Pangku: Kebanalan Kekerasan Perempuan



Bahrul Amsal, 28 April 2026


Sutradara: Reza Rahadian; Produser: Arya Ibrahim dan Gita Fara; Penulis skenario: Reza Rahadian dan Felix K. Nesi; Pemeran: Claresta Taufan, Fedi Nuril, Christine Hakim, Shakeel Fauzi, dan Devano Danendra; Penata musik Ricky Lionardi; Sinematografer: Teoh Gay Hian; Durasi film: 101 menit; Tayang perdana: 20 September 2025 di Busan International Film Festival; Rilis secara luas di Indonesia pada 6 November 2025.



SEBUAH truk mogok di tengah malam. As roda bermasalah. Ketimbang mencari sebab teknis, seorang perempuan yang tengah hamil tua diturunkan di tengah jalan. Ia dianggap membawa sial. Bagai cerita Hawa yang disingkirkan dari taman firdaus. Perempuan itu dieksekusi tanpa pembelaan. Ditinggalkan seorang diri. Dalam keterasingan dan dipaksa melanjutkan “pelariannya” di ruang sosial baru yang tidak ia ketahui. 
 
Begitulah adegan pembuka Pangku (2025), yang memotret sesat pikir masyarakat kiwari: mempertautkan nasib buruk dan tubuh perempuan. 
 
Dan, perempuan yang ditinggal di tengah jalan itu bernama Sartika (Claresta Taufan). 
 
Tidak diketahui asal usul Sartika dari mana. Tapi sejak awal, kehadirannya sebagai seorang perempuan sudah didahului oleh luka dan kerapuhan.  
 
Tapi, dari pembawaannya sudah cukup gamblang. Sartika kabur dari keluarganya, atau dari kampung halamannya. Atau bukan kabur, tapi dipaksa terusir sebagai seorang perempuan hamil yang mengandung anak tanpa diketahui siapa ayahnya.
 
Premis Pangku terbilang sederhana: kemandirian perempuan, kemiskinan, cinta sesaat tapi berujung membawa luka.
 
Pangku merupakan film besutan Reza Rahardian. Film debutnya sebagai sutradara yang ditulis bersama Felix K.Nesi sebagai penulis skenarionya. Reza Rahardian dikenal sebagai aktor dengan kemampuan akting di atas rata-rata melalui berbagai film yang dibintanginya seperti Habibi dan Ainun (2012) atau Pasutri Gaje (2024). Sementara Felix K. Nesi lebih dikenal sebagai penulis novel Orang-Orang Oetimu yang memenangkan Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2018. Karya ini juga dinobatkan sebagai Novel Terbaik dalam Penghargaan Sastra Badan Bahasa 2021.
 
Yang membuat menarik film ini adalah kehadiran aktor senior Cristine Hakim (berperan sebagai Ibu Maya), yang dapat dikatakan memiliki peran cukup mencolok sebagai ibu pemilik warung yang sampingan menjadi “induk semang” Sartika kelak. 
 
Apabila Anda seorang supir truk jarak jauh yang kerap melewati jalur Pantura, kemungkinan familiar dengan keberadaan warung remang-remang di beberapa daerah dikelola perempaun paruh baya seperti Ibu Maya. Di tempat seperti inilah biasanya sopir jarak jauh singgah beristirahat untuk menyesap segelas kopi. Sambil sebat-sebat ditemani seorang teman perempuan untuk menghiburnya. Satu hal yang sering dilakukan para sopir yang kelelahan untuk menghilangkan pegal leher dan rasak kantuk selama di perjalanan.
 
(Di Sulawesi Selatan, berkembang urban legend di beberapa kabupaten yang memiliki warung remang-remang tempat para sopir truk ingin beristirahat sekaligus pijat plus-plus)
 
Dan Sartika lah satu perempuan pramusaji yang sering menemani para supir saat mereka leyeh-leyeh menghilangkan rasa capek. 
 
