak
berinteraksi dengan banyak orang setelah menerbitkan novel tunggal yang
membuatnya meraih penghargaan Pulitzer.
Di lingkungan Jamal Wallace
tinggal, pria tua ini dianggap misterius, dan menjadi legenda urban karena tak
ada satupun yang pernah melihat dan berinteraksi dengannya. Cerita berkembang
macam-macam menyangkut pria tua ini sehingga membuat sekawanan Jamal
menantangnya untuk masuk menerobos masuk ke dalam apartemennya di suatu malam.
Ini semacam ujian keberanian, dan Jamal menerimanya. Kali saja ada sesuatu yang
bisa mereka buktikan setelah Jamal menerobos diam-diam ke hunian pria tua yang
tidak mereka ketahui sepenuhnya itu.
Dan, darrr. Jamal dikagetkan Forrester
si pria tua, yang seketika muncul dari kegelapan saat Jamal mengendus-endus
ruangannya. Lantaran kaget membuat Jamal lari dan meninggalkan tas sekolahnya
di ruangan itu.
Beberapa hari kemudian, tas
Wallace dikembalikan dengan cara dilempar dari atas apartemen. Sepulang di
rumahnya, Wallace kaget buku hariannya sudah dicorat-coreti catatan dan kritik
tentang apa yang ditulisnya. Siapakah orang ini pikir Wallace, yang bertindak
seperti seorang guru sastra?
Trik
Membuka Paragraf
Meskipun banyak membaca buku-buku
sastra bertaraf dunia, tidak membuat Wallace menjadi penulis andal. Basket
adalah kegemarannya, dan menulis buku harian hanyalah pelarian kecamuk jiwanya
akibat kehidupan keluarga yang ditinggal pergi seorang ayah (Bapaknya minggat
karena ibunya sangat disiplin soal kebersihan). Abangnya pergi juga, memilih
hidup mandiri a la anak jalanan kulit hitam setelah ayahnya minggat, sehingga
tinggallah Wallace bersama buku-buku dan menulis catatan harian sebagai
kebiasaannya.
Setelah pertemuannya dengan si
Pria Tua diawali dengan ujian menulis esai 5000 kata, membuat Wallace
sering mengunjunginya di apartemen yang dipenuhi buku-buku. Syahdan pertemuan
itu mengungkap juga bahwa si Pria Tua ini
adalah William Forrester sang penulis besar peraih penghargaan sastra
yang menghilangkan dirinya dari jagad literasi, dan memilih hidup tersembunyi
dari orang-orang.
Mereka membuat perjanjian agar
apa yang terjadi dari diri mereka tidak dibawa keluar dari apartemen Forrester, dengan catatan William mesti mengajari Jamal cara menulis keren dan epik.
Nah, kutipan di awal pembuka di
atas adalah pesan pertama Wallace kepada Jamal bahwa menulis itu punya caranya
sendiri, punya tahapannya yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Seperti
tangga, menulis tidak membuat seseorang dapat langsung berada di puncak tangga
kecuali ia mesti melalui anak tangga di bawahnya.
Sama seperti curhat saja. Menulis
menurut William adalah bagaimana Anda mencurahkan segala perasaan ke atas
kertas tanpa harus menahannya. Jika mencintai seseorang, jadikan draft pertama
sebagai tempat perasaan Anda dituangkan. Katakan apa saja yang Anda rasakan.
Harapan Anda, keinginan Anda, dan tentu rasa suka Anda kepada perempuan yang
seketika mengubah Anda seperti Jalaluddin Rumi saat berbicara tentang cinta.
Apabila Anda marah karena hidup
ini menjadi tidak adil, katakan saja seluruh unek-unek ke dalam kertas. Ungkapkan
seluruhnya betapa Anda kesulitan menemukan kehidupan yang diinginkan karena
semua telah dirampas dari tangan Anda. Jika memang kecewa, tidak ada salahnya
kekecewaan itu Anda umbar saja daripada membuat Anda seperti orang stres.
Tulis semuanya dan jangan
berpikir bahwa yang Anda tulis ini benar atau salah. Yang terpenting seberapa
plong perasaan Anda ketika semuanya telah Anda ungkapkan sehabis-habisnya.
Langkah kedua mulailah
menggunakan pikiran untuk mengevaluasi draft yang sudah Anda tuntaskan. Langkah kedua ini tidak
kalah pentingnya dari tahap pertama. Di saat inilah Anda mesti mengambil sikap untuk mempertimbangkan ulang apa yang sudah Anda tulis. Benar salahnya
asumsi Anda, masuk akalkah argumen Anda, dan sudah benarkah gramatikal bahasa
yang Anda tuliskan merupakan hal-hal yang mesti Anda perhatikan di tahap ini.
Tidak terkecuali typo, di saat ini Anda mesti bertindak sebagai seorang editor
yang berpikir seribu kali hanya karena untuk mendapatkan kalimat yang paling
baik dan benar.
Melalui cara di atas lah Jamal
menjalani latihan menulis privatnya, meski ia sering kesulitan membuka esainya
dengan pembukaan yang menarik. Nah, untuk ini, William memiliki trik khusus
mengatasi kesulitan Jamal: pinjamlah kalimat pembuka penulis yang Anda sukai
dan pakai itu untuk membuka paragraf pertama Anda, yang dalam kasus Jamal
kalimat yang ia pinjam diambil dari paragraf pembuka tulisan-tulisan William.
