It Was Just Accident: Pergulatan Moral, Luka Sejarah, dan Rekonsiliasi

Bahrul Amsal, 27 Februari 2026

Sutradara dan Produser: Jafar Panahi dan Philippe Martin. Penulis: Jafar Panahi. Dibintangi: Vahid Mobasseri, Mariam Afshari, Ebrahim Azizi, Hadis Pakbaten, Majid Panahi, dan Mohamad Ali Elyasmehr. Sinematografi: Amin Jafari. Penyunting: Amir Etminan. Produksi: Jafar Panahi Productions, Les Films Pelléas, Bidibul Productions, Pio & Co, dan Arte France Cinéma. Distributor: Memento Distribution. Rilis: 20 Mei 2025 (Cannes), 10 September 2025 (Prancis), 17 Oktober 2025 (Indonesia). Durasi: 104 menit. Negara: Iran, Prancis, Luksemburg. Bahasa: Persia dan Azerbaijan.



KRITIM JAFAR Panahi tidak tanggung-tanggung. Melalui It Was Just Accident (2025), film besutan terbarunya menjadi “balas dendam sinematik” setelah dua puluh tahun dilarang membuat film oleh otoritas Iran. It Was Just Accident menurut saya merupakan sublimasi kemarahan, trauma, harapan, kekecewaan, dan terutama pengalaman hidupnya sebagai sineas Iran, yang bersitegang di antara konfrontasi ide-ide kebebasan, kreativitas, kesetaraan dengan nilai religiusitas ala pemerintah pasca Revolusi Islam Iran 1979. 

It Was Just Accident merupakan triller psikologis berbau politik, menyuguhkan balas dendam Vahid (Vahid Mobasseri) yang digerakkan latarbelakangnya sebagai mantan tahanan politik terhadap Eghbal, seorang introgator yang menyiksanya saat di penjara. Kisahnya dimulai tanpa sengaja saat Vahid mendengar suara langkah kaki palsu Eghbal (Ebrahim Azizi) yang didentifikasi sebagai “Peg Leg”, si penyiksanya di masa lalu. Pertemuan di malam hari itu membuka memori yang memicu rasa sakit berbalut dendam Vahid. Dari situ Vahid menculik dan ingin menumpaskan luka psikologisnya yang menderanya bertahun-tahun terhadap Eghbal. Narasi kemudian berkembang melibatkan kelompok mantan tapol lainnya, yang mengalami pergulatan moral, trauma, dan emosi, dalam upaya balas dendam, atau sebaliknya memberikan pengampunan yang sulit dilakukan atas tuduhan masa lalu mereka sebagai kolaborator dan propagandis anti pemerintah. Dengan narasi yang demikian gamblang, Panahi kembali membuktikan posisinya sebagai sineas yang kritis, yang mampu melihat celah estetik sama seperti melalui film-filmnya yang lain, The Circle (2000), Ofside (2006), atau Taxi (2015). 

It Was Just Accident jika dikatakan menjadi juru bicara Panahi, tidak sekadar menceritakan hubungan problematik menyangkut pengalaman kelam Vahid dan aparatus negara, yang berdampak cukup dalam kepada mantan tapol yang hancur kehidupannya, melainkan representasi metafora antara posisi masyarakat sipil vis a vis struktur kekuasaan, terutama Panahi sendiri sebagai pekerja seni dengan negara, yang senantiasa mencari ruang independen di dalam sistem sensor negara. Negara seperti Iran, yang mengalami trauma mendalam kepada agenda-agenda politik Barat, cukup ketat memberlakukan pengawasan dan kontrol mengenai wacana yang resisten terhadap pemerintah. 

Dari agenda politik pasca revolusi Islam Iran, yang memiliki gambaran menyangkut model peradaban masyarakat Islam cenderung mengalami masalah kelembagaan secara birokratis ketika berhadapan dengan ide kebebasan yang menjadi inti pekerjaan kreatif seperti dihasilkan dari film. 

Hal demikian menyerupai konteks pemerintah Soekarno di masa lalu, ketika melakukan sensor ketat kepada produk budaya (film, lagu) yang mengusung narasi Barat yang disebut di dalam imperialisme dan kolonialisme budaya. Iran sebagai negara berhaluan politik Islam kerap distigmatisasi sebagai negara yang cukup keras kepada perempuan. Pembatasan ruang gerak perempuan, penggunaan hijab di ruang publik, dan posisi perempuan sebagai liyan, tidak sejalan dengan ideologi keagamaan yang dilegitimasi konstitusi negara. Hal ini menjadi nampak tendensius melalui pendekatan estetika realisme Panahi, yang menggunakan dunia harian sebagai episentrum kerja-kerja kreatifnya, alih-alih berangkat dari sesuatu yang bersifat fantasi atau idealistik. 