Dalam Pangku, Sartika mewakili eksistensi perempuan yang mengalami dekadensi akibat desakan ekonomi. Saat ini, diakibatkan situasi kehidupan yang serba mendesak, perempuan sering menjadi korban. Perempuan kerap dilabeli sebagai “pembawa sial”, persis menyerupai penilaian sopir truk yang meninggalkannya di tengah jalan. Dalam kasus ini memperkuat cara pandang sebagaian besar masyarakat yang masih terjebak di dalam common sense reasoning dari pola pikir tradisional yang mengandung banyak fallacy.
 
Ditelusuri lebih mendalam, pandangan negatif menyangkut perempuan seringkali beririsan dengan pandangan teologi agama, atau intrepetasi patriarkis atas teks-teks agama yang menempatkan perempuan sebagai makhluk subordinat. Dalam kisah Adam-Hawa yang diusir dari taman-taman surgawi menjadi dasar keyakinan mengapa perempuan kerap dituduh menjadi biang kerok apabila seseorang menghadapi sebuah masalah.
 
Struktur kehidupan yang serba kapitalistik dan patriarkis, membuat perempuan lagi-lagi menjadi korban diskriminasi. Perempuan masih dilabeli sebagai makhluk yang tidak kompeten menerima tanggung jawab sosial. Tidak memiliki kapasitas menerima peran vital di berbagai bidang kehidupan. Dan, dipandang sebagai makhluk nomor dua yang menjadi objek kekuasaan laki-laki. 
 
Sartika yang hamil tua, meski tidak memiliki cerita latar belakang mengenai kehamilannya, kemungkinan merupakan korban kekerasan dan diskriminasi melalui lingkungan tempatnya hidup. Banyak data-data menjelaskan, perempuan yang mengalami tindakan kekerasan seksual kebanyakan menjadi korban dari orang-orang terdekatnya: ayah, paman, atau bahkan suaminya sendiri. Pandangan patriarkis masih sangat kuat menjadi dasar perilaku masyarakat yang belum begitu mengalami proses emansipatif.
 
Struktur sosial yang timpang dan tidak adil kepada perempuan, mau tidak mau memaksa perempuan perlu mandiri secara sosial meski dipaksa keadaan. Sartika dalam kerangka habitus ala Bourdieu, bukan lagi menjadi subjek otonom, tapi manusia yang kehilangan kebebasan dalam memilih alternatif yang dimungkinkannya sehingga tidak mampu lagi melampaui situasi sosial yang dihadapinya.
 
Tidak bisa dibayangkan seperti apa pergolakan batin Sartika yang hamil tua dengan anak yang tidak jelas siapa ayahnya, lalu perlu terus melanjutkan hidup di tempat asing yang jauh dari sanak keluarga. Untung saja, Sartika bertemu Ibu Maya, yang memberikannya bukan saja tumpangan hidup, tapi juga memperkerjakannya sebagai pramusaji di warung kopinya. 
 
Warung kopi pangku sebuah fenomena sosial yang unik. Menurut penelitian Eko Setiawan dalam Menyingkap Fenomena Konstruksi Sosial Warung Kopi Pangku di Gresik, warung kopi pangku mengalami transformasi dari tempat cangkruk (nongkrong) menjadi tempat prostitusi terselubung yang menggunakan perempuan untuk menarik pelanggan. Dengan begitu, warung kopi pangku tidak sekadar menjamu pelanggan melalui segelas kopi, melainkan mengalami perluasan fungsi yang lebih ekstrim dalam rangka melayani hasrat laki-laki di tengah perjalanan. 
 
