Bahrul Amsal, 28 Mei 2024
Genre: Dark comedy, Thriller. Berdasarkan Money Game & Pie Game oleh Bae Jin-soo. Ditulis oleh Han Jae-rim. Sutradara: Han Jae-rim. Pemeran: Ryu Jun-yeol, Chun Woo-hee, Park Jeong-min, Lee Yul-eum, Park Hae-joon, Lee Zoo-young, Moon Jeong-hee, Bae Seong-woo. Negara asal: Korea Selatan. Bahasa asli Korea. Jumlah episode: 8
The 8 Show justru adalah film yang mengasosiasikan pikiran saya
kepada teori-teori ilmu sosial yang selama ini saya pelajari. Melalui
sosiologi dijelaskan bahwa masyarakat itu berlapis-lapis,
bertingkat-tingkat sehingga ada sekelompok masyarakat yang hidup di
puncak teratas dengan kenikmatan yang tidak pernah dibayangkan oleh
kelas bawah. Bahwa setiap orang memiliki peran masing-masing dan
berfungsi saling menyokong membuat sistem dapat bekerja teratur. Ya,
kehidupan yang sering dianggap serba acak ini ternyata memiliki
pola-pola, sebuat patern yang ternyata saling terhubung sedemikian
rupa saling mempengaruhi. Itu menandai bahwa tidak ada kehidupan yang
benar-benar independen.
Semuanya terkoneksi dan mengalami
interpendensi. Boleh jadi perilaku Anda membuang sampah sembarangan
berdampak buruk bagi kehidupan ikan-ikan yang berada berkilometer
dari tempat Anda tinggal. Kematian ikan-ikan bisa membuat sebuah desa
nelayan beralih pekerjaan menjadi pengumpul sampah di kota-kota. Bisa
juga sebuah keputusan politik di Jenewa menyebabkan berhentinya
genosida di Timur Tengah. Ah, contoh ini memang bertendensi politik,
terutama atas kejadian selama ini di Palestina—apakah saat ini
segalanya mesti dikaitkan dengan Palestina? Saya rasa tidak juga,
tapi saya pribadi berkepentingan untuk itu.
Tapi, apa yang selama ini
tidak bersentuhan dengan politik? Hampir semuanya. Aristoteles saja
sudah sejak lama memberikan pendasaran kuat bahwa manusia merupakan
makhluk pekerja sama sehingga perlu mengenyampingkan egonya agar
mendapatkan teman sebanyak mungkin. Mereka perlu diajak bernegosiasi.
Biar bagaimanapun hidup berkelompok jauh lebih menguntungkan daripada
hidup sendiri. Sudah pasti akan banyak pilihan jika Anda dapat
bertukar kado ketimbang sendiri dalam suatu pesta. Karena itu manusia
mesti memikirkan cara terbaik memilih teman, kapan ia harus
memberikan perhatian atau memberikan ruang bagi diri masing-masing
agar memiliki banyak waktu untuk berpikir.
Itulah politik yang sering
digaungkan di dalam frase: hidup adalah pilihan. Manusia adalah zoon
politikon. Seandainya semua orang memilih menjadi pribadi yang egois
atas apa yang ia pikirkan, maka tidak ada kelompok sosial yang dapat
eksis bertahun-tahun. Bahkan pernikahan sekalipun. Seorang suami atau
istri harus mengatur keinginan-keinginannya jika ingin melihat
pasangannya dapat terus menemaninya di sepanjang malam. Nah, The 8
Show juga sangat gamblang menyampaikan hal semacam ini. Semua manusia
jika ia sudah mampu berpikir pasti akan memberikan pemikiran
cemerlangnya untuk bekerja sama dalam kelompok.
Hal semacam inilah
yang menjadi unsur utama di dalam paguyuban, klan, komunitas, bangsa,
sampai negara. Jika Anda penggemar drama-drama Korea, sampai menjadi
demam hanya untuk mengikuti jalinan kisah serial-serial panjangnya,
besar kemungkinan telinga Anda akrab mendengar nama-nama ini: Park
Jeong Min (Hellbound), Ryu Jun Yeol (Reply 1988), Chun Woo Hee (The
Atypical Family), Park Hae Joon (Arthdal Chronicles), Lee Yul Eum
(Nevertheless), Bae Sung Woo (Dating Agency Cyrano), Lee Joo Young
(House of Lies), Moon Jeong Hee (Vagabond). Mereka inilah yang
memerankan delapan orang kontestan reality show setelah diundang
pasca bangkrut, kere, atau jatuh miskin seketika. Suatu alasan yang
sudah cukup bagi siapa pun untuk mau menerima tawaran hadiah uang
asalkan mereka rela memberikan waktu yang mereka punya.
Tapi, agar
setiap waktu menjadi uang, mereka harus ikut ke dalam permainan yang
telah dipersiapkan oleh seseorang yang tidak mereka ketahui. Dalam
permainan mereka harus tinggal di delapan kamar berdasarkan nomor
kartu yang telah mereka pilih. Lantai satu sampai delapan, yang
masing-masing akan menerima sejumlah uang berdasarkan tingkatan
kamarnya. Makin tinggi kamarnya makin besar pemasukkannya. Makin ke
bawah makin kecil uang yang ia terima—sudah tentu yang paling sial
adalah penghuni lantai satu. Sebuah piramida kemiskinan. Ini jelas
suatu gambaran yang gamblang menerangkan bahwa setiap kelas
masyarakat akan diatur oleh hukum pertukaran yang sama, meski setiap
orang memiliki pendapatan berbeda. Dikarenakan memiliki kemampuan
finansial berbeda membuat setiap dari mereka memiliki harapan dan
kenginan bermacam-macam.
