Ilmu Politik dari Queenmaker besutan Oh Jin Suk

Bahrul Amsal, 28 April 2024 

Genre: Drama politik. Pengembang: Netflix. Ditulis oleh Moon Ji-young. Sutradara: Oh Jin-seok. Pemeran: Kim Hee-ae, Moon So-ri, Ryu Soo-young. Pencipta lagu tema Kim Jun-seok Jeong Se-rin. Penata musik: Kim Jun-seok, Jeong Se-rin. Negara asal Korea Selatan, Bahasa asli Korea. Jumlah episode: 12


Rakyat bersatu tak bisa dikalahkan. Rakyat bersatu tak bisa dikalahkan! Selama ini untuk mempelajari ilmu politik seringkali seseorang filsuf politik lebih dibutuhkan dari seorang sutradra film. Aristoteles, Thomas Hobbes, Machiavelli, John Locke, Jean-Jacques Rousseau, John Rawls, sampai Hanna Arendt dan Jurgen Habermas merupakan nama-nama populis dalam industri wacana politik. Dibanding mereka, Kim Hee Ae, Soo Young, Seo Yi Sook, Kim Tae Hoon, Jin Kyung tidak menulis buku tentang ilmu politik, dan bahkan tidak pernah sama sekali berniat untuk melakukannya. 

Nama-nama ini lebih kesohor sebagai pemain peran dalam industri perfilman Korea, yang bermain dalam Queenmaker (2023), sebuah film drama berlatar politik sebagai isu ceritanya. Beberapa di antaranya merupakan nama-nama yang cukup dikenal membintangi beberapa film. 

Queenmaker disutradarai Oh Jin Suk, yang juga menggarap The Gang Doktor dan My Sassy Girl, serial drama yang tidak kalah menarik belaka. Seperti nama judulnya, cerita Queenmaker nyaris semuanya beririsan dengan figur perempuan; kesetiaan, parenting, penegakan HAM, serikat buruh, KDRT, kepemimpinan, perselingkuhan, eksploitasi anak dan seksual, dan sampai kepada manajemen opini publik merupakan tema-tema yang tersebar dalam film ini, yang semuanya hasil dari ”pertikaian” perempuan. 

Berporos kepada Hwang Do Hee (Kim Hee Ae) seorang wanita bertangan dingin sebagai manajer umum untuk tim perencanaan strategis di Grup Eunsung, sebuah korporasi raksasa di kota Seoul yang diceritakan dapat berbuat semaunya melalui kekuatan uangnya, dan seorang aktivis perempuan cum pengacara HAM, Oh Kyung-sook (Moon So-ri) yang menjelma menjadi calon walikota independen dalam perebutan kursi panas menjadi orang nomor wahid kota Seoul. 

Nampaknya film ini akan lebih menarik jika seseorang feminis menyaksikannya sebelum kemudian membuat analisis tajam bagaimana seorang perempuan memanfaatkan ruang publik sebagai medium mereka untuk menyatakan keadilan. Atau seorang mahasiswa yang bercita-cita ingin menjadi kepala organisasi masyarakat dengan menghabiskan banyak waktunya di dalam kampus menjadi seorang aktivis tulen sampai ia kehabisan semester. 

Tapi, jika seorang politikus ikut serta menghabiskan jalan cerita film dengan 12 episode ini, mungkin akan berpikiran bahwa sebagian besar plot dan alur ceritanya merupakan suatu realisme politik, yaitu fakta-fakta berkaitan dengan pencitraan politik, opini publik, intrik kekuasaan, pembusukkan karakter, aksi tipu-tipu, kampanye hitam, negoisasi haram, dll., yang dengan gampang ditemukan dalam dunia politik, dan telah menjadi cara dari seseorang politikus rendahan bin karbitan menggunakan pengaruh politiknya. 

Saya sendiri sangat sulit melepaskan asosiasi atas film ini dengan kondisi politik di Tanah Air selama ini yang belakangan dimenangkan oleh seorang mantan tentara dan seorang anak presiden. 

Saya menjadi bertanya-tanya apakah cerita dalam film ini betul-betul terjadi dalam penyelenggaraan sistem politik Indonesia, terutama mengenai intrik kepentingan yang memperlihatkan ambisi kekuasaan dengan memanfaatkan sumber daya kepemimpinan, ekonomi, jaringan komunikasi, saat masuk musim pemilu. Ya, inti dari Queenmaker adalah kontestasi politik dalam rangka meraih kemenangan untuk menjadi walikota Seoul, kota yang sekarang menjadi salah satu corong dari pengaruh budaya Korea yang belakangan ini mendunia dan menjadi kiblat kebudayaan baru. Jadi, tidak perlu mengutip-ngutip nama Aristoteles atau Machiavelli—tapi film ini betul-betul menceritakan sebagian besar gagasannya— untuk memahami seperti apa ide-ide kehidupan politik diaplikasikan di dalam suatu konteks sejarah masyarakat, yang senantiasa mudah berubah akibat sentimen-sentimen rendah selain dari gagasan politik. 

Telah diketahui sampai saat ini politik senantiasa diandaikan sebagai wahana untuk memfasilitasi aspirasi, gagasan, harapan, dan cita-cita ideal dalam konteks kehidupan bersama, meski seperti dalam gagasan politik Aristotelian, semua itu hanya bisa diakses oleh kelompok laki-laki, sementara perempuan memiliki ranah lain berupa wilayah ekonomikos untuk mengurus rumah tangga. Suatu wilayah yang konsepnya tidak seluas pengertian res publica, yaitu kehidupan banyak orang yang membentuk negara-kota. Dari titik ini, politik merupakan suatu pengertian yang diwacanakan berada jauh dari kehidupan privat seorang perempuan. 

Dengan begitu, film Queenmaker sebenarnya suatu promosi yang ikut mempertajam gagasan antitesa mengenai ide-ide feminisme, yang sudah tentu salah satunya dalam rangka melawan ideologi gender yang dibentuk oleh imajinasi patriarki. Dari titik ini tidak ada salahnya melalui tangan sutradara film Anda mencari-cari hubungan teori-teori politik dengan konteks praktis dari penerapannya. Mempelajari sesuatu hal dari film menurut saya tidak ada ruginya. 

Karena itu, konsep-konsep demokrasi, teori subjek, keadilan, dan hak asasi seperti ditemukan dari gagasan para ilmuwan politik masih akan terasa sulit dimengerti karena untuk membayangkannya seseorang membutuhkan kemampuan konseptual untuk membantunya mencerna semua itu. Ketimbang Anda sulit mengatasi dialektika pemikiran yang ditemukan dari debat-debat pemikiran politik, lebih baik Anda melihatnya dengan cara lain, yaitu menyaksikannya melalui pengalaman langsung saat ide-ide itu ditampilkan dalam bentuk film.

 Dari wilayah ini ada benarnya bahwa demi mencari kebijaksanaan untuk memahami bagaimana masyarakat manusia merealisasikan eksistensinya melalui politik, dapat juga ditemukan melalui bagaimana manusia memerankannya secara ril walaupun hanya dalam bentuk skenario film. Boleh dikata, selama ini film tidak hanya memberikan kesenangan visual semata, tapi juga dapat membantu seseorang mengenali kebajikan yang terpendam dari dalam dirinya sendiri. Itu sebabnya, seringkali seseorang akan mengalami rasa jengkel, senang, sedih, dan tercerahkan, atau merasakan beragam pengalaman kemanusiaan lainnya meski ia hanya duduk di depan layar kaca sambil menikmati camilan manis.