Trik ini ternyata lumayan berhasil,
dan membuat ide-ide Jamal terpancing keluar karena telah ditarik tali kail
kalimat pinjamannya.
Anda tahu, trik ini juga saya
pakai dan berhasil untuk membuka tulisan ini. Membuka dengan kutipan adalah
salah satu trik jitu untuk memulai suatu tulisan, dan kutipan perkataan William
di atas sudah dipakai Diana AV Sasa dalam tulisannya pada buku ”Para Penggila Buku: Seratus Catatan Di Balik
Buku” karya bersama Muhidin M Dahlan terbitan IBOEKOE, 2009.
Diceritakan, teknik ini akan
membawa Jamal ke dalam problem berat, karena ia lupa mengganti kalimat pertama
dalam novelet yang ia perlombakan di akhir semester. Gurunya yang sempat curiga
terhadap kemampuan menulis Jamal makin yakin bahwa Jamal telah mencurinya dari
penulis yang selama ini telah
menghilang, yakni William Forrester.
Carilah
suaramu sendiri
Autentitas sangat penting jika
itu menyangkut ide dan gagasan dari apa yang Anda tuliskan. Ide yang tidak
berasal dari diri Anda tidak akan membuat Anda menjadi penulis yang
berkarakter.
Carilah gagasan khas Anda, tema
yang paling Anda senangi dan gunakan kata-kata dan istilah Anda sendiri untuk menggambarkan isi hati dan
pikiran Anda. Itu adalah kekuatan utama yang membuat karya tulis Anda berbeda
dengan karya orang lain.
Dalam satu adegan, William
mengatakan banyak penulis menguasai teori menulis tapi sangat sedikit yang
paham menyangkut caranya menulis. Teori, apa pun namanya diketahui banyak orang
karena telah menjadi patokan umum. Berbeda dengan itu, setiap orang punya cara
menulisnya sendiri. Ini lah yang membuat setiap orang memulai tulisannya tidak
sama dengan orang lain.
Jika menulis diibaratkan sabagai
masakan, satu resep makanan bisa memiki rasa berbeda karena cara mengolah bahan
dan memasak yang berbeda, meski bahannya diambil dari tempat yang sama.
Jadi jelas perbedaan sebenarnya
dari sekedar tahu dan saat ia dipraktikkan. Yang pertama hanya akan menjadi
angan-angan semata selama ia tidak dikonkretkan ke dalam suatu aktivitas ril.
Sementara yang kedua jauh lebih besar nilainya karena suatu ide sudah menjadi
satu hasil usaha.
Jamal saat berpindah ke sekolah
bergengsi karena nilainya di atas rata-rata, menemukan guru sastra yang
meremehkan hasil tulisannya. Tentang tugas esainya, ia dianggap tidak pantas
melahirkan tulisan yang bagus hanya karena latar belakangnya sebagai anak kulit
hitam yang hidup di lingkungan miskin.
Menyimpan dendam diremehkan
autentitas tulisannya, Jamal semakin giat berlatih menulis di bawah bimbingan
mentornya. Tidak di kediaman William, tapi juga di kamar sempit rumahnya di
malam hari bersamaan dengan suara mesum tetangga sebelah. Sampai ia menemukan
”suaranya” sendiri, yakni ide dan gaya menulisnya yang khas.
Bukan
benteng persembunyian
Di luar dari kisah tulis menulis,
film ini juga mengangkat sisi persahabatan lintas usia beda generasi antara
Forrester dengan Jamal. Bukan saja itu, perbedaan paling mencolok adalah warna
kulit di antara keduanya. Kelak kedekatan di antara mereka berdua akan saling
memberikan kontribusi terutama juga kepada Forrester yang selama bertahun-tahun
kehilangan kepercayaan diri untuk hidup seperti orang normal pada umumnya.
Forrester adalah seorang penulis
besar yang aneh karena setelah meraih penghargaan Pulitzer melalui novelnya
berjudul Avalon Landing, tidak pernah
sama sekali mempublish tulisannya keluar. Dalam konfliknya dengan Jamal,
William mendapatkan kritik, untuk apa menulis hingga menghasilkan banyak karya
jika semuanya hanya disimpan di dalam almari buku?
Menulis bukan benteng persembunyian seperti dilakukan Forrester, sampai dirinya pun tidak sama sekali memiliki kepercayaan diri untuk hidup bersosialisasi dengan kehidupan luar. Forrester jika memiliki kemauan ke keluar hanya ia realisasikan menggunakan teropong dan menggunakan jendela apartemennya sebagai cara untuk mengetahui apa yang sedang terjadi di luar kehidupannya. Tersirat tindakan ini mengindikasikan kenegatifan hidup yang hanya mau bertindak tanpa terlibat langsung dengan kehidupan itu sendiri. Ini suatu sikap introvert yang ekstrem.
Menulis merupakan suatu tindakan
komunikasi, yang berbeda dengan berpikir karena saat Anda menggunakan pikiran
tidak ada yang tiba-tiba keluar dari kepala Anda. Berpikir karena itu suatu
tindakan internal yang hanya Anda ketahui isi dan prosesnya. Sama seperti saat
seseorang mendirikan benteng perlindungan untuk menghindar dari amatan orang
lain.
Sementara menulis adalah saat Anda
keluar dari benteng berpikir Anda. Setelah lama merampungkan strategi
kalimat dan menentukan benar salahnya, saatnya keluar dengan alustista
kata-kata bernas Anda. Gunakan itu sebagai senjata komunikasi Anda. Bukan
sebagai benteng persembunyian.