Bahrul Amsal, 1 Januari 2022
Menyaksikan beragam game dalam Alice In Borderland bagai menyaksikan permainan versi berdarah dan mengerikan seperti Benteng Takeshi, mulai dari pos pertama hingga permainan terakhir, yang hanya dilolosi segelintir orang setelah yang lain telah tewas karena tembus ditembak laser, disiram asam sulfat, atau dibakar ke api unggun.
Kepincut dengan satu dua karakter, terutama Usagi, yang berperan juga sebagai Misao, perempuan dari pemimpin para intelijen-ninja dalam Rurouni Kenshin a.k.a Samurai X. Tubuh kecilnya tidak membuatnya terdistorsi sebagai pemain yang memiliki karakter yang kuat dan tangkas. Selama di film, terutama sejak episode kedua dalam season satu, kemunculannya yang berdiri di atas gedung pencakar langit dengan pose menantang hamparan kota Tokyo di bawahnya, mengingatkan saya kepada tokoh Alice dalam Resident Evile, film garapan Paul W. Anderson, yang diadaptasi dari franchise game Jepang.
Dengan cara kemunculan epik semacam itu, sebelum episode ditutup dengan iringan musik yang cukup menentukan, membuat serial ini menjadi lebih menantang untuk ditonton.
Tentu karakter utama film ini adalah Arisu; pemuda tanggung, tanpa cita-cita, dan hanya menghabiskan waktunya bermain game konsole berjam-jam di kamarnya tanpa mengenal siang malam. Adiknya merupakan anak pekerja keras yang karena itu lebih disukai ayahnya, menjadi idealisasi penerus keluarga seperti kehidupan kelompok ningrat masyarakat Jepang.
Arisu pemuda tanpa harapan apapun, yang karena itu memiliki semacam dunia paralel dalam imajinasinya yang tidak dipahami oleh siapa pun, kecuali oleh dua sahabatnya: Chota dan Karube.
Seperti sudah menjadi tipikal anime atau film-film Jepang yang mengedepankan kelompok, alih-alih menonjolkan seorang individu sebagai heronya, Alice In Borderland merupakan suguhan permainan karakter mengenai dinamika kelompok, kepercayaan, dan kepemimpinan. Meski karena itu Arisu sebagai pemuda yang menonjol melalui karakter kontradiktifnya, ia bakal menjadi pemain paling adaptif melalui kerja sama tim, dan juga kecerdasan logikanya.
Dibandingkan dengan Squid Game (2021), film ini lebih gelap dari hanya sekadar motif kekayaan seperti yang menjadi faktor kunci sehingga dapat menjelaskan mengapa para pemain terdorong untuk mempertaruhkan nyawanya dalam permainan. Di Squid Game, uang menjadi pendinamisir faktor-faktor psikologis pemainnya, sehingga tidak cukup absurd untuk menjelaskan semuanya.
Tapi, yang membuat Alice in Borderland terbilang menarik adalah sisi plot yang terbilang paling menentukan: mengapa mereka bisa sampai masuk ke dalam arena permainan yang menggunakan distrik-distrik di kota Tokyo sebagai arena permainannya? Mengapa bukan orang lain yang mengalaminya? Apa sebab semua ini sehingga kota teramai seperti Tokyo tiba-tiba melompong kosong tanpa menyisakan seorang pun?
Pertanyaan-pertanyaan ini seperti akan disaksikan kelak, dapat dinikmati ketegangannya melalui ambisi Arisu, yang dapat menjadi sekutu penonton agar dapat keluar dari sekelumit permainan maut yang entah diciptakan demi apa, oleh siapa dan untuk apa?
Suatu tontonan yang tidak sia-sia untuk menyatakan hidup ini hanyalah permainan?