Bahrul Amsal, 5 Februari 2023
"Death is the worst. When you close your eyes on this world, this beauty, the wonders of nature, it means you’ll never be coming back"
Kali ini The Wind Will Carry Us (1999) lebih memberikan
”ruang” yang besar kepada perempuan, dan
lebih banyak mengedepankan peluang pembacaan yang lebih feministik jika
dibandingkan dengan Taste Of Cherry (1997), film besutan Abbas Kiarostami yang
lain, yang sama-sama beride sentral kematian. Judul The Wind Will Carry Us
diambil dari penggalan puisi Forough Farrokhzad penyair sekaligus aktivis
progressif feminis Iran yang mati muda akibat kecelakaan mobil pada 1962.
Dengan mengambil penggalan penyair beride politik feminis sebagai judul
filmnya, apakah Kiarostami sedang menyatakan ide-ide kritisnya terkait dengan
paham politiknya, atau itu juga berarti menandai suatu pesan eskatologik di
dalam filmnya?
Dengan pertanyaan seperti ini akan sesuai dengan nuansa umum
film Kiarostami yang lebih sering mengundang beragam pertanyaan, sehingga akan
membuat penontonnya lebih banyak berpikir laiknya seorang filosof. Tapi, untuk
mengatakan film-film Kiarostami tidak berdampak eksistensial kepada penikmatnya
merupakan kesalahan fatal. Meski senantiasa berangkat dari premis sederhana,
film-film garapannya lebih mengedepankan kompleksitas kemanusiaan.
The Wind Will Carry Us telah mengulang adegan pembukanya
persis seperti Taste of Cherry, yaitu scene sebuah mobil berjenis Land Rover
yang meliuk-liuk di antara bebukitan dikelilingi sabana, sementara angin
terlihat membuatnya bergoyang-goyang seperti sedang dipandu untuk menyatakan
gerak alam yang memukau. Dengan tekhnik long-shot, mobil ini meliuk-meliuk di
antara jalanan tak beraspal, menandai bahwa film ini banyak menyediakan ruang
filosofis bak jalan pikiran seorang penikmat ide-ide filsafat.
Tapi, film ini tidak sepenuhnya film tentang itu, melainkan
kita akan dibawa kepada pergulatan perasaan, tarik ulur yang melibatkan ambisi
manusia dan dari apa yang tidak dapat ia jangkau: ajal, alam, dan takdir. Dalam
hal ini, ini terkait waktu, medan enigmatik antara kesementaraan dan keabadian,
seperti dalam penggalan puisi yang menjadi bagian penting dalam film Kiarostami
ini: “Bulan merah dan gelisah… Awan menunggu lahirnya hujan… Satu detik, dan
kemudian tidak ada.”
Melalui Behzad Dourani, seorang reporter bersama dua krunya,
kita akan menuju Siah Darreh (Lembah Kegelapan), sebuah kampung Kurdi udik yang
berasal dari masa silam terletak 400 mil dari Teheran, Iran. Rumah-rumah mereka
berdiri di atas tebing-tebing bebatuan, saling menempel, berjejal, dan tumpang
tindih mengikuti gaya bangungan Pueblo yang terbuat dari lumpur keras, suatu
kesan yang kontras dengan konteks zaman kekinian.
Maka jadilah Behzad bersama rombongannya dengan tipikal
orang kota, yang kemudian mengalami sesat alamat ketika memasuki wilayah desa
yang sepenuhnya hanya dikelilingi bukit-bukit maha luas. Beruntung rombongan
ini dipandu oleh Farzad, bocah lelaki lokal yang akan menyanggupi seluruh
keperluan mereka selama tinggal di desa ini.
Lalu untuk apa mereka melakukan perjalanan jauh sampai ke
tempat yang signal handpone saja sulit? Rupanya karena seorang perempuan tua
bernama Nyonya Malek yang telah berusia
100 tahun. Mereka tinggal di Siah Darreh demi menunggu ajal Nyonya Malek, dan
akan membuat film dokumenter mengenai ritual kematian yang dilakukan
berdasarkan kebiasaan lokal masyarakat setempat. Sesuatu yang membawa nilai
eksotisme dan spiritual bagi masyarakat kota seperti diwakilkan melalui
kehadiran Behzad.
Selama menunggu Nyonya Malek sakaratul maut, tidak sekalipun
kamera Kiarostami mewakili harapan penonton untuk dapat melihat langsung nenek
misterius yang berusia satu abad itu. Ia hanya muncul melalui percakapan antara
Behzad dan Farzad, melalui bingkai jendela biru sebuah rumah yang di dalamnya
diketahui sedang terbaring seorang nenek sekarat—sesuatu yang juga berlaku
kepada dua kru Behzad yang sama sekali tidak pernah tampak di depan kamera
selain hanya mendengarkan dialog mereka dengan Behzad sebagai fokusnya.
Namun rencana tinggal rencana. Mereka makin lama makin
frustasi dikarenakan tidak ada tanda-tanda ajal bakal menjemput Nyonya Malek.
Dari hari ke hari Nyonya Malek makin membaik, yang karena itu membuat mereka tidak akan dapat membuat film
dokumenter seperti yang direncanakan sebelumya.
