Bahrul Amsal, 15 Juni 2024
Directed: Khozy Rizal. Written: Khozy Rizal. Produced: John Badalu, Sue Turley. Starring: Arham Rizki Saputra, Rezky Chiki. Cinematography Andi Moch Palaguna. Music by Abdul Chaliq DP. Production companies: Hore Pictures XRM Media. Distributed: Lights On. Release date: 26 May 2023 (Cannes). Running time: 15 minutes. Countries: Indonesia
Basri
and Salma in A Never-Ending Comedy merupakan film pendek yang
memikat, setidaknya bagi saya dari warna ceria titlenya: pink dan
kuning, dicetak miring dengan meyerupai jenis font coper black.
Kemudian di atas covernya sepasang lelaki dan perempuan berpose di
depan odong-odong, wahana bermain murah meriah, tapi sering membuat
banyak orangtua kehabisan cara menjauhkannya dari anak-anak saat
muncul di depan kompleks atau gang-gang perumahan.
Seperti biasa,
warna odong-odong yang berwarna-warni juga menambah kesan bahwa film
ini tidak sedang berbicara sesuatu hal yang gelap dan kelam. Tapi,
siapa Basri, siapa Salma? Mengapa nama mereka menjadi judul film
berdurasi kurang dari 20 menit ini. Kisah apakah yang ingin mereka
sampaikan kepada calon penontonnya?
Bagi saya sendiri, dengan sering
menyaksikan film-film kesohor melalui kamera-kamera sutradara
berkaliber internasional atau ternama, Basri dan Salma menjadi jeda
tersendiri. Selama ini sebagai penonton, kebosanan menyaksikan
film-film yang digarap dengan biaya besar, melibatkan aktor ternama,
sutradara kesohor, dan penggunaan teknologi canggih kerap meminta
sesuatu yang berbeda. Di aplikasi berbayar, nyaris semua daftar
pilihan dipenuhi drama yang didominasi dari negeri gingseng. Tren
drama Korea yang menjajal penonton dengan pendekatan serial, nyaris
menyerupai sinetron ala televisi meski dengan kekuatan jalan cerita
yang terbilang cukup mengasyikkan.
Tapi, tetap saja, dengan seri demi
seri, perlu banyak kompromi untuk menyediakan waktu menyaksikan
tuntas semua episodenya. Bagaimana dengan film-film barat? Selama ini
sudah banyak superhero yang menyedot perhatian dengan aksi laga
sampai pertarungan tingkat galaksi. Tentu saja teknologi CGI membuat
itu seperti benar-benar terjadi, tapi dengan mempercayai apa yang
disaksikan, film-film superhero seperti itu seperti sedang
membodoh-bodohi jutaan anak-anak.
Konon, efek samping dari itu saat
ini di Amerika imajinasi heroik anak-anak tidak berasal dari dalam
sejarah perjuangan mereka sendiri karena banyak dijejali tokoh fiktif
seperti Superman, atau Iron man. Jadi karena mengetahui film ini
dibikin oleh sutradara muda asal Makassar, Khozy Rizal, yang juga
cukup berhasil melalui 2 film pendek sebelumnya Makassar is a City
for Football Fans (2021) dan Ride to Nowhere (2022), satu hal lain
ikut mendorong saya untuk segera menonton film ini.
Selama ini Khozy
Rizal tidak kalah saing dengan nama-nama seperti Wregas Bhanuteja
(Lemantun (2014)), Bobby Prasetyo (KTP (2016)), atau Wahyu Agung
Prasetyo (Tilik (2018)), yang juga punya kans tersendiri. Saya sudah
pernah menonton ketiganya, dan tentu juga perlu mengapresiasi film
pendek besutan asal Makassar ini.
Jadi singkat cerita Basri (Arham
Rizky Saputra) dan Salma (Rezky Chiki) merupakan sepasang suami istri
yang sehari-hari bekerja sebagai tukang odong-odong melalui karnaval
di sekitar tempat tinggal mereka. Pergi pagi pulang malam mencari
anak-anak untuk mereka hibur hatinya.
Sudah lima tahun pasangan ini
tidak dikarunai anak, kontras dengan dua saudara laki-laki Basri.
Kontras pula dengan pekerjaan mereka yang setiap hari bertemu
anak-anak, keceriaan yang nyatanya tidak sampai masuk di hati mereka.
Odong-odong yang mereka putar, sarat warna, dan diisi gelak tawa
anak-anak hanyalah selimut yang menyembunyikan perasaan sedih yang
mereka rasakan. Musik odong-odong yang mengiringi suka cita nyatanya
bukan representasi dari keadaan mereka berdua. Basri dan Salma
menjadi objek perundungan dari dua saudara Basri, dan.. ibunya
sendiri.
Singkatnya dari keluarga mereka sendiri. Keduanya korban
ideologi gender dan patriarkisme.
Di atas meja makan, tempat paling
intim bagi keluarga manapun, malah menjadi meja hijau bagi Basri dan
Salma. Keluarga kecil mereka diragukan sebagai pasangan normal. Alat
kelaminnya dikatai malfungsi, dan rahim salma diminta
pertanggungjawabannya. Kapan mereka punya anak. Meskipun dikatakan di
tengah perbincangan basa-basi keluarga sambil ketawa-ketiwi, tapi
poinnya di scene ini jelas: itulah bullying dan nyelekit.
