Shogun: Perang Raksasa Tanpa Perang Raksasa

Bahrul Amsal, 3 Mei 2024

Genre: Drama sejarah Militer. Dibuat oleh Rachel Kondo, Justin Marks. Berdasarkan Shōgun oleh James Clavell. Pemeran: Hiroyuki Sanada, Cosmo Jarvis, Anna Sawai, Tadanobu Asano, Takehiro Hira, Tommy Bastow, Fumi Nikaido. Penata musik: Atticus Ross, Leopold Ross, Nick Chuba. Negara asal: Amerika Serikat. Bahasa asli Inggris, Jepang. Jumlah episode: 10


Shogun (2024) benar-benar epik. Sejak dari scene pembuka, saat sebuah kapal asing mulai nampak dari kabut tebal, memberikan efek dramatis yang kuat. Saya sendiri menemukan suatu gagasan bahwa adegan semacam ini telah dipikirkan matang-matang sebagai strategi penayangan untuk menunjukkan kesan misterius, dalam, tak terduga, dan melahirkan tanda tanya berkaitan dengan jalan cerita macam apa yang bakal ditemukan setelahnya. 

Bagaimana bisa sekelompok pelaut Eropa terombang-ambing selama berbulan-bulan di dalam lambung kapal yang nyaris karam, dan kemudian tidak terduga sampai di sebuah pulau yang ternyata adalah Jepang? Pertemuan orang-orang Eropa dengan Jepang di era 1600-an merupakan konteks historis yang selama ini masih menjadi studi tersendiri terutama berhubungan dengan wacana kolonialisme dan misi pencerahan melalui penyebaran agama Kristen. 

Ini seperti mengulang ide mengenai ”peradaban” dalam The Last Samurai (2003) yang dibintangi Tom Cruise, ketika Jepang menjadi tujuan perjalanan dari orang-orang Eropa yang memberikan sedikitnya dampak budaya dan politik mengubah Jepang dari dalam memasuki masa transisi ke era versi lebih modern. 

Tapi, bukan hanya Jepang sebenarnya, kesan ini akan lebih kuat ditemukan di negara-negara dunia ketiga seperti Indonesia. Saya sendiri melihat adegan dalam Shogun ketika orang Eropa yang Kristen bertemu masyarakat Jepang penganut Budhisme, merupakan perjumpaan dua budaya yang masing-masing diliputi pengetahuan yang masih samar-samar satu sama lain, bahkan dipengaruhi prasangka, streotype, dan tuduhan. Sesuatu hal yang di masa lalu alih-alih dapat mendorong terjadinya dialog, tapi dapat memicu perselisihan atau bahkan perang jika dua orang asing bertemu. 

Ini suatu masa ketika satu budaya masyarakat belum dapat bergerak terlalu jauh melebihi kapasitas alat transportasi yang masih terbatas. Ini suatu fase sejarah ketika mesiu, kompas, dan mesin uap menjadi temuan sangat signifikan bagi bangsa-bangsa tertentu yang mengubah konsepsi dunia melalui perang yang berskala luas, pelayaran yang makin jauh, dan ditemukannya teknologi mekanik sehingga menjadi sebab kelahiran budaya berbasis industri dan kapitalistik. 

Perlu untuk melihat kata budaya di sini kerap diartikan secara sepihak, terutama bagi bangsa Eropa yang melihat negeri-negeri baru, yang menurut mereka, masih hidup dengan cara orang liar. Tapi, sudut pandang ini tidak sepenuhnya berlaku dalam Shogun dikarenakan diksi barbarian akan selalu disematkan kepada pelaut bernama John Blackthorne di hampir semua episode miniseries ini. Shogun adalah drama politik yang diangkat dari novel berjudul sama ditulis James Clavell dan rilis pada 1975. John Blackthorne (Cosmo Jarvis) adalah navigator Inggris yang diceritakan terdampar pasca kapal mereka tidak memiliki harapan untuk bergerak selain hanya mengikuti arah angin, dan mereka kemudian menemukan daratan Jepang. 

Dari sinilah plot awal Shogun, yang mula-mula agak sulit saya mengerti apa yang sesungguhnya terjadi saat itu. Kebingungan yang saya kira akan dialami oleh hampir semua orang jika diperhadapkan kepada suatu konteks yang asing, termasuk ide cerita awal film ini. Kebingungan ini dapat dikata juga merupakan pesan yang sama yang dialami Blackthorne; ia disusul suatu realitas baru yang berbeda sama sekali dari kehidupan sebelumnya di kota London. 