Masih dalam penelitian yang sama, Eko Setiawan menjelaskan tiga faktor utama yang mendorong pekerja perempuan terpaksa menjadi pelayan penghibur di warung remang-remang. Pertama karena desakan ekonomi. Kedua adalah faktor pendidikan. Banyak perempuan putus sekolah atau tidak terserap ke dalam dunia kerja lantaran minim skil akhirnya menjadi perempuan penghibur. Ketiga, adalah faktor keluarga yang bermasalah seperti para istri yang bercerai dengan suaminya. 
 
Melalui keadaan semacam ini, perempuan serba dilematis perlu memendam rasa malu di antara kebutuhan ekonomi yang serba mencekik. Sartika, bahkan, dalam upayanya membesarkan Bayu (Shakeel Fauzi), tidak memiliki pilihan lain selain menjadi perempuan penghibur demi menjamin masa depan anaknya. Dalam kerangka yang lebih sublim, Sartika menjadi korban situasi pelik dengan menjadikan tubuhnya sebagai “alat produksi” dalam ekonomi informal seperti warung kopi pangku. 
 
Pangku nyaris menyuguhkan kisah tanpa konflik atau seolah-olah meredam konflik sebagai subteks yang dinormalisasi seperti pengalaman kebatinan Sartika sebagai seorang perempuan penyintas. Di bagian akhir akan tampak problem rumah tangga pasca kehadiran Hadi (Fedi Nuril), yang sempat memberikan harapan bagi Sartika bersama Bayu, untuk hidup normal menjadi keluarga. Sebagai spoiler, Hadi awalnya hanya pelanggan biasa. Seorang supir mobil pickup pengangkut ikan. Hadi akhirnya kepincut dengan paras cantik Sartika, lalu menikahinya dan menjadi sosok Ayah bagi Bayu. Jika tanpa plot ini, Pangku agaknya hanya menjadi film deskriptif tanpa melibatkan peran antagonis yang menjadi bumbu ceritanya. 
 
Meski demikian, Pangku juga memberikan suatu highlight mengenai latarbelakang masyarakat pesisir yang memberikan kesan kuat kepada latar belakang keluarga miskin seperti Ibu Maya. Diperparah dengan latar belakang sejarah dalam film ini yang bersetting jelang tahun 2000-an ketika Indonesia baru saja mengalami krisis ekonomi parah. Akibat krisis ekonomi menyebabkan banyak orang terdampak pemutusan kerja massal. 
 
Terakhir, pendekatan realisme sosial Pangku patut diapresiasi. Dengan cara ini Pangku tidak perlu mengedepankan efek dramatis, atau mengeksploitasi peran yang dibesar-besarkan untuk mendapatkan kesan terpinggirkan. Justru peran Cristine Hakim dan Claresta Taufan sebagai Maya dan Sartika cukup berhasil membawa kesan kuat sebagai dua sosok perempuan yang sering kalah oleh kehidupan serba pas-pasan. Dengan begitu kesan kemiskinan dalam Pangku sangat telanjang dan banal menyuguhkan kehidupan apa adanya masyarakat marginal. 
 
Pendekatan realisme sosial juga sangat strategis memotret secara ruang posisi sosial warung kopi sebagai “ruang sosial ambigu” yang mempertautkan seksualitas, ekonomi, dan relasi kuasa.  Tidak bisa dimungkiri acap kali stigmatisasi dan diksriminasi atas perempuan banyak terjadi di warung remang-remang. Di posisi seperti ini warung kopi pangku kerap menjadi sarang stigmatisasi terhadap perempuan, dan potret representatif struktur sosial yang mempertontonkan kemiskinan secara terang-terangan.
 
Syahdan, Pangku menjadi film sederhana yang tidak sederhana. Tenang, sunyi, dan tidak membutuhkan konflik besar sebagai kekuatan kisahnya. Tapi, di balik kesunyian itu Pangku menyimpan segudang kegelisahan, kerapuhan, dan kerentanan yang mendalam menyangkut perempuan yang terus menerus ditempatkan sepihak sebagai korban di dalam struktur dan stigmatisasi yang tidak menguntungkan.