Eksotisme dalam Kamera
Peradaban modern merupakan konsepsi kehidupan yang terlampau
rasionalistik, terukur, dan cepat. Tentu kegamblangan ini ditampakkan
Kiarostami melalui adegan-adegan dilakukan Behzad saat berkomunikasi dengan
atasannya menggunakan telepon genggam yang sama sekali tidak berfungsi, kecuali
jika Behzad keluar mencari jaringan sampai di atas bukit kuburan. Ini satu tema
yang mencolok mengenai problem modernitas ketika diperhadapkan dengan
keadaan-keadaan yang belum dapat ia identifikasi sebagai bagian dari dirinya.
Tapi problem kebudayaan yang eksplisit dalam film ini tentu
saja mengenai cara pandang masyarakat modern kepada hal-hal yang bernuansa
eksotis dan spiritual. Itu sebab dahaga itu dimunculkan melalui motif
dokumentasi yang sejak awal menjadi kepentingan jurnalistik Behzad. Ritual
kematian dalam hal ini, apalagi masih dibalut dengan tradisi lokal, sudah tentu
merupakan rangkaian upacara yang akan menjadi komoditas ekonomi melalui kemasan
media massa. Sesuatu hal yang di masa sekarang menjadi bagian dari ekonomi
pariwisata, dan dikukuhkan melalui program pemerintah untuk menjual eksostisme
kepada dunia internasional yang notabene sangat menginginkan hal-hal yang
berbau local wisdom.
Domestifikasi dan Paradoksnya
Formulasi pengambilan gambar Kiarostami bergerak di antara
alam bebas, rumah-rumah bergaya Pueblo, dan sedikit karakter yang lebih banyak
hanya diisi oleh Behzad. Seringkali Kiarostami memberikan perspektif yang luas
melalui alam bebas; bukit, tanah lapang, dan siluet pegunungan dengan cakrawala
luas permainan panoramik yang dinamis, dan di satu sisi kembali menyorot lebih
dekat kehidupan domestik komunitas yang lebih banyak mengungkapkan kehidupan
statik.
Di antara perpindahan dua landscape itulah perempuan tanpa
disadari menjadi wacana yang tidak bisa diabaikan dalam film ini.
Perempuan komunitas masyarakat Kurdi menjadi representasi
gagasan tentang stigma beradab-abad mengenai kedudukan perempuan di tengah
masyarakat. Makanya peralihan scene demi scene, perempuan menjadi sosok
domestik dalam ruang lingkup kehidupan komunitas yang lebih banyak
diperlihatkan melalui sorot pengambilan gambar Kiarostami—yang paling vulgar
adalah scene saat Behzad mengambil susu sapi dengan memasuki area gelap berupa
dapur (atau kandang), dengan sosok perempuan muda di dalamnya yang tidak sama
sekali ditampakkan wajahnya; suatu permainan representatif menyangkut posisi
perempuan yang mengalami domestifikasi atas dasar tradisi.
Sementara di sisi lain, tidak sekalipun ditemukan aktifitas
mencolok mengenai peran laki-laki selain diceritakan lebih banyak menggunakan
waktunya di ladang-ladang persawahan. “Penundaan” kehadiran laki-laki dalam
cerita Kiarostami mengindikasikan signifikansi kekuasaan dan wewenang laki-laki
yang meski sangat jarang tampak, tapi cukup menentukan terkait segala apa yang
menjadi bagian dari wilayah keputusan, seperti yang selama ini terjadi melalui
budaya patriarki.
Dengan indikasi semacam ini, tidak berlebihan jika dikatakan
justru melalui keberadaan sosok Behzad yang berambisi dapat mendokumentasikan
kematian sesosok perempuan tua, memperlihatkan sisi paradoksal dikarenakan
dalam melakukan tugas jurnalistiknya, ia juga didesak oleh seorang perempuan
melalui komunikasi via telepon yang tidak sama sekali terlihat sosoknya. Meski
demikian, keberadaan sosok perempuan ini di sepanjang penceritaan sangat
berpengaruh kepada keberadaan Behzad di desa itu.
Berlalu bersama Angin
Menjelang akhir, Behzad disadarkan mengenai kedudukannya
sebagai makhluk fana—setidaknya seperti yang saya tangkap berkenaan dengan
pergulatannya atas waktu. Di hadapan semua itu, setiap rencana yang berasal
dari ambisi dan harapan, tidak dapat digdaya. Dialog-dialog ditunjukkan Behzad
dengan seorang dokter kampung jelang pupusnya ambisinya, menjadi perangkat
kesadaran bagi penonton yang sejak awal mulai memahami bahwasannya di dalam
waktu segalanya akan bergerak berdasarkan hukumnya sendiri.
Dalam arti ini, manusia sebagai makhluk yang kerap berposisi
superior atas keinginan-keinginannya mau tak mau akan dikembalikan kepada ruang
negoisasi di dalam dirinya. Dengan kata lain, apalah arti semua harapan,
cita-cita, apalagi ambisi, jika di luar dari itu masih banyak hal yang tidak
dapat dikendalikan olehnya, termasuk di dalamnya: takdir, atau ajal, atau yang
lebih substansial dari itu, misteri ego!
Bulan merah dan
gelisah... Awan menunggu lahirnya hujan... Satu detik, dan kemudian tidak
ada."
Terbit pertama kali di Kalaliterasi 27 Desember 2022