Akhirnya saya menyelesaikan sisa serial film Avatar: The Last Airbender, di hari pertama berpuasa, dan berharap bahwa film ini bakal berlanjut secepatnya dengan sebelumnya membocorkan scene penutup saat Ozai, raja negara api menatap diorama komet ozin, yang bakal melintasi bumi di suatu musim panas. Di adegan ini, Ozai bersama seorang bikhu, atau pemuka kepercayaan negara api. Suatu adegan yang mengeksplisitkan jika seringkali kepercayaan tertentu seperti agama akan menjadi tidak relevan lagi karena telah tunduk untuk menjadi batu alas kekuasaan.
Komet Ozin adalah benda langit yang berdampak membuat suhu meningkat panas jika ia melintas lebih dekat dengan bumi. Bagi prajurit negara api, waktu ini merupakan momen yang mereka nantikan. Kekuatan api mereka akan bertambah lebih kuat. Seperti kekuatan panas seratus matahari. Saat itulah mereka akan menganeksasi kerajaan-kerajaan lain untuk melahirkan pemerintahan tunggal versi negara api. Nampak seperti cerita lama, sebenarnya.
Mengenai ambisi satu dua orang (negara) yang memanfaatkan pemerintahannya untuk menguasai seluruh dunia, entah dengan melibatkan kekuatan dari pergerakan benda-benda langit, atau mengandalkan ilmu pengetahuan seperti sains dan teknologi. Entah dengan bumbu-bumbu legitimasi mitologi atau kekuatan rasionalisasi ideologi. Dari sisi ini, setiap orang membutuhkan film-film seperti jalan cerita avatar Aang.
Untuk memastikan setiap diri manusia tidak terbakar api ego, kekuatan yang sulit ditaklukkan orang semacam Ozai, atau diri kita sendiri, bahkan. Ya, elemen api jika tidak ditempatkan berdasarkan atas konteksnya yang tepat akan menjadi senjata mematikan. Bagi kehidupan purba, api merupakan temuan yang sangat berguna, setidaknya dapat mengolah makanan menjadi lebih enak.
Daging yang keras saat dikunyah dapat dengan mudah ditelan setelah ia dipanaskan. Atau membuat hewan-hewan buas takut mendekat setelah api dikumpulkan menjadi lebih besar. Tapi, kekuatan api untuk konteks lain, seperti dalam narasi Iblis-Adam, merupakan elemen ciptaan yang berkonotasi negatif.
Begitu juga ketiga elemen lainnya: tanah, udara, dan air. Elemen-elemen dasar yang berabad-abad lalu telah dipikirkan dan disimpulkan oleh filsuf seperti Thales, Anaximander, Anaximenes, seterusnya, seterusnya, dan seterusnya, yang memberikan dasar kosmologis bagaimana bentuk atau asal usul pertama semua yang dianggap ada saat ini. Di avatar Aang, keempat elemen ini merupakan kekuatan planeter yang harus mampu dikuasai Aang. Ia perlu memadukan kekuatan tersembunyi keempatnya untuk mencapai keadaan avatar, figur kunci saat dunia diambang masa apokaliptik.
Bagi kenyataan kita, masa apokaliptik merupakan akhir sejarah kehidupan dunia saat ini yang ditandai dengan merebaknya gejolak politik, konflik antar bangsa, benturan peradaban, dan hancurnya tiang-tiang kepercayaan sampai ke sendi-sendinya. Kelak, di masa itulah banyak orang cemas dan menantikan tibanya seorang juru selamat. Keyakinan ini hanya meneruskan apa yang sudah diisaratkan melalui hampir semua keyakinan agama saat ini.
Ada beberapa hal yang saya rasa ikut mempengaruhi beberapa karakter, terutama Aang dan Sokka, yang dalam film ini tidak cukup baik menggambarkan pembawaan Aang yang ceria, dan Sokka yang lebih terlihat dewasa atau serius. Terutama Sokka yang kali ini tidak menunjukkan sisi kekonyolan dan kekanak-kanakkannya yang lebih menonjol seperti serial animasinya. Ia menjadi karakter yang serius, yang seolah-olah sedang mengemban tugas berat melebihi tanggung jawabnya sebagai seorang ksatria suku air.
Tentu yang tidak kalah dramatik adalah kehidupan Pangeran Zuko, yang dibuang dari negaranya setelah menunujukkan simpati kemanusiaan atas strategi perang yang ia tidak setujui. Ayahnya marah saat itu, berkeyakinan Pangeran Zuko tidak menunjukkan kepribadian sebagai seorang kesatria khas negara api.
Di suatu pertarungan menghadapi ayahnya, di situlah ia mendapatkan bekas luka di wajahnya, yang membekas bahkan sampai ke dalam jiwanya. Ia merupakan karakter yang meyembunyikan dilema-dilema moral antara ambisi perang dengan sifat kemanusiaan yang semua orang memilikinya. Bahkan kepribadian Zuko jauh lebih memberikan perspektif kepada penonton mengenai proses tarik ulur atau perkembangan kejiwaan manusia yang senantiasa berkonfrontasi antara otonomi diri, rasa simpati, kekecewaan, merasa terbuang, sampai kepada idealisme kebaikan yang menjadi kekuatan implisit manusia. Btw, meski film ini menekankan arti penting Aang sebagai avatar, dan berkecenderungan kepada ideologi mesianistik dalam arti lebih mengutamakan figur solo dalam memberikan peran perubahannya, tapi tetap saja upaya-upaya yang menunjukkan peran individual masih kalah menonjol dari kerja sama “tim Avatar”.
Dalam arti ini, harmonisasi tidak saja ditunjukkan dari elemen-elemen planeter yang akan berhasil dikuasai Aang, tapi distribusi peran kelompok antara Katara, Zokka, dan Aang sebagai suatu kesatuan tim. Terakhir, film ini merupakan salah satu bentuk seni yang dapat mempengaruhi cara kita berpikir, merasakan, dan memahami dunia di sekitar kita. Terutama tentang bagaimana manusia dapat mengandalkan kekuatan spiritualnya, dan menghubungkan dirinya dengan alam sebagai cara hidup yang lebih selaras dan berkelanjutan.