Bahrul Amsal, 8 September 2024
Tanggal rilis: 17 April 2024 (Indonesia)Sutradara: Gina S. Noer, Dinna Jasanti. Durasi: 1 jam 46 menit. Genre: Drama, Film keluarga Produser: Gina S. Noer, Chand Parwez Servia. Skenario: Gina S. Noer.
Saat
ini saya lebih tertarik menulis tentang Dua Hati Biru (2024) sekuel
dari Dua Garis Biru, drama keluarga yang rilis 2019 lalu. Beberapa
bulan lalu, saya juga sudah menonton Agak Laen (2024), drama komedi
yang dieksekusi dengan cukup bagus, komedinya ditonjolkan cukup kuat,
mungkin karena dibuat oleh seorang komedian dan diperankan juga oleh
banyak komedian. Lebih lama lagi, aksi komedian tidak kalah bagus
dalam Ngeri-Ngeri Sedap (2022), drama keluarga berlatarbelakang
tradisi Batak yang cukup kuat, setahu saya, sangat mengedepankan
maskulinitas laki-laki dalam keluarga sehingga menjadi seorang bapak
berarti perlu memiliki citra harga diri lelaki yang kuat: berwibawa,
keras, dan nonkompromis.
Yang tidak kalah bagus yang sebelumnya lebih
awal saya tonton adalah Jakarta vs Everybody (2021), film yang diisi
Jefri Nicol sebagai Dom, pria muda yang merantau dan terjebak
kehidupan serba keras a la ibu kota Jakarta dalam mencari jati
dirinya untuk menjadi seorang aktor, dan Wulan Guritno sebagai
Pinkan, seorang kekasih dari bandar narkoba yang diperankan Ganindra
Bimo.
Meski tidak tinggal di Jakarta, saya cukup memahami apa yang
ada dalam benak Dom sebagai seorang anak muda yang ingin mewujudkan
mimpinya bukan di tempat lain selain di Jakarta, kiblat bagi siapa
saja jika ingin mengubah jalan hidupnya, meski itu juga sebenarnya
merupakan sebuah perjudian.
Film lain yang perlu dinonton adalah Budi
Pekerti (2023), terutama para guru yang hidup menjadi bagian dari
masyarakat yang mengalami proses transformasi digital seperti
sekarang ini. Banyak hal berubah, termasuk di dalamnya interaksi
sosial guru-murid yang melibatkan dimensi-dimensi etik sebagai
seorang pelajar dan pengajar.
Isu bullying dalam film ini sangat kuat
merepresentasikan fakta-fakta yang terjadi di dunia pendidikan, yang
sangat berdampak kepada keutuhan keluarga dan masyarakat. Itulah
beberapa film yang saya kira tidak kalah memikat dibandingkan dengan
film-film luar negeri, yang saya ingat dari kegiatan saya
menghabiskan waktu di depan layar.
Selebihnya dari itu saya juga
menyaksikan beberapa film bertema horor, tapi tidak begitu bagus
menurut saya dikarenakan beberapa di antaranya hanya mengikuti arus
tren dalam industri film Indonesia termasuk drama bertema keluarga,
dan komedi yang berkemungkinan dapat menyerap lebih banyak penonton.
Logika jika horor atau komedi akan banyak penonton, bukan rumus paten
dalam industri kreatif perfilman. Tentu dibutuhkan penceritaan yang
masuk akal, karakter tokoh yang kuat, penjiwaan pemain yang natural,
serta unsur-unsur lain yang membuat sebuah film dikatakan bagus dan
cukup berhasil.
Menurut saya, salah satu film yang terbilang bagus
2024 adalah Dua Hati Biru, drama keluarga yang benar-benar
mencerminkan kehidupan yang sering dialami pasangan muda saat kali
pertama merintis kehidupan bersama: masalah anak, pekerjaan,
kemampuan ekonomi, tempat tinggal, mertua, dan seabrek problem
lainnya yang menjadi sumber pertengkaran, dilema, keresahan,
ketakutan, dan keganjilan sebagai pasangan yang menyadari hidup ini
bukan lagi menjadi milik kita sepenuhnya.
Pertama saya acungi jempol
peran Angga Yunanda (sebagai Bima) dan Aisha Nurra Datau (sebagai
Dara Yunika) sebagai orangtua muda yang mampu memperlihatkan
perasaan-perasaan mendalam dari masalah hidup masing-masing. Karakter
keduanya berpadu dalam lika-liku sebagai orangtua yang dituntut dapat
membesarkan seorang anak meski di dalamnya harapan dan keinginan dari
keduanya sering bertentangan dengan pola asuh dari mertuanya.
Dua
Hati Biru melanjutkan kisah Bima yang membesarkan Adam seorang diri
setelah Dara memutuskan ke Korea meraih apa yang ia inginkan untuk
melanjutkan studi lalu bekerja. Masalah datang empat tahun kemudian
setelah Dara memutuskan kembali ke Indonesia untuk memilih
membesarkan Adam.