Setiap penghuni kamar memiliki target
berbeda-beda, yang menampakkan bagaimana selera mereka mempengaruhi
pola konsumsinya. Dengan kata lain, dari problem ekonomilah seorang
individu akan menentukan seperti apa orientasi hidupnya. Di realitas
sebenarnya waktu menjadi ukuran segala hal. Sudah sejak lama waktu
menjadi tantangan tersendiri yang harus dipecahkan manusia. Sejak
ilmu mekanika berkembang, dari era kereta kuda sampai era mesin jet
manusia makin mudah menaklukkan waktu (sekaligus ruang). Time is
money, begitu keyakinan banyak orang.
Era kapitalisme membuat setiap
pekerjaan perlu dilihat dari sudut pandang efisiensi dan efektivitas.
Pekerjaan seorang buruh dalam semenit akan kalah dari mesin meski
keduanya diberikan waktu yang sama. SIstem kerja mesin yang telah
diprogramkan akan lebih banyak menghasilkan produk dibandingkan
tenaga manusia. Apalagi jika mesin itu benar-benar distel dengan
level kerja yang ahli, tentu hasilnya akan jauh lebih bagus dari
kreasi tangan manusia. Mesin tidak mudah lelah, tidak akan
menggerutu, dan patuh sehingga lebih mudah dikontrol dibandingkan
sekelompok buruh yang diam-diam membaca buku-buku pemberontakan.
Mesin tidak pernah merencanakan revolusi. Itu yang membuat mesin
sekarang ini lebih disukai karena selain efektif menghasilkan
pekerjaan, ia bisa lebih objektif dari manusia.
Sekarang kehidupan
manusia sedang berada dipersimpangan jalan. Era posthuman. Di masa
akan datang kehidupan manusia akan makin canggih, makin bergantung,
dan banyak mengandalkan bantuan mesin-mesin pintar, yang dengan cara
itu suatu emansipasi bagi manusia. Kedepan kita dapat terbebas dari
banyak pekerjaan agar lebih mudah memanfaatkan waktu untuk menonton,
membaca buku, atau berbelanja. Jika sebelumnya keberadaan seorang
budak atau ART membuat seorang majikan dapat leluasa melakukan apa
saja, tidak lama lagi adalah mesin-mesin yang akan berada di sekitar
Anda.
Mendengar film dengan tantangan permainan, Squid Games (2021)
dan Alice in Borderland (2020) adalah dua film yang tidak mungkin
diabaikan. Baik Squid Games dan Alice in Borderland merupakan film
yang populer beberapa tahun lalu mengedepankan strategi, ketangkasan,
dan kerja sama sebagai unsur-unsur pentingnya. Dalam permainan
keduanya, kematian menjadi unsur selektif yang berarti Anda harus
bertahan hidup bagaimana pun caranya agar dapat terus maju ke level
selanjutnya. Jika mati Anda tidak akan mendapatkan apa-apa.
The 8
Show, bukan jenis tantangan yang mengeksploitasi kematian untuk
menghentikan peserta ke jenjang selanjutnya, melainkan lebih
memperlihatkan suatu realitas yang dapat mewakili kesengsaraan
sebagai tontonannya. Makin sengsara makin banyak waktu diberikan agar
delapan orang ini lebih lama tinggal di lokasi permainan yang diset
menyerupai areal wahana bermain pasar malam.
Makin sering delapan
kontestan ini memberikan tontonan menarik makin banyak bonus waktu
diberikan untuk mereka. Begitu seterusnya sehingga mereka terjebak di
dalam waktu bermain yang makin lama membuat mereka tidak bisa
berhenti dan keluar. Itulah sangkar waktu yang mengkondisikan hampir
setiap orang saling menawan melalui tontonan.
Mirip logika live
streaming, makin banyak penonton memberikan give away kepada si
pembuat konten makin senanglah kedua pihak. Dengan logika produksi,
si pembuat konten dan si konsumen sama-sama saling membutuhkan untuk
menemukan sensasi dari apa yang terjadi di dalam screen. Melalui
kenikmatan layar keduanya sama-sama tenggelam dalam waktu yang makin
lama makin banyak dikonsumsi. Secuplik uraian ini merupakan sisi
gelap masyarakat tontonan, yang mengubah relasi antar manusia ke
level interaksi simbol-simbol.
Dalam tontonan, tidak ada sekumpulan
gambar selain relasi manusia yang dihubungkan melalui citra, simbol,
dan tanda. Yang asli adalah copyan. Yang berwujud adalah
representasi. Yang real adalah yang palsu. Anyway, serial ini pada
permulaannya membuat saya tidak cukup yakin untuk menontonnya lebih
lama. Agak membutuhkan waktu tapi makin ke sini makin kelihatan
premis dari film ini.
Nampaknya inilah film yang menceritakan
masyarakat mutakhir yang makin melanggengkan disparitas kelas sosial,
terjerumus oleh kepentingan sendiri-sendiri, dan menemukan kesenangan
melalui simbol-simbol dan penderitaan. Sebuah malapetaka memang.