Disutradarai oleh Pat Boonnitipat. Ditulis oleh Thodsapon Thiptinnakorn, Pat Boonnitipat, Diproduksi oleh Vanridee Pongsittisak, Jira Maligool. Dibintangi oleh Putthipong Assaratanakul, Usha Seamkhum. Sinematografi Boonyanuch Kraithong. Tanggal rilis 4 April 2024 (Thailand). Waktu berjalan 125 menit. Negara Thailand
How to Make Millions Before Grandma Dies (2024) patut disaksikan siapa saja, terkhusus yang memiliki ibu, ayah, kakek, atau nenek satu-satunya, yang kelak menghadapi kesepian akibat anak cucu yang telah memiliki kehidupan sendiri-sendiri. Takdir adalah kesunyian masing-masing, kata penyair angkatan 45, Chairil Anwar. Tapi, menurut saya film ini berbicara lebih banyak tentang kematian, dan bagaimana seseorang belajar banyak hal dari itu.
Terkadang memang, seseorang baru akan berubah lebih banyak jika telah menghadapi kemelut kehidupan yang demikian kuat mengubah pandangan hidupnya, sampai menggiring jiwanya ke dalam sebuah pangalaman hidup baru. Termasuk kematian. Ada anak berubah menjadi makin saleh setelah orangtuanya pergi selama-lamanya, tapi tidak tertutup kemungkinan, tidak sedikit anak saleh berubah menjadi durhaka meski sedih kehilangan orang yang telah melahirkannya dan merawatnya selama seumur hidupnya.
Dalam kehidupan ini telah banyak orang-orang di sekitar kita memberikan nasihat tentang apa saja: “jangan mencuri karena tindakan itu dilarang agama”, “Berbuat baiklah seperti engkau ingin diperlakukan baik oleh orang lain”, “lebih rajinlah belajar agar dirimu menjadi anak pintar”, atau “jika engkau ingin berhasil di masa depan, maka perbanyaklah kerja keras”.
Seringkali semua kata-kata itu layu sebelum berkembang.
Nasihat-nasihat semacam itu gagal dan berhenti menjadi kekosongan tanpa pernah melahirkan perubahan sikap bagi seseorang.
Tetapi, tidak ada nasihat lebih kuat dari kematian. Ya, kematian merupakan nasihat yang tidak perlu susah-susah berbicara. Banyak orang justru mendapatkan bahan permenungan dari “diamnya” kematian. Banyak orang menemukan kesadaran baru setelah menghadapinya.
Jadi ini cerita tentang M dan keluarganya, yang memiliki seorang nenek dipanggil Amah Mengju, yang menginginkan jika kelak meninggal ia ingin dikuburkan di tempat yang layak, setidaknya seperti tempat ayah ibunya yang dikuburkan di pemakaman dengan harga tanah terbilang lumayan.
Tidak seperti di pelosok desa, tanah lapang masih mudah ditemukan sehingga bisa diubah menjadi apa saja, termasuk tanah perkuburan. Di daerah perkotaan, suatu saat setiap orang yang meninggal perlu menyiapkan lahan khusus agar dirinya dapat dikuburkan dengan layak. Bahkan untuk tanah perkuburan diperlukan biaya.
Amah Mengju divonis kanker usus dan masa hidupnya diprediksi tidak akan lebih dari satu tahun. Dari sinilah drama keluarga dimulai, yang menurut saya akan dihadapi oleh setiap orang, yakni siapa yang berperan menjadi anak berbakti, dan siapa yang menjadi sebaliknya—di film-film drama umumnya akan ada salah satu anak yang menjadi pekerja super sibuk sampai tidak cukup waktu untuk memberikan perhatian kepada orangtuanya.
Siapa rela berkorban menghabiskan waktu dan tenaga demi merawat sang nenek di masa-masa akhir hidupnya? Di keluarga Anda, akan ada satu dua orang yang mengambil pekerjaan ini. Biasanya orang yang tidak begitu memiliki banyak kesibukan karena tidak memiliki pekerjaan mentereng dibandingkan sanak saudara lain. Banyak film-film mengangkat tema kasih sayang antara ayah atau ibu dengan anaknya, seolah-seolah kasih sayang lebih afdol hanya dapat diwujudkan di dalam hubungan antara orangtua dengan anak, bukan lainnya. Justru sebaliknya, How to Make Millions Before Grandma Dies menonjolkan ikatan kasih sayang yang lahir dari seorang nenek dengan cucunya. Rentang usia yang jauh memberikan peluang bagi dua orang anak manusia saling belajar satu sama lain.