Adam menjadi anak yang berjarak, tak mengenal
karena itu sulit berbaur dengan kehadiran Dara yang memiliki
ekspektasi lain. Adam mengenal Dara hanya melalui layar handphone
saat mereka berkomunikasi jarak jauh. Itulah ibu yang dikenal Adam,
bukan Dara yang telah hadir di tengah-tengah mereka.
Menjadi masalah
klise bagi siapa pun yang setelah menikah lalu memiliki anak ketika
berhadapan dengan pola asuh yang telah lama mapan, terutama yang
diterapkan oleh orangtua sebelumnya, yang dalam hal ini adalah
mertua. Seringkali masalah dimulai dari sini, saat persepsi cara
merawat anak mengalami benturan dari apa yang dilakukan orangtua
generasi kekinian dengan pola asuh generasi sebelumnya.
Dalam hal ini
berlaku yang lebih tua yang lebih berpengalaman yang berarti generasi
masa sekarang perlu banyak belajar kepada generasi kakek nenek yang
lebih memahami bagaimana cara mengasuh anak. Generasi X apalagi Baby
Boomers memiliki pola asuh cenderung tertutup dan otoritrer, menyukai
prinsip-prinsip seperti kerja keras, tangung jawab dan menghormati
otoritas.
Berbeda dari generasi yang datang setelahnya lebih
menekankan kemandirian, kreativitas, dan nilai-nilai subjektif yang
bisa ditanggung sendiri. Tapi, keadaan sudah berubah, dan malah zaman
sekarang memerlukan pola asuh yang sesuai dengan karakter, orientasi,
dan nilai-nilai yang banyak berperan di hari ini. Keluarga adalah
sebuah proses. Keluarga tumbuh, berkembang, dan berubah menuju satu
titik yang sulit diramalkan siapa pun. Bahkan keluarga merupakan
faktor yang kuat mengubah kepribadian seseorang. Kadang keluarga
sampai bisa bergerak maju, hingga suatu waktu bisa menjadi bagai
sebuah perahu yang hanya mengapung tak berdaya diterpa gelombang
ombak.
Boleh dikata keluarga adalah ruang pergaulan dan pergulatan
seumur hidup yang memberikan berbagai macam pengalaman agar siapa pun
di dalamnya dapat bertransformasi. Suka tidak suka, rela tidak rela.
Menjadi kupu-kupu atau sekadar berganti kulit seperti seekor ular
derik. Dua Darah Biru tidak saja menceritakan perjalanan keluarga
Bima dan Dara, tapi memiliki lapis cerita meski tidak dominan, yaitu
keluarga Bima dan Dara yang memiliki bias latarbelakang yang cukup
jauh. Keluarga Bima, yakni Ibu Yuni (Cut Mini) dan Bapak Rudi yang
tinggal di wilayah bantaran sungai Jakarta sudah cukup mencerminkan
status sosial masyarakat yang hidup berdesak-desakkan di pemukiman
padat.
Sementara keluarga Dara yang mencerminkan keluarga kelas
menengah atas memiliki masalah berbeda ciri khas orang gedean. Meski
hanya menjadi cerita sampiran, bukan berarti masalah dari
masing-masing keluarga tidak ikut mempengaruhi kedalaman dan keharuan
masalah dihadapi keluarga Bima dan Dara. Dari sisi sinematografi
penggunaan warna-warna cerah di beberapa scene memberikan efek
berbeda dari kekuatan konflik film berduarasi lebih dari 130 menit
ini.
Warna-warna cerah yang memberikan efek visual terang berdampak
kepada sisi psikologis mengimbangi dilema-dilema perasaan dari kedua
orangtua Adam. Kali ini Bima dan Dara telah berdamai dengan
kesalahan yang mereka lakukan ketika masih duduk di bangku SMA.
Bisa dibilang konflik mereka alami lebih mewakili dunia yang berbeda,
yakni lebih dewasa lebih realistis seperti yang dihadapi konflik
rumah tangga dari pasangan muda masa kini. Jika dari Dua Garis Biru
kita bisa belajar dampak dari perbuatan dua remaja yang melewati
batas dalam berpacaran, saat ini dari Dua Hati Biru, bagi yang
menyaksikannya akan menemukan betapa berisikonya jika membangun rumah
tangga dari waktu yang pada dasarnya belum matang untuk membina
mahligai pernikahan.
Banyak hal yang dipertaruhkan sehingga bagi
seseorang yang terlanjur melakukannya akan mengalami proses yang
cukup berat, sama seperti Bima dan Dara, dengan pengandaian hati yang
biru. Film ini film yang bagus menurut saya, ditambah beberapa
keterlibatan nama-nama seperti Cut Mini, Lulu Tobing, dan Arswendy
Bening Swara yang memerankan peran mereka dengan kejiwaan yang pas,
emosi yang pas, serta dapat menghidupkan karakter yang ikut terlibat
dalam konflik pasangan muda, Bima dan Dara.