Jepang yang disaksikannya merupakan suatu masyarakat yang diatur dengan ketat oleh nilai-nilai feodalistik, kepercayaan atas takdir, adat tradisi, dan sistem hirarki politik yang menuntut loyalitas tanpa batas, yang tidak sama cara berpikirnya, penghayatan, dan pengalamannya dari kacamata seorang Eropa macam Blackthorne. 

Di titik ini, seperti seorang penunjuk arah, melalui sudut pandang Blackthorne, dan memang dalam arti harfiah ia menjadi wakil kita dalam melihat realitas masyarakat yang sarat dengan nilai dan tradisi yang kuat. Kelak Balckthorne akan tinggal bersama seorang pemimpin berkharisma bernama Yoshii Toranaga, dan akan membentuk aliansi dalam menghadapi perang saudara yang sebentar lagi bakal meletus di Jepang. Beberapa pernyataan sebagian orang cukup mengagetkan mengenai kesamaan Shogun dan Game of Thrones (2011) dari sisi eksploitasinya terhadap politik sebagai latarbelakang ceritanya. 

Mungkin kesamaan dua serial ini adalah gagasannya mengenai betapa cepatnya perubahan yang dihasilkan kekuasaan apabila ia mengalami krisis legitimasi pasca pejabatnya sakit dan lalu mangkat. Seketika pengaruhnya sampai mengubah relasi kesetiaan, watak, peran, dan persekutuan yang dikondisikan ulang berdasarkan kepentingan saat itu. Premis seperti ini sepertinya bukan saja menarik diangkat ke dalam dunia sinematik, tapi karena memang seperti itulah sejarah kekuasaan yang terjadi. Bukan saja dalam dinamika politik, melainkan juga kehidupan budaya dan agama. 

Shogun film dengan niat yang betul-betul niat. Suasana Jepang abad 17 benar-benar nyata secara visual: arsitektur rumah, kimono, baju zirah, gedung kerajaan, jalan-jalan perkotaan, sampai kepada panorama alam yang mengindikasikan kebersahajan dari orang-orang yang hidup di dalamnya. Jepang dalam hal ini sekumpulan tradisi yang kuat secara moral dan keyakinan, mengenai bagaimana sepoci teh hijau disuguhkan melalui teknik yang rumit, seni melayani seorang geisha, sampai kepada penataan taman yang mengedepankan filosofi zen, semuanya menyiratkan sebuah ajaran yang berpangkal dari kekuatan kosmologi yang dipraktikkan sebagai sebuah jalan hidup. 

Dari sisi peran, saya pribadi terkesima dengan permainan watak Hiroyuki Sanada sebagai Yoshii Toranaga, seorang busho berdarah dingin dan mantan pemimpin perang dengan riwayat garis keturunan Minowara, keluarga shogun, yang memiliki pengaruh militer dan politik sampai dapat mengendalikan pemerintahan secara turun temurun. 

Tapi, Toranaga enggan mengambil peran semacam itu karena era keshogunan Jepang sudah berakhir. Itulah sebabnya ia mengusulkan Taiko, raja saat itu, sebelum ia meninggal untuk membentuk dewan bupati penguasa beberapa kota agar dapat memimpin secara kolegial sampai ahli waris kerajaan cukup umur untuk memimpin Jepang. 

Selain Sanada, pemain seperti Anna Sawai sebagai Toda Mariko, perempuan keturunan bangsawan yang diasingkan, juga berperan sangat baik sekali dengan menyembunyikan dilema seorang perempuan ketika menjadi istri seorang samurai, pengikut Kristen, dan bawahan Toranaga sebagai tuannya, yang sekaligus terlibat perasaan dengan Blackthorne, si barbarian Eropa. 

Karakternya yang misterius, dingin, loyal, dan menyimpan malu dan dendam masa lalu mewujudkan seorang Mariko yang kuat secara karakter. Singkatnya, Shogun merupakan epik drama dengan naskah dan ide cerita yang kuat dan dieksekusi dengan baik oleh set penampilan karakternya. Syahdan, tidak sedikit yang meremehkan film ini karena berakhir tidak seperti yang diekspektasikan, bahwa perang raksasa akan meletus setelah kekuatan taktik Toranaga berhasil menghimpun aliansinya tanpa berhasil mengumpulkan kekuatan militer yang cukup. 

Alih-alih itu terjadi, adegan-adegan terakhir dari Shogun merupakan tebak-tebakkan tersendiri, apakah jalan cerita Jepang saat itu akan menyaksikan pertumpahan darah besar-besaran, atau sama persis seperti pertunjukkan siasat politik Toranaga tanpa perlu menghunuskan katana dapat menyatukan Jepang, meski tidak melalui riwayat keluarganya untuk menjadi seorang shogun