Dengan estetika realisme, Panahi menggunakan setiap pengambilan gambar sebagai strategi politik yang dapat menunjukkan keretakan di dalam struktur masyarakat Iran, bahwa pembatasan ruang gerak perempuan bukan sekadar kebijakan moral yang diinspirasi dari religiusitas agama, tapi menjadi sangat rentan dipermasalahkan karena akan dituduh sebagai proyek ideologis negara. 

Perspektif ini dilayangkan dari paradigma liberal yang mengusung ide kebebasan perempuan sebagai faktor utama untuk membela ide-ide kesetaraan gender. Poin ini bukan merupakan pemikiran yang tidak melibatkan konteks sejarah politik Iran yang selama lima dekade mengalami transformasi pasca revolusi Islam 1979. Meski film garapan ini dibuat secara sembunyi-sembunyi, narasi perlawanan menyangkut kebebasan perempuan vulgar ditunjukkan di beberapa adegan, yang mengindikasikan problem sosial politik yang sampai detik ini masih menjadi masalah tersendiri bagi pemerintah Iran. 

Pendekatan realisme dalam film ini masih sangat menentukan bagaimana proses kreatif mempertimbangkan isu-isu sosial politik yang menjadi substansi dalam It Was Just Accident. Kekuatan lain film ini terletak pada kemampuannya menjaga intensi penonton yang tidak sama sekali mengandalkan scene-scene dramatis, melainkan diarahkan melaui dialog dan kemarahan traumatik pemerannya. Satu ciri khas yang saya temukan dari film-film Panahi adalah deskripsi bersifat kasualistik menyangkut premis utama dari plot yang dibangunnya melalui dialog. 

Dialog di film-film Panahi, seperti dalam Taxi, atau Offside, dan kali ini It Was Just Accident menjadi perangkat silogisme yang menghubungkan tanda tanya penonton dengan plot cerita, yang akan terjawab seiring berjalannya setiap adegan film. 

Dengan kata lain, penonton meskipun pasif secara pemikiran akan menemukan sebab-sebab mengapa misalnya, Vahid berani melakukan tindakan penculikannya kepada orang yang diduganya memiliki hubungan kelam dari masa lalunya. Apa sebabnya dan mengapa, adalah perangkat Panahi dalam menjaga intensi penonton yang baru akan terkuak di bagian akhir filmnya. 

Dialog-dialog It Was Just Accident juga di satu sisi menjadi medium Panahi mendomplengi karakter yang diciptakan. Dengan posisi seperti ini, pemeran dalam film hanya menjadi objek yang kehilangan kompleksitas psikologis sehingga menjadi lebih didaktif dan propagandis. Sisi negatif lain adalah para pemain ditempatkan dalam konteks instrumentalisasi manusia, di mana dalam pengandaian sosiologi berarti keagenan tidak begitu tampak akibat mendapatkan penekanan super kuat melalui struktur. 

Menyitir Ali Syariati menyangkut sejarah sebagai kekuatan deterministik yang membatasi kebebasan manusia, sejarah berdasarkan pengalaman para tokoh film ini merupakan sesuatu hal yang politis, krusial, dan sublim. Sejarah lahir dari ingatan, bunyi, dan bau badan yang digunakan mantan tapol untuk mengidentifikasi aparatus pemerintah yang merenggut kehidupan mereka. Bahkan trauma yang dialami korban bekerja secara auditif yang mengetengahkan betapa dalamnya penderitaan bukan saja saat mereka mengalami siksaan, tapi pasca keluar dari itu; kehidupan mereka diceraiberaikan, depresi, bahkan kehilangan pegangan hidup. 

Dengan demikian, menjadi pertanyaannya, sejarah di satu sisi merupakan ingatan yang mengalami tarik ulur antara kebenaran versi kekuasaan dan versi alternatifnya. Akhirnya film ini memberikan pergumulan moral yang intens, apakah balas dendam adalah obat dari luka-luka sejarah, dan bagaimana keadilan dapat ditegakkan meski pengampunan sudah dilakukan? 

Meski konteks sosial politik Iran berbeda, jika dibandingan kepada sejarah politik Indonesia, sejarah untuk konteks bangsa ini masih menjadi masalah yang sampa hari ini belum dapat merekonsiliasi pihak-pihak terkait yang mengalami luka sejarah. Terakhir dari yang terakhir, seperti dikutip dari wikipedia, “film ini mengadakan pemutaran perdana dunianya di kompetisi utama Festival Film Cannes ke-78 pada tanggal 20 Mei 2025, di mana film ini memenangkan Palme d'Or, dan menerima pujian kritis. Pada Golden Globe Awards ke-83, film ini menjadi film Iran pertama yang dinominasikan untuk Film Terbaik – Drama, Sutradara Terbaik dan Skenario Terbaik, dan juga dinominasikan untuk Film Berbahasa Asing Terbaik. Film ini terpilih sebagai perwakilan Prancis untuk Film Internasional Terbaik pada Academy Awards ke-98”.