Sains vs. Politik: Bias Kognitif, Delusi, dan Kebenaran

 Bahrul Amsal, 30 maret 2024

Sutradara: Adam McKay. Cerita: David Sirota. Pemeran: Leonardo DiCaprio, Jennifer Lawrence, Rob Morgan, Jonah Hill, Mark Rylance, Tyler Perry, Timothée Chalamet, Ron Perlman, Ariana Grande, Scott Mescudi, Cate Blanchett, serta Meryl Streep. Musik: Nicholas Britell. Sinematografi: Linus Sandgren. Produksi: Hyperobject Industries. Distribusi: Netflix. Rilis: 10 Desember 202. Durasi 145 menit.


Menurut saya, sudah maklum jika film-film dibintangi Leonardo DiCaprio bukan film kaleng-kaleng. Sejak melihatnya pertama kali memerankan Jack Dawson, seorang pria muda tapi proletariat dengan bakat seni dalam Titanic (1997), saya punya kesan bahwa aktor ini bukan pemain peran sembarangan. 

Setidaknya dari sorot matanya yang membuat parasnya menjadi tolok ukur ketampanan seorang pria. Kemudian ia muncul dalam The Man in the Iron Mask (1998) bermain dalam dua peran sekaligus, menjadi Raja Louis XIV Prancis yang tamak dan kejam, dan kembarannya Philippe Bourbon yang disembunyikan bertahun-tahun di bawah penjara bawah tanah Île Sainte-Marguerite menggunakan topeng besi karena memiliki kesamaan muka dengan sang raja. Lalu ia bermain dalam The Beach (2000), Cath Me if You Can (2002), Gangs of New York (2002), Blood Diamond (2006), Shutter Island (2010), film yang mengekplorasi sisi psikologi manusia. Kemudian Inception (2010) dengan membawa ide gila tentang alam bawah sadar yang dapat menentukan jalan kehidupan seseorang, Django Unchained (2012), The Great Gatsby (2013), The Wolf of Wall Street (2013). Dan salah satu filmnya yang paling epic menurut saya: The Revenant (2015), dengan berperan sebagai Hugh Class, pria kulit putih pemandu jalan rombongan pemburu kulit berbulu yang dikhianati oleh rombongannya sendiri, lantaran hampir mati setelah bertarung dengan seekor beruang grizli berukuran jumbo. 

Tentu ini menjadi salah satu adegan yang membuat film ini mendapatkan pujian, yang membuat Hugh Class berjuang hidup keluar dari lubang kematian sebelum membalas dendamnya. 

Kali ini Leonardo DiCaprio sekali lagi bermain peran dalam Don’t Look Up (2021), menjadi Dr. Randall Mindy, yang lebih cocok ia perankan di usianya yang sekarang. Dr. Randall merupakan seorang astronom bersama Jennifer Lawrence, sebagai Kate Dibiasky, yang menemukan asteroid berukuran raksasa sedang mengorbit menuju bumi yang akan tiba enam bulan kemudian. 

Saat sampai di bumi, benturannya akan menyebabkan tsunami raksasa, hasil dari ledakan berkali-kali lipat melebihi dari yang pernah terjadi di Hiroshima dan Nagasaki. Temuan ini merupakan informasi penting, dan juga genting. Tapi tidak ada yang peduli, bahkan setelah mereka menyampaikan langsung di hadapan presiden untuk segera mengambil kebijakan. 

Tapi sang presiden tidak tertarik dan lebih peduli dengan proses penyelenggaran pemilu. Cerita yang klise, ketika urusan politik jauh lebih penting dari temuan sains. Yuval Noah Harari telah memprediksi dalam 21 Adab untuk Abad 21, yang menyatakan di masa depan arah sejarah kehidupan manusia akan ditentukan melalui perang wacana antara para ilmuwan yang mengembangkan temuan-temuan sains dengan kubu agamawan yang mengyakini setiap kebijaksanaan dari kitab suci masih related dengan perkara-perkara kehidupan yang dihadapi masyarakat kiwari. 

Dua kubu ini akan bersaing dalam merespon problem kemanusian yang makin ke sini hanya akan merambah masalah teknis, identitas, dan masalah kebijakan. Sudah tentu jika dilihat dari hal terakhir ini, Don’t Look Up mengetengahkan dua perspektif yang dipakai dalam merespon kehidupan saat ini, yaitu sains dan politik. Saya rasa ini tidak seperti di negara kita, yang persaingannya betul-betul memperhadapkan dua sudut pandang antara ilmu pengetahuan dan agama, sementara politik kerap menjadi pihak yang menunggu waktu untuk mengambil keuntungan dari keduanya. 

Jika agama dapat menjadi kekuatan politis untuk melahirkan partisipasi politik berskala massif, mengapa tidak politik menginvestasikan sumber dayanya di dalam agama untuk meraih barisan massa siap tempur. Atau sebaliknya, mengapa tidak menggelontorkan dana besar untuk perkembangan ilmu pengetahuan jika secara politik itu dapat memperkuat posisi strategis kekuatan-kekuatan tertentu. Dalam film ini, sains betul-betul kalah dalam memperlihatkan bukti-bukti ilmiahnya. Para ahli di bidangnya tidak dipedulikan. 

Di mata pemerintahan, temuan Dr. Randall Mindy dan Kate Dibiasky dua ahli di bidang astronomi dianggap sebagai informasi yang tidak relevan dengan program strategis pemerintah. Bukan temuan yang perlu ditanggapi dengan serius. Pemerintah selama ini sudah bosan mendengar narasi tentang dunia kiamat tapi toh tidak pernah terjadi dan dunia berjalan normal-normal saja. 

Melalui suatu wawancara televisi, informasi mengenai kedatangan komet penghancur ini juga direspon dengan gimik sukacita menganggap ini tidak lebih dari lelucon, persis saat Anda menonton acara hiburan, hal-hal seserius apa pun akan terdistosri dengan pemandu acara yang lebih mementingkan rating dan iklan. 

Analogi yang hampir mirip saat dunia menghadapi Covid-19, ketika berbagai respons dunia mengindikasikan sains belum menjadi dasar kehidupan praktis masyarakat. Bagi banyak orang, virus corona hanya imajinasi dari negeri antah berantah, dan karena itu tidak ada alasan untuk mempercayaianya. Toh, kalau ia benar-benar ada itu hanya sejenis virus flu belaka sehingga tidak perlu berlebihan menanggapinya. Sama seperti penyakit flu lainnya ditinggal beberapa hari akan membaik dengan sendirinya. 

Dunia tidak akan runtuh hanya karena seseorang mulai merasakan cairan asing di hidungnya. Dengan pola berpikir seperti inilah konteks masyarakat yang dihadapi Dr. Randall Mindy dan mahasiswanya, Kate Dibiasky. Ini merupakan suatu bias kognitif yang lebih banyak berperan dalam menciptakan dilusi yang dianggap sebagai kebenaran. Penjelasan semacam ini dijelaskan melalui Dunning-Kruger effect, yakni mispersepsi yang terjadi akibat keterbatasan kompetensi seseorang sehingga semakin berlimpah informasi yang datang kepadanya justru berefek sebaliknya dengan makin tingginya sikap penolakan yang ia berikan. 

Akhir film ini berkecenderungan menyisipkan suatu gagasan mengenai kehidupan umat manusia yang mulai akan mempertimbangkan tempat lain selain bumi sebagai tempat kehidupan baru. Bagaimana dengan nasib Dr. Randall dan Kate? Mereka tidak bisa berbuat apa-apa selain duduk berkumpul bagai jamuan terakhir dilakukan Yesus Kristus berabad-abad lalu, menanti nasib mereka disapu bersih ledakan komet gigantik yang tidak bisa terhindarkan.