Kebijaksanaan selain ditemukan dari peristiwa-peristiwa besar, juga lahir seiring bertambahnya usia. Dan itulah yang mungkin saja diharapkan dari film ini, yang menurut saya relate dengan banyak anak-anak masa kini yang tanpa disadari telah menjauh dari dekapan orangtuanya, dan terlebih lagi dari kakek neneknya, agar menyadari betapa mereka kelak membutuhkan perhatian di masa-masa senjanya.
M, dalam film ini adalah seorang gamer online, memutuskan tidak bersekolah agar dapat fokus menjadi pemain game pro yang bakal banyak menghasilkan uang. Saat divonis kanker, ia berniat merajut kedekatan untuk merawat neneknya. Paman-pamannya memiliki kehidupan lain dan hanya sesekali menunjukkan perhatian kepada Amah, ibu mereka. Tapi, M tidak tulus, yang seperti kedua pamannya menginginkan harta warisan jika neneknya kelak meninggal. Maka itulah misi M, berupaya mengambil hati sang nenek agar ia dapat mendapatkan harta warisan; uang puluhan juta atau sebuah rumah kepunyaan neneknya.
Meski dapat ditebak jalan ceritanya, film ini cukup sentimentil mengusik kenangan saat siapa pun pernah menghadapi situasi yang dialami keluarga M. Dengan kata lain, melalui jalan ceritanya, film ini dapat dengan mudah menyentuh hati penikmatnya, apalagi yang memiliki tema kehidupan keluarga yang sama dialami M.
Siapa yang tidak merasakan kesedihan jika mengetahui entah itu orangtua atau nenek, seorang penyintas kanker tapi sudah diketahui akan seperti apa akhirnya.
Film ini diperankan dengan cukup baik, terutama Usha Seamkhum yang memerankan Amah. Diusianya yang terbilang uzur memerlukan tambahan tenaga ekstra untuk menghadapi beberapa adegan menaiki tangga rumah atau tangga kuil peribadatan. Menurut saya scene-scene semacam inilah yang membangkitkan kenangan, rasa haru, dan kesedihan mengenai kasih sayang antara cucu dan nenek. Dengan settingan keluarga Asia, film ini menegaskan dengan kuat aspek-aspek kejiwaan yang lebih menonjol daripada dimensi birokratis keluarga seperti ditemukan dalam settingan masyarakat Barat.
Masyarakat Barat bahkan, untuk soal keluarga telah mengalami birokratisasi dengan kehadiran lembaga-lembaga sosial yang berperan mengambil alih kasih sayang keluarga. Dalam hal ini kasih sayang dalam keluarga masyarakat Barat mengalami defisit dan krisis akibat individualisme yang kuat. Akibatnya perhatian, ketulusan dan bahkan kasih sayang tidak ditemukan dan tidak lagi berasal dari keintiman dalam keluarga, melainkan telah tersubtitusi ke dalam jaringan birokratis pekerja sosial di panti-panti jompo.
Saya beranggapan menjadi orangtua di negeri-negeri Barat, terutama yang mengalami perubahan besar akibat logika kerja, kapitalisme, dan rasionalisasi, akan mengalami kemalangan. Hanya ada dua kemungkinan, mereka menjadi orang terlantar, atau jika cukup beruntung berasal dari keluarga mapan akan dirawat di panti jompo yang sudah tentu memerlukan biaya tidak sedikit. Di saat itu orangtua yang hidup di panti jompo meski memiliki aktivitas sosial, berinteraksi dengan segenerasinya, tapi tetap saja tidak akan sama menerima perhatian dan ketulusan kasih sayang dari keluarga sendiri.
Mereka lambat laun hanya akan mengakumulasi kesedihan yang menimbulkan penyakit, dan bisa saja meninggal dalam kesepian. Syahdan adegan akhir How to Make Millions Before Grandma Dies cukup dramatik bagi saya. Sentimentil. Saya pernah mengalaminya. Saya jadi bertanya-tanya apakah perasaan sedih saat menyaksikannya berasal dari jalan cerita film atau kenangan yang ditimbulkan melalui film ini?