Ini kurang
lebih seperti dihadapi banyak pasangan suami istri bertahun-tahun
nikah tapi belum diberi keturunan. Menjadi bahan gosip, perbincangan,
dan materi pertanyaan dari orang-orang di sekitarnya. Masyarakat
terkadang memang kejam. Begitu pula keluarga, tidak pernah menimbang
perasaan orang yang dibicarakan, dikiranya semua pasangan datang dari
jenis yang sama.
Tuntutan demikian itu disebabkan patriarkisme.
Mempunyai anak merupakan kewajiban, otomatis terutama dilihat dari
sudut pandang kejantanan laki-laki. Seolah-olah hidup matinya
masyarakat ditentukan dari kemampuan laki-laki membuahi perempuan,
dan memberikan anak-anak yang banyak agar generasi dapat terus eksis
sampai membentuk sebuah komunitas besar bernama peradaban.
Bahkan
ideologi patriarkisme mendorong suatu keyakinan umum bahwa dengan
melahirkan banyak anak serta merta berkorelasi dengan seberapa banyak
income yang dihasilkan dari setiap anak-anak. Makin banyak anak,
makin banyak pula rezekinya. Keyakinan seperti ini menurut saya tidak
dapat berlaku di dalam sistem masyarakat yang memelihara kemiskinan,
ketidakadilan, dan mendewakan satu jenis kelamin.
Saat ini konsep
masyarakat yang makin individualistik dan kapitalistik, semakin
banyak anggota keluarga akan mendatangkan pengeluaran ekonomi yang
tidak sedikit. Risiko kebangkrutan keluarga juga makin besar
dikarenakan konsep keluarga saat ini hanya sampai pada keluaga batih
(nuclear family), yaitu ayah, ibu, dan anak. Bias keluarga semacam
ini makin lebar dikarenakan perbedaan cara pandang tiap generasi
dalam melihat keberadaan anak-anak. Di masa lalu bagi orangtua kita,
memiliki banyak keturunan menandai kesuburan, kesehatan, dan menjadi
sumber perasaan bahagia jika seisi rumah dipenuhi banyak anak.
Sekarang, persepsi semacam itu telah bergeser dikarenakan makin
kompleksnya tuntutan hidup, orientasi, dan tujuan dari mempunyai
anak.
Bagi generasi sekarang, memiliki anak perlu diperhitungkan dari
berbagai variabel, termasuk di dalamnya kesanggupan memberikan
perhatian dan biaya ekonominya.
Patriarkisme tidak berhenti sampai di
situ saja, malah mendominasi sampai menentukan keputusan-keputusan
penting dengan mensubordinasi perempuan. Perempuan di dalam ideologi
patriarkisme hanya merupakan objek dan bukan sebagai pelaku. Termasuk
dalam menentukan keturunan, ada atau tidak nyaris tidak pernah
dibicarakan setara dengan pihak perempuan.
Selama ini, melalui
tradisi turun temurun, keluarga senantiasa membebankan perempuan
sebagai semacam pabrik yang kapan saja harus memberikan anak. Bahkan
keluarga adalah pabrik itu sendiri dan perempuan sebagai kelas
pekerja yang perlu menghasilkan keturunan berdasarkan keinginan pihak
laki-laki. Keluarga seperti ditampakkan melalui Basri dan Salma,
menjelma menjadi pusat dorongan, gejolak, dan ambisi lingkungan
sosial yang merepresentasikan ideologi laki-laki.
Keluarga
digambarkan bukan sebagai tempat yang nyaman, tenteram, dan aman,
melainkan menjadi seperti neraka, menjadi seperti menara pengawas
masyarakat yang mengontrol anggotanya terkait segala sesuatu yang
dilakukan.
Basri dalam film ini diceritakan sebagai karakter pendiam,
suka berkhayal dengan kebiasaan merokok untuk menyamarkan kekalutan
pikiran-pikirannya. Tidak bisa ditampik ia menjadi seseorang yang
banyak memendam persoalan dan menjadi tidak biasa bagi seorang
laki-laki dewasa di dalam budaya yang memuja laki-laki untuk
mengutarakan perasaannya dengan gampang. Sebaliknya, Salma nyaris
berbeda 180 derajat dari suaminya, lebih terbuka, suka bermedia
sosial dan lebih acuh dengan keadaan yang sedang mereka hadapi.
Dua
karakter yang cukup kontras ini dapat mengartikan bentuk permasalahan
yang ditanggapi secara berbeda. Dari sisi budaya Bugis-Makassar,
Basri baru dapat dinyatakan sebagai laki-laki yang betul-betul
laki-laki jika dapat memanfaatkan tellu cappa (tiga ujung) sebagai
faktor keberhasilan hidupnya. Absennya salah satu dari ketiga ini,
seorang laki-laki dianggap belum cukup sempurna. Basri nyatanya belum
sepenuhnya dapat meneggakkan harga dirinya di hadapan keluarganya
melalui “cappa laso”. Sementara Salma, akan muncul sebagai
perempuan yang lebih memiliki kontrol dengan keputusannya yang
menjadi kunci dari film ini.
“Sundala” begitu kata pamungkas
Salma untuk menyatakan pilihan dan keberaniannya di akhir film,
dengan sebelumnya bersenggama bersama suaminya, Basri, di atas
odong-odong. Sebuah kritik kepada patriarkisme.