Laut Memanggilku: Luka Kesepian dan Kasih Sayang Seorang Ibu


Bahrul Amsal, 22 Sepetember 2024

Tanggal rilis awal: 8 Oktober 2021. Sutradara: Tumpal Tampubolon. Pemeran: Dikky Takiyudin, Muhammad Umar. Penghargaan: Piala Citra untuk Film Cerita Pendek Terbaik. Durasi: 18 menit. Genre: Pendek, Drama. Perusahaan produksi: Tanakhir Films


Laut Memanggilku (2021) adalah cerita kesepian Sura, seorang anak sebatang kara. 

Tapi juga Argo, pemuda yang sebelas dua belas nasibnya. Sepanjang film aura kesepian cukup kuat, diiringi suara angin dan sapuan deru ombak yang saban hari melengkapi kehidupan mereka berdua. 

Bagi yang tinggal di kawasan pesisir pantai, laut adalah sumber daya hidup yang paradoks. Di satu sisi laut berisi banyak potensi ikan, terumbu karang, garam, atau rumput laut, atau minyak, atau industri wisata, tapi di saat bersamaan laut juga menyimpan marabahaya. 

Tidak sedikit nelayan-tradisional dibawa arus ombak, tenggelam, dan mati meninggalkan keluarga mereka di daratan tanpa pernah mendapatkan kabar di mana tubuh mereka berada. Boleh jadi itu yang dialami Sura, yang tidak diketahui seperti apa latarbelakang kehidupan keluarganya. Sejak film dimulai, Sura hidup seorang diri di rumah berdinding anyaman kayu khas masyarakat nelayan. Sehari-hari ia makan sendiri, cuci baju sendiri, dan menjual ikan sendiri. Persis seperti dalam lagu dangdut dipopulerkan Caca Handika. Ia pulang, sendirian, dan bahkan bermain tanpa kehadiran orang lain. 

Pantai tempat tinggal Sura dipenuhi banyak sampah. Terlihat satu dua bangkai kapal tergeletak karam, disapu angin bergaram, lapuk, menandai kemiskinan yang identik dengan pekerjaan nelayan. Sampah di pantai film ini bermacam-macam rupanya, tapi kebanyakan merupakan plastik, yang bakal sulit dimakan tanah. Warnanya telah pudar dimakan terik matahari dan luntur karena air asin. Warna pudarnya menandai telah lama sampah-sampah itu mengapung, atau hanya berdiam di bibir pantai. Menumpuk menjadi lapisan-lapisan pasir yang tidak alamiah. Tumpukan sampah menyiratkan minimnya kesadaran lingkungan kita selama ini. Tidak tertutup kemungkinan sampah-sampah di laut merupakan imbas dari cara kita berbelanja dan makan. Cara kita menggunakan kemampuan mengonsumsi barang-barang tanpa kontrol. 

Dalam hal ini sampah bukan saja soal apa yang kita buang, tapi apa yang masuk di rumah kita. Dari membeli makanan, atau pakaian, atau perlengkapan dapur yang satu dua di antaranya dibungkus dengan kantung plastik. Setelah semua digunakan tidak ada cara lain selain membuang sisa-sisa kebutuhan rumah tangga tanpa pernah dikelola atau dibakar. Sebagai contoh, berapa banyak sampah disumbangkan satu keluarga jika memiliki kebiasan berbelanja dalam rangka memenuhi kebutuhan satu bulan. Satu orang anggota keluarga bisa membuat satu atau dua sampah kertas atau plastik dalam sehari. 

Berdasarkan pengalaman sendiri, dua sampai tiga kantung sampah dapat dibuang selama satu minggu. Setiap akhir pekan petugas sampah datang mengumpulkan dari rumah-rumah berlangganan, dan dibawa ke lokasi tempat pembuangan akhir di pinggiran kota. Di kota Makassar, sampah-sampah perumahan dibawa tanpa prosedur pengelolahan yang layak. Jika malam jelang, bau menyengat menguar bisa sampai radius 10 kilometer. 

Tapi, sampah di laut tidak datang dengan cara seperti itu, melainkan dari sungai, kapal-kapal, atau pengunjung pantai yang abai. Bisa jadi sampah lautan adalah masalah global dikarenakan sumbernya berasal dari bermil-mil jauhnya. Laut menjadi genangan sampah mengancam ekosistem pesisir yang sebenarnya berpotensi besar, seperti misalnya Indonesia. Bagi Indonesia berjuluk negara maritim, sampah di lautan seharusnya menjadi masalah prioritas. Nampak aneh memang, jika tradisi kemaritiman bangsa ini justru tercermin dari pantai-pantai kotor seperti dalam film ini. Berbeda misalnya, seperti dinyatakan Pramoedya Ananta Toer, bahwa penduduk maritim memiliki wawasan yang lebih maju dibandingkan dengan penduduk yang bermukim di pedalaman seperti desa atau di perbukitan. 

Penduduk yang tinggal di sekitar wilayah pantai, terutama yang dekat dari jalur perniagaan seperti pelabuhan, merupakan orang-orang yang lebih berpengetahuan, terbuka, dan berani karena lebih banyak berinteraksi dengan beragam karakter manusia yang datang dari beragam latarbelakang bangsa. Singkatnya, warga maritim memiliki mentalitas yang terbentuk melalui lautan dan berhorizon luas seperti cakrawala yang menjadi pemandangan sehari-hari mereka. 

Tapi, wacana kemaritiman seolah-olah telah menjadi mitos bagi negara yang dikelilingi lautan. Kemaritiman bangsa Indonesia tidak mampu menggunakan, mengelola, dan melestarikan sumber daya lautan negara ini, termasuk mencegah sampah. 

Menurut data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) terdapat 31,9 juta ton sampah pada 2023. Dari total sampah tersebut, 63,3 persen atau 20,5 juta ton tak dapat terkelola, dan 11,3 juta ton atau 35,67 persen sisanya tidak terkelola. Angka-angka ini mengkhawatirkan, karena sisa-sisa sampah yang banyak itu hanya ditampung dan ditimbun di tempat pembuangan akhir. 

Itu juga belum termasuk sampah-sampah yang dibuang di tanah-tanah kosong, seperti ditemukan di sekitar wilayah perumahan. Isu lingkungan seperti inilah yang penting dari Laut Memanggilku; persis menjadi sebuah ajakan bagi diri kita agar tidak sekali-kali memunggungi laut atau malah meninggalkannya. Kawasan pesisir dan laut saat ini menjadi korban keganasan manusia. Ia dianggap menjadi tempat sampah raksasa. Ia memanggil, melalui angin dan deru ombaknya agar siapa pun menjadi prihatin tentang apa yang sesungguhnya sedang terjadi di pantai-pantai sekarang ini. 

Selain memberikan peringatan krisis lingkungan, Laut Memanggilku berbicara tentang kondisi anak-anak seperti Sura, yang kehilangan kasih sayang orangtuanya. 

Anak-anak nelayan berisiko menjadi anak yatim. Mereka akan dipaksa keadaan apabila kemungkinan buruk terjadi, semisal orangtua mereka yang diserang hiu ganas, atau tidak pulang akibat ditelan badai, saat pergi mencari ikan di tengah lautan. 

Di kondisi seperti ini mereka mesti menanggung kemandirian yang tidak mereka inginkan. Mereka rentan secara sosial, apalagi ekonomi. Usia yang belum matang menjadi sawi, akan membuat anak-anak perlu pengalaman lebih lama untuk menyiapkan fisiknya agar dapat dilibatkan dalam kegiatan penangkapan ikan. Itulah pekerjaan yang dilakukan sejak turun temurun. Menjadi nelayan seperti orangtua mereka. Bagi pekerjaan ini tidak berlaku mobilitas sosial, yang memungkinkan seseorang mengubah kemiskinan yang ia alami menjadi lebih baik. 

Malah kemiskinan dalam struktur sosial masyarakat nelayan kerap melahirkan Vicious Circle of Poverty (lingkaran setan kemiskinan), yaitu rantai kemiskinan dikarenakan sebab-sebab yang mengikat. Bagaimana bisa terjadi perubahan status ekonomi jika pekerjaan sebagai nelayan tidak berpenghasilan tinggi, apalagi jika hanya menjadi nelayan biasa. Lalu biaya pendidikan tidak terjangkau. 

Tingkat pendidikan rendah tidak memberikan pekerjaan layak, dan itu berpengaruh kepada produktifitas. Hukum ekonomi menyatakan produktifitas akan mempengaruhi rantai penghasilan, dan rantai penghasilan juga akan kembali mempengaruhi keadaan ekonomi yang tidak dapat membiayai kebutuhan primer, termasuk pendidikan. Begitu seterusnya perputaran setannya. 

Setan kemiskinan dapat hidup lama di pesisir-pesisir pantai, sementarai di hadapan mereka kekayaan laut melimpah-limpah, dan demikian luasnya. Bias kehidupan ini menjadi makin berjarak dikarenakan sistem kerja nelayan yang tidak menentu hanya mengandalkan musim angin. Bagi anak-anak, pemahaman mengenai perbintangan, arah angin, atau teknik menangkap ikan memerlukan pengalaman selama di atas kapal. Keadaan ini juga memerlukan modal kuat dikarenakan hubungan patron-klien diukur atas jaringan kekerabatan keluarga. Jika anak-anak tidak mampu menembus sistem perekrutan seperti ini, maka biasanya mereka akan mencari pekerjaan lain untuk menutupi kebutuhan ekonominya. Tapi, yang namanya manusia meski tangguh secara sosial dan ekonomi, tetap saja masih ada dinding lain yang mudah roboh. Bagai menegakkan benang basah, sekuat-kuatnya ia berdiri manusia akan kalah juga dengan perasaannya sendiri. Dengan kekosongan atas kebutuhan kasih sayang dari orang-orang paling dekat seperti keluarga. 

Sura dan Argo tidak memiliki seorang pun keluarga. Itu sebabnya mereka kesepian sampai sekali tempo Sura menemukan seorang perempuan yang lebih tepatnya boneka perempuan. Boneka seperti itu adalah boneka yang sering dijadikan pelampiasan seks para penyimpang, terapung-apung entah dibuang oleh siapa. Sura membawa bonekanya pulang, membersihkannya dari kotoran laut, dan setelah bersih ia kenakan baju agar terlihat menyerupai manusia. Sura membuat boneka itu berperan menjadi ibunya, yang kemudian ia ajak bicara jika ingin keluar rumah. 

Sesekali ia bikin boneka itu mengelus-elus kepalanya, atau tidur dipangkuannya. Singkatnya melalui boneka itu, Sura merasakan kembali perhatian seorang ibu, meski kasih sayangnya ia buat-buat sendiri, tapi manjur mengisi kekosongan perasaannya. Saat saya pertontokan film ini di suatu kegiatan, seseorang peserta perempuan menangis. Suara hidungnya yang terisak-isak tidak bisa menyembunyikan apa yang ia rasakan. Saya menduga kesedihan itu lahir tepat saat menyaksikan adegan-adegan ini. 

Film berdurasi kurang dari 20 menit ini minim dialog, tapi pesan mengenai kesepian yang dialami Sura dan Argo sangat baik diperankan Muhammad Umar dan Dikky Takiyuddin. Bukan saja minim dialog, nyaris dalam semua adegan film ini tidak menggunakan latar musik, yang hanya mengandalkan suara-suara asli dari laut, denting besi, dan rumah-rumah kayu yang berbunyi ditiup angin. Mengutip situs film IMDb Film garapan Tumpal Tampubolon ini memenangkan sejumlah penghargaan sebagai Best Asian Short Film Sonje Award dalam Busan Internasional Film Festival 2021, pemenang Piala Citra sebagai Best Short Film dalam Festival Film Indonesia 2021, dan pada 2022 meraih best drama dan best direktor sebagai pemenang pada French Riviera Film Festival.