Bahrul Amsal, 15 September 2024
Directed: Gabriele Muccino. Screenplay: Steven Conrad. Based on The Pursuit of Happyness by Chris Gardner Quincy Troupe. Produced: Will Smith, Todd Black, Jason Blumenthal, James Lassiter, Steve Tisch. Starring: Will Smith, Thandiwe Newton, Jaden Smith. Cinematography: Phedon Papamichael. Distributed: Sony Pictures Releasing. Release date: December 15, 2006. Running time 117 minutes
Apabila Anda saat ini belum bahagia, alangkah baiknya Anda segera membaca banyak buku-buku motivasi. Buku-buku semacam itu sebenarnya tidak akan langsung membuat Anda bahagia, tapi setidaknya dapat membantu Anda keluar dari kemurungan, nasib sial, atau sesuatu yang membuat diri Anda merasa tidak bahagia. Membaca banyak buku saja sudah merupakan cara sederhana untuk menangkal kekecewaan, apalagi membaca kata-kata motivasional dari tokoh-tokoh insipratif, pasti itu merupakan cara yang juga tidak kalah hebat agar Anda terdorong melakukan sesuatu dimulai dari satu dua langkah kecil di hari itu juga. Kata ahli neurosains otak merupakan hal misterius saat ini sehingga membuat mereka terdorong melakukan banyak penelitian demi mengungkap lebih banyak apa isi dari organ yang hanya sebesar kepalan dua tangan ini. Para psikolog, terutama menurut Sigmund Freud, pendiri mazhab psikoanalisis, menyatakan perempuanlah yang paling misterius di dunia ini sampai-sampai sulit memahami apa keinginan-keinginan di balik sebagian perilaku mereka. Sudah sejak dulu para filsuf justru mencari tahu apa kebahagiaan itu sebenarnya. Ya, kebahagiaan di mata para filsuf juga merupakan salah satu hal misterius yang sulit diketahui bentuk, warna, berat, atau apa pun yang menyusunnya. Bahkan kebahagiaan menempati posisi nomor dua setelah Tuhan, yang sampai saat ini masih dicari-cari banyak orang. Saking fundamentalnya kebahagiaan itu, jika Anda gagal mengetahuinya maka Anda juga akan kesulitan mengenal siapa diri Anda sebenarnya. Saya sampai sekarang masih belum mampu mengidentifikasi apakah saat ini sudah bahagia atau belum. Karena itu kadang saya tidak memahami dalam hidup ini apa sebenarnya yang saya inginkan. Di masa lalu ketika gagal dalam percintaan, saya diberikan pertanyaan apakah saya bersukur atau menyesal setelah putus hubungan. Saat itu saya sulit menjawabnya. Jatuh cinta bukan pilihan, tapi konon merupakan pilihan bagi seseorang memilih bahagia atau tidak dengan cinta yang dirasakan kepada orang lain. Kalau menurut Aristoteles, seseorang dapat dikatakan bahagia apabila diakhir hidup nanti ia telah mencapai semua tujuan-tujuan besar kehidupan. Tidak tepat Anda mengalami kebahagiaan meski sekarang telah memiliki pekerjaan tetap, pasangan hidup, atau segudang mobil-mobil mewah, tapi besok-besok salah satu dari semua itu tiba-tiba hilang dari diri Anda. Saat itu terjadi, Anda tidak sedang berbahagia, tapi sebaliknya. Kebahagiaan konon merupakan sesuatu yang permanen, dan tidak mengalami perubahan dalam diri Anda. Anda akan dikatakan bernasib malang jika awalnya beruntung dilahirkan di keluarga serba ada, tapi berakhir kere sebagai seorang tunawisma. Ternyata akhirnya Anda bukan orang yang bahagia. By the way, belum lama ini saya baru menonton The Pursuit of Happynes (2006), film yang dirilis 18 tahun lalu, yang dimainkan Will Smith dan putranya, Jaden. Jika buku-buku motivasi di atas tidak mampu membawa diri Anda kepada gejala-gejala kebahagiaan, film ini relate apabila Anda mengalami kisah hidup yang sama seperti pengalaman Chris Gardner, yang diperankan Will Smith, bahwa kebahagiaan itu bukan bagian dari takdir yang sudah ada, melainkan perlu diraih. Kebahagiaan perlu diperjuangkan. The Pursuit of Happynes adalah film biografis Chris Gardner, yang sekarang berprofesi sebagai pialang saham dan seorang motivator, orang yang bekerja mirip Mario Teguh yang pernah populer bagi pemburu kata-kata motivasi di stasiun televisi. Gardner saat ini bukan Gardner di era kehidupan 80an, yang merupakan setting waktu film ini. Di sinilah era kebangkrutan Gardner, gagal menjadi salesman penjual alat kesehatan scaning tulang. Sialnya ia harus menebus uang yang telah ia investasikan agar alat itu laku terjual. Dari satu rumah sakit ke rumah sakit ia berkeliling, dan namanya nasib buruk, tidak semua upayanya berhasil. Banyak rumah sakit menolak barang dagangannya. Harganya terlalu mahal untuk ukuran zaman itu. Lalu Gardner berpisah dengan istrinya yang meninggalkannya karena semakin kere. Barang dagangannya tidak laku-laku. Tagihan menumpuk dan batas sewa rumah telah jatuh tempo. Jadilah Gardrner gelandangan. Yang makin memilukan, nasib terlunta-lunta ini Gardner alami bersama Christopher, putranya yang baru berusia lima tahun. Kehebatan dari film ini adalah cara adegan-adegannya melibatkan perasaan mendalam penontonnya dalam merasakan seperti apa kesulitan finansial, putus asa, dan kemalangan Gardner. Kemiskinan memang menyakitkan. Sangat tidak enak. Apalagi jika tidak ada sama sekali tempat berlindung saat malam tiba. Maka, jadilah mereka menginap di tempat-tempat umum, mulai WC stasiun kereta api sampai rumah singgah gereja. Karena keterbatasan tempat mereka harus mengantre lebih cepat agar mendapatkan jatah tempat tidur. Jika antrean panjang dan datang terlambat, dengan terpaksa mereka menginap di mana saja. Di tengah krisis finansial yang melanda, Gardner mengikuti program magang menjadi pialang saham. Ia tekun, efisien menggunakan waktu, dan lebih keras bekerja dibandingkan pesaing-pesaingnya. Inilah satu-satunya peluang saat itu untuk mengubah kemelaratannya. Di akhir batas waktu magang, Gardner satu-satunya yang diterima. Ia menangis, dan menyatakan kemenangan atas kerja keras dan pengorbanannya selama ini sebagai momen-momen bahagia dalam hidupnya. Singkatnya kehidupan Gardner bagai peribahasa berakit-rakit ke hulu berenang-renang ketepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Will Smith menurut saya cukup baik memerankan Gardner sebagai pribadi yang pantang menyerah, pandai bersosialisasi, dan perhatian kepada anaknya. Sepanjang film ini—saya kira sudah banyak yang mengetahuinya, interaksi Will Smith dan Jaden betul-betul sarat emosi yang terhubung di dalam kebersamaan mereka meski di dalam kondisi yang tidak mengenakkan. Meski lelah berpindah-pindah mencari tempat tidur, tidak sekalipun Christoper mengeluhkan kondisi keuangan ayahnya. Ia malah menikmati kehidupan bagai gelandangan seperti petualangan dalam sebuah perjalanan ke alam rimba. The Pursuit of Happynes, bukannya tanpa kritik. Menurut saya membayangkan makna kebahagiaan di dalam pemahaman persaingan kerja, bisnis saham, dan dunia kerja yang serba terdesak waktu akan memberikan pengertian lain dari arti kebahagiaan itu sendiri. Mengingat kebahagiaan tidak ditentukan dari sejumlah hal berbau material, tapi kualitas kejiwaan yang melahirkan ketenangan dan kedamaian. Dalam dunia filsafat, banyak cara mendefinisikan kebahagiaan, sampai-sampai ada pengertian kebahagiaan hanya bisa diraih oleh orang yang menginginkannya jika mereka rela mengalami kesukaran, kesusahan, dan penderitaan terlebih dahulu sebelum dapat meraihnya. No pain no gain, kata orang-orang barat. Saat menulis bagian ini saya menjadi teringat stiker salah satu ayat dalam surah Al-Insyirah di kaca belakang sebuah mobil: “inna ma'al-'usri yusrā”. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Begitu kebanyakan arti dari ayat ini, bahwa setelah Anda mengalami berbagai macam kesusahan, akan datang hari-hari lain yang membuat Anda keluar dari kesempitan yang dialami. Tapi, inna ma'al-'usri yusrā, menurut arti lain bukan sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, melainkan sesungguhnya “di dalam” kesulitan itu ada kemudahan. Sebenarnya, jika Anda mengalami musibah yang tidak dapat Anda tolak karena itu di luar kendali Anda, bukan berarti Anda tidak bisa memilih apakah ingin tenggelam di dalam penderitaan atau memilih bahagia. Musibah tidak sama dengan penderitaan. Gardner di film ini tidak bisa mengendalikan sepenuhnya keadaan yang ia alami. Ia menjadi gelandangan, duit pas-pasan, rumah tidak ada, anak tidak bisa tidur nyenyak, dan barang dagangan yang tidak laku-laku. Semua itu keadaan eksternal yang sulit diubah secepat mungkin sehingga satu-satunya yang bisa ia lakukan adalah mengubah keadaan internalnya, batinnya, jiwanya, untuk memilih tidak menderita. Memilih bahagia. Menurut ilmu psikologi positif, ubahlah persepsimu tentang keadaan yang sedang engkau alami. Last but not least, jika Anda kelar menonton film ini, jangan lupa bahagia.