Bahrul Amsal, 19 Maret 2024
Sutradara dan Produser: Roman Polanski. Skenario: John Brownjohn, Roman Polanski, dan Enrique Urbizu. Berdasarkan novel The Club Dumas karya Arturo Pérez-Reverte. Dibintangi: Johnny Depp, Lena Olin, Frank Langella, James Russo, Jack Taylor, dan Emmanuelle Seigner. Sinematografi: Darius Khondji. Musik: Wojciech Kilar. Produksi: Canal+. Rilis: 25 Agustus 1999. Durasi 133 menit.
Tidak mungkin
sebuah buku diciptakan agar dapat mendatangkan seekor iblis. Atau
berisi kiat-kiat yang bisa diamalkan seseorang untuk menemukan cara
hidup ribuan tahun. Selama-lamanya. Sejauh ini banyak buku ditulis
dan diterbitkan agar seseorang dapat menjadi kaya raya, atau agar
diri Anda mampu berkomunikasi dengan lancar seperti seorang orator
ulung, atau yang paling sering adalah buku yang ditulis penulis
kawakan agar satu dua orang pembacanya dapat menjadi penulis terkenal
di kemudian hari.
Tidak ada buku untuk keabadian. Tapi ini agak lain.
Ini hanya ditemukan di dunia fiksi: The Ninth Gate (1999) disutradai
Roman Polanski, dibintangi Johnny Deep, film lawas yang kebetulan
saya tonton melalui fasilitas tivi kabel. Saya tidak ingat lagi apa
nama salurannya. Sudah pasti bukan HBO Signature, atau FOX Movie,
saluran yang sejak 2021 silam telah ditarik dari saluran tivi-tivi
kabel.
The Ninth Gate merupakan film misteri bercerita tentang peran
Dean Corso (Johnny Deep) sebagai detektif buku cum penjual buku tua
yang disewa kolektor buku-buku antik, Boris Balkan (Frank Langella),
untuk mengautentifikasi sebuah buku berasal dari abad ke-17 ditulis
orang bernama Torchia yang bekerja sama dengan Lucifer saat
menulisnya. Dipandang sesat Torchia diinkuisisi bersama
karya-karyanya. Buku ini berjudul The Nine Gates of the Shadow
Kingdom.
Kedengarannya cukup keren di telinga saya yang masih sering
terpukau diksi yang berbau barat. Ini yang mendorong saya menahan
serangan kantuk di tengah malam. Menyaksikan adegan demi adegan saat
Corso masuk perpustakaan, mencatat, membaca, menelusuri literatur
mengenai buku yang disebutkan hanya tersisa tiga di dunia saat ini.
Suatu pekerjaan yang relate dengan kegiatan seorang ilmuwan. Ya, saat
ia diminta Boris Balkan untuk menyelidiki keaslian buku The Nine
Gates of the Shadow Kingdom, yang ia miliki, Corso diberitahu hanya
ada tiga orang yang memiliki salinan buku itu: Andrew Telfer (Willy
Holt), yang mati bunuh diri sebelum menjual buku Sembilan Gerbang
kepada Boris Balkan, dan Victor Vargas (Jack Taylor), dan seorang
kolektor lainnya yang tinggal di Prancis, Baroness Kessler (Barbara
Jefford).
Masalahnya yang mana buku yang asli? Apakah buku salinan
milik Boris Balkan, Victor Vargas, atau Baroness Kessler? Perhatian
yang cukup penting bukan Boris Balkan semata, tapi bagi semua
pengoleksi buku yang menginginkan semua buku koleksinya merupakan
cetakan asli.
Tapi coba Anda bayangkan bagaimana masalah ini menjadi
cukup penting dan serius jika konteksnya adalah abad ke-17, ketika
teknologi percetakan buku belum seperti sekarang. Atau sebelum mesin
cetak temuan Johannes Gutenberg belum dipakai saat itu? Merupakan
kerja master apabila sebuah buku dapat disalin menyerupai aslinya
mengingat saat itu sebuah buku masih ditulis langsung oleh
penulisnya. Bentuk hurufnya, pilihan jenis dan berat kertas, jenis
dan warna tinta, tebal huruf, atau sampai kepada cara buku itu
dijahit dengan benang yang sama.
Adalah pekerjaan yang rumit dan
membutuhkan ketelitian ekstra untuk menyamakan tulisan tangan
seseorang di masa itu dengan menggunakan plat cetakan. Itulah
sebabnya masalah keaslian untuk masa itu bukan saja menyangkut isi
atau gagasan ide penulisnya, tapi juga secara eksistensial terhubung
langsung dengan kerja kreatif penulisnya.
Sampai hari ini, buku
merupakan benda yang merupakan emas tapi bukan emas. Sering dianggap
sepele, tapi dari sisi panjang peradaban, ia merupakan harta
kemanusiaan yang tidak bisa diremehkan. Buku menurut saya adalah
semacam kebijaksanaan dalam arti empiris. Kandungannya tidak akan
mungkin bisa disetarakan dengan apa pun. Apalagi jika seperti buku
diceritakan dalam film ini, yang bisa menjadi perantara bagi
seseorang sehingga bisa menjadi seperti iblis; hidup seribu tahun
lamanya. Itu yang terkadang mendorong irasionalitas seseorang untuk
ingin melakukannya.
Mengoleksi buku-buku mahal, apalagi langka dan
sudah berusia klasik saja sudah lebih dari cukup menjelaskan, di
dunia ini cinta terhadap buku terkadang sulit dilakukan dengan cara
biasa. Apalagi jika sebuah buku dimaksud digambarkan seperti dalam
film ini. Mungkin belum ada buku di dunia ini yang ditulis bersama
iblis, seperti diceritakan dalam The Ninth Gate, sehingga jika
seseorang berhasil memecahkan kesembilan petunjuk di dalamnya akan
membuka gerbang menuju umur panjang.
Johnny Deep dalam film ini tidak
menunjukkan antusiasme dalam perannnya sebagai Corso yang bertindak
bak detektif melibatkan pekerjaannya sebagai penjual buku-buku
langka. Kontradiktif dengan motivasinya yang mementingkan dirinya
sendiri sebelum menerima pekerjaan ini karena dibayar tinggi oleh
Balkan. Obsesi yang tinggi mengejar kebutuhan diri sendiri, dan
dengan melibatkan suatu pekerjaan ilmiah melalui berbagai marabahaya
dilakukan Corso, memberikan kesimpulan setidaknya, apa yang dilakukan
olehnya tidak mencerminkan suatu panggilan moral dalam rangka mencari
kebenaran.
Sesuatu yang seharusnya menjadi motivasi utama dari setiap
penyelidikan atau pencarian ilmu pengetahuan selama ini. Yang
terakhir ini cukup related untuk konteks kehidupan saat ini, persis
perkataan Balkan kepada Corso saat bernegosiasi untuk menyewa
jasanya: ”Tidak ada yang lebih bisa diandalkan daripada pria yang
kesetiaannya bisa dibeli dengan uang tunai.” Ya, semua gerbang
kehidupan ini, termasuk loyalitas akan lebih licin berpindah
kesetiaan jika melibatkan uang sebagai tiket masuknya